
Setelah mendekam tiga hari dalam kamar, hari ini ia akhirnya bebas kembali. Rasa lega banget, seisi mansion Anderson benar-benar bikin ia kesal setengah mati. Dan malam ini ia sudah memiliki rencana untuk menyelinap keluar. Tidak peduli hukuman apa yang akan menimpa nya nanti.
“Hallo dit, Lo jadi kan tungguin gue di gang depan” Bisiknya yang sekarang sedang menelepon Radit.
“Iye nih gue udah sampe, Lo buruan keluar dah bisa lumutan gue disini” jawab Radit yang terdengar kesal.
“Ck, sabar napa dah. Gue butuh perjuangan ekstra buat bisa keluar dari kandang jahanam nih”
“Iya iya, buruan bos. Lama-lama disini seram njing, gue takut ada Mbah Kunti nongol”
“Gak usah ngawur lo, tungguin, awas aja kalo Lo kabur gue pecat Lo jadi teman gue”
“Bacot Lo ah”
Tut
Ia menyimpan ponsel kembali sembari memakai jaket nya. Lalu membuka pintu secara perlahan. Sebelum itu, ia telah menutupi cctv disana dengan kain biar tidak ketahuan. Ini telah jam setengah dua belas malam. Ia yakin semua orang sudah pada tidur kecuali para bodyguard mungkin.
“Sialan! Mereka apa gak ngantuk apa?” kesal nya saat melihat beberapa bodyguard masih berjaga.
“Kalo gini cara gue emang harus keluar lewat jendela lagi, tapi juga malah di jaga di bawah” Semua itu terjadi saat dirinya kabur lewat jendela jadi Daddy dan abangnya mempersiapkan penjaga di bawah dan sudah jelas jika ia turun pasti akan ketahuan.
Saat di landa frustrasi ia tiba-tiba saja mendapatkan sebuah ide cemerlang.
“Ahaa... kayaknya gue emang harus ngecoh mereka”
Lalu membuka jaket dan sepatu nya dan memasukkan ke dalam paper bag. “ck, gini kalo jadi orang kaya cari kantong kresek aja susah “ karena tak ada pilihan lain ia memilih paper bag, kemudian keluar dari kamar.
Sesampai di bawah, ia melirik-lirik julid para titan tersebut.
“Tuan muda kenapa anda keluar kamar” salah satu dari mereka berjalan mendekati nya. Dan itu membuat Azka kesal.
“Kenapa? Ada masalah gue keluar, kaki-kaki gue juga jadi serah gue dong” Sahutnya nyolot.
“Tapi anda dilarang keluar malam-malam, jika tuan besar tau dia pasti akan marah”
“Ck, apaan sih Lo gak usah lebay deh. Gue cuman mau ke kamar tamu di bawah, jadi gak usah aduin ke bos Lo segala” degusnya dengan hati dongkol. Pria itu tampak heran, buat apa tuan muda kecil nya ini ke kamar tamu, jangan bilang tuan mudanya ini ingin merencanakan sesuatu. Apalagi melihat sebuah paper bag di tangannya, bisa saja tuan mudanya ini ingin berencana untuk kabur.
“Apa Lo! Gak usah larang gue. Malam ini gue mau tidur disana jadi jangan ganggu” sentak nya dengan begitu tiba-tiba sedikit membuat mereka terkejut.
“Awas Lo ngikutin gue” Ancamnya sebelum memasuki kamar tamu.
Sesampai di sana Azka langsung tersenyum lebar sembari melirik ke arah bawah jendela. Dan benar ternyata disana tidak ada yang jaga jadi kesempatan emas untuk keluar.
“Hehehe...mampus Lo semua, malam ini gue bisa bebas” usai memakai sepatu dan jaket nya, ia keluar dari jendela jarak dengan tanah tidak terlalu tinggi jadi ia tidak perlu susah-susah tinggal lompat aja hap langsung sampe.
“Hihihi kayaknya malam ini emang hari keberuntungan gue” karena melihat para titan lagi lengah. Dengan seribu langkah ia berlari kecil tanpa suara ke arah tembok pembatas. Ini lah kesempatan emas karena baru ngeh kalo beton pembatas itu tidak terlalu tinggi. Mengingat dirinya sudah biasa melakukan nya disekolah jadi cukup mudah baginya.
Bruk
“bangke” Saat dirinya malah terjungkal dengan tak elit nya, tapi untung telah berhasil jadi ia tidak perlu cemas jika ketahuan.
“Heii...aku mendengar suara benda jatuh. Coba kau lihat” Mendengar suara itu membuat Azka buru-buru bangkit dan berlari menjauh tepatnya menuju kearah gang. Ia yakin Radit sudah misuh-misuh sendiri disana.
“Radityanjiing!” Panggil nya agak nyolot membuat Radit yang lagi fokus pada ponselnya terjengkang.
“Azka kamvret!” umpat Radit yang kembali berdiri menaiki motor nya.
“Dah buruan cabut, tapi anterin gue ke tempat ayah dulu” Karena memang ia merindukan ayah laknat nya, ya biarpun ia menerima ayahnya itu dengan baik tapi perasaan menyakitkan itu masih tetap ada. Ia masih kecewa dan kesal karena sampe sekarang ayahnya itu belum pernah mengakui permintaan maaf atau apa kek. Kan ia kesal.
“Hah...Lo belum tau bukan nya bapak Lo tuh udah balik kerumah nya”
“kapan? Kok gue gak tau ya”
“Kalo gak salah kemarin, emang gak di kasih tau ama keluarga angkat Lo” Azka menggeleng, “ck, gue aja baru bebas tadi siang”
“Njiir...gue gak nyangka Lo di karentina selama itu” Radit tertawa ngakak.
Azka mendelik, “gak usah ketawa jigong Lo bau tai” sembari menutup hidungnya jijik.
“Bangsul Lo”
“Dah buruan naik” Azka mendegus dan duduk di jok belakang. Ia masih makin kesal dengan keluarga angkat nya itu, kenapa mereka malah membiarkan ayah nya balik kerumah, sudah pasti bakal ketemu duo bangsat itu. Lagian apa ayahnya itu masih belum sadar, apa segitu sayangnya ama mereka ia rela balik kesana. Padahal sudah jelas mereka tidak peduli lagi.
Ah tapi ia lupa juga kalo rumah itu emang milik ayahnya jadi tidak ada salahnya dong tu tua bangka kesana.
Bangsat emang!
...
“Wiihh...nongol juga Lo bos, gue kira udah koid” Azka yang lagi tos ria dengan anak-anak lainnya mendegus mendengar nya.
“Minta gue sleding Lo Hahh!”
Fano yang menjadi tersangka tampak menyengir, “Hehe...slow bos, bejanda aing”
“Anjiim si bos masih perawan kali”
“abang pilih yang mana... perawan atau jandaaah, janddah emang menawaan tapi perawan lebih menggodaahh...”
Plak
“Sakiit asuu” pekik Nano karena bibir sekssoy nya kena gampar Bagas.
“Jijjik gue, suara Lo bunyi suara ayam kejepit” Jijik Azka sembari menendang tulang kering sahabat nya itu.
“Mampus Lo!” ledek Lio yang diiringi suara tawa anak-anak lainnya.
“Eh...no gue denger Lo pacarin adek si Fandi” Nano yang lagi meringis berdecak.
“adik si Fandi mana ko, Fandi kan banyak” cetuk Fano pada temannya Miko.
“Ntuh anak tetangga sebelah yang sering julid ama kita” Fano terlihat mengerutkan keningnya sementara yang lain hanya acuh, sudah tidak heran lagi dengan pangkat playboy Nano.
“Dah buruan berangkat bentar lagi balapan” Suara teriakan Azka menyandarkan mereka karena memang malam ini Azka sendiri akan balapan.
“Yoyoo...” Satu persatu menaiki motor masing-masing dan mengikuti motor Bagas yang sekarang di bawa Azka sendiri sementara malah duduk di belakang.
Belum juga sampe lima menit perjalanan mereka malah di hadang Geng Lion.
“Ck, mau apa lagi sih mereka” Degus Azka yang dengan terpaksa turun diikuti teman-teman lainnya.
“ANJIING! MAU APA LAGI LO PADA HAH!” Emosi Azka, karena jika sudah begini pasti acara balapan nya akan gagal total. Padahal ia sudah tak sabaran sebelum para Titan dan tuannya mengetahui.
“GAK USAH SOK GAK TAU LO BANGSAT! KITA KESINI SUDAH JELAS BUAT HABISIN LO SEMUA!” Sahut Dando dengan senyuman remeh nya.
“dando anjing!” Umpat Radit.
“Ck, dia pikir kita takut” cibir Nano.
“Woiii...emang Lo gak malu apa? Udah sering kalah sekarang malah gegayaan mau ngabisin kita. Gak salah tuh” Cibir Fano yang mana disambut suara ketawa ejekan anak-anak lainnya.
Tentu saja mereka geram dan tak terima mendengar ejekan mereka. “Sialan! DIAM LO BANGSAT! GARA-GARA ANGGOTA LO SALAH SATU ANAK LION SEKARAT ANIING!”
“MAKSUD APA LO BANGSAT” tentu Azka tidak terima, bukan nya ke balik selama ini mereka yang sering main keroyokan sampe buat teman-teman nya masuk rumah sakit.
“GAK USAH BANYAK BACOT LO, SERAAANG!”
“BANGSAT!” Anak-anak Cobra tentu saja emosi dan langsung membalas mereka. Apalagi Azka dari dulu ia memang benci Dando karena anak itu sering kali mencari masalah, dan tambah lagi sekarang dia menjadi ketuanya jadi semakin semena-mena.
Bugh
Bugh
Bugh
Dan hanya suara saling pukul terdengar di jalan tersebut dalam kesunyian malam. Jalan disana sangat lah sepi jadi tidak ada pengendara lain yang lewat. Apalagi sekarang sudah tengah malam.
Azka terus membogem wajah Dando yang sekarang berada di bawahnya, biarpun begitu wajahnya tak kalah bonyok nya dengan Dando.
Bugh
“Mampus lo!” Desis Azka yang memberikan bogeman terakhir karena melihat Dando sudah tak berdaya.
“Hahaha...Lo jangan bangga dulu” Melihat Dando tertawa membuat Azka mencibir dan sedikit bingung. Saat akan berbalik tiba-tiba saja sebuah tongkat baseball memukul belakang kepalanya.
“S-sialan!” Belum sempat melihat siapa pelakunya, Dando bangkit menerjang nya.
Bugh
Bugh
“Mati lo!”
“Hahahah...Mati lo sialan!” Dando tertawa melihat Azka sudah hampir sekarat olehnya.
Bagas yang berada tidak terlalu jauh seketika membola melihat nya.
“DANDO BANGSAT!!” Tanpa peduli lawannya dia berlari kesana dan langsung mendendang tubuh Dando. Sementara Radit, Nano, Lio dan anak Cobra lainnya terkejut mendengar suara Bagas dari nadanya saja sudah terdengar sangat lah marah.
“GUE HABISI LO SEMUA ANJIING” Lio, Radit dan Nano membabi buta.
DOR
DOR
“BERHENTI”
Suara tembakan itu membuat aksi mereka seketika berhenti. Dan itu kesempatan Radit, Lio dan Nano menghampiri Azka yang sudah tergeletak di tanah.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT