Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 46



Azka melangkahkan kaki kearah meja makan, ia melihat semuanya telah disana menunggu nya.


“Morning guys!” teriaknya dengan senyuman lebar. Nadine hanya geleng-geleng mendengar nya. Kelima makhluk datar menatap datar si bungsu tapi tetap membalasnya.


“Morning baby/sayang” ucap mereka serempak.


Wajah Azka berubah masam, “aish...gak usah panggil baby, dikira Azka babi apa?” Degus nya yang sudah ikut duduk. Nadine terkekeh mendengarnya.


“Baby, bukan babi” protes Melvin membenarkan yang hanya dibalas degusan dari si empu.


“Makan” titah Antonio sebagai kepala keluarga. Mereka makan dengan tenang tanpa bersuara selain suara dentingan sendok, karena mereka tidak menyukai berbicara ketika makan kecuali Azka, walaupun ia sudah tau tidak sopan berbicara sambil makan tapi terkadang ia mengoceh saja tanpa peduli teguran  kelima para makhluk dingin itu. Tapi untuk pagi ini ia memilih fokus sarapan saja.


...


“Azka berangkat dulu!” sembari menyalimi mereka satu persatu kecuali Alister.


“Hm”


“Belajar yang benar”


“Jangan nakal”


Azka hanya mengangguk mengiyakan saja, “oke, tapi nggak tau nanti” lanjut nya dalam hati.


“Al, jaga adikmu. Jangan biarkan dia bolos lagi”


“hm” Al mengangguk mendengar perkataan Daddy nya. Azka hanya melirik Al dan Daddy nya dongkol.


Azka mengikuti Al berjalan keluar sembari bersiul-siul. Sampai di garasi alis bertaut saat melihat motor kesayangannya di rantai, lalu tatapannya beralih pada salah satu bodyguard disana.


“Maksud Lo apa Hah?” Menatap tajam pria berbadan kekar tersebut dan berwajah datar tersebut. Tentu saja ia marah.


“Maaf tuan muda, anda tidak diizinkan membawa motor” Jawab pria tersebut tetap dengan wajah datarnya.


Bola mata Azka melebar mendengar nya, apa? dia tidak bolehkan memakai motor, memang dia siapa melarang nya. Anjiim, pasti ulah para makhluk datar itu.


“Lo—“ Ucapan nya terpotong oleh suara kakaknya.


“Kamu kakak antarin” Azka berbalik dan melihat kakak perempuannya yang sudah berdiri di samping mobil Lamborghini silver memandang datar kearah nya.


“Kak, tapi Azka mau berangkat sendiri...Azka bukan cewek kak pakai di antarin segala”


“Tidak ada bantahan! Kakak antarin atau tidak sekolah” Mendengar suara dingin penuh ancaman itu membuat Azka sebal dan mau tak mau ia menurut.


“Ck, iya iya... dasar tukang paksa” Bisa saja ia memilih tidak sekolah tapi jika begitu pasti ia tidak akan diperbolehkan keluar, pilihan yang rumit.


Ia melirik kesal kearah Al yang berangkat pakai motor, “awas aja nanti, dipikir gue gak punya cadangan” ia dia baru ingat masih ada motornya sama sahabat nya. Motor yang dititipkan nya hasil taruhan balapan yang dimenangkan nya. Mungkin ada sekitar tiga motor.


...


Azka berjalan menuju kelasnya sambil bersiul-siul tak lupa mengedipkan matanya setiap melewati para siswi, bisa dibilang ia sudah ketularan virus Nano.


“udah mulai centil Lo bos!” Langkahnya berhenti dan menoleh ke belakang, ternyata ada Lio dan Radit.


“Ck, masalah” Menatap mereka dengan muka songong nya.


“Masalah lah, gue takut nanti Lo ketularan penyakit si Nanonjiing”


“Bodoamat” sembari melanjutkan langkahnya diikuti oleh mereka.


“Pms Lo bos”


“Ya kali” Azka hanya mengacuhkan ocehan mereka.


...


“Baik anak-anak sekarang kumpulan tugas yang ibu berikan minggu lalu” Ucap ibu Fatma yang mengajar di kelas 11 IPS2.


Saat semuanya telah mengumpulkan ke depan, beda lagi ceritanya dengan Azka, ia masih sibuk membolak-balikan isi tasnya padahal isinya cuman dua buku dan satu pulpen.


“napa bos?” Lio yang duduk tepat di samping nya menoleh.


Radit, Nano dan Bagas yang mendengar nya ikut menatap kearah Azka.


“Mati lo bos!”


“Gue yakin Lo bakal disuruh buat tugas berkali-kali lipat” Bukan membantu menenangkan mereka malah makin membuat wajah Azka makin murung.


“Yang di belakang kenapa ribut” Bu Fatma memandang kearah mereka dengan tatapan tajam seperti ingin menelan hidup-hidup. Lalu tatapannya terfokus pada Azka, siswa yang sering mendapatkan hukuman darinya.


“Azka, apa kamu sudah menyelesaikan tugas dari saya”


Yang tanya langsung gelagapan sembari melirik sahabat nya memelas.


“Azka, kenapa kamu diam? Jangan bilang kamu tidak mengerjakan tugas lagi” Dia sangat yakin, sudah terbaca dari raut mukanya. Sebenarnya bukan hanya Azka yang sering begini, keempat sahabatnya juga tapi tidak separah Azka.


“Ehehe...kok tau sih Bu” Cengir nya sembari menggaruk tengkuknya.


Wajah Bu Fatma berubah dingin, “KELUAR SEKARANG JUGA” Suara Bu Fatma naik oktaf membuat seisi kelas meneguk saliva tapi tak seberapa juga menahan tawa.


Mendengar kata keluar tentu Azka bersorak gembira, ia pikir akan dikasih tugas lagi.


“Makasih ya Bu udah usir saya” Seisi kelas hanya geleng-geleng kepala melihatnya, mereka sudah biasa melihat tingkah teman kelasnya ini. Bu Fatma hanya menatap datar. Azka yang akan keluar melirik para sahabatnya dengan bibir terangkat.


“Sialan, kalo tau gini mending gak gue kumpulin tadi” Degus Radit.


“Pasti si bos senang banget tuh”


“Tumben sih gak di kasih tugas” Mereka benar-benar iri, padahal mereka juga ingin nyantai seperti yang dilakukan bos itu luar.


Azka yang sudah keluar kelas pergi ke kantin.


“Mang, seblak pedas satu  sama es teh satu”


Yang di panggil yang tersenyum ia sudah cukup akrab dengan siswa itu, “baik nak”


“Ingat harus pedas banget ya mang, soalnya saya lagi pengen ngeluarin keringat” Mang Jajang hanya geleng-geleng tapi tetap mengiyakan.


Sembari menunggu pesanan, Azka mengeluarkan ponselnya sambil main game.


Tak butuh waktu lama pesanan nya datang tanpa bacot lagi ia lahap dengan semangat.


“Hoh...anjiir, pedas amat tapi enak banget” Seru dengan muka memerah menahan kepedasan bahkan ia dibuat keringat.


“Enak banget ya”


“banget njiir...Lo gak liat gue sampe keringat gini” Sahutnya tanpa menyadari siapa yang berdiri di belakang nya. Yang di pikiran nya hanya menghabisi seblak miliknya.


Al, ya dia Alister. Sehabis melakukan patroli mengganti buk Vivi yang lagi sakit ia malah melihat adiknya jalan-jalan santai menuju kantin karena itu ia mengikuti diam-diam dan seperti dugaan nya adiknya itu enak-enakan makan bukanya belajar.


Netranya menatap dingin sang adik, ia akan menunggu sampe anak itu selesai makan. Sebenarnya bisa saja ia tarik paksa tapi melihat adiknya begitu kelaparan ia urungkan, kasihan juga kan.


“Hah... benar-benar anjiim banget mang” teriaknya pada mang Jajang yang sedang menatap nya dengan senyuman paksa, dengan sesekali melirik pucat kearah Alister yang kini menatap sangat tajam kearah nya.


Mang Jajang menjerit dalam hati, “ya tuhan, kenapa saya harus mendapat tatapan kejam itu” tentu saja ia sangat mengenal seorang Alister putra dari pemilik sekolah tersebut.


Azka yang merasa telah kenyang meletakkan satu lembar uang lima puluh ribu diatas meja. “nih bayaran nya mang saya letak di meja” lalu berdiri, namun saat berbalik ia dibuat melotot saat melihat orang yang sangat dikenalnya menatapnya dengan tajam.


“Sudah puas makannya, sekarang ikut abang” Sambil menarik kasar lengan Azka.


Azka tentu saja memberontak, “apaan sih bang, Lo mau bawa gue kemana” namun Al tidak menghiraukan. Azka yang sudah lelah memberontak terpaksa berhenti dan pasrah.


“Ck, kenapa keluarga baru gue semuanya pada ngeselin banget sih”


Sementara mang Jajang menatap kasihan Azka, dia tau seperti apa kerasnya keturunan keluarga Anderson itu.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT