Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 67



Di kediaman Aldebaran.


Alena dan putra nya Dava terlihat melakukan makan siang tanpa kehadiran Abraham.


“Bun, apa pria itu mengganggu kita lagi” Dava menatap ibunya itu penuh tanya.


Terdengar helaan berat dari Alena sembari menjawab, “Masih. Kamu tidak lupakan yang kita lakukan sekarang ini juga atas perintah dia, kita tidak bisa menghindar jika tidak kita bisa habis...jangan lupakan dia orang yang kejam, dia akan siapa pun tanpa pandang bulu. Apalagi kita yang sudah berada dalam pengawasan nya. Bunda takut kita bakal di bunuh kalo tidak mengikuti semua keinginan nya”


Wajah Dava seketika berubah gelap, “Tapi Bun, kita tidak bisa kasih semuanya ini padanya. Bagaimana pun kita yang sudah bekerja keras buat menjatuhkan ayah” Dava menggusar rambut nya kasar.


“Iya bunda tau, tetapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kau tau pria itu sudah kembali”


Dava semakin gusar mendengar nya, “Aku dengar dari bibi Ayah sakit bun, apa kita benar-benar membiarkan saja...bunda tidak lupakan kalo ayah itu sebenarnya ayah kandung ku sendiri bukan dia”


“Dan tujuan kita buat ambil hati ayah dan menyingkirkan Azka sudah berhasil tetapi sekarang kenapa kita harus ngikutin perintah dia lagi sih. Apa bunda tidak bisa memikirkan cara buat nyingkirin pria itu”  


Alena menggeleng lemah.


“Sudah lah, yang penting sekarang kau harus awasi ayah mu terus biarpun dari kejauhan jangan sampe ketahui bawahan dia” bisik nya. Dava mengangguk, selama ini dia dan bundanya memang terlihat tidak peduli lagi dengan ayahnya Abraham tetapi sebenarnya jauh di lubuk hati nya dia sangat lah menyayangi pria itu.


“bik”


“Iya nya” wanita paruh baya yang bekerja sebagai pembantu disana segera menghampiri Alena.


“Bibi tau gak suami saya kemana?”


“Tuan pergi Check-Up ke tempat Dok. Abi nyonya, barusan pergi sejam yang lalu”


Mereka sudah tidak asing lagi mendengar nama Dok. Abi. Ternyata pria itu berobat dengan dokter muda dari keluarga Anderson itu.


“Sejak kapan suami saya check up kesana” Karena dia memang jarang berada di rumah semenjak perusahaan diambil alih oleh dirinya dan sang putra.


“sejak tiga minggu yang lalu nyonya, tuan akan check up dalam sekali seminggu”


Alena mengangguk, “ya sudah lanjut kan kerjaan mu” Usai wanita itu beranjak dari sana. Alena menghembuskan nafas nya pelan, “Bunda ke kamar dulu”


“Iya bun”


Alena beranjak pergi ke kamar nya, baru saja sampe tiba-tiba saja handphone nya berdering. Saat melihat nama kontaknya dia seketika gugup.


“Sial”


Dia buru-buru mengangkat nya sebelum menerima kemarahan dia.


“Ya tuan”


“kemana saja kau lacur mengangkat panggilan ku saja sangat lama” suara beratone seorang pria terdengar begitu marah dan menyeramkan.


Alena semakin gugup mendengar suara dingin tersebut, “Maaf tuan”


“Saya tidak butuh kata maaf dari mu. Kau jangan lupa Alena semua yang kau lakukan selalu dalam pengawasan ku, jangan coba-coba kau mengkhianati perintah ku. Jika tidak kau akan merasakan kehilangan orang-orang terpenting mu”


“Tidak tuan saya tidak akan pernah melakukannya. Saya mohon tuan jangan apa-apaan mereka” Alena mengutuk kebodohan nya.


“Yahh...selama kau tidak coba melakukan hal bodoh”


“Untuk sementara waktu kau masih bisa menikmati semua milik bajingan itu tapi tidak ke depan. Jangan lupakan kau masih memiliki utang dengan ku”


“Tentu tuan”


“Satu hal lagi saya ingin kau mengawasi Azka, saya ingin secepatnya anak itu berada didepan mata saya hidup-hidup. Ingat jangan sampai terluka sedikitpun jika tidak kau yang akan mendapatkan ganjaran nya”


“Jangan pikir saya tidak tau apa yang kau dan putra mu itu lakukan pada anak itu”


Tut


Hampir saja Alena kehilangan nafas mendengar nama Azka, anak yang sudah dia singkirkan. Kening Alena berkerut mendengar apa yang diinginkan tuan nya itu, apa pria iblis itu gila. Sejak kapan dia memiliki ketertarikan pada bocah itu.


Lagian rencana nya menyingkirkan Azka tidak ada dalam perintah pria itu, semua itu atas keinginan nya sendiri. Dia pikir pria itu mempedulikan nya, tetapi sekarang kenapa pria itu malah menginginkan bocah itu, sebenarnya apa yang direncanakan tuan iblisnya itu.


“Makin panjang urusan nya” gusarnya. Dia saja tau apakah bocah itu masih hidup entah tidak.


“Kayaknya aku memang harus secepatnya memerintahkan orang bayaran ku mencari bocah itu”


“Jangan sampe iblis itu melukai orang-orang ku”  dia buru-buru memerintahkan orang suruhan nya. Dia yakin cukup mudah menemukan bocah itu.


...


Di kediaman Anderson sedang terjadi kehebohan dengan kata lain mansion utama Anderson diserang.  Suara peluru saling tembak terdengar begitu jelas disana baik dari dalam maupun luar.


Dor


Dor


Dor


“Marko tetap awasi mommy dan yang lainnya” teriak Rafa yang sedang berlari buru-buru keluar. Sementara yang lain juga telah berada di luar.


“Papa” Teriak Melvin saat melihat sebuah peluru hampir mengenai papanya. Nathan sadar segera mengelak, mereka benar-benar tidak menduga akan diserang disiang bolong begini.


“Kendrick sialan” Dergo menatap dalang dibalik penyerangan itu marah. Biarpun bajingan itu tidak memperlihatkan wajah nya tetapi dia yakin karena hanya dia yang selalu memperlihatkan permusuhan pekat terhadap keluarga nya.


Bugh


Rafa memukul seorang pria yang dia yakini tangan kanan Kendrick.


“Bajingan...”  Pria itu hanya tertawa tanpa takut, dia menatap Rafa penuh ejekan. “Jangan senang dulu bajingan” Rafa tentu saja dibuat semakin marah.


Dor


Dor


“Aaakkhhh...”


“RAFAAA...MELVIIIN...CEPAT SUSUL ADIK KALIAN! MEREKA SENGAJA MENGECOH KITA, JANGAN SAMPE MEREKA MELUKAI AZKA DAN AL” Suara teriakan Derga membuat Rafa tersadar. Dia menggeram, pantasan bajingan ini terlihat santai.


“Shiit!” Ternyata bajingan itu memang ingin mencelakai adik kecil nya. Biarpun ada Alister dan teman-temannya bersama Azka tetap saja menangani para bawahan inti Kendrick tidak lah mudah. Mengingat kekuasaan Kendrick hampir sama dengan mereka ditambah dengan otak liciknya.


...


Di markas Warriors.


Juga terjadi penyerangan, selain orang-orang pakaian senjata disana juga ada inti Geng Dragon termasuk Teo sendiri.


“Alister, Lo bakal kalah kali ini” seringai Teo saat melihat banyak anggota warriors yang telah terluka karena tembakan peluru, tetapi bagian Teo sendiri juga banyak yang tumbang karena tembakan Al sendiri.


Al menggeram, “Cih...jangan bangga dulu bajingan” decih Al, dirinya tidak akan kalah begitu saja.


“B-bang...gimana nih” cicit Azka yang berada dalam gendongan Kenzi. Melihat kingkong bersenjata api membuat jiwa badboy menciut.


Teo tertawa, “dalam keadaan kayak gini Lo masih berani ngomong gitu. Sadar Woiiii...Lo sama teman-teman Lo semua udah di kepung. Jadi mending Lo nyerah aja...Ah tidak kita mau bocah di belakang lo”  tunjuk nya kearah Azka. Azka yang merasa dirinya di tunjuk mendegus.


“Ck, gue gak sudi ya...gue masih normal” Sarkas Azka ngawur membuat Kenzi dan yang lain berdecak. “Mending Lo diem aja deh...kita lagi diujung tanduk nih” bisik Naufal yang berada di sebelah Kenzi.


Dor


Dor


Dor


“BANGSAT!” Teo dan pengikutnya mengumpat saat melihat bantuan datang, sudah dipastikan mereka bawahan keluarga Al.


“BAJINGAN, BERANI SEKALI KAU MELUKAI MEREKA” Azka saat melihat siapa yang datang seketika berteriak heboh.


“ABAAAANG...TONJOK MEREKA!” Kenzi bahkan dibuat meringis, bocah itu berteriak tepat dekat kupingnya. Sekali lagi terjadi baku hantam dan suara tembakan di sana.


Dan tentu saja dimenangkan oleh Rafa dan yang lain.


Teo dan teman-temannya juga buru-buru melarikan diri sebelum tertangkap bawahan mereka.


“Sialan! Gagal lagi” Murka nya, padahal dia sudah membayangkan akan menang dan menyiksa Al musuh bebuyutan nya itu.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT