
“Stop disini”
Ciittt...
Seketika Raya refleks menginjak pedal rem, dia tampak mendegus. Karena Azka berteriak secara tiba-tiba disaat dia ngebut menghindari kejaran dari belakang.
“Lo seriusan turun disini ka” heran Queen, saat melihat area disana sangat sepi.
“Iye” Mereka tampak melotot, “jangan bilang Lo mau nganu di tempat sepi ini ka” cetuk Delvi sembrono.
“Kagak njiir...” Azka melirik Delvi jengah, lalu buru-buru keluar. “Thanks tumpangan nya” Teriak Azka sebelumnya berlari memasuki hutan dekat sana, itu adalah jalan satu-satunya menghindari kejaran para titan untuk sampe markas.
Melihat Azka sudah tak terlihat lagi, Raya baru lah lanjut jalan. Queen dan Delvin berkali-kali menengok kearah ke belakang, ternyata dari kejauhan para bodyguard Azka masih mengejar mobil mereka.
“Mereka masih ngejar kita Ray” ucap Queen.
“Ck, tuh cowok nyusahin banget dah. Kalo gini ceritanya pasti kita yang bakal kena masalah” cetus Delvi.
“Ish...Lo mah, gak boleh ngomong gitu. Lo lupa sama cerita gue, tuh cowok udah banyak bantuin gue jadi gak papa lah sesekali bantuin dia” Bela Queen.
“Iya sih, tapi kan Lo tau keluarga Anderson itu sangat... sangat gimana gitu, gue takut aja kita dapat masalah rumit, pasti kita bakal dituduh culik anak nya”
Raya yang lagi menyetir mendegus mendengar perdebatan mereka, “Bacot njiir...bisa diam gak sih gak liat gue lagi ke desak nih”
“lagian Lo kok belain banget tu cowok, jangan bilang suka ya ama dia” Selidik Delvi tanpa peduli lirikan tajam Raya, karena memang Delvi duduk di jok depan.
Queen mengerutkan keningnya, “maksud Lo apaan sih? Apa hubungannya ama suka sih, emang salah ya gue bilang kayak gitu. Lagian ya selama gue kenal ama cowok, cuman Azka yang ikhlas bantuin gue, biarpun kadang ngeselin” Sahut nya dengan nada ketus.
“Ck, iya gue tau, tapi aneh aja gitu. Gue aja pas tau Lo dekat ama tuh cowok kaget banget, tapi gue senang sih karena masih ada cowok yang mau temanan ama lo” Entah kenapa Queen merasa tersinggung mendengar kata-kata terakhir dari mulut sahabatnya itu.
“Maksud lo apa Vi? Kok Lo ngomong kesannya ngejek gue sih”
“Kan emang kenyataan nya Queen, Lo gak amnesia kan. Semenjak kita sahabatan gue gak pernah tuh liat cowok yang mau dekat ama lo, apalagi dengan Lo juga queen bully makin banyak yang benci daripada yang suka, palingan kalo pun ada cuman mau porotin Lo doang...secara kan Lo kan anak sultan...”
“Tapi kan sekarang kagak” potong Queen dengan suara pelan.
“Eh...” Delvi tersadar, dia melirik Queen memelas. Mengeplak mulutnya yang suka ceplas-ceplos. Raya menatap sahabatnya itu kesal, bisa-bisa nya ngomong gitu. Benar-benar gak mikirin perasaan orang.
“Queen g-gue...”
“Gak papa, kan emang kenyataannya gitu” Queen tersenyum miris.
“Ditambah lagi gue udah gak diakui mereka, ck... penderitaan gue emang lengkap dah” Dadanya terasa sesak mengingat semuanya, Delvi dan Raya ikut merasakan hal sama. Raya yang awalnya ngebut seketika memperlambat jalan mobilnya tanpa menyadari mobilnya sudah dikepung.
“Ray...mati kita” cemas Delvi seketika pucat. Sementara Raya dan Queen hanya biasa saja.
☀️
☀️
☀️
Markas Geng Cobra.
Azka bersedekap dada memandang mereka satu persatu termasuk keempat sahabatnya.
“Sekarang jelasin kenapa kalian gak ngabarin gue? Lo semua gak lupakan gue siapa disini? Ingat gue bos kalian, kalo ada apa-apa hubungi gue, cari gue dulu...disini gue ngerasa gak guna sebagai bos kalian...dengan kalian balas nyerang geng Dragon, bahaya njiir”
Tentu saja ia marah. Mereka main pergi gitu aja tanpa izin darinya. Apa mereka lupa penyerangan waktu itu disebabkan oleh ketua geng dragon, gimana kalo mereka pakai senjata api bisa bahaya.
Melihat kemarahan Azka, Bagas bangkit menghampiri sahabat nya itu, “Ka, kita tau salah. Tapi mereka sudah keterlaluan... banyak anak-anak masuk rumah sakit. Kami gak bisa biarin gitu aja”
“Iya bos, kita udah terlanjur emosi” sambung Lio.
“Ya..gue tau, tapi kalian gak usah nyerang markas mereka gitu aja” Gusar Azka memandang mereka khawatir.
“Coba aja kalian gak kesana gue yakin pasti gak bakal banyak yang luka-luka parah sampe masuk RS. Geng Dragon gak sama kayak geng Lion, mereka itu juga musuh bebuyutan geng Warrior...abang gue aja yang seorang mafia masih dimusuhi apalagi kita, gue gak mau sampe ada yang mati”
“Dan gue ingatin sekali lagi, si Teo bangsat itu cuman incar gue jadi kalian jangan sampe ikut-ikutan. Dan gue yakin dia nyerang markas kita karena ada gue”
Azka tidak bodoh, dia sudah yakin kalo Teo lebih dari musuh geng Warrior dan gengnya, bajingan itu pasti memiliki rencana lain. Sudah terlihat jelas saat kejadian waktu itu.
“Iya bos, kita emang sempat dengar si Teo mau hancurin geng kita karena elo...bahkan dia sempat ngancam kita buat nyerahin bos...tapi—“
Pletak
Fano yang berada di sebelah temannya itu seketika mengeplak mulutnya. Termasuk anak-anak lain ikut menatap cowok gondrong itu tajam seakan mengumpatinya, “mulut Lo njiing!”
Si gondrong menyengir kuda sembari menggaruk tengkuknya tak gatal. “Ehehe...mangap”
“Giananjing!” umpat mereka lagi.
Sementara Azka mendesah kasar, ia sudah yakin si Teo bangsat mengincarnya. Azka menjatuhkan tubuhnya ke sofa, gini amat masalah hidup nya.
“AZKAAAAA!” Seketika mereka terkejut mendengar teriakkan terdengar menggelegar itu. Azka berdecak, sudah dipastikan mereka mencari nya sampe kesini.
Terlihat bang Melvin, kak Fely dan Alister berjalan masuk diikuti beberapa bodyguard. Mereka memandang Azka datar, adiknya itu selalu saja bikin jantungan. “Siapa suruh kamu kabur Hemm...lupa apa yang kakak dan lain katakan!” tegas Fely yang terdengar sangat lah marah.
“Kalian juga, kan saya sudah pernah bilang jika terjadi apapun dengan kalian jangan pernah bawa-bawa adik saya lagi!” tunjuk Fely kepada anak-anak Cobra termasuk keempat sahabat sang adik. Tentu saja mereka tidak terima mendengarnya.
Azka tersentak mendengar ucapan kakaknya, “Maksud kakak apa? Kakak bilang apa sama mereka! Kakak pernah ancam mereka, pliiis deh kak...kalo mau marah sama aku aja gak usah tunjuk teman-teman aku juga”
Ayo lah apa kakaknya itu lupa jika ia masih ketua geng Cobra.
“Azka, berani kamu bentak kakak kamu!” marah Melvin.
“Kenapa? gue ngomong benar kok. Lo gak lupa kan mereka semua teman-teman gue bahkan sebelum kedatangan kalian, dan perlu diingat gue ini bos mereka jadi wajar kalo ada apa-apa sama mereka gue harus tau! Sebagai bos mereka gue harus tau apa yang terjadi...” Suara Azka berubah dingin dengan sorotan tajam, bahkan kosa kata nya sudah berubah membuat Fely, Melvin dan Alister terkejut baru kali ini mereka melihat sang adik menjadi sedingin ini. Sedangkan Bagas, Lio, Nano, Radit dan anak-anak Cobra lainnya tidak terlalu kaget lagi karena mereka memang pernah melihat perubahan Azka jika sudah marah, menurut mereka ini belum seberapa karena jika seorang Azka benar-benar marah besar akan lebih dari sekarang.
“Aku tau kalian khawatir sama keselamatan aku, tapi gak gini juga caranya. Aku gak mau tanggung jawab aku sebagai seorang bos, seorang ketua gak berguna! Mereka semua sudah seperti keluarga buat aku” lanjut nya dengan nada berubah sedikit melembut tanpa menggunakan kosakata lo-gue lagi.
“Azka gak mau mereka ikut jadi korban” Lirih Azka. Alister buru-buru merangkul adiknya. Dia tau apa yang dirasakan adiknya, bagaimanapun ia juga memiliki posisi sama sebagai seorang ketua, seorang pemimpin.
Bagas, Lio, Nano, Radit, Fano dan yang lain sangat terharu mendengar semua kata-kata bos mereka. Mereka memang tidak salah memasuki geng ini, bos mereka memang paling terbaik.
Fely dan Melvin menghela nafasnya dengan kasar, melihat kemarahan sang adik membuat mereka merasa bersalah apalagi Fely, dia lah yang mengancam mereka semua biar tidak mengganggu sang adik.
“Ya udah, sekarang kita pulang” ucap Fely lembut melupakan kemarahan nya tadi.
“T-api—“
“Soal teman-teman kamu tenang aja, kakak bakal jamin keselamatan mereka sampe tujuan, mereka juga harus pulang kerumah masing-masing”
Melihat keraguan Azka, mereka menatap sang bos dengan senyuman seraya mengangguk untuk meyakinkannya.
“Yaudah. Tapi awas aja kalian ulangin lagi, gue gak bakal maafin kalian”
“A siaap pak bos!”
Azka terkekeh melihat kelakuan mereka. “Ingat baik-baik!” ucapnya lagi sebelum benar-benar beranjak keluar, Mereka membalas dengan acungan jempol.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT