Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 62



“Makan” Azka tetap membuang mukanya. Ia masih marah, ia tidak ingin melihat mereka.


“Gak sudi gue makan, ingat gue masih marah” Ketusnya.


Rafa dan Melvin menghela nafas nya, ini sudah ketiga kalinya mereka membujuk Azka. Tapi adik nya itu tetap pada pendiriannya. Mereka sudah sangat susah mencoba bersabar, selama ini belum pernah ada yang berperilaku begini, jika ada hanya akan kematian mereka terima, kecuali orang terdekat mereka pasti akan mendapatkan hukuman.


“Bab—“


“Gak usah panggil gue sama sebut itu, jijik tau gak. Harga diri gue sebagai badboy bisa punah” Potong yang sekarang beralih menatap kedua abangnya tersebut. Sering mendengar nya bukan terbiasa ia malah makin jijik dengarnya. Kayak bayi aja tau gak. Kalo sahabat nya pasti mereka mengejeknya.


“Apa kau masih belum puas dengan hukuman mu ini!” Suara Rafa berubah dingin. Sejak tadi dia telah menahan amarahnya mendengar kata-kata tidak sopan adiknya tersebut.


“Masih belum jera” Melvin juga tak kalah dinginnya.


Sementara Azka niatnya ingin menjawab tidak jadi saat merasakan aura tidak mengenakkan. “Mampus gue, setan nya muncul”


Melirik kedua abangnya itu takut, “Mangap bang” cicitnya menyengir kuda.


Cklek


Terlihat Mami Leta masuk bersama Ares. Melihat mereka membuat suasana menjadi sedikit tenang dan Azka bersorak dalam hati. Tidak sanggup ia berada bersama kedua makhluk dingin ini.


“Kenapa belum makan sayang?” Tanya Leta saat melihat makanan untuk bungsunya itu masih utuh di pegang Rafa.


“Udah kenyang makan angin kali mi” Cetuk Ares yang sekarang telah duduk di pinggir ranjang.


Leta tersenyum kecil, melihat nya dia sudah tau. Seperti nya bungsunya ini masih marah dengan Melvin dan Rafa.


“Mau mami yang suapin”


Namun ia dapatkan gelengan.


“Gak mau. Kalo rantai nya gak dilepas Azka gak bakal mau makan” Sembari berbalik memunggungi mereka, ngambek ceritanya.


“Kok gitu sih! Nanti kamu bisa sakit sayang” Leta sebenarnya setuju, dia tidak tega melihat kaki kesayangan nya itu dirantai. Tapi mau bagaimana lagi dia tidak bisa melepaskan gitu saja.


“Jangan tunggu abang marah Azka!” Melvin memandang punggung adiknya itu tajam. Sementara Rafa memilih diam tapi tatapan nya masih sedingin tadi. Adiknya ini benar-benar minta cara kasar.


“dek jangan gitu dong, emang mau kedua singa di belakang lo ngamuk” Bisik Ares yang kebetulan berada dekat dengan adiknya itu. Tetapi yang namanya Azka tetap tidak menggubris, keras kepala.


“Baiklah, jangan salahkan abangnya menggunakan cara kasar” Mendengar nya membuat Azka mulai takut.


...


“Hiks Huweee...sialan Lo semua bangsat!” Tangis Azka memenuhi kamar bernuansa biru laut tersebut.


“Sayang jangan ngomong gitu” Leta jadi kasihan. Tapi jika tidak di paksa putra nya ini pasti tidak akan mau makan. Dia tidak kesayangan nya itu sampai sakit.


Namun tangisan Azka makin keras, netra nya terus memandang tajam kearah Ares, Rafa dan Melvin. Semuanya gara-gara mereka, gimana tidak kesal, ketiga makhluk astral itu memaksanya seperti seorang tahanan.


Leta memeluk tubuh kesayangan nya itu sembari mengusap air mata yang telah membasahi pipi chubby nya.


“Mami Azka gak mau liat muka mereka, Azka gak mau ketemu mereka, hiks...”


Ares tampak memegang perutnya dengan bibir berkedut menahan tawanya. Dia sudah menahan nya sejak tadi tapi demi keselamatan terpaksa menahannya. Azka tau abang laknatnya itu sedang menertawakan nya.


“ARESANJIIING...AWAS LO!!” Suara terikan Azka tidak main-main membuat mereka yang ada disana meringis, apalagi Leta yang ada di dekatnya. Menghindari amukan Ares seketika kabur keluar.


“Apa liat-liat” Galaknya saat mendapatkan tatapan tajam Rafa dan Melvin.


“Apa ingin bibir mu abang jahit” Ancam Rafa yang mana hanya dianggap angin lewat oleh si empu.


“Coba aja kalo Lo bisa, sebelum Lo jahit gue tendang duluan Lo ke sungai Amazon biar mampus”


Melvin yang awalnya ingin marah malah terkekeh geli mendengar ancaman balik adiknya itu, apalagi tatapan garang nya, bukannya terlihat seram malah terlihat menggemaskan dimatanya.


“Mami” Leta yang mendengar panggilan dingin putra sulung kakaknya itu hanya bisa menghela nafas panjang nya. Namun, tak dipungkiri dia juga gemas mendengar ancaman kesayangannya ini.


“Disini aja mi, temani Azka. Males tau gak sama mereka, ngeselin”


Leta terkekeh mengusak surai itu, “gak boleh gitu bang Rafa sama bang Melvin kan abangnya kamu jadi gak boleh ngomong gitu. Yaudah mami keluar ya” Azka mengerucutkan bibirnya melihat maminya itu beranjak keluar. Lalu di susul Melvin kecuali Rafa, dia masih menatap adiknya itu sangat tajam.


Sebenarnya ingin berteriak memanggil mommy nya tapi saat sampe rumah tadi, mereka bilang mommy nya lagi pergi sama mama ke Prancis ngurus cabang butiknya yang lagi ada sedikit masalah.


Kesal tentu saja.


Pergi nya gak bilang-bilang, kan kalo di bilang dulu ia kan bisa ikut, lumayan dapet liburan gratis.


Kakak nya juga sama, malah balik lagi ke Korea.


Dan tak lama setelah itu Daddy nya juga malah pergi bersama Papa dan papi karena mendapatkan urusan penting mendadak.


Mau ikut tapi tidak bisa karena ia harus menjalankan hukuman dulu.


Emosi kan ia, semua nya menyebalkan.


Mau ngamuk takut kena amuk balik sama titisan setan yang sayangnya abangnya sendiri.


“Sudah malam, sekarang tidur” Ucap Rafa yang sudah meredakan marahnya. Menghampiri sang adik yang lagi bersungut-sungut. Saat akan menyentuh kepalanya si empu malah mengelak.


“Gak usah sentuh, jijik tau gak” Garangnya dengan tatapan tidak bersahabatan.


Rahang Rafa seketika mengeras mendengar kata-kata adiknya, sejak tadi adiknya itu selalu memancing kemarahan nya.


“Jangan buat abang benar-benar menjahit bibir mu itu!” Aura nya bahkan lebih mengerikan dari pada sebelumnya membuat Azka susah payah menelan saliva.


“Huwaaa gue mau kaboor aja!” jeritnya dalam hati. Jika dikeluarkan langsung bisa makin mampus ia mah.


Merasakan pelukan hangat itu membuat Azka mendegus dalam hati dan memilih menurut dari pada mulutnya dijahit benaran. Gak elit banget seorang Azka yang memiliki ketampanan diatas rata-rata akan menjadi viral dengan bibir terjahit rapat karena mengucapkan kata-kata kasar.


“Sekarang tidur Hem!”


“T-tapi belum ngantuk bang” cicitnya masih dalam pelukan pria dingin itu.


Rafa mengelus lembut surai tersebut tak lupa mengecup keningnya singkat.


“Mau abang gendong” Azka yang ingin protes langsung bersungut-sungut saat ia malah digendong koala, seharusnya tanya dulu dong sama orangnya. Memang menyebalkan.


“Turuni bang, malu tau digendong segede ini” Hal tersebut juga mengingatkan nya pada si Davanjiing yang sering di gendong ayahnya. Ia mengejeknya tapi sekarang ia sendiri juga digendong.


“Ngapain malu, kan disini cuman ada abang” Rafa terkekeh mendengar degusan itu.


“Ish...emang Azka gak berat gitu” Sebal nya.


Rafa menggeleng, “gak tuh” Memang kenyataan, dia tidak merasa berat sama sekali tubuh adiknya malah terasa ringan seperti kapas.


“Maka nya makannya yang banyak biar badan nya gak ringan gini” Mendengar ledekan itu membuat Azka membola.


“Abang aja yang kebesaran, malah nyalahin makan aku” Deliknya. Memang kenyataannya lihat saja tubuh abangnya ini begitu kekar sementara ia kurus gini.


“Awas aja nanti gue bakal rajin olahraga sama gym biar gak di ledekin lagi. Dan gue bisa baku hantam sama para titan itu”tekadnya dengan serius.


“bang kapan rantai sialan ini dilepas” Rengek nya sembari mendusel-dusel di dada bidang itu.


“Seminggu lagi”


“WHAAAATT!!”


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT