
“Cepat sembuh ya sayang” Nadine mengecup singkat dahi bungsunya. Disana juga ada Rani dan Leta. Sedangkan para lelaki keluar. Azka memang dinyatakan demam. Usai di periksa dan di beri obat oleh Abi ia kembali tidur dengan tenang.
“Kasihan banget, putra imut mama” Lirih Leta.
Mereka sudah tau penyebab Azka bisa demam. Semuanya telah di ceritakan Nathan dan Derga. Sedangkan Rafa hanya diam saja. Mereka sebenarnya ingin marah tapi mengingat kelakuan putra bungsu nya ini mereka hanya bisa mendesah.
“Mending kita keluar dulu” ujar Rani yang hanya dianggukan keduanya.
...
Di sisi lain. Antonio bergegas kembali saat mendapat kabar tentang putra kecilnya.
Begitupun Felysia, dia benar-benar ingin menghajar abang sulungnya itu.
☀️
☀️
☀️
Di sekolah. Keempat sahabat Azka tampak kening karena tak melihat bos mereka datang. Mereka belum belum mendapatkan kabar apapun dari keluarga Azka.
“Coba Lo telpon, bisa jadi si bos masih molor”
“Lo nyuruh gue” Radit menatap kesal Nano yang memerintah barusan.
Nano mengernyit, “lah napa? Gue kan cuma bilang gitu! Bukannya barusan Lo yang heboh”
“Tetap aja gue gak suka diperintah ama lo!”
“Ck, yang merintah Lo siapa, goblok! Gue kan cuman minta Lo hubungi si bos... berhubungan Lo lagi pegang ponsel”
“Sama aja ,ogeb” Dan perdebatan pun terjadi. Tidak ada yang mau mengalah. Lio dan Bagas menatap jengah kelakuan ke-dua nya.
“Stop!” tekan Bagas dengan suara dinginnya membuat mereka berhenti berdebat. Sekarang mereka berada di kantin.
“Bacot mulu kalian...lagian tinggal telpon si bos aja susah amat! Harus banget berdebat kayak tadi...kadang bingung gue kenapa ya, gue bisa punya teman modelan Lo berdua” Ucap Lio dengan nada jengkel nya.
“Ck, siapa juga yang mau temanan ama Lo...sorry ya kita tuh teman si bos bukan elo!” Sahut Nano mencibir. Bibir Lio berkedut mendengar perkataan sahabat laknat nya itu.
“Diam” Bagas menatap mereka datar, “biar gue hubungi Azka” ucapnya, karena menunggu mereka entah kapan saja selesai nya.
Mereka akhirnya diam dan menunggu.
“Gimana?” Bagas menggeleng, “gak diangkat” Mereka menghela nafas panjang mendengar nya.
“Mending tanya ama abangnya aja” ujar Lio.
“Siapa? bukannya Azka itu anak tunggal ya” bingung Nano, otaknya mulai oon lagi.
“Goblok dipelihara” Degus Radit yang dibalas tatapan tak suka dari si empu.
“Mending Lo diam deh, biar gue tanya ama si Al” Lio beranjak kearah tempat duduk Alister dkk. Sedangkan, Nano akhirnya mengerti siapa yang dimaksud Lio. Kenapa ia bilang melupakan hal tersebut. Gak salah sih mereka bilang ia goblok tapi tetap saja ia tidak terima.
“Kalo terjadi apa-apa sama bos gimana”
Plak
“gak bakal” Sahut Radit sembari menepuk bahu Nano sedikit kasar. Membuat si empu meringis.
“Kalo mau tepuk gue santai dikit napa sih” Sungut Nano, yang hanya dibalas cibiran oleh Radit.
Usai menanyakan tentang Azka, Lio kembali ketempat sahabat nya.
“Gimana?”
Lio menghela nafas sedikit berat, “kata dia si bos lagi sakit makanya gak sekolah”
Mereka tentu saja terkejut mendengarnya, “lo serius, terus gimana keadaan bos...parah nggak sakitnya” tanya Nano mewakili Radit dan Bagas.
“Gak tau, mending nanti kita jenguk kesana”
“gue jahit mulut Lo” Gini nih giliran Azka sakit saja marah banget, pilihan kasihan.
“Mampus Lo!”
“Lagian si bos juga manusia kayak Lo, pasti bisa sakit lah”
“Siapa yang sakit! cowok nyebalin sakit ya” Suara itu membuat mereka tersentak dan menoleh kearah asalnya. Mereka melihat Queen bersama kedua temannya.
Seketika raut wajah mereka menjadi kesal, “Kenapa? Lo khawatir ama bos kita” Cetus Lio, karena memang diantara sahabat nya hanya dirinya lah yang paling tidak menyukai keberadaan cewek modelan Queen.
“Sok kenal banget Lo ama bos kita” Radit ikut menyahuti dengan nada sedikit ketus.
Queen hanya tersenyum tipis dan ikut duduk di kursi kosong dekat mereka begitu pun kedua temannya.
“Emang gue udah kenal ama bos kalian...gue juga kangen Lo pen ketemu dia tapi nyatanya dia gak datang” Ucapnya dengan nada tenang tidak angkuh seperti biasanya.
“Jadi benar ya Azka gak sekolah karena sakit” Bukannya apa? semenjak Azka menolongnya waktu itu ia juga sudah merubah pemikiran nya terhadap Azka, selain itu biarpun Azka itu ngeselin dan sering buat ia emosi tapi di sisi lain ia merasa senang karena cowok itu tidak jijik padanya dan tulus membantu nya. Sedangkan orang terdekatnya saja tidak pernah seperti itu, bahkan menatap nya saja tidak sudi apalagi membantu nya, Tidak ada yang tau penyebab lain ia melakukan pembullyan tersebut untuk menutupi kelemahannya.
Anak-anak itu juga tidak pernah lagi mengganggu nya sejak di hajar oleh Azka.
Mereka mengerutkan keningnya, “Ck, Lo kenapa sih? nanya bos mulu...atau jangan-jangan—“ Nano memicingkan matanya sembari menjeda ucapannya. Yang malah membuat mereka penasaran.
“Jangan-jangan apa?” Queen juga ikut bingung.
“Jangan-jangan Lo udah jadian ya ama si bos” sambung nya sembari tertawa ngakak.
“Gila!” Radit, Lio dan Bagas menatap datar sahabat nya tersebut sedangkan, Queen dan kedua temannya malah ternganga mendengarnya.
“Dah...mending kelas yuk, mood gue jadi hilang ngeliat beginian” Ucap Lio. Mereka bertiga mengiyakan saja.
“Sorry ya ciwi-ciwi...kita harus cabut” ucap Nano dengan senyuman menyebalkan nya.
Queen mendengus melihat mereka pergi, segitu tidak sukanya dengan dirinya sampe menjawab pertanyaan nya saja tidak sudi.
“Gini nih... yang bikin gue kesel ama mereka”
“He’em... padahalkan kita gak niat ganggu”
...
Di tempat Alister dkk.
“Sam...adik Lo tuh” seru Naufal dengan nada ledekan sembari menyenggol lengan Samuel.
Samuel hanya melirik males kearah Queen, “Ck, udah berapa kali gue bilang! Gue gak punya adik selain Cia” emosi Samuel menatap sahabatnya tersebut dengan tatapan tajam.
“lah si anjiiir...santai aja kali galak amat Lo” Naufal memutar bola matanya melas.
“Salah Lo... ngomong kayak tadi lagi gue bacok Lo” Tekan Samuel yang mana membuat Naufal sedikit ciut.
“Sam, lo benaran gak nganggap Queen adik Lo lagi...apa Lo gak keterlaluan dengan ngomong kek gitu, mau bagaimana pun dia kan tetap adik kandung Lo” Kenzi memang tidak terlalu membenci Queen, dia sedikit mengerti penyebab Queen jadi begini.
“Yang dibilang Kenzi benar” Al ikut menyahuti. Walaupun Queen sering mengganggunya dan menyatakan cinta terang-terangan padanya tapi ia tidak terlalu menaruh rasa benci hanya sedikit tidak suka saja. Apalagi mengingat ia sudah menganggap Queen seperti adiknya sendiri.
“Kalian jadi bela dia sih!” Samuel memandang mereka kesal. “Gue gak punya adik seperti dia, tukang bully... murahan lagi, Cihh...”
“Dah lah... gara-gara ngomongin dia gue jadi nggak mood” Samuel bangkit dan pergi dari sana. Mereka hanya geleng-geleng melihat kepergian sahabat nya tersebut.
“Menurut Lo! Apa kita bantu dia buat sadar... apalagi keluarga nya! dan kebenaran tentang si Cia cia itu” Ucap Naufal seraya memandang kedua sahabatnya tersebut.
“tidak perlu... biarin dia tau sendiri” Jawab Al dengan nada acuhnya. Lalu ikut beranjak pergi karena sudah bel.
“Benar juga” mereka mengangguk sembari mengikuti langkah Al menuju kelas.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT