
Jauh, di negara berbeda.
Di sebuah rumah mewah bak istana, dalam sebuah ruangan yang terlihat sangat mewah. Terlihat sepasang suami istri tampak berpelukan dengan mesra. Mereka terlihat masih muda.
"Honey... Apa masih belum waktunya kita ketemu buah hati kita? Kamu tau aku sudah sangat merindukannya" Ujar Wanita cantik tersebut kepada suaminya.
"Kamu tenang saja Honey... sebentar lagi kita pasti akan membawanya kembali. Aku sebagai seorang ayah juga sangat ingin menemui nya secara langsung. Bukankah kamu tau, aku tidak pernah bertemu darah daging ku sejak lahir dan itu semua atas kesalahan ku sendiri!" Terlihat ada penyesalan dari raut wajah pria tersebut.
Wanita tersebut menghela nafasnya dengan lemah sembari mengelus rahang tegas suaminya, "Ini bukan sepenuhnya salah kamu Honey, ini juga salah aku karena tidak mendengarkan penjelasan kamu lebih awal. Jika saja kau tidak pergi waktu itu mungkin semua nya tidak akan menjadi seperti ini, kita tidak akan terpisah dengan nya" Sang pria mengulas senyuman nya memandang wajah cantik sang istri.
Melihat wajah itu selalu membuat hatinya menjadi tenang.
"Kamu benar Honey! Tetapi di satu sisi mereka juga ikut andil membuat kita berpisah. Aku tidak akan pernah melupakan wajah-wajah bajingan itu!"
Wanita tersebut mengelus punggung tegap sang suami, "Sudahlah kamu tidak perlu membahas mereka lagi, aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan mereka. Saat mengetahui kebusukan mereka aku sudah tidak sudi bertemu dengan mereka lagi..."
"Dan aku harap kamu jangan melakukan hal lebih kejam lagi terhadap mereka, dengan aku memutuskan hubungan keluarga dengan mereka itu sudah lebih dari cukup"
Dia hanya bisa mendesah mendengar permintaan sang istri.
...
...
...
Di Kantor, Alena terlihat memasang wajah masam setelah mendapatkan kabar kurang enak dari orang-orang suruhan nya.
"Ck, apa kau sudah membawa teman bocah itu ke rumah sakit" Alena menatap tajam pria dihadapannya.
"Tentu, sesuai perintah nyonya!"
Alena mengangguk puas. "Lalu bagaimana dengan bocah itu? Apa kau masih belum mendapatkan kabar tentang dia, kau tidak lupa bukan aku membayar mu hanya untuk menjaga dan mengawasi bocah itu dari jauh. Ini perintah dari orang itu, jika sampai terjadi apa-apa dengan bocah itu sudah dipastikan saya yang akan mendapatkan amarah nya!" Wajah Alena menjadi pucat saat mengingat bagaimana kejam orang yang disebut nya sebagai atasannya tersebut.
"Biarpun saya belum mengetahui pasti ada hubungan apa dia dengan bocah itu, tapi kita tidak bisa mengabaikan nya" Lanjut Alena dengan wajah tak berdaya.
"Barusan kami telah mendapatkan kabar tentang bocah tersebut Nyonya...Tapi--"
Alena yang awalnya menjadi agak tenang seketika mengerutkan keningnya, "Tapi apa? Cepat jelaskan!" Desak Alena dengan wajah garang nya.
"Bocah itu sekarang dalam keadaan kritis, dia masih belum sadarkan diri akibat tertembak"
PRANGG...
Saat itu juga Alena melempar gelas yang ada ditangannya yang hampir saja mengenai pria tersebut jika saja dia tidak menghindar dengan cepat.
"Sialan!"
"Keluar kau sekarang bajingan!!" Melihat nyonyanya yang mengamuk membuat pria itu mau tidak mau bergegas keluar.
"Wanita itu benar-benar membuat ku muak saja, jika saja aku tidak membutuhkan uang miliknya tidak sudi aku bekerja dibawah perintah nya" Kesal pria itu setelah keluar dari ruangan milik Alena.
...
Alena yang masih belum tenang tiba-tiba mengumpat saat mendapatkan panggilan dari atasannya.
"H-hallo tuan..."
"Hmm... Bagaimana?" Mendengar suara dingin itu membuat bulu kuduk Alena seketika berdiri. Masih suaranya sudah membuat nya ketakutan apalagi sampai langsung berhadapan dengan orangnya, sudah dipastikan untuk menjawab saja ia tidak sanggup. Dan selama ini baru empat kali ia bertemu secara langsung dengan pria tersebut.
"T-tuan..."
Alena mengatup bibirnya gugup, ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga saja tuannya itu tidak menghukum nya lagi.
"Begini tuan, atas kebodohan bawahan saya, saya minta maaf karena membiarkan bocah itu terluka bahkan sampai sekarang dia belum sadarkan diri" Alena sama sekali tidak memiliki keberanian untuk berbohong mengingat bagaimana jenius nya tuannya tersebut, apalagi dengan identitas nya cukup mudah mengetahui kebohongan. Alena tidak ingin disebut sebagai pengkhianat.
"..."
"T-tuan..." Karena tidak mendapatkan balasan membuat Alena semakin yakin tuannya itu sedang marah.
"Sudah saya duga, lalu bagaimana dengan orang yang telah membuat anak itu terluka, apa kau telah membereskan nya!"
"Tentang orang itu, tuan tenang saja saya yakin keluarga bocah itu sudah menanganinya. Jadi tuan tidak perlu khawatir"
"Hmm... bagus. Tetapi kau tetap lakukan sesuai perintah ku... awasi terus anak itu, jangan sampai kecolongan lagi. Jika tidak kau akan tau akibatnya"
"Baik tuan. Tuan bagaimana dengan perintah awal tuan, bukannya tuan meminta saya membawa bocah itu segera, tetapi kenapa sekarang tuan berubah pikiran?"
"Itu bukan urusan mu, yang perlu kau lakukan hanya mengikuti perintah ku sekarang. Dan satu lagi jangan pernah kau berpikir untuk berkhianat jika tidak kau akan merasakan kekejaman saya sesungguhnya!"
Tut... Tut...
Alena langsung saja terjatuh diatas sofa, ia merasa lega saat tak mendengar suara pria itu lagi. Namun, tetap saja di satu sisi ia merasa ngeri saat mendengar ancaman itu.
Cklek...
"Bunda, Bunda Kenapa? kenapa wajah muda kayak habis dikejar hantu begitu" Dava yang baru memasuki ruangan kerja milik bundanya tersebut.
Alena yang melihat kedatangan putranya hanya mendengus, "Kamu ini kebiasaan Dava, kalo masuk itu ketuk dulu ato apa kek"
Dava memutar bola matanya, "kayak sama siapa aja, aku ini anak bunda lho serah aku dong" Bantah Dava. Alena hanya berdecak mendengarnya.
"Ada perlu apa kamu kesini? bukan sekarang masih jam sekolah, kenapa kamu malah keluyuran?" Heran saat melihat putra itu masih mengenakan seragam sekolah, dan hari juga masih pagi.
"Guru lagi rapat Bun... aku juga habis dari rumah sakit jenguk ayah" Sahutnya.
Mendengar nya, Alena jadi melupakan tentang suaminya yang sekarang masuk RS lagi. "Bagaimana keadaan ayahmu? apa masih belum bisa pulang"
Dava menggeleng, "Belum, aku jadi kasihan liat ayah makin lama makin kurus. Bunda juga sesekali luangkan waktu buat jenguk ayah"
"Maaf sayang, bukannya bunda gak mau tapi kamu liatkan bunda sibuk ngurusin kerjaan kantor, kalo bukan bunda siapa lagi"
"iya sih" Dava tidak bisa membantah ucapan bundanya.
"tapi Bun, aku kesal banget sama ayah. Udah sakit-sakitan gitu masih aja mikirin Azka" Degus Dava.
Alena hanya mendesah mendengarnya, "sudahlah, biarin aja"
Dava makin kesal mendengar balasan bundanya, bukannya ikut kesal malah pasrah gitu saja.
Azka! Ck, anak itu benar-benar membuat nya kesal.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT