
Keesokan harinya.
Di pinggir jalan yang terbilang cukup sepi tampak beberapa preman sedang mengadu tinju dengan seorang remaja lainnya. Lebih tepatnya mereka mengeroyok remaja tersebut.
“Beraninya cuman keroyokan!” Remaja tersebut memandang remeh lawannya tersebut dengan terus bergerak terkadang menghindari dan membalas dengan brutal.
“Habisin dia, jangan sampe bos memarahi kita karena tidak becus melawan satu bocah!” Sentak salah satu dari mereka yang memiliki luka bakar di bagian wajahnya, dia juga paling kuat diantara mereka.
“Iya kita tau, nih anak susah juga ternyata”
Azka, ya remaja yang dikeroyok tersebut Azka, awalnya ia ingin pergi ke tempat kerjanya namun di pertengahan jalan malah di hadang segerombolan preman lain, yang ia yakini anak-anak dari geng lainnya.
Walaupun hanya sendiri, ia tidak takut sama sekali selagi bisa melawan akan ia jabangi sampe mampus.
“Cih...ada masalah apa kalian sama gue Hah! Sampe berani main keroyokan, dasar preman banci!” Azka meludah sinis sembari menyeka darah di bibirnya, kondisi nya sudah terbilang cukup parah begitu para lawannya.
“bocah gak perlu tau, yang jelas bos kita pengen bocah kayak Lo habis di tangan kita”
Azka tertawa sinis, “lo pikir makanan bisa Lo pada habisin” Masih sempat-sempatnya bercanda padahal sudah babak belur gitu.
“Wah...wah...masih sanggup juga bercanda” Mereka tertawa bermaksud mengejek Azka.
“Hahaha...terus kalian pikir gue takut” Azka malah ikut tertawa membuat mereka menghentikan tawanya dan berubah memandang dengan kesal.
“Sialan! buruan habisin dia bangsat!” teriak pria yang memiliki luka di wajahnya tadi. Membuat teman-teman nya mengumpat namun tetap melakukan perintah nya.
“Asu! Capek gue njiir, apa gak bisa kasih gue rehat bentar” Azka berteriak kencang dalam hatinya, mungkin sudah hampir sejam ia melawan para preman gadungan ini. Mana tubuh mereka besar-besar lagi sedangkan ia kecil, capek njiir.
“Wooyy...jeda bentar bisa nggak sih, capek gue ******!” Teriak Azka dengan tak tau malunya, ia pikir cuman main-main pakai ada jedanya segala. Mendengar itu tentu saja membuat para preman tersebut marah.
Karena sudah tak tahan, diam-diam salah satu dari mereka mengambil sebuah patahan kayu, “Mampus Lo bocah!” lalu memukul tepat di tengkuk belakang Azka, Azka sendiri tidak dapat menghindar lagi.
“B-bangsat li-“ umpatan Azka tidak kesampaian karena ia terlebih dahulu jatuh tak sadarkan diri.
“Udah hampir mati masih berani mengumpati kita!”
Yang lain tertawa sinis, “kerja bagus” kata si wajah luka tersebut.
“Kenapa tidak dari tadi? Kita kan gak perlu habisin keringat” protes salah satu temannya. Sedangkan yang memukul Azka tadi hanya berdecak.
“Sudah, buruan cabut!”
“Terus nih bocah gimana?”
“Biarin aja, si bos juga kagak minta kita bawa dia yang terpenting kita udah buat dia sekarat” Mereka hanya mengangguk, lalu menaiki motor masing-masing pergi dari tempat tersebut.
Tak lama setelah kepergian para preman tersebut muncul sebuah mobil hitam dan berhenti dekat Azka terkapar.
“Shiit!” Pria tersebut yang tak lain adalah Rafael mendesis marah saat keadaan Azka yang sangat memprihatinkan.
Berani sekali mereka membuat calon adiknya seperti ini, lihat saja apa akan ia lakukan.
“Marko, kerumah sakit!” titah nya setelah mengangkat tubuh Azka ke dalam gendongan nya tanpa merasakan berat sedikit pun.
“Baik tuan” Marko segera menyetir mobil menuju rumah sakit.
Selama di perjalanan Rafael terus menatap lekat wajah Azka berada di pangkuan nya, “Tunggu setelah ini! Kau akan menjadi adik kecilku!” Rafael menyunggingkan senyuman nya. Marko yang tak sengaja melihat lewat kaca mobil dibuat tercengang, mimpi apa dia sampai melihat hal langka ini, si datar, si kejam tersenyum manis bak gula. Mungkin tuannya itu sedang berhati mulia, walaupun rada terlambat menyelamatkan Azka, bocah yang membuat tuannya itu tertarik.
Eps...bukan homo ya tapi tertarik hal lainnya.
Yap sebelumnya Marko mendapatkan kabar dari salah satu bodyguard yang mengawasi Azka diam-diam. Awalnya sudah diperintahkan nya untuk segera membantu Azka tapi malah dilarang si tuan. Jadi begini lah akhirnya.
☀️
☀️
☀️
“G-gue dimana?” Sembari meliarkan pandangan untuk melihat area di sekitar nya. Sesaat kemudian, terdapat kerutan di dahinya.
“Napa pada putih semua nih tempat, kayak di RS aja. Bukannya gue habis berantem ama preman gadungan” Ya, dia Azka. Lalu netra nya beralih kearah tangan kanannya, “lah...sejak kapan tangan gue di infus” Azka kaget, sekali lagi ia memperhatikan tempat tersebut.
“Njiir...ini benaran RS” mata melotot apalagi melihat tangannya di tusuk alat infus, bukannya takut ia paling tidak suka pakai begituan.
“Siapa sih yang beraninya bawa gue ke tempat biadab ini! Mana pakai di infus segala lagi! Gak tau apa, gue tuh paling benci rumah sakit" yang utama sih bau obat-obatan. Paling benci sekali ia.
“Ck...” Dengan kasar ia melepaskan nya tanpa peduli akibat tarikannya itu membuat tangannya berdarah. Dan buru-buru turun, namun...
“Ets...mau kemana!” Terlihat seorang pria yang memakai almamater putih baru saja memasuki kamar tersebut. Sekali lihat saja Azka sudah tau dia seorang dokter.
“Mau pulang lah! Lo pikir gue sudi tiduran di tempat putih-putih begini! Amit-amit dah” Sahut Azka dengan sewot mana ngegas lagi, dia tidak peduli jika si dokter lebih tua darinya.
“Siapa yang memberimu izin pulang?”
“gue gak butuh izin, emang Lo siapa dah cuman dokter bukan bapak gue!” Masih sama, malah sekarang ia dengan berani nya menunjukkan-nunjuk ke muka si dokter. Sedangkan sang dokter hanya memandang datar, lalu raut seketika berubah saat melihat tangan bekas infus Azka berdarah.
“Kau mencabut paksa infus nya!” Azka yang di tanya malah meliarkan penglihatan sembari mencibir. Mana peduli tangan nya berdarah.
“Jangan sampe gue di marahin si kejam itu!” Lalu dengan secara paksa menarik Azka untuk kembali duduk di brankar, Azka tentu saja melakukan pemberontakan.
“mau ngapain lagi Lo hah! Gue kan udah bilang, gue tuh mau pulang! Gak perlu pakai rawat gue segala, gue tau Lo tuh sebagai dokter bertanggung jawab atas pasien nya tapi nggak usah maksa juga Woyy!”
“Diam lah. Lihat tanganmu berdarah jika tidak segera diobati akan infeksi” Azka memutar bola matanya melas, infeksi pantat besar Lo, dia aja sering pukul-pukulan sampe berdarah gak masalah, cuman luka kecil mah.
“Ck, pemaksa banget Lo jadi dokter. Untung gue masih berbaik hati kalo gak udah gue buat Lo masuk kamar darurat” Ngomong aja Azka yang besar, mana berani dia melakukan hal tersebut pada dokter ini bisa masuk penjara dia, mana masih sekolah lagi.
“Besar mulut sekali nih bocah. Kesambet apa si kejam itu sampe membawa bocah modelan ini” Dokter yang bernama Abimayu Rajandra Anderson, yang tak lain sepupu Rafael tersebut membatin heran.
“Lama bet Lo, cepatan dikit bisakan, gue harus cepat pergi ambil motor gue! Dan gue juga harus berangkat kerja”
Abi dibuat kesal mendengar nya, ingin marah tapi takut ketahuan si kejam, bisa mampus dia.
“Kau belum bisa pulang, luka mu belum sepenuhnya sembuh. Lihatlah wajah mu itu apa tidak sakit” Abi berbicara dengan sabar, maksudnya berusaha ntuk sabar.
“Kagak. Lo gak tau aja, gue udah kebal kayak ini jadi gak usah khawatir” Sebenarnya terasa agak ngilu sih apalagi di bagian sudut bibirnya tapi gak terlalu masalah. Bisa ditahan.
Abi menghela nafas panjangnya, susah juga membujuk bocah ini. “Baiklah. Kau boleh pulang tapi...”
“Gak usah pakai tapian segala, gak butuh” Sekali lagi Abi dibuat sebal, apa bocah ini tidak diajarkan sopan santun. Dari awal tidak ada sopan-sopan nya.
“Tunggu bang Rafa kembali, jika kau memang ingin pulang”
“Dan ingat jangan coba-coba dilepas lagi sampe saya sendiri melepas nya” Peringatan Abi sebelum keluar dari kamar tersebut tak lupa menguncinya dari luar biar tuh bocah tidak kabur. Dia tidak ingin diamuk singa.
Azka, tentu saja tidak terima. “Nggak bisa gitu dong” saat kan mencabut infusnya kembali langsung ia urungkan dan memilih membawa tiang nya berjalan kearah pintu, entah kenapa firasat nya berkata tidak baik. Dan saat mencoba membuka pintu nya, ternyata dugaannya benar.
“Sial! Malah di kunci”
“Sebenarnya ada masalah apa si dia ama gue...terus si Rafa Rafa itu siapa lagi coba! Niat banget mau nolong gue, emang sih gak ada salah nya tapi kenapa maksa banget sih. Heran gue!”
Azka terus mengoceh sendiri sampe merasa lelah sendiri. Dan akhirnya memilih tidur dari pada makin membuat tenggorokan nya kering.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT