
“Hahaha...bos, gue gak nyangka bakal liat hal beginian” Tawa mereka pecah kecuali Bagas hanya terkekeh kecil. Karena pertama kali memasuki kamar bos nya mereka malah mendapatkan pandangan mengejutkan semua itu ulah satu makhluk menyebalkan siapa lagi kalo bukan Ares.
Azka tentu saja merasa malu sekali netranya menatap tajam Ares yang malah pura-pura tidur seperti tidak terjadi apa-apa.
“Aresanjiing...muka gue ternodai, mana bau jigong lagi” teriak Azka dalam hati.
Kemudian melirik keempat sahabatnya yang sudah duduk di sofa dengan masih tertawa, walaupun tidak sekeras tadi.
“Ck, bisa diam gak. Lama-lama tongos tuh mulut” degusnya sedikit ngegas sembari menatap nyalang mereka.
“Anjiim” membayangkan saja membuat mereka ngeri dan terpaksa menghentikan tawanya.
“Res...mending Lo keluar sana, eneg gue liat Lo disini” sentak Azka yang sekarang beralih melirik kearah Ares yang lagi tiduran di samping nya.
“Panggil abang dek, gak sopan tau gak... gini-gini gue tetap lebih tua dari Lo” Ares memandang Azka memelas. Dan itu membuat Azka makin muak, kesal tentunya.
“Abaaang...” terdengar ejekan dari Radit membuat Nano dan Lio tertawa terbahak-bahak.
“Jijik gue dengar Lo... suara Lo gak ada cocoknya manggil begituan ama gue” Ares yang sudah duduk memandang kearah Radit jijik seperti ingin muntah. Yang mau ia dengar tuh Azka manggil begituan dan pastinya membuat nya sangat bahagia.
“dah...kita tuh kesini mau jenguk Azka bukan untuk bacot” Ucap Bagas melirik tajam Radit termasuk Nano dan Lio yang masih menutup mulut menahan tawa nya. Entah apa yang lucu, padahal menurut nya biasa saja. Tapi bagi mereka sangat lucu, Ck.
“Wiihh...tumben Lo ngomong panjang Gas” Ledek Nano yang hanya dibalas tatapan datar oleh si empu.
“Eh...res, tumben Lo gak ngumpul ama geng Lo” tanya Lio heran.
“Males. Mending dirumah nemanin dedek emes” Sahutnya acuh, karena memang akhir-akhir ini ia jarang ngumpul ama anak-anak geng nya. Sangat membosankan.
Mereka hanya ber oh ria tapi saat mendengar kata-kata dedek emes seketika membuat mereka jengah, apalagi Azka sendiri.
“Tumben Lo nanya...kangen Lo baku hantam ama gue” Ares tersenyum sembari menaik-turunkan alisnya.
“Cih...siapa juga kangen ama human modelan Lo” Lio menatap sinis.
“Kalian bawa apa kesini...jangan bilang jenguk orang sakit gak bawa apa-apa” Selidik Azka karena dari awal masuk ia tidak melihat salah satu dari mereka membawa apapun dan sekarang malah bacotan terus didengar nya.
Mereka tanpa saling lirik satu sama lain seperti mengatakan, Lo pada bawa apaan. Bahkan Bagas pun sama.
Beberapa saat kemudian mereka tertawa bersama, sadar melupakan hal tersebut.
Ares ikut tertawa tapi bedanya ia tertawa bermaksud mengejek mereka, “Tolol. Gini amat Lo punya teman dek...kalo gue mah udah gue tendang dari tadi” Mendengar perkataan Ares membuat tatapan mereka mengarah padanya dengan tatapan jengkel.
“Dah dek, mending bobok sama bang Ares” ucap nya dengan nada lembut tapi malah terdengar menjijikkan oleh mereka.
“Enak aja lo, kita kesini mau ngemeng-ngemeng ama bos...mending Lo keluar deh, gak seru kalo ada Lo disini... mengganggu!”
Ares melotot, “emang Lo siapa ngusir gue...cuman tamu doang berani banget Lo ama gue! Seharusnya Lo ama teman Lo tuh yang kudu keluar” tunjuknya pada Lio yang berbicara tadi.
“Sama aja, setau gue nih rumah punya Al ama ortu nya bukan lo” Lio kembali menyahuti tidak mau kalah.
Ares seketika berdiri berjalan menghampiri mereka tepatnya kearah Lio, “Lo mau ngajak gelut ama gue Hahh...dari tadi nyahut teroos” sembari mengerakkan kedua tangannya.
Lio tak mau kalah ikut berdiri, “Ayok...siapa takut” mereka saling bertatapan penuh permusuhan. Bagas, Nano dan Radit hanya menatap jengah. Dalam kamar masih mau baku hantam.
Melihat itu, Azka tersenyum miring tidak masalah jika mereka gelut disini, dia bisa terhibur mengingat hanya terkurung di kamar sehari tadi.
Namun, semua nya harus gagal karena suara seseorang yang baru memasuki kamar.
“Mau ngapain?!” itu suara Fely yang sedang bersedekap dada memandang adik sepupu dan salah satu teman adik kecil nya.
“jangan buat keributan” Suara Fely sangat dingin sekali membuat mereka ciut. Bahkan Bagas saja di buat merinding.
Lalu pandangan nya beralih pada Azka yang masih duduk bersila di atas tempat tidur dengan kedua tangan terlipat di dada. Fely di buat terkekeh melihat pemandangan tersebut apalagi wajah sang adik seperti sedang kesal.
“Lebih baik kalian keluar, ini waktunya Azka tidur” Ucapan Fely membuat mereka ingin protes tapi saat mendapatkan tatapan menusuk itu mau tak mau mereka menuruti.
Dan mereka menyalahkan Ares dan Lio. Tapi mereka tidak terlalu masalah karena sudah melihat bos mereka baik-baik saja.
“kita pamit ya bos, besok kita kesini lagi bawa in seblak buat Lo” kata Nano dengan cengiran nya.
“Tidak perlu datang lagi!” Suara dingin Fely membuat Nano meneguk saliva, apa ia salah ngomong pikirnya.
“Hehehe...jangan gitu dong kak, nanti kita bisa kangen kalo gak ketemu si bos dalam sehari”
“Goblok” gumam Radit.
“Bacot Lo, dah buruan keluar sana” sentak Ares yang sudah duduk di sofa dengan mata melirik mereka melas.
“ngikut aja Lo” sinis Lio terlihat masih belum melupakan kekesalan tadi.
“Ck, udah” Bagas menarik lengan Nano kearah pintu.
“Eh...bos, si Queen katanya kangen ama Lo!” teriak Nano sebelum ke tarik keluar.
Alis Azka bertaut mendengar nya, tentu saja ia tidak lupa Queen yang di maksud itu tapi apa tadi kangen, gila.
“Siapa Queen?” Fely menatap tajam adiknya, begitu pun Ares mengerutkan alisnya bingung.
“Lo punya cewek dek” Ares memicingkan matanya tajam.
Azka mengutuk Nano beberapa kali dalam hati, gara-gara sahabat laknatnya itu ia mendapatkan tatapan maut dari kedua makhluk ini.
“Emang kenapa? Kalo gue punya cewek” Sengaja karena tidak mungkin juga mereka melarang kan sudah sewajarnya saja remaja seperti nya pacaran bahkan Ares saja ia tak percaya jika anak itu tidak punya pacar, melihat dari tingkah laku nya.
Wajah Fely menghitam mendengar nya, terlihat sekali ia tidak suka. Ares dibuat melotot.
“Siapa mengizinkanmu berpacaran Hah! Kakak tidak mau tau putuskan dia secepatnya!”
“Jika tidak...” Fely menjeda ucapan nya dengan mata menatap Azka dingin lalu menyeringai. Azka di buat menegang melihat nya. Setelah itu, Fely berlalu keluar.
Ares mendekati Azka, “dek...ancaman kak Fely gak main-main, kalo benar Lo punya pacar mending putusin deh” Ucap nya dengan nada serius.
“T-tapi kenapa?”
“Gue gak tau tapi gue sama Al dulu juga di larang pacaran tapi cuman pas kelas satu SMA dan pas naik kelas dua gak ada larangan lagi” Ares tidak terlalu heran karena keluarganya memang over protektif bukan hanya kak Fely tapi semenjak Azka menjadi bagian keluarga nya sifat mereka semakin posesif.
“Apa jangan-jangan...”
“Nggak mungkin deh” Azka menggeleng kan kepala nya. Ares dibuat heran kelakuan adiknya itu.
“Ngapain Lo geleng-geleng, pusing” Di sisi lain ia juga khawatir mengingat adiknya ini dalam keadaan sakit.
“Kagak, gue cuman bingung aja... padahal gue jomblo kagak pernah pacaran”
Ares melotot mendengar nya, “lah berarti Lo gak punya pacar dong, ck...sengaja Lo bikin kak Fely marah” Ares tertawa.
☀️
☀️
☀️
Di sisi lain.
Abraham memasuki kamar seseorang yang selama ini tidak pernah ia masuki.
“Hah...gak berubah” gumamnya. Tatapan nya jatuh pada sebuah figura terletak diatas nakas. Disana terlihat lima remaja tersenyum lebar. Namun tatapan nya hanya tertuju pada remaja yang berdiri paling tengah.
“A-azka” Abraham menatap sendu, “memang mirip bundamu” Melihat senyuman sang putra, anak yang sudah ia buang, anak yang sudah ia abaikan selama ini.
“K-kamu dimana sayang? Ayah rindu” matanya memerah mengingat semua perlakuan nya terhadap putra kandungnya sendiri. Bahkan sekarang ia tidak tau keadaan nya. Sungguh ia menyesal.
Di balik pintu seseorang melihat dan mendengar lirihan tersebut mengepalkan tangannya. “Sialan! Kenapa tua bangka ini jadi berubah, malah memikirkan bajingan itu”
“Gue gak bakal biarin Lo ketemu sama anak lo sebelum semuanya jatuh ke tangan gue”
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT