
Azka membuka matanya dengan tangan terangkat mengucek nya. Lalu langsung duduk bersandar pada kepala ranjang.
“Ternyata bukan mimpi! Gue benaran di bawa pulang” gumamnya saat menyadari dirinya telah berada dikamar.
“Siapa yang ganti seragam gue” Saat menyadari ia tidak memakai pakaian sekolah lagi tapi telah berganti dengan piyama tidur bergambar panda. Membuat Azka terlihat semakin imut.
“Jangan sampai kak Fely yang ganti, bisa hilang harga diri gue sebagai lelaki” Ia berpikiran begitu karena mengingat kejadian itu, kakaknya itu sangat tidak tau malu.
Tak ingin memikirkan lagi, ia bergerak turun ingin ke kamar mandi.
Cklek
Tampak Fely masuk membawakan mapan berisi makanan dan segelas air putih dan meletakkan di atas nakas.
Ia duduk menunggu sang adik, karena tau adiknya itu dikamar mandi saat mendengar gemercik air.
Beberapa saat, Azka keluar dari kamar mandi dengan wajah sudah segar, hanya cuci muka dan gosok gigi. Melihat Kak Fely duduk di tepi ranjang nya ia buru-buru kesana.
“Ada apa kak?” tanya setelah ikut duduk di samping sang kakak.
Fely tersenyum kecil, lalu berdiri mengambil mapan tadi, “waktunya makan” ucapnya.
“Kakak suapin” Azka sedikit tercengang, apa tadi di suapin dikira ia anak kecil.
“Nggak usah kak, Azka bisa sendiri” tolak nya akan mengambil alih piring yang ada ditangan sang kakak.
“Gak, kamu duduk yang tenang aja biar kakak suapin ,oke” ucapnya dengan lembut tapi penuh penekanan. Tidak boleh dibantah.
Azka tampak keberadaan saat ingin protes lagi tapi mulutnya sudah disumpah duluan oleh sendok yang berisi nasi dan lauk pauk. Mau tak mau ia terima.
“Ngesalin banget, dasar pemaksa” degusnya dalam hati.
“Tidak udah mendumel dalam hati” kata Fely yang mana membuat Azka tersentak.
“Cenayang nih orang” sedangkan Fely hanya terkekeh kecil, semua itu sudah terbaca dari tatapan dan raut wajah nya.
Dengan dongkol Azka menerima setiap suapan tersebut sampe habis.
“Pintar” Fely mengelus sayang kepala sang adik, yang mana membuat Azka jengkal. Keluarga angkat nya benar-benar menganggap nya seperti anak kecil.
Walaupun ia akui hatinya menghangat dan senang diperlakukan begitu tapi tetap saja rasa aneh.
“Apa nih kak” bingungnya saat melihat sang kakak menyodorkan sebuah pil padanya, dengan kata lain itu obat pahit, tapi buat apa dia kan sehat-sehat.
“Di minum vitamin nya”
Seketika wajah Azka berubah masam, menatap kakaknya memelas, “serius kak, vitamin buat apaan! Azka kan baik-baik aja buat apa pakai vitamin segala”
“tidak ada bantahan. Ini buat kesehatan kamu” Azka ingin memberontak tapi rasa takutnya lebih mendominasi dari pada keberanian. Entah apa yang dipakai kakaknya ini bisa-bisa nya membuat dirinya menjadi penurut.
“Ck, iya iya” Dengan ogah-ogahan ia meneguk vitamin tersebut.
Tentu saja membuat Fely senang, adik kecil nya sangat penurut.
“Sekarang tidur”
“Hahh...nggak, Azka baru bangun kak masa iya tidur lagi” protesnya.
“Ini sudah malam, lanjutkan tidurmu”
Azka berdiri sembari menghentakkan kakinya kesal, “kok maksa sih kak, Azka kan udah baru bangun mau dipaksa pun kagak bakal bisa” Wajar saja karena ia sudah terbiasa tidur larut malam.
Tatapan Fely menjadi dingin, “kakak tidak suka bantahan, baby” Azka sedikit ciut mendengarnya tapi saat dengar kata 'baby' ia jadi sebal.
“Gak usah panggil baby kak, Azka bukan bayi” Rengeknya dengan cemberut.
Membuat Fely menautkan alisnya sembari bersedekap dada, “Kenapa? Nggak suka! Tapi kakak suka lho” Fely tersenyum miring.
“Kak!”
“Jangan banyak bicara, sekarang kamu tidur” Sembari menarik sang adik sampe terjatuh ke atas tempat tidur.
“Aarkk...kenapa gini amat nasib gue!” teriaknya dalam hati.
Fely tidak memperdulikan tatapan kesal itu, ia dengan lembut memakaikan selimut sang adik.
Cup
Tak lama setelah Fely keluar, masuk Rafa. Mendengar itu langkah itu membuat Azka pura-pura tidur benaran.
Melihat adik kecil nya telah tidur membuat Rafa tersenyum tipis. Lalu mengelus sayang surainya.
“Kesayangan abang udah tidur ya!” sengaja bertanya karena ia tau adiknya itu hanya pura-pura tidur.
“Geli gue dengar nya” batin Azka.
“Benaran sudah tidur, hm” Lalu mengecup singkat dahi nya. Kemudian beranjak keluar.
Saat tau bang Rafa telah keluar, Azka membuka matanya sembari mengusap-ngusap kening nya. “ pasti bau jigong nih” dumel nya.
Lalu duduk mengambil ponselnya yang terletak diatas nakas. “mending main gue” kekehnya.
☀️
☀️
☀️
Beberapa jam telah terlewatkan, namun Azka masih belum tidur dia terlihat sangat seru sekali main game tanpa menyadari seseorang telah berdiri di dekat pintu kamar nya menatap nya dengan tajam.
“Bangsat! Nano anjiim...”
“Radit tolol!” beberapa kali Azka terus mengumpat kasar.
“EHEM!!” karena sudah tidak tahan mendengar segala umpatan kasar di ucap kan Azka ia berdeham untuk menyadarkan sembari berjalan menghampiri. Namun, Azka tidak menyadari nya malahan ia tetap fokus bermain.
“Dasar anak nakal” Lalu tanpa aba-aba mengambil ponsel tersebut yang mana membuat Azka terkejut.
“Asu ponsel gue!” pekiknya namun saat melihat siapa pelakunya ia makin terkejut.
“-dady...”
“Hm... kenapa belum tidur!” Antonio tetap berbicara dengan lembut walaupun sebenarnya.
“Apa kamu sadar ini sudah jam berapa Hm!” Azka hanya menyengir bodoh sembari melirik kearah jam dinding, “Jam 12 Dad”
“Itu tau! Daddy nggak suka kamu tidur terlalu larut begini, nanti kalo kamu sakit gimana, heum...”
“Maaf dad! Azka belum ngantuk, biasanya Azka tidur larut malam” Jujurnya. Ia juga tidak marah mendengar perkataan Daddy.
“mulai sekarang harus dibiasakan tidur cepat, nggak baik buat kesehatan” Nasehatnya dengan lembut, mungkin jika orang lain melihatnya pasti bakal tercengang. Bahkan kepada ketiga putra dan putri nya saja seorang Antonio tidak pernah selembut itu.
“Sekarang tidur ya, atau mau Daddy temanin!” Ucap nya sembari mengelus surainya. Azka yang telah menjatuhkan kepala diatas bantal empuk itu hanya diam. Karena tidak dibalas Antonio memilih ikut tidur, mungkin ini pertama kalinya ia tidur bersama putra kecilnya itu.
Azka sedikit kaget, “perasaan gue belum jawab deh” batinnya sebal.
“bobok boy” ucapnya sembari memeluk tubuh Azka dengan satu tangan digunakan mempuk-puk bokong Azka.
Tentu saja Azka kesal diperlakukan seperti anak kecil begitu, tapi ia juga merasa nyaman. Pelukan ini mengingatkan nya pada sang ayah.
“Dad”
“Hm” deham Antonio dengan mata telah terpejam.
“A-azka boleh nanya?” ungkap nya dengan tangan sibuk memainkan kancing piyama sang Daddy.
“tanya apa boy?”
Azka menarik napas nya dalam-dalam sebelum melanjutkan pertanyaan nya, “Kenapa Daddy mau angkat Azka jadi anak Daddy!” Mendengar pertanyaan tersebut seketika membuat mata nya kembali terbuka.
“Karena kamu berbeda boy, putra Daddy menggemaskan” Gemas juga ia mendengar pernyataan putranya ini.
“Sudah jangan bertanya lagi, sekarang tidur!” ucapnya.
Azka pasrah, semoga saja ia bisa terlelap dengan nyaman. Namun, ia cukup sebal mendengar jawaban tersebut.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT