
“Azka, apa yang kau lakukan!” Mendengar suara berat dan dingin itu membuat Azka menoleh.
“Masih nanya Lo om, gak liat gue lagi ngapain!” Sewot Azka dengan raut kesalnya.
Rafa memandang dengan datar, apa bocah ini tidak bisa berbicara sopan. Ingin marah tapi hati kecilnya malah menolak, takutnya nanti membuat sang adik menjauhi nya. Dengan pelan ia menghampiri sang adik yang sedang sibuk memilih berbagai senjata, Yap itu ruangan rahasia milik nya yang berisi berbagai senjata api atau pun senjata tajam lainnya. Dan entah bagaimana bocah ini bisa masuk padahal seingatnya sudah dikunci.
Dia sebenarnya kaget tapi segera menetralkan dengan cepat biarkan saja bocah itu tau karena juga akan menjadi bagian keluarga nya.
“Nggak nyangka gue, om suka majang senjata bahaya gini. Keren” Tidak ada lagi raut kesal yang ada hanya tatapan takjub. Biasanya orang-orang bakal takut karena jika orang memiliki berbagai senjata sebanyak itu bukan sembarang orang tapi Azka beda, tidak ada rasa takut di kamus nya tapi tidak tau kalo esoknya.
“Om, boleh gak gue ambil satu sekalian buat nembus karena om udah culik gue” Katanya dengan alis naik turun sambil tersenyum tengil, sembari mengelus sebuah pistol.
“kan keren kalo gue pakai tawuran” batinnya.
“Untuk apa? Kau masih kecil tidak boleh menggunakan barang berbahaya” tegas Rafa dengan suara dinginnya.
Azka mendegus, “Ck, pelit amat Lo om, gini-gini gue tuh hebat Lo, gue bisa kok pakai beginian, lo gak tau aja om dulu gue tuh sering banget main pistol-pistolan jadi bakal mudah buat gue” malah jadi curhat.
“Pliss...deh om kasih gue dong biar gue makin keren. Gue juga gak bakal nolak jadi adek Lo om, kalo Lo mau kasih nih satu” Santai sekali Azka ini, seperti berbicara pada temannya saja padahal yang diajak berbicara seorang terpengaruh, di takuti dan pastinya Ketua Mafia. Jadi perlu di kasih jempol Azka karena keberanian nya.
“Tidak bisa” mana mungkin ia memberikan nya, dikata mainan. Apalagi anak nakal ini banyak tingkah nya bisa saja salah dipergunakan.
“Lebih baik kau keluar, kita makan malam” Dengan paksa ia mengangkat Azka keluar yang mana membuat si empu memekik heboh.
“Gak bisa om, gue bilang gue mau satu, pelit dasar om pedo pelit. Gue gak sudi jadi adek Lo!” Rafa menulikan pendengarannya, namun dibalik itu ia sangat emosi sekali mendengar panggilan tak sopan itu.
Keluar dari ruangan tersebut, ia langsung saja membawa Azka seperti karung beras keluar menuju ruangan makan. Dia bahkan tidak peduli berbagai umpatan kasar Azka. Azka sendiri entah kenapa ia merasa aneh sekali, setiap dekat dengan si om pedo kekuatan nya jadi melemah tidak seperti seorang ketua Cobra sesungguhnya.
“Turunin gue bangsat!” Umpat Azka ke sekian kali nya, bertepatan mereka telah sampai di ruangan makan.
“Astaga Rafa, adik kamu kenapa?” Nadine menghampiri Azka yang baru saja di dudukan di salah satu kursi kosong.
“Sabar ya nak, kamu pasti sebal ya sama abang sulung mu itu” Ujar Nadine dengan nada sok sedih tak lupa mengelus pala Azka. Sedangkan Azka tampak bingung dengan mata menatap tiga pria di hadapannya. Namun, salah satu nya membuat Azka melotot.
“Hah...lo lobster kan” Spontan Azka menunjuk kearah orang nya yang tampak juga memandang nya dengan tak kalah kaget tapi segera ditutupi wajah datarnya.
“Dia yang akan jadi adikku” tanya Alister masih dengan wajah datar nya.
“Iya dong sayang, gimana ganteng kan, mana imut lagi mom gak nyangka Rafa membawa seorang adik gemasin gini jadi pengen cubit terus!”
Sembari menguyel-uyel pipi Azka, si empu tentu saja kesal.
“Tante siapa sih?” Azka mengerutkan keningnya. Lalu ia melirik si biang kerok.
“Eh...om, jangan bilang mereka keluarga om termasuk si lobster” Seketika membuat ruangan itu sunyi dan dingin saat mendengar kata-kata Azka. Tentu saja membuat Azka bingung, apa ia salah tanya.
Matanya melihat mereka satu persatu lalu berhenti tepat pada wanita tadi yang sudah kembali duduk ditempat nya.
“Tan-“
“Dimana sopan santun mu!” Terdengar suara berat dan dingin bahkan lebih dingin dari milik Rafa. Dan entah kenapa membuat Azka merinding. Melihat suasana tidak mengenakan Nadine angkat suara.
“Udah...lebih baik lanjut makan. Dan Azka kamu makan dulu ya nanti kita jelasin dan ingat kamu panggil mommy jangan tante” Ucap Nadine dengan suara lembutnya.
“Tap-“
☀️
☀️
☀️
Usai makan malam tadi mereka berkumpul di ruangan keluarga, tentu saja diikuti oleh Azka, ralat terpaksa. Dia seperti seorang tawanan. Hanya Rafa yang tidak ada karena mendapatkan panggilan penting dari bawahannya.
“Kita udah tau loh semua tentang kamu! kamu mau kan jadi bagian keluarga kita, termasuk menjadi bungsu nya keluarga Anderson” Nadine yang berbicara karena jika empat makhluk dingin berbicara pasti akan susah di mengerti.
Mereka ikut memandang Azka masih dengan muka datar tanpa ekspresi. Sedangkan Azka tampak termenung, ia tidak salah dengarkan mereka juga menginginkan dia masuk ke dalam keluarga nya, ia pikir hanya candaan.
“T-tapi—“
Ucapan harus terpotong oleh suara berat Antonio.
“Azka Vincent Aldebaran!” Seketika membuat Azka tercengang.
“—Putra tunggal dari pasangan Abraham Aldebaran dan Renata Syafira Sanjaya. Mendapatkan perlakuan kasar dari sang ayah karena pendatang baru dan berakhir terusir” Bukan Antonio tapi Dom melanjutkan yang entah kapan berada disana tangan kanan nya yang menyebutkan.
“Me—“ Dom terpaksa menghentikan ucapannya saat melihat gerakan tangan tuan nya sebagai tanda untuk berhenti.
Terlihat Azka menunduk dengan tangan terkepal erat mendengar hal barusan, “Azka, pasti berat banget ya sayang!” Nadine juga sangat marah saat mendengar kisah kehidupan remaja sebesar Azka, apa ada seorang ayah setega itu, apa ada seorang ayah se kasar itu memperlakukan putra kandungnya sendiri. Tidak! Hanya orang gila melakukan nya.
“K-kenapa kalian ingin melakukan nya! bukannya keluarga terpandang seperti kalian tidak akan mudah menerima orang baru apalagi kayak gue!” Azka berucap sembari menatap mereka dengan raut tak dapat dibaca, bukannya dia tidak bersyukur tapi bingung aja kenapa keluarga terpandang seperti mereka semudah itu menerima orang baru apalagi modelan ia.
“dan perlu diingat nama gue Azka Vincent Reymond bukan Aldebaran” Lanjutnya dengan nada dingin. Dia tidak suka mendengar marga itu lagi, ia benci.
“Azka, apa yang kamu ucapkan tidak sepenuhnya salah tapi kamu berbeda. Tidak ada alasan apapun, kami hanya ingin kamu menjadi bagian keluarga ini. Kamu harus tau Rafa, putra sulung mom gak biasanya seperti ini, dia sangat ingin sekali kamu menjadi adik kecil nya. Jadi mom mohon kamu jangan nolak ya! Biarin aja ayah kamu itu nyesel udah buang anak ganteng seperti kamu!” Nadine tersenyum hangat sembari mengelus sayang surai Azka.
“Nama kamu juga keren, Reymond mom suka” Lanjutnya.
“Nyaman” Tak dipungkiri ia merasa nyaman sekali, bahkan mengingatkan pada almarhum bundanya.
“Benar. Mulai sekarang kau akan menjadi bungsu nya Keluarga Anderson” Melvin yang tidak biasa berbicara panjang menjawab. Dia juga senang memiliki seorang adik lagi.
“Hm...Mulai sekarang panggil saya Daddy” Antonio bahkan berbicara dengan lembut tidak dingin seperti biasanya.
“kalo pikir gak rugi juga gue terima kan seru tuh jadi anak sultan. Mending gue coba aja deh” batin Azka. Soal kekayaan ayahnya dengan keluarga Anderson sangat jauh bedanya, bahkan dari dalam rumah ini saja jauh mewah dari milik ayahnya. Mungkin lebih cocok disebut istana.
Sedangkan Alister hanya diam saja tanpa berniat berkata apapun, entah apa yang dipikirkan remaja itu. Yang hanya ia dan tuhan yang tau.
“Makasih ya tan- eh mom” Azka jadi terharu dan memeluk mommy barunya itu.
“Terus Daddy gak dipeluk nih” Melvin, Alister Dan Nadine termasuk para maid tercengang mendengar nya. Apalagi melihat wajah merajuk pria itu.
“D-dady” beralih memeluk pria paruh baya itu, ia merasa nyaman sekali. Tidak menduga anak nakal seperti ada juga yang mau memungut. Melvin juga tak mau kalah begitu pun Alister.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT