
“Abi bagaimana?” Desak Nadine dengan suara serak sehabis menangis. Antonio memeluk istrinya, disini mereka semua juga sangat khawatir.
Abi menghela nafas panjangnya ekspresi nya tak kalah bedanya dari mereka, “Kondisi Azka bisa dibilang kurang baik. Namun, untuk sekarang tidak terlalu masalah, kalian sudah boleh melihat nya tapi jangan mengganggu istirahat nya”
Penjelasan Abi membuat mereka bernafas lega tapi masih terdapat kekhawatiran. Disana tidak ada Bagas dan yang lain karena saat Azka dilarikan kerumah sakit mereka di minta pulang, jadi mau tidak mau mereka menurut saja mengingat hari sudah larut juga.
Lalu satu persatu memasuki ruangan rawat Azka. Disana terlihat bungsu mereka terbaring lemah di brankar.
“hais...anak nakal ini membuat kita kelimpungan! Ck...lihat lah wajah imut nya jadi jelek begini” Ujar Leta dengan tangan telah terangkat mengelus surai Azka. Mereka setuju saat melihat wajah anak itu banyak memarnya.
“Res bagaimana dengan bajingan itu!” Antonio menatap putra adik ya tersebut.
“Aman dad, palingan juga udah hampir sakratulmaut” Jawab Ares yang telah duduk di sofa. Mereka mengangguk puas, sudah pasti ketiga putra mereka itu sedang melakukan eksekusi. Sementara ketiga wanita disana tidak menghiraukan pembicaraan mereka, terserah apa yang ingin dilakukan mereka jika itu demi kebaikan si bungsu.
...
Di sisi lain.
Bugh
Bugh
Srettt
Srettt
“AAAAKKH...”
Di ruangan bawah tanah suara sayatan pisau dan pukulan terdengar begitu jelas membuat suasana sangat menyeramkan diiringi suara teriakan kesakitan seseorang.
“AAARRGHHH... S-SAKIT!” teriakan itu berasal dari seorang remaja yang memiliki kondisi sangat memprihatinkan. Sementara pelaku hanya menyeringai iblis, seolah tidak mendengar.
“Sakit Hem! Lalu bagaimana dengan kau melukai adik ku Heh! Apa kau pikir tidak sakit” Tangan kekar nya mencengkram kuat rahang Remaja tersebut.
“Aakkhh...l-le-pas b-!”
Brukk
Dengan kasar menghempaskan tubuh itu, mengepal tangannya yang telah berlumuran darah.
“Sekarang giliran ku!” pria yang sejak tadi duduk santai menonton dengan seorang remaja segera bangkit. Dia tak lain ialah Melvin dan remaja itu Alister sementara yang barusan bermain Rafa.
“ambil cambuk” Titah nya pada Marko yang sejak tadi berdiri di dekatnya.
“Ini lah akibatnya melukai kesayangan kami!” Melvin menerima cambuk dari Marko, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring sembari mengayunkan kearah tubuh remaja di hadapan nya.
Cter
Cter
Cter
“Aaarrghhh...” Suara cambukan diiringi suara kesakitan menggema dalam ruangan tersebut. Puas dengan cambukan, Melvin menggantinya dengan alat tajam lainnya.
Alister yang sudah tak tahan ikut melakukan hal sama pada remaja satu nya lagi. Menyayat, mencongkel mata bahkan sampe mencincang hingga puas.
Bahkan Marko dan beberapa bawahan lainnya sering kali menelan ludah mendengar nya. Mereka membayangkan jika seandainya mereka dalam posisi itu pasti sangat menyiksa. Dan mereka tidak akan pernah sanggup, kekejaman keturunan keluarga Anderson benar-benar mengerikan.
Tak lama kemudian terdengar suara tembakan sebagai pengakhiran.
Dor
Dor
“Kemas mayat mereka dan paketkan keluarga nya” Perintah Rafa. Mereka segera melakukan sesuai perintah memasukkan kedua mayat yang sudah tak terbentuk itu kedalam koper.
“Bajingan bodoh kebetulan sekali mereka keturunan mu jadi terima saja hadiah kematian mereka dari ku” Rafa menyeringai iblis.
Melvin dan Alister ikut tersenyum iblis melihat seringai abang mereka. Salah kan saja karena telah berani melukai kesayangan mereka.
☀️
☀️
☀️
Eughh
Suara lenguhan itu membuat mereka yang disana menatap ke arah brankar.
Azka membuka matanya perlahan dengan sedikit ringisan keluar dari bibir nya.
“Ssshh...” Setelah matanya terbuka sempurna pertama kali dilihatnya adalah wajah cemas mommy nya.
“M-mom”
“Iya sayang”
“H-haus” Mendengar itu, Nadine dengan cekat mengambil air putih yang telah tersedia di nakas.
Cklek
Terlihat Mama Leta dan Mami Rani masuk, saat melihat Azka telah sadar mereka buru-buru menghampiri.
“Baru bangun kak” Yang dibalas anggukan oleh Nadine.
“Sssst...”
“Jangan terlalu banyak gerak sayang, nanti makin sakit”
Azka mengangguk pelan, karena memang ia merasa agak ngilu di tengkuk belakang nya, Ah ia baru ingat sebelum tak sadarkan diri ia mendapat pukulan. Mengingat nya membuat ia kesal dan marah, Dando dan teman-temannya selalu main curang.
Lihat saja nanti ia akan menghajarnya balik.
“Makan dulu ya habis itu minum obat”
“Ini udah mama beliin bubur ayam kesukaan kamu” Ucap Mama Leta yang telah menyiapkan dalam mangkok. Muka Azka yang awal nya murung sedikit cerah, seakan tau pikiran adik nya Abi tertawa meledek, “Segitu takut nya kamu sama bubur rumah sakit”
Azka mendelik, “bukan takut tapi gak enak, rasanya hambar gitu kayak hidup abang”
“Sembarangan kamu, gini-gini abang ada rasanya tau”
“Alaaah... palingan rasanya pahit” Cibir Azka balik.
“Sok tau kamu, gak liat muka abang ada manis-manisnya gini, emang kayak kamu gemoy”
“idiih...gak usah sok kemanisan Lo, mending gue gemoy dari situ muka datar kayak triplek aja bangga” Abi melongo mendengar sindiran sang adik. Sementara ketiga wanita paruh baya tersebut terkekeh mendengar perdebatan mereka.
“Mulut kamu minta abang jahit ya”
“Ciih...gak usah sok ngancam, gak ngaruh” Abi malah terkekeh mendengar nya, “gak usah sok berani deh, giliran bang Rafa aja ngancam takut tuh” cibirnya yang langsung dapat tatapan tajam dari Azka.
“paan sih gak usah sebut setan itu”
“Azka, kok abang sendiri di sebut sih. Gak boleh gitu” Timpal Mommy Nadine, yang terlihat sudah lelah mendengar perdebatan kedua nya.
“biarin, kan emang kelakuan nya gitu si tukang paksa” Degus Azka.
“Udah nih makan buburnya mama suapin”
“Abi, udah ya bukannya kamu kesini mau cek adikmu. Kalo berdebat terus kapan makan nya” tegur Mami Rani.
“Iya mi”
Azka hanya melirik abangnya itu melas sembari menerima suapan dari mami Rani.
“Untuk beberapa hari ke depan kamu jangan terlalu banyak menye-menye oke, leher kamu jangan bergerak berlebihan” Azka seketika melotot tidak setuju.
“Yahh gak bisa gitu dong” Kesal nya dengan sesekali meringis.
“Bandel kamu, udah dibilangin juga. Untung leher kamu gak sampe patah” omel Abi saat mendengar ringisan sang adik. Azka dibilangin malah mencibir.
“Bubur nya harus dihabisin, awas aja kalo abang balik gak habis bakal abang suntik kamu” Ancam Abi beranjak sebelum keluar untuk mengecek pasien lainnya.
“Nyenyenye” Ketiga wanita paruh baya itu terkekeh geli melihat kelakuan bungsu nya.
...
Pukul 14.30 siang.
“Yuhuuu...bos kamvret bawahan mu dateeeng nihh!”
“Ck berisik”
Azka yang lagi menatap siaran televisi mendegus mendengar nya, melirik kesal ke arah mereka.
“Gak usah teriak ogeb, Lo pikir di pasar” Cetus Azka yang malah dibalas cengiran mereka kecuali Bagas tentunya.
“Widiihh...bos, baru keliatan kek orang sakit Lo kalo kek gini, Eh...leher Lo gak patah kan bos” Nano dengan lancang menekan wajah memar bosnya.
“Sakit goblok! Lo ketawa atas penderitaan gue, emang sahabat laknat lohhh” Ketus Azka sembari menepis kasar tangan lancang sahabat nya itu.
Nano malah cengengesan.
“Idiih...kemarin malam aja dia nanges paling histeris pas liat Lo sekarat” Ledek Lio yang dibalas degusan oleh Nano.
“Lo emang sahabat gue paling the best dah” Haru Azka dengan wajah dibuat-buat menyedihkan.
“Iya dong, emang mereka. Teman gak ada akhlak”
“Ck, berisik kalian” Bagas melirik mereka males sembari meletakkan satu kantong kresek di atas nakas.
“Nih bos kita bawa makan kesukaan lo” seru Radit.
“Tumben kalian bawa buah tangan biasanya juga bawa upil” Cibir nya melirik penuh minat.
“Kita lagi kaya jadi gak takut miskin kalo beliin jajan buat Lo” ucap Radit dengan senyuman pongah nya.
“Lo aja kali, gue mah gak bakal miskin” Ejek Lio.
“Nyambung aja Lo Dir” cibir Radit balik. Lio menatap sahabatnya itu nyalang karena menyebut nama bapaknya, emang kurang ajar tuh anak.
“Seblak ada gak!”
“Njiir...orang sakit minta seblak, ingat umur bro kita gak ada yang tau”
“Ck, gak usah bawa umur gue ogeb” Deliknya pada Lio.
“Gak ada, gak boleh makan pedas-pedas” ucap Bagas sembari memberikan ciki-ciki yang terima melas oleh Azka.
“Noh dengar bapak Lo ngemeng”
“Bacot lo njiiing!”
“AZKA!” Pandangan mereka teralih kearah bang Melvin yang berada dekat pintu, entah sejak kapan pria itu berada disana. Azka meringis melihat tatapan dingin itu.
“Ehehe...mangap bang”
“Njiir kapan tuh setan nyampe nya”
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT