Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 68



Braakk...


Seorang pria paruh baya menggeram marah sembari memukul meja kaca di depannya, membuat beberapa pria berjas lengkap disana menjadi ciut melihat nya.


Dia menatap nyalang seorang remaja yang berdiri di depan para pria berjas lengkap tersebut, “Bodoh. Hanya kerjaan kecil saja kau tidak bisa menyelesaikan nya”


“Selama ini saya membesarkan mu dan menyekolahkan mu bahkan mengajari mu berbagai macam strategi dan taktik tapi apa? Hanya menangkap bocah saja kau tidak bisa”


“Jika perlu kau bunuh saja salah satu dari mereka. Aku hanya ingin membalaskan dendam atas kematian adikmu. Mereka membunuh putraku dengan tak manusiawi!” Tatapan nya menggelap dengan rahang mengeras saat mengingat kematian putranya yang begitu mengenaskan.


Remaja yang tak lain Teo itu mengepal tangannya, jika tidak ingat pria di hadapannya ayah angkat yang membesarkan nya sudah dia tusuk dari belakang.


“Sekarang apa lagi alasan mu, aku ingin secepatnya kesayangan mereka sampe di sini...sudah lama aku ingin melihat kehancuran mereka tetapi malah mereka  yang membuat  ku makin murka. Berani membunuh putra ku harus mendapatkan balasan setimpal”


Tangan besarnya menggenggam gelas erat dengan tatapan penuh dendam.


“Teo, sekarang semuanya ayah serahkan padamu melakukan tugas ini. Pria bodoh itu sudah tertangkap jadi tidak ada gunanya lagi menunggu orang yang sudah hampir mati” Pria bernama lengkap Kendrick Amorrie itu menunjuk putra angkatnya tersebut dengan tajam.


“baik yah” Teo mengangguk patuh, dalam hatinya dia bersorak gembira tentu saja dia sangat senang mendapat kepercayaan dari ayah angkatnya tersebut. Dengan begini dia bisa memerintah para bawahan tuan bangka itu sesuka hati. Selain menculik kesayangan keluarga Anderson dia juga bisa lebih mudah menyingkirkan saingannya Alister.


“Al tunggu saja kematian mu!” Dia memang tidak memiliki dendam pada Alister tetapi mengingat kekalahan yang sering diterima dan keunggulan Alister membuat nya iri dan benci.


Dan jika tidak mengalahkan nya maka dia akan membunuhnya saja.


Puk


“Selesai secepatnya, ayah dengar bocah itu cukup nakal jadi cukup mudah menculik nya. Tetapi tugas mu bukannya hanya menculik bocah itu namun kau juga harus menangkap wanita bernama Nadine dan Felysia”


Teo mengernyit, tentu saja dia bingung. Buat apa ayahnya ini ingin menculik kedua wanita itu, kedua wanita itu tentu saja dia sangat kenal. Nadine sebagai istri Antonio sekaligus ibu Alister dan Felysia kakak Alister.


Satu kata ada di benaknya, Apa ayahnya itu juga ingin melecehkan kedua nya biar makin membuat mereka hancur.


Seakan mengetahui apa yang dipikirkan Teo, Kendrick melirik tidak suka. “Jangan memikirkan hal lain, ayah hanya memerintahkan mu menangkap mereka, jangan lancang ingin mengetahui apa yang ingin ku lakukan pada kedua wanita itu”


Teo mencibir dalam hati, namun tetap mengangguk patuh.


“Jangan sampe gagal lagi” Ancam Kendrick sebelum berlalu dari ruangan tersebut. Dan Teo juga pergi menemui teman-temannya.


“Yang pertama gue harus serang geng Cobra” gumamnya sebelum benar-benar pergi.


...


Sementara disisi lain.


Azka sedang menangis meraung-raung dengan sangat keras membuat siapa saja akan meringis mendengarnya.


“Hwaaaaaa...a-bang dad!” Antonio yang sedang menggendong tubuh besar anaknya itu beberapa kali menghela nafas panjang mendengar tangisan bungsunya itu.


“Udah dong. Bentar lagi bang Al juga bangun”


Ya semua itu memang cuman gara-gara Al, Azka menangis karena abang nya terluka kena tembakan di bagian perut saat penyerangan di markas. Dan ia merasa bersalah karena jika bukan untuk melindungi nya abang nya itu tidak akan terluka.


Sekarang luka Al telah ditangani Abi, dan penyebab dia tidak sadarkan diri semua itu hanya karena di beri suntikan penenang oleh Abi. Tetapi yang nama nya Azka tetap saja histeris. Bahkan sempat-sempatnya ia memarahi abangnya Abi.


“Huhuhu...a-ku mau bobok dekat bang Al dad, aku mau nungguin abang sampe bangun”


“Tapi jangan nangis lagi ya, Daddy gak mau tenggorokan kamu sampe sakit” ingatnya.


“O-oke” Azka mengangguk patuh.


Antonio tersenyum puas lalu menurunkan Azka diatas tempat tidur milik Al. Memang anaknya itu dirawat di mansion bukan rumah sakit.


“Dad, nanti jangan lupa bilang mommy siapin susu buat abang, abangkan lagi sakit jadi harus minum susu biar sehat”


Antonio yang akan beranjak dibuat tercengang tak lama setelah itu dia terkekeh. Seperti nya bungsunya itu sengaja menyiksa putra nya itu, mengingat seorang Al yang tidak pernah suka lagi minum susu.


Azka tertawa mendengar nya.


“Njiir... ternyata keren juga jadi manja gini. Udah kayak bocah Lima tahun aja gue” ngakak nya dalam hati.


“Nih orang juga kapan sih sadarnya” Sembari menatap wajah tenang Al.


“gue akui Lo emang ganteng cuy...” Ocehnya sembari memicingkan mata kearah muka Al.


“Tapi sorry...muka Lo masih jauh di bawah ke gantengan dan pesona gua...jadi Lo gak usah songong sama gua” cibirnya seraya tertawa tengil. Kemudian, tatapan nya beralih kearah perut yang diperban.


“Errrr...kok gue ngilu ya, pasti sakit banget” dan dengan kurang ajarnya ia menusuk-nusukkan jari telunjuk nya ke arah luka itu.


“Shhht...” Reflek Azka kaget dan buru-buru menarik telunjuknya saat mendengar suara ringisan tersebut. Ia melirik kearah mukanya dan ternyata dia udah sadar.


“N-ngapain dek” Al yang sudah sadar menatap adiknya itu heran.


“Ehehe...sorry bang, sengaja kok eh...ralat kagak maksud nya”


Al hanya menggeleng kepala melihat kelakuan adiknya itu, satu tangannya yang terbebas dari infus terangkat mengelus surai adiknya.


“Kamu habis nangis dek, matanya sembab gini”


Azka melotot sembari mengusap kedua matanya, “ish...gak tuh. Ini habis kelilipan doang kok. Ngapain juga aku nangis gak guna banget” cetusnya.


Al terkekeh, adiknya ini pandai sekali mengelak, “masa sih, gak usah boong...abang dengar sendiri kok”


“kagak! Abang gak usah sok tau, lagian buat apa aku tangisin abang...bukan Azka banget” masih mengelak. Malu mengakuinya, ia yakin pasti abang nya akan menertawakan nya. Lihat saja muka nya sekarang terlihat sekali meledeknya.


Al semakin gemas, adiknya ini sangat lucu. “adek siapa sih, gemasin banget” sembari mencubit pipi berisi sang adik. Seketika membuat si empu cemberut tidak terima.


“Ish...gak usah pegang-pegang, gak like” bukannya berhenti Al malah memeluk nya. Azka tentu saja kesal.


“Abang bau gak usah peluk-peluk”


“Gak tuh, wangi kok” Al mendusel-dusel kan kepala nya ke surai itu, membuat Azka tertawa geli.


Cklek


“Pada ngapain sih senang banget kayak nya” ujar Nadine yang memasuki kamar tersebut dengan membawa mapan berisi semangkok bubur, nasi goreng dan dua gelas susu diikuti Rani yang tampak membawa sepasang piyama.


Mereka langsung saja menghentikan kegiatannya. Azka melihat mommy nya dengan mata berbinar.


“Sini mom susunya”


“Bentar ya sayang ganti baju dulu” ucap Rani. Azka menurut saja saat mami nya itu menggantikan pakaian nya, saking terbiasanya ia tidak merasa malu lagi.


“Mom nanti suapin bubur nya, abang harus minum susu dulu” pekik nya saat melihat mommy itu malah menyuapkan bubur. Nadine menepuk jidatnya hampir saja dia lupa, sementara Al tampak mengernyit bingung.


“Nih sayang minum susu dulu” Nadine menyodorkan segelas susu hangat. Al semakin bingung. “Hahh...” Mommy ini kenapa sih, jangan bilang mommy nya lupa jika dirinya tidak menyukai susu.


Azka yang melihat abangnya itu belum meminum susunya agak kesal, “buruan minum bang, orang sakit harus minum susu biar sehat. Jangan kalah sama aku” Cibirnya yang sekarang juga meneguk tandas susu coklat nya.


“Jangan bilang abang takut susu, Bwahahaha... seorang Alister takut susu” Melihat adiknya itu menertawakan nya tentu saja dia tidak terima di ejek begitu. Dengan kesal dia mengambil gelas susu itu dan meneguknya.


Bahkan Nadine dan Rani dibuat tertawa kecil melihat ekspresi terpaksa anaknya itu. Sementara Azka jangan ditanya, ia tersenyum licik melihat nya. Ia terkikik melihat wajah masam abangnya.


“Bwahaha...mampus kan Lo!”


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT