
"Aakkhh...sialan!!" Suara rintihan itu bukan berasal dari Teo yang terlihat memegang tangannya yang kena tembak peluru.
Saat mengetahui siapa pelakunya membuat Teo mengutuk kebodohan bawahan nya, "Shiitt... Menjaga satu orang saja mereka tidak becus"
Yap, suara tembakan sebelum nya bukan berasal dari Teo tetapi dari Alister, tidak ada yang menyangka Al akan berhasil lolos dari kekangan bawahan Teo.
Mereka yang melihat Azka berhasil terselamatkan menjadi lega, bahkan Bagas dan sahabat nya menjadi bersemangat menghabisi bawahan Teo dan Kendrick. Sementara Kendrick wajah nya yang awalnya cerah seketika berubah merah padam melihat Alister lolos.
"TEO BAJINGAN!! KAU BENAR-BENAR TIDAK BECUS" Dia sangat kesal dengan Teo, Sedangkan Teo mendengarnya ikut kesal dengan ucapan ayah angkatnya tersebut.
"KENDRICK... sekarang hanya tinggal kau dengan putra bodohku itu!!" Antonio menyeringai bak iblis saat melihat semua bawahan Kendrick sudah jatuh.
Kendrick yang sudah merasa terpojok hanya bisa mengumpat frustrasi, jika sudah begini sudah tidak ada lagi baginya untuk selamat.
Bugh...Krakk...Bugh...Krakk...
Suara pukulan dan tulang patah terdengar jelas dalam ruangan dalam keadaan hening tersebut.
"AAARRGHHH..." Suara rintihan Kendrick terdengar sangat keras, Antonio sebagai pelaku hanya menyeringai. Ini tidak seberapa atas apa yang dilakukan nya terhadap Azka.
Sementara, Teo juga telah tak sadarkan diri oleh Alister. "B-bang...u-dah dia udah hampir mati!" Azka yang berada di pelukan Rafa menghentikan aksi Al.
Al yang merasa belum puas hanya bisa menghentikan nya, mengingat keadaan adiknya.
"Sudah, Al sekarang bawa Azka kerumah sakit dulu" Ucap Nathan. Al yang sadar keadaan sang adik hanya bisa menahan hasrat untuk menyiksa Teo lebih kejam.
Tanpa sepengetahuan mereka, Teo kembali sadarkan diri. Tidak ada menyadari nya karena mereka terlihat sedang lengah. Dia menyeringai saat melihat Al membelakangi nya, "M-mati kau Al!"
Yang pertama kali menyadari nya adalah Azka, kebetulan dia sedang menatap kearah Teo. Seketika ia melotot melihat apa yang akan dilakukan Teo.
"A-BANG...AWAS!!" Suara teriakan Azka membuat semua yang disana ikut mengalihkan pandangannya. Azka yang masih berada dalam pelukan Rafa langsung saja berlari kearah Al.
Seketika semua nya terbelalak melihat aksi Azka, "AZKA JANGAN!!"
DORR...
DORR...
DORR...
"BAJINGAN!!" Melvin memang berhasil menembak Teo tetapi peluru dari Teo sudah terlebih dahulu mengenai Azka dan itu tepat di punggung nya.
"Nggak...adekk!" Al langsung saja memeluk tubuh rapuh adiknya. Azka hanya tersenyum karena ia berhasil menyelamatkan abangnya tersebut.
Al hanya bisa merutuki dirinya karena tidak langsung membunuh Teo lebih awal dan sekarang adik nya lagi yang harus menanggung nya.
"A-abang...s-sakit!!" Rintihan Azka menyadari mereka semua.
"CEPAT BAWA AZKA KERUMAH SAKIT!!" Suara teriakan Antonio membuat Al tersadar dan langsung saja membawa sang, diikuti oleh Bagas, Lio, Nano, Kenzi, Naufal dan Samuel.
"Bawa kedua bajingan ini! Belum waktunya mereka mati!!" perintah Antonio dengan wajah dinginnya. Tentu saja dia belum puas menyiksa nya, mereka harus merasakan siksaan yang lebih menyakitkan dari pada kematian itu sendiri.
Kejam!!
Itulah satu kata untuk Antonio dan keturunan nya.
...
...
...
Di R.S. Keluarga Anderson.
Semua terlihat menunggu dengan raut cemas, apalagi kaum wanita mereka tentu saja sangat terpukul mendengar Azka tertembak. Felly yang tidak pernah menangis selama ini, namun saat mendengar keadaan Azka air mata nya tidak bisa terbendung lagi.
Walaupun diluar ia terlihat dingin tak sentuh tetapi dia tetap seorang perempuan melihat kesayangan tentu saja membuat nya ikut rapuh.
"Kak..." Ares mengelus bahu sang kakak, ia juga ikut sedih. Dedek emesnya pasti sangat kesakitan.
"A-azka... " Nadine terus menangis dalam pelukan suaminya. Tak jauh beda dengan Rani dan Leta.
"Boss...Lo harus selamat! Lo gak boleh ninggalin kita!" Bagas, Lio dan Nano hanya bisa berdoa dalam hati.
"Semua ini salah gue!" Sementara Al terus saja menyalahkan dirinya karena membiarkan sang adik menyelamatkan diri nya.
"Al, tenang... Lo gak boleh nyalahin diri lo terus..." Kenzi terus berusaha menyadarkan sahabat nya tersebut. Al hanya menggeleng lemah.
Cklek
Mendengar suara pintu dibuka pandangan mereka semua mengarah kesana, terlihat Abi keluar dengan seorang suster. Al yang pertama kali sudah tak sabaran seketika saja mengajukan pertanyaan kepada abangnya tersebut.
"B-bagaimana bang! Azka baik-baik aja kan!"
"Azka baik-baik aja kan nak!" Berbagai pertanyaan muncul dari mereka membuat Abi menghela nafas dengan berat.
"Hahh...untuk sekarang Azka masih belum sadarkan diri bisa disebut Azka sedang kritis, dan juga kita membutuhkan stok darah untuk Azka karena terdapat banyak darah dikeluarkan nya akibat tembakan tersebut. Tapi kita kehabisan stok darah yang sesuai dengan golongan darah Azka..." Penjelasan Abi membuat mereka disana tidak tenang. Dan lebih membuat mereka panik adalah karena diantara mereka tidak ada memiliki golong darah sama dengan Azka kecuali Ayah kandung nya dan saudara kandungnya.
"Kita membutuhkan Abraham" Suara Nathan membuat mereka sedikit tenang. Akibat kekhawatiran mereka, mereka sampai melupakan Abraham sebagai ayah nya.
"Biar Melvin menjemput Abraham" Melvin langsung saja pergi untuk menjemput Abraham.
"Akan lebih baik kita juga mencari orang lain yang memiliki golongan darah sama dengan Azka, mengingat Abraham yang sedang sakit parah kita tidak bisa mengharapkan dia terlalu banyak" Perkataan Abi membuat mereka baru menyadari tentang kondisi Abraham.
"Kamu tenang saja Daddy pastikan kita menemukan nya" Antonio langsung saja menghubungi Dom.
...
...
...
Akhirnya, setalah menghabiskan waktu cukup lama Azka berhasil mendapatkan stok darah cukup banyak membuat semua keluarga menjadi lega. Sekarang mereka hanya menunggu Azka kembali siuman.
"Oh iya... bagaimana dengan teman kalian Radit, apa dia udah ketemu?" Tanya Nadine saat teringat dengan salah satu sahabat bungsu nya tersebut.
Bagas, Lio dan Nano agak terkejut mendengar pernyataan tersebut, karena kekhawatiran terhadap Azka, mereka sampai melupakan Radit.
Drrtt...
Drrtt...
Nano tersentak saat mendengar ponsel berdering, saat melihat nama Fano disana langsung saja ia angkat.
"Hallo Fan?"
"..."
"Apa? Oke, gue bakalan kesana" Setelah mematikan panggilan nya. Nano menatap Bagas dan Lio.
"Radit udah ketemu, dia sekarang sedang dirawat di rumah sakit mulia"
"Lo serius"
"Ck, iya... barusan Fano ngabarin gue?" Nano mendegus saat mendengar pernyataan Lio yang menurut nya sedikit menyebalkan.
"Ya sudah lebih kalian temuin dulu Radit, Azka sudah cukup kami saja yang menjaganya" Ucap Leta yang sekarang sedang duduk di dekat brankar Azka. Yang lain juga setuju dengan perkataan Leta.
"Ya udah tante, om kita pergi dulu!" Pamit mereka. Sebelum benar-benar keluar mereka menoleh kearah Azka kembali yang masih terbaring lemah disana.
...
Malam harinya.
"Dad... Apa kita tidak perlu menyelidiki tentang Abraham" Pernyataan Melvin membuat pandangan mereka beralih kearah Antonio. Di dalam ruangan rawat Azka, hanya ada Nadine, Felly, Melvin dan Antonio, sementara yang lain sudah kembali kerumah terlebih dahulu.
Antonio yang sedang fokus dengan laptop segera berhenti, dia melupakan hal penting tersebut.
"Tentu saja, kita harus memastikan nya kepada Abraham terlebih dahulu. Melihat wajah tak berdaya Abraham Daddy yakin ada hal yang disembunyikan nya tentang Azka!" Melvin, Felly dan Nadine mengangguk setuju.
Mereka mengetahui hal tersebut dari Abi, pantasan Abi meminta mereka untuk mencari orang lain yang memiliki golongan darah sama dengan Azka, ternyata darah Abraham memang tidak sama dengan milik Azka. Dan lebih menyakinkan lagi Abi juga telah melakukan tes DNA secara diam-diam tanpa sepengetahuan mereka.
Dan hasil tersebut membuktikan jika Azka memang bukan anak kandung Abraham.
Ternyata masih ada hal penting yang belum mereka ketahui tentang Azka. Mereka bertanya-tanya siapa ayah kandung Azka sebenarnya.
Tentu saja mereka akan segera mencari taunya.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE
>> FAVORIT