Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 27



Rafael membawa langkah lebarnya memasuki mansion mewah tersebut dengan seseorang dalam gendongan nya.


Bahkan ia tidak mempedulikan tatapan penuh tanya dari orang-orang yang kebetulan sedang berkumpul di ruangan keluarga. Dan memilih memasuki lift menuju lantai tiga.


“Siapa yang dibawa bang Rafa?” Tanya seorang pemuda yang tak lain tak bukan Ares, panjangnya Ares Londreo Mexime dengan kening berkerut.


“Kau bertanya pada siapa?!” Saut seorang pria yang lebih tua dari nya dengan nada datar. Dia Melvin Joseph Anderson, anak kedua mommy Nadine dan Daddy Antonio.


“Sudah jangan ribut, lebih baik ikuti saja abang kalian” Ucap Nadine menengahi, mereka mengangguk mengiyakan perkataan mommy mereka. Lalu bangkit dari duduk masing-masing dan segera menyusul si sulung.


Rafael yang telah sampai di kamar milik nya, ah mungkin setelah ini akan jadi milik adik kecilnya ini. Memindahkan Azka ke atas king size miliknya. Cairan yang diberikan nya tadi cukup lama, bahkan sampai sekarang bocah nakal itu belum sadar juga.


“Tidur yang tenang, prince abang” Usai memberikan kecupan sayang di dahi Azka, tak lupa menyelimuti tubuh nya, lalu berjalan ke arah pintu. Saat akan keluar langkahnya terhenti melihat mommy, Daddy dan adik-adiknya telah berdiri bengong disana.


Nadine terutama mengajukan pertanyaan sembari melanjutkan langkahnya masuk, “Kau bawa siapa nak!” Dengan tatapan mengarah pada seseorang tidur di atas ranjang si sulung.


“Astaga!” pekik Nadine saat telah mendekati king size tersebut, tepatnya melihat wajah sangat familiar. Perlu diingat ingatan ibu beranak empat itu sangat kuat.


“bukannya ini anak yang menolong mommy waktu itu! Kenapa kamu menculiknya sayang” Yang lain penasaran ikut melihat, beberapa saat terdengar lagi teriakan seseorang.


“DEMI APA? INI KAN DEDEK EMES GUE BANG! KENAPA ABANG CULIK!” pelaku nya siapa lagi kalo bukan Ares, membuat mereka meringis mendengar suara cempreng anak itu. Bahkan membuat Azka terusik, mungkin obat nya sudah habis.


“Berisik anjeng!” Seketika membuat rahang para human disana mengeras kecuali Ares dan Nadine.


“Astaga! Ares, lihat lah suara kamu bikin dia kesal” ujar Nadine tampak kesal pada anak adik iparnya tersebut.


“Maap mom, kaget soalnya” Ares cengengesan sembari mengangkat dua jarinya.


“Rafa, jelaskan!” Suara Antonio sangat dingin sekali, menatap tajam si sulung.


“Dia adik kecil ku!” Jawab Rafa tak kalah dinginnya. Mendengar hal tersebut membuat Nadine, Ares dan Melvin mengerutkan alisnya.


“Maksud kamu apa sayang? Adik mu bagaimana!”


“Maksud bang Rafa dia akan menjadi adiknya dan juga adik Ares mom!” Sahut Ares yang cepat menangkap, karena dia juga sudah dari dulu menginginkan si dedek emes. Mendengar perkataan bang Rafa tentu saja ia sangat bahagia.


“Hah!” mereka tercengang. Bahkan Antonio dan Melvin di buat kaget. Apa mereka tidak salah dengar. Lalu memandang si empu, “Benar bang!” Melvin bertanya.


“Hm” Rafa mengangguk mantap.


“Mommy setuju aja sayang, biar keluarga kita makin rame” Nadine berseru dengan antusias, terlihat sekali dia senang banget. Karena sejak dari awal ia memang mengangkat seorang anak tapi sayangnya suaminya datarnya menolak.


 “Mending kita bahas di keluar, biar tidurnya nggak terganggu” ujarnya saat melihat wajah suaminya yang semakin dingin. Sembari menarik lengan suaminya datarnya. Sedangkan Rafa dan Melvin ngikut saja. Tapi tidak dengan Ares, anak itu malas berdiam diri ditempat nya.


“Res buruan, kenapa masih disana!”


“Nggak mom, biar Ares disini nemanin dedek emes” Mereka jadi heran dengan sikap bocah itu, sejak kapan ia jadi alay begitu, biasanya cuek amat.


“Tidak boleh” Area langsung ciut saat melihat tatapan menghunus abang sulungnya, seperti ingin menerkam.


“aish...” Dengan tak ikhlas Ares beranjak mengikuti mereka. Niatnya mau uyel-uyel dedek emes jadi gagal.


☀️


☀️


☀️


“OM PEDO, BUKA PINTUNYA. GUE MAU PULANG!”


Duk


Brak


Tapi kemudian, ia sadar bukan dunia kerajaan. Karena seingatnya ia dibawa paksa oleh si om pedo.


“Njiir...apa gak ada yang dengar suara lengking gue” Rasanya ingin sekali tenggelam ke rawa-rawa, biar mati sekalian karena ia sudah merasa lelah berteriak dan misuh-misuh sedari tadi tapi nggak ada yang dengar. Tidak mungkin kan kamar ini berada dalam hutan pikirnya.


“Woyy...Rafa bangsat, tai Lo gak dengar gue Hah! Buka pintunya goblok!” Sekali lagi umpatan kasar Azka teriakkan.


“Hiks...bangsat, gue mau pulang! Napa sih gue kayak jadi tahanan gini. Gak tau apa para sohib gue pasti lagi cariin gue, mana ponsel juga gak nemu!”


“Gue yakin pasti ulah si Rafa Rafa bangsat! Dasar om pedo kurang akhlak, berani nya cuma sama anak di bawah umur” Azka sudah terlihat seperti orang gila, dengan pakaian berantakan dan rambut acak-acakan. Mungkin sebentar lagi dia akan menangis. Bukan karena cengeng ye tapi karena sudah stress.


Tanpa sepengetahuan nya, semua yang dilakukan dan di ucapkannya di lihat dan dengar beberapa orang.


“Ya tuhan. Kenapa dia lucu banget sih, sudah lah mending sekarang buka kunci kamar nya sayang. Kasihan” Nadine geleng-geleng kepala tak percaya atas semua yang dilihat dan di dengar nya. Tapi tak dipungkiri ia juga senang karena akan mendapatkan seorang putra seperti nya, dengan begitu rumah ini akan terasa ramai.


“Iya bang, kasihan gue liat dedek emes” Ares ikut protes.


“Bahasa mu son!”


“Kilap dad” Cengir nya.


“Res, kamu tidak ingin pulang. Dari tadi mama mu nanya terus. Sudah lebih pulang dulu, nanti balik lagi kesini”


“Mom ngusir”


“Siapa yang ngusir kamu, justru mom senang banget kamu disini biar ada teman obrolan mom, ini udah hampir malam” Benar sekali, selain putra bungsu nya Ares lah yang paling asik diajak ngomong.


“Ye iye, Area pulang. Tapi besok nginap disini” Tidak mungkin membantah lagi, apalagi saat mendapatkan tatapan tajam ketiga pria dingin dan datar itu, seketika membuat nya ciut.


“Serah kamu dah. Besok awas bolos lagi bakal mom bilang sama papa kamu” Ancam Nadine.


“Jangan mom” Penyebab ia berada disana karena hal tersebut, untung saja ketiga makhluk datar itu tidak memarahi nya karena membuat alasan yang tepat. Karena jika dibandingkan dengan mama dan papa nya jauh lebih kejam ketiga pria tersebut. Sekarang entah kenapa ia jadi kasihan sama Azka, mungkin kebebasan dedek emes nya itu akan berkurang.


“Yaudah mom, Dad, bang, Ares pamit. Assalammualaikum”


“Ya/hm...Waalaikumsalam”


...


Cklek


Rafa memasuki kamar bernuansa abu-abu tersebut, lalu netral nya memandang kearah tempat tidur tapi tidak ada siapa pun disana. Alisnya bertaut sembari melangkah meliarnya penglihatan nya setiap sudut kamar tapi tetap tidak ada orang nya.


“Hm...Azka!”


Gubrak


Srek


Langkahnya terhenti saat mendengar kegaduhan, ia yakin sekali itu ulah bocah dicarinya. Lalu berjalan memasuki sebuah ruangan yang terletak berdekatan dengan kamar mandi karena dari sana asal suara tersebut.


Apa yang dilakukan adik kecil nya itu, pikirnya.


“Sialan!” umpatan lagi didengar nya.


Sesampai di dalam, seketika matanya melebar melihat apa yang sedang dilakukan sang adik.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT