
Orang itu adalah Alister, awalnya ia pikir hanya dirinya disana tetapi ternyata ada orang lain.
Al memandang lekat cowok yang sudah menjadi adiknya tersebut, apalagi saat mendengar nama kakak perempuannya disebut.
“Kenapa? Lo ada masalah apa sama kak Fely?” Tanya nya dengan tatapan tajam nya setelah ikut duduk tepat di sebelah adiknya itu.
“Bahkan Lo sampe berkata kasar!” Selidiknya yang mana membuat Azka mendegus tak suka.
“Kenapa? Lo mau ngadu, gue tuh lagi kesel. Pokoknya gue kesel ama kak Fely” Sewotnya dengan nada merajuk sembari bersedekap dada.
Al menaikkan alisnya melirik bingung bos geng Cobra itu, “kesal! Kenapa? Kak Fely ngapain sampe buat anak nakal kayak Lo kesal!” kata dengan sedikit tersenyum meledek.
“Lo ngeledek gue!” lantang nya dengan dagu diangkat keatas menatap permusuhan abangnya itu.
Tampak Al menggeleng masih dengan kekehan kecil terdengar, entah kenapa ia jadi tidak tahan untuk tertawa melihat sikap adik baru nya itu.
“Nggak, bukan gitu” sedangkan Azka hanya berdecih mendengarnya sembari melirik dengan jengkel. Tidak mungkin juga ia bilang sebenarnya bisa habis ditertawakan ia, dan lebih menyebalkan lagi nanti di kira ia lelaki yang sudah ternodai.
Entah sadar entah tidak, Al mengangkat satu tangannya mengelus kepala Azka, si empu yang mendapatkan perlakuan itu sedikit tak senang tapi ia tidak berniat menghentikan nya.
“Ngapain Lo disini, bukannya seharusnya Lo masuk kelas, barusan udah bel” ucap Azka, sebenarnya ingin mengusir Al karena ia pengen sendirian, maksudnya ingin molor.
Bukannya menjawab Al malah mengajukan pertanyaan balik, “terus kenapa Lo nggak masuk, mau bolos!” masih dengan gerakan tangan nya mengelus rambut hitam nan halus milik sang adik. Entah kenapa sekarang ia jadi kecanduan melakukan nya. Mungkin kedepannya ia kan sering melakukan ini. Usapan itu membuat Azka mengantuk, entah ia juga tidak mengerti dengan mata nya ini. Itu salah satu kebiasaan Azka, biasa terkadang Bagas yang melakukan itu tapi hanya sesekali.
“Ck, lagi males belajar. Mood gue lagi buruk. Jadi lebih baik bolos” dengan sesekali menguap kecil dan itu tidak lepas dari pandangan Al.
“Gak sopan. Mulai sekarang panggil abang” Ucap nya nada dingin mengingat sejak tadi adiknya selalu memanggil nya tanpa embel-embel abang. Tidak sopan.
“Ka” panggil nya karena tidak mendapatkan balasan apapun, “Hm” entah kenapa ia jadi kesal diacuhkan sang adik. Dengan wajahnya ia menunduk sedikit untuk melihat muka adiknya dengan sekarang.
“Dasar” degusnya saat mendapatkan adiknya tidur, semua itu terlihat dari kedua mata nya sudah lelap dengan sedikit dengkuran.
Entah setan apa yang merasuki ketua geng Warriors melihat adiknya itu tertidur begini membuat nya sangat tenang.
“Gak salah bag Rafa bawa lo pulang! Lo emang cocok jadi adik gue dan bungsu nya Keluarga Anderson” bibirnya memang mengatakan itu tapi berbeda di dalam, kata hati seakan memberontak. Tak ingin memikirkan lagi ia memilih beranjak saat telah membaringkan tubuh Azka sepenuhnya di atas sofa panjang tersebut.
Dia juga tidak menegur adiknya saat melihat dia sudah tidur. Tidak tega ia membangunkan, jadi biarkan saja untuk sekarang tapi tidak lain kali.
“Hahh...” menarik nafas dengan panjang, lalu bergerak ke arah pintu rooftop.
Saat kan membuka pintunya terpaksa ia urungkan saat merasa getaran di saku. Itu handphone nya.
“Hm...”
“...”
“Jangan gegabah! Tunggu sampe gue pulang sekolah”
“...”
Usai mematikan panggilan nya, ia melanjutkan langkahnya membuka pintu tersebut dan berlalu keluar.
Di sisi lain Bagas dan tiga curut lain nya tampak sedang malas-malasan mengikuti pembelajaran pak Vano yang tak lain matematika. Benar-benar membuat otak puyeng, apalagi Nano dan Radit yang memiliki otak pas-pasan. Sedangkan Bagas dan Lio lumayan lah tidak buruk-buruk amat. Tapi yang pasti Azka jelas lebih pintar hanya saja kepintaran nya ditutupi oleh kenakalan nya.
“Ck, lama amat sih. Dari tadi ngejelasin itu-itu Mulu, nggak capek apa gue aja capek dengarnya” gerutu Radit dengan muka kusutnya. Nano memilih diam saja sambil memejamkan mata nya. Lio, anak itu malah sibuk dengan ponselnya, Bagas sama. Dan tentunya tidak di ketahui pak Vano karena mereka tutupi dengan buku paket.
“anjiim...” umpat Radit sangat pelan. Awalnya mereka ingin mengikuti Azka tapi di jalan malah di bertemu pak Vano dan dengan terpaksa mereka ikut masuk.
“Si bos pasti lagi enakan molor santai nih” batinnya mendegus.
☀️
☀️
☀️
“Mampus gue!”
Kemudian segera beranjak keluar dari rooftop.
Ia berjalan kearah kelas nya terlihat dahulu untuk mengambil tasnya yang masih tertinggal di kelas. Siswa/i juga sudah pada pulang hanya seberapa anak-anak yang ikut ekskul hari ini tampak masih tinggal.
“para curut asu semua nggak ada niatan bangunin gue apa?” degusnya mengingat keempat sahabat laknat nya itu.
Sesampai di kelas keningnya seketika berkerut saat melihat cecurut itu masih disana, molor juga, “ck, pantasan” decaknya.
“Udah pulang Ka” Azka mengalihkan pandangan ke samping kearah Bagas yang tampak sudah bangun.
“udah...yuk balik sekalian bangunin nih mereka” Azka menyandang tas nya dengan satu tangan digunakan menarik telinga Nano. Sedangkan Bagas juga melakukan hal sama pada Lio dan Radit.
“Woyy...bangun” teriak Azka sedikit keras.
“Hoam...apa sih” Nano dengan malas menegakkan kepalanya sembari membuka mata saat merasakan telinga nya ditarik ditambah suara teriakan itu.
Usai membangun kan ketiga makhluk itu, mereka beranjak pergi menuju parkiran.
Sampai parkiran, disaat para sahabatnya telah menaiki motor masing-masing dan Azka malah cemberut dengan degusan beberapa kali.
“Ka, buruan naik biar gue anter” kata Bagas karena tau bos nya ini tidak membawa motor.
“Lah tumben Lo nggak bawa motor bos” seru Radit, selain Bagas ia dan yang tidak tau karena mereka datang terlambat tadi pagi.
“Rusak motor Lo bos, kok Lo nggak bilang kita sih. Ya udah biar gue antarin aja” Sahut Nano yang seketika dapat tatapan tajam dari Bagas.
“Santai gas” cengir saat menyadari hal tersebut j. Radit dan Lio hanya mencibir.
Azka tampak dilema, bukannya apa tadi pagi kak Fely berkata akan menjemputnya. Apalagi saat mendapatkan panggilan tak terjawab tadi, “Gimana ya? tadi pagi gue dianter ama kak Fely, ke paksa sih” ucap nya membuat mereka saling tatap. Wajar saja karena mereka tidak tau siapa yang dimaksud Azka.
“Wahhh...Lo punya gebetan ya bos”
“Bukan ogeb, kakak angkat gue, eleh katanya Lo fans berat Alister tapi tentang saudarinya aja Lo nggak tau, gimana sih!” Sentak Azka sembari memutar bola matanya males.
“Ya elah...bos, nggak gitu juga kali”
“tapi cantik nggak bos, mana tau bisa jadi gebetan baru gue” Jiwa playboy Nano sudah mulai bereaksi.
“Dalam mimpi Lo!” cibir Radit, yang mana membuat Nano menatap permusuhan sahabat nya tersebut.
“sewot aja lo, bilang aja Lo ngiri sama gue kan”
“Hahah...gue iri, ogah. Bukan gue banget, buat apa gue ngiri ama human bekas sani-sini kayak Lo!” Mereka terus mengadu bacot tanpa menyadari sudah tinggal oleh Bagas dan Lio, Azka juga akhirnya memilih ngebeng dengan Bagas.
Beberapa saat kemudian mereka baru menyadari akan hal tersebut.
“Gara-gara lo kita ditinggalkan” tuding Nano.
“Nyenye...Lo yang mulai duluan” Radit buru-buru memakai helmnya. Adu bacot dengan nanonjing bisa habis waktu sehari.
Nano mendegus saat melihat motor Radit duluan.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT