
Setelah tiga hari dirawat, Azka bernafas lega karena sudah diperbolehkan pulang. Itu pun atas paksaan nya dengan rengekan sering kali. Bahkan ia rela berakting menangis sampe matanya bengkak. Mereka terlalu berlebihan padahal dirinya telah sehat tapi malah dirawat begitu lama benar-benar membuat nya kesal setengah mati.
...
“Mom, nanti Azka izin keluar bentar bolehkan” Sekarang ia telah berada di mansion, ditemani mommy Nadine. Sedangkan yang lain sudah pada pergi mengurus urusan masing-masing. Satu hal yang membuat Azka bahagia kakaknya Felysia baru balik ke korsel pagi tadi menyelesaikan kuliah nya. Karena diantara yang lain Kak Fely dan bang Rafa yang paling protektif dan sekarang sudah pergi satu.
Nadine yang lagi mengaduk adonan kue seketika mengalihkan pandangan kearah Azka, “Mau kemana? Kamu kan baru sehat. Jangan keluyuran keluar nanti kalo Daddy dan lain tau bisa marah. Emang kamu mau dihukum lagi” ucap nya dengan nada lembut. Ia tau putranya ini pasti merasa bosan dan ingin bermain keluar tapi ia tidak bisa gara-gara hal tersebut putra kecilnya ini mendapat hukuman. Walaupun suami dan putra, putri nya tidak ada di rumah tetap saja tidak lepas dari pengawasan mereka melalui para bawahannya.
Azka mendegus, ia lupa banyak para titan yang akan mengawasi nya dalam 24 jam.
“Kayak anak presiden aja gue” batinnya.
Bibir Azka mengerucut beberapa senti sambil bersedekap dada, “cuman bentar aja kok mom ke minimarket sebelah beli ciki-ciki”
“bukannya udah banyak mom beliin kemarin”
“Udah habis mom” Alasannya.
Nadine tercengang, “cepat banget, kapan kamu makan nya”
Azka jadi gelagapan tapi ia tidak kehilangan akal, “belum sih, tapi Azka mau beli sesuatu. Boleh ya mom, gak bohong kok”
“Tapi gak janji” lanjut nya dalam hati.
Nadine menghela nafas sembari mengangguk pasrah, “yaudah boleh. Uangnya ada kan”
Azka bersorak kegirangan dalam hati sambil mengangguk, “ada kok mom, tapi kalo ditambah gak papa juga” cengir nya.
Nadine tersenyum kecil, lalu beranjak pergi ke kamar nya mengambil uang. Azka tentu saja mengikuti.
“uang tunai ya mom, jangan pakai kartu” katanya. Kalo pakai kartu sih gak masalah juga tapi terlalu ribet baginya.
“Mau berapa?” tanya Nadine yang telah mengambil dompetnya.
Mata Azka berbinar-binar melihat beberapa uang merah tersusun rapi dalam dompet tersebut.
“Ck, sultan mah bebas” sudah lama ia tidak melihat uang sebanyak itu, dulu ia saat masih kecil ia sering menyelinap mencuri uang ayahnya. Tapi tetap saja kekayaan ayahnya tidak sebanyak keluarga barunya ini.
“Serah mom deh, tapi kalo mau banyak juga boleh heh” Azka menyengir kuda.
Nadine hanya geleng-geleng kepala mendengarnya lalu memberikan beberapa lembar uang merah tersebut.
“Nih, ingat jangan beli yang tidak sehat apalagi yang pedas”
“Ok, mom. Yaudah Azka keluar dulu ya mom”
Nadine mengangguk. “Jangan lama-lama ya, habis jajan jangan keluyuran ketempat lain” teriaknya saat melihat putra nya itu telah menuruni tangga. Mau menghentikan tapi sudah terlanjur.
“Saking senangnya sampai lupa ada lift” gumamnya. Andai saja para laki-laki ada disini pasti kena omel dan berakhir hukuman.
Azka tidak menjawab karena ia tidak akan menuruti perkataan itu. Semua yang ia katakan tidak ada yang benar. Demi kebaikan diri sendiri tidak masalah berbohong.
“Tuan muda tidak diizinkan keluar” langkahnya berhenti saat dihadang kedua titan tersebut.
Tatapan Azka berubah dingin, “yang minta izin Lo pada siapa hah! Mau kemana pun gue gak perlu atas izin kalian” sentaknya menatap mereka penuh permusuhan.
“Tapi tuan muda tidak diizinkan keluar. Ini perintah tuan besar dan tuan muda Rafa” Azka tidak terkejut lagi karena tau kedua makhluk datar itu pasti mengawasi nya selalu, menyebalkan.
“Sorry ya, tapi gue udah minta izin kok dan mereka bolehin. Dah awas Lo pada gue mau lewat” Mereka tampak saling tatap lalu mengangguk.
“Baiklah tapi kami harus ikut kemana pun tuan muda pergi” Seketika wajah Azka memerah karena saking kesalnya.
“Ck, anjiiim. Gue cuman mau jajan di sebelah sana gak usah lebay deh” Dengan kasar ia melewati mereka sambil berjalan melewati gerbang depan. Bahkan kedua penjaga disana dibuat terkejut saat ingin menghentikan langsung mereka urungkan saat melihat kedua temannya mengikuti.
“Sialan! Mau keluar aja susah banget. Anak presiden aja gak separah ini, kalo gini percuma aja gue bohongin mommy—“ Azka terus menggerutu dengan sesekali menengok ke belakang melihat kedua titan yang terus mengikuti nya.
Sesampai di depan minimarket sekali lagi ia lihat kearah mereka sambil berkata, “gue mau jajan, mending kalian tunggu disini jangan coba-coba ngekori gue lagi”
“Tidak bisa”
“Ngelawan Lo pada Hah! Ini perintah jadi harus nurut” sentaknya dengan gaya sok angkuh. Beberapa orang disana hanya melihat dengan bingung, namun tak seberapa juga yang berbisik-bisik.
“Baik tuan” akhirnya mereka pasrah lagian tidak mungkin juga tuan mudanya ini bisa kabur karena hanya ada satu pintu disana.
Mendengar nya Azka mengangguk puas, “gitu dong dari tadi kek bikin emosi aja”
Kemudian, beranjak kedalam memasuki minimarket. Disana ia celingak-celinguk melihat beberapa orang yang lagi belanja.
“Aduh...gimana caranya gue kabur” gumamnya dengan mata terus melihat ke kiri dan ke kanan.
“He-he...Gue ada ide”
☀️
☀️
☀️
“Kenapa dek? Habis dikejar maling ya” Azka mengalihkan pandangan kearah sopir taksi, Yap sekarang ia telah berada dalam taksi yang barusan ia setop.
“Bukan, lebih bahaya dari maling” Si sopir yang terlihat masih sedikit muda itu ber oh ria saja.
“Buruan jalan bang”
“Mau kemana dek?” pertanyaan itu membuat Azka sedikit bingung, “jalan aja dulu bang, gue mau nelpon teman gue dulu” sopir taksi itu mengangguk.
Azka buru-buru menelepon salah satu sahabat nya.
“Woii...gas”
“Hm, ada apa?”
“Lo sama tiga curut dimana? Bolos gak”
“kita dikedai mang ucup lagi bolos”
“Kebetulan, jangan kemana-mana gue mau kesana! Bosan gue dirumah”
“perlu gue jemput”
“Gak usah gue udah naik taksi”
“Ok”
Setelah panggilannya selesai, ia meminta sopir taksi mengantarkan ke alamat disebutnya.
“Ck, bukan gue banget nih bau baju” gumamnya.
“Semua ini gara-gara dua titan anjiiim” Gimana tidak untuk bisa terhindar dari kedua nya ia terpaksa menyogok seseorang dengan menukar baju dan meminjam topinya. Mana uangnya kena tumbal lagi, sialan. Untung orang mau- mau aja disogok.
Sementara di tempat semula, kedua pengawal tadi tampak kebingungan karena sudah hampir setengah jam orang yang ditunggu-tunggu nya tidak keluar juga.
“coba kau cek kedalam” katanya pada temannya. Karena merasa ada yang tidak beres. Apalagi saat tau tuan mudanya itu sangat licik.
“Baiklah”
Beberapa menit kemudian dia kembali keluar dengan wajah makin datar, “bagaimana?”
“Tidak ada, seperti nya kita kecolongan”
“Astaga, ayo cari jangan sampai tuan besar marah. Aku yakin tuan muda masih berada dekat sini”
Sedangkan di sisi lain, Azka yang telah sampe dikedai mang ucup tampak tertawa dengan para sahabatnya semuanya itu berawal saat ia menceritakan hal tadi yang mana membuat mereka tertawa ngakak.
“Ha-ha...Pinter juga Lo bos”
“Gue yakin sekarang mereka kalang kabut nyari Lo”
“Sering bohong Lo bos, awas ada karma bos”
Azka hanya berdecih mendengarnya.
“Kayak Lo nggak aja, gue yakin Lo lebih parah dari gue” degusnya.
“Ck, sok tau Lo bos” Cibir Radit.
“Dah berisik Lo pada, mending kita bahas yang lain” Ucap Lio yang sudah jengah kehebohan mereka.
“Sewot aja lo”
“Mau bahas apaan?” tanya Azka menghiraukan tatapan sinis Radit pada Lio.
“soal balapan, Lo mau ikut kagak nanti malam. Gue dengar hadiahnya lumayan besar”
Azka tampak berpikir, “gue mau-mau aja, tapi Lo tau kan gimana mereka”
Lio mengangguk begitu pun yang lain. “Mending ikut aja bos, rugi kalo kagak ikut secara kan Lo tuh raja balap”
“Iya”
“Kalo soal mereka biar kita bantu” mereka setuju mendengar ucapan Lio.
“Oke. Gue mah serah aja” tapi tak dipungkiri otaknya terus memikirkan cara biar dapet izin nanti malam apalagi mengingat yang ia lakukan sekarang ia merasa bakal ada hal buruk akan ia dapatkan.
“Semoga aja gue gak dihukum ketempat itu lagi, ngeri njiir”
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT