Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 44



Beberapa hari berlalu...


Di sebuah lapangan terlihat dua geng sedang baku hantam sejak sejam yang lalu dan sekarang sudah hampir dua jam tapi belum ada yang mau mengalah.


“Lo kalah Al!” ejek lawannya yang tak lain Teo dengan kondisi cukup memprihatinkan. Begitupun lawannya yaitu Alister. Mereka melakukan tawuran karena memang dari dulu diantara geng mereka tidak ada yang mau mengalah, selalu bermusuhan. Tetapi sudah jelas yang mencari masalah geng Dragon.


Al menyeka darah di sudut bibirnya sembari tersenyum sinis, apa-apaan bajingan ini sudah jelas dia yang menang tapi malah mengatakan kalah. Semua itu sudah terlihat dari kondisi mereka berdua, dibandingkan dirinya Teo lah yang paling parah sedangkan dirinya hanya luka lembam di bagian pipi dan sudut bibirnya.


“terima kekalahan Lo untuk sekian kalinya” ucap Al dengan nada dingin. Lalu mengarahkan kaki nya untuk menendang perut Teo.


Brukk...


Membuat Teo sedikit terpental dengan tubuh ambruk ke bawah. Dia terlihat mengenaskan. Sudah pasti dimenangkan oleh geng Warriors.


Melangkahkan kakinya kearah Teo dan berjongkok didepan nya,


“Teo, hari ini lo selamat. Gue cuman beri peringatan jangan sesekali Lo mencoba mengadu domba geng Warriors dengan geng Cobra karena itu tidak akan ada hasilnya” ucapnya dengan penuh ancaman. Teo menggeram mendengar nya, susah payah ia bangkit sembari melirik kearah teman-teman dan anak-anak Dragon yang sudah tumbang.


“Ck, cuma segini kemampuan Lo!” Naufal mencibiri lawannya yang sudah terbaring. Jika Azka dan sahabatnya melihat mungkin ia kenal wajah tersebut walaupun telah babak belur, dia Deran salah satu teman Teo. Tidak jauh beda dengan Pino, Jimul dan Fandi ketiga anak itu juga bernasib mengenaskan oleh Kenzi dan Samuel.


“Yuk cabut” Mendengar perintah Al mereka segera bangkit bubar, bagian yang terluka cukup parah mereka bawa ke RS. Sedangkan, untuk Teo dan geng nya dibiarkan saja.


Sesaat setelah Al dan gengnya pergi lalu keluar dua orang remaja yang menyaksikan tawuran kedua geng itu sejak tadi. Mereka tak lain Azka dan Queen.


“Hah...hampir copot jantung gue” Queen mengembuskan nafas panjangnya sembari mengusap dadanya. Bahkan wajahnya sudah pucat, walaupun pernah ia melihat tawuran tapi tidak sampe selama dan sedekat itu.


Azka tampak biasa saja, malahan sejak awal ia sudah tak sabaran ingin ikut tapi malah tertahan sama rengekan Queen yang menurut nya sangat menyebalkan.


“Bangsat! Kalo bukan gara-gara Lo gue pasti udah nonjok muka orang tadi!” teriaknya sedikit frustrasi. Sudah jelas Azka itu maniak tawuran.


Queen mendengus, “kok Lo nyalahin gue sih! Lagian buat apa juga Lo ikutan. Bikin ngeri aja” Azka melirik sinis. Sekarang pandangan nya mengarah pada geng yang dilawan geng Warriors. Dia hanya menatap jengkel mereka, karena ia sudah tau yang menyerang markas nya waktu itu di dalangi oleh mereka. Dia juga tak tahan ingin menertawakan kekalahan mereka tapi memilih diam saja melihat mereka yang akan pergi dengan susah payah.


“Balik yuk, ngapain kita masih disini” Sembari menarik-narik lengan Azka yang terbungkus jaket hitam.


“Lo berisik banget sih, kalo mau balik...balik aja sana, ngapain ngajak gue!” sekarang ia jadi nyesel pernah bantuin nih cewek karena sejak kejadian itu dia selalu merasa terganggu. Seperti sekarang ini dan itu semua juga karena membantu nya yang sebelumnya di hadang preman jalanan.


Kebetulan dirinya lewat melihat hal tersebut tentu saja mau tak mau ia membantu.


Queen seketika cemberut, “mobil gue kan di bengkel...masa Lo tega ninggalin gue, lagian kan gue ama Lo kesini” Ucap nya sembari mengikuti langkah Azka yang sedang berjalan kearah motor nya.


“Gue heran deh, sebenarnya mobil Lo benaran barang mahal gak sih...setiap ketemu mogok terus”


“Ya mahal lah...lagian mana tau gue bakal mogok di tengah jalan... mungkin kebetulan aja kali”


Azka memutar bola matanya melas. Nyusahin aja.


“Buruan naik” cetusnya.


Membuat Queen tersenyum dan langsung naik.


“Ka, Lo langsung pulang ato ketempat lain dulu” Azka yang akan melanjutkan motor nya mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan tersebut.


“Napa? Itu kan urusan gue”


Queen terdiam, dia tampak berpikir lalu menggeleng, “ Gak apa-apa, dah buruan jalan” Azka mengerutkan alisnya tapi tidak terlalu memikirkannya dan melajukan motornya.


Di belakang, Queen menghela nafas panjangnya, “semoga aja gak ada masalah lagi, lagian pasti teman-teman Azka gak bakal suka liat gue dekat sama Azka” Tanpa sadar kedua tangannya melingkar pada pinggang Azka sembari menyandarkan kepalanya pada pundak Azka. Tentu saja apa yang dilakukan nya membuat Azka tersentak.


Deg


“Ck, nih cewek ngapain sih pakai peluk-peluk segala mana nyandar lagi” Degus Azka dalam hati.


...


“Udah sampe, buruan turun” ucap Azka usai menaikkan kaca helmnya sembari melirik kearah Queen yang masih enakkan menyandar dengan mata terpejam di pundaknya.


“Ck, pakai molor lagi” karena tak kunjung bergerak ia mendorong kepala Queen dengan jarinya. Dan itu membuat si empu sadar.


“pasti ngiler tuh, sialan jaket gue ternodai” batinnya. Mungkin jika Queen mendengar pasti bakal memukul nya.


“hemm...udah sampe ya” gumamnya saat telah membuka mata, namun wajahnya terlihat lesu bahkan belum beranjak turun dari motor.


Azka tentu saja di buat geram, “ngapain masih diam di belakang gue, sana turun” suara Azka sedikit meninggi.


Bukannya turun, ia malah semakin mengeratkan pelukannya, “g-gue ikut Lo aja” ucap nya sangat pelan tapi tetap didengar Azka.


“Hah...” Azka jadi linglung.


“Lo kenapa sih? segitu gak rela nya Lo pisah dari gue” Namun, tidak ada balasan. Membuat Azka frustrasi, ingin sekali ia tendang nih cewek tapi saat melihat wajah murung tuh cewek ia jadi tak tega. Ia tak tau apa penyebab nya, tapi juga males menanyakan karena tidak ingin ikut campur urusan orang lain.


“Yakin mau ikut gue”


Dibalas anggukan oleh Queen, membuat Azka berdecak lalu kembali berputar karena tempat yang ditujunya berbeda arah.


☀️


☀️


☀️


Fely mengepal tangannya saat mendapatkan kabar baru dari bawahannya yang mengawasi Azka.


“Setelah ini jangan harap kau mendapatkan izin berangkat sendirian lagi”  


Sebelum nya ia sudah pernah mengatakan akan mengantar jemput Azka setiap hari tapi karena pagi tadi ia ada urusan mendadak jadi ia mengizinkan adiknya itu memakai motor. Apalagi saat melihat wajah memelas kesayangan nya itu, ia jadi tidak tega.


...


Di sebuah kafe.


Terlihat Azka bersama para sahabatnya sedang berkumpul disana dan lupakan Queen yang masih belum berniat pulang. Awalnya mereka menolak Queen bergabung tapi mendengar ucapan Azka mereka mengiyakan saja, lagian gak mungkin juga mereka mengusir nya. Mereka gak sejahat itu juga.


“Queen... mending Lo hapus deh dandanan menor Lo tuh, biar lebih baik. Sebab gue liat-liat Lo tuh bakal lebih cantik dandan seadanya aja”  Saran Nano yang malah dapat tatapan aneh dari keempat sahabatnya.


“Salah gue...lagian coba deh Lo perhatiin lebih dekat” Radit dan Azka mengalihkan pandangannya kearah Queen yang duduk di kursi bagian tengah mereka. Sedangkan Lio  hanya menatap males, Bagas tidak terlalu peduli.


“apa sih! gak usah liatin segitu juga kali...tau kok kalo gue tuh cantik” Queen merasa sedikit risih di tatap begitu seperti seorang tersangka maling saja.


Mereka mendegus mendengarnya.


“emang sih, tapi tetap aja bikin gue kesel” batin Azka.


“Cih...dasar murahan, ganggu pemandangan aja” batin Lio tampak jijik. Dia benar-benar tidak menyukai keberadaan Queen, apalagi saat melihat kedekatan nya dengan kedua sahabatnya termasuk Azka. Rasanya ingin ia tenggelamkan di rawa-rawa.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT