
Brum...Brumm...
“Menang lagi bos” seru Nano yang pertama kali menyambut Azka sampe garis finis.
Azka yang sudah membuka helm full face nya mengembangkan senyumnya, “jelas dong, raja balap di lawan” sembari menggusur rambutnya, sok kegantengan, walaupun memang kenyataannya ganteng banget.
“Yoi, bos gitu loh” Mereka saling tertawa.
“Jangan senang dulu Lo, besok malam gue tantang lo!” Seketika tawa mereka berhenti mendengar suara itu, pandangan mereka beralih kearah orang yang jadi lawan Azka barusan.
“Napa? Gak terima Lo kalah” ejek Radit.
“gelar aja yang raja jalanan tapi sama si bos aja kalah” Lio ikut menyahuti.
Ya, dia si raja jalanan yang telah kalah kedua kalinya, bisa dipanggil Redan, mendengar ejekan mereka tentu saja membuat nya kesal.
“Ck, gue gak peduli, besok malam kita balapan lagi”
Azka hanya tersenyum sinis, “oke, siapa takut”
“Jangan nanges ya kalo kalah lagi”
HAHAHA
Seketika mereka tertawa mendengar ejekan Lio.
“Sialan! Awas kalian” Redan hanya bisa menahan emosi karena ditertawakan. Lalu buru-buru beranjak dari rombongan itu, tidak tahan lama-lama disana.
“Lah kabur dia”
“Eh...bos” Azka yang sedang tertawa mengalihkan pandangan merasa tepukan di bahunya.
“Apaan”
“Liat deh, itu bukannya anak Lion” tunjuk kearah sekumpulan remaja.
“Teroos... hubungan nya sama gue apa!” setelah mengikuti arah tunjuk Fano.
“Ada lah, bukannya si Ares itu sekarang abang sepupu lo. Gue liat beberapa hari terakhir ini mereka sering malak para warga di kampung sebelah, dan lebih parahnya gue pernah hampir jadi korban” Azka mengerutkan keningnya mendengar perkataan Fano, begitu pun yang lain.
“Maksud Lo cuman mereka” Tanya Lio. Seketika dianggukan oleh Fano, “iye...gue ingat banget muka songong mereka. Tapi yang jelas ada si Dando, dan gue yakin dia biang keroknya”
“Wahhh...parah banget mereka, bos ini gak bisa di biarin. Perlu di basmi” Seru Radit lalu mengalihkan pandangan nya kearah Azka.
“Gimana bos?”
“Gimana apanya?” Azka sedang dalam mode lemot kayaknya. Ketularan penyakit Nano nih. Padahal tadi baru berbahagia.
“Maksud gue, perlu kita hajar mereka. Kalo gue mah iya iya aja”
“Gak perlu. Kita lihat aja kedepannya, kalo mereka masih ngelakuin seperti Fano bilang, baru kita basmi...”
“dah sekarang cabut”
“Siip bos” Satu persatu mereka menaik motor masing-masing, ada yang berdua juga, mengikuti motor Azka yang sudah jalan duluan.
...
Sepeninggalan mereka, anak-anak Lion tadi yang di omongkan diam-diam juga mengikuti mereka dari belakang.
Entah apa yang akan dilakukan mereka yang jelas memiliki niat buruk.
Sedangkan di sisi lain, tepatnya di kediaman Anderson. Semua tampak sedang berkumpul di ruangan keluarga menunggu kedatangan seseorang. Bahkan ada kedua orang tua Abi dan Ares juga.
“Dad, kapan adik baru ku itu pulang! Aku sudah tidak tahan ingin melihat nya secara langsung” Ucap seorang perempuan cantik dengan nada dingin, bahkan wajahnya masih terlihat datar.
“Sebentar lagi” Antonio menjawab pertanyaan putri satu-satunya itu dengan tak kalah datarnya. Ya dia Felysia Inez Anderson, putrinya baru saja pulang dari korsel beberapa jam yang lalu. Dia berangkat pulang karena mendengar kabar dari mommy jika memiliki adik baru, walaupun sudah diperlihatkan fotonya tapi ia tidak akan merasa puas sebelum melihat secara langsung.
“Sabar sayang, anak nakal itu sebentar lagi pasti pulang” ujar Nadine. Bibir Felysia terangkat membentuk seringai, entah apa yang dipikirkan nya. Yang jelas bukan hal yang baik.
Berselang lama, akhirnya yang mereka tunggu-tunggu datang juga, semua itu terdengar dari bunyi motor dari luar.
...
“Semoga aja mereka sudah tidur” gumamnya, mengingat sekarang mungkin telah tengah malam. Ia terus merapalkan doa sambil menggerakkan tangannya memutar handle pintu.
Cklek
Menyembulkan kepalanya, saat melihat lampu nya sudah dimatikan barulah masuk sepenuhnya.
“Aman” lirihnya dengan senyuman lebar.
“Apanya yang aman!” Dengan semua lampu ikut menyala, Seketika senyuman nya menghilang begitu saja dengan badan sedikit kaku menoleh kearah asal suara. Dari suaranya ia sudah tau siapa.
“D-dady” ucapnya dengan gugup saat telah berbalik kearah pria paruh baya itu, tapi tunggu...
Kenapa banyak orang!
Azka membola saat menyadari bukan hanya Daddy nya tapi ada Mommy, bang Rafa, bang Melvin, Alister, Ares dan juga si dokter menyebalkan dan beberapa orang lainnya yang tidak ia kenal.
“Jadi ini adikku dad!” tanya Felysia yang sudah berjalan menghampiri Azka, bahkan tatapan nya tidak pernah terlepas sejak bocah itu masuk.
“Hm” Hanya deheman balasan dari pria paruh baya tersebut.
Azka mengerutkan keningnya, “Siapa?” tanyanya bingung, karena tidak mengenal perempuan di hadapan nya, mommy Nadine juga tidak cerita memiliki anak lagi.
“Panggil kak Fely, aku anak ketiga mommy dan Daddy” Jawab Felysia masih dengan nada datar. Tapi tatapan nya berbeda, “ternyata adik ku memang sangat tampan dan imut” batin nya menyeringai.
“Sayang sini kenalin ini mama sama papa, kamu bisa panggil mereka mama Rani dan papa Derga” ujar Nadine memperkenalkan kedua orang tua Abi yang dibalas senyuman merekah dari mama Rani, sedangkan yang dipanggil Papa Derga hanya tersenyum tipis.
“Dan ini kedua orang tua Ares, bisa kamu panggil mami dan papi” Azka hanya mengangguk sambil tersenyum kikuk, dia tidak menyangka si dokter menyebalkan itu dari keluarga Anderson juga.
“Ya tuhan. Ternyata benar yang dibalas Ares kamu itu gemasin banget” pekik mami leta sembari mencubit gemas kedua pipi Azka.
“Iyalah, mami aja yang nggak percaya” sahut Ares dengan tampang songong nya.
“Nggak salah kita kesini malam ini, ternyata putra baru kita ganteng banget” Mama Rani ikut menyahuti. Sedangkan para lelaki hanya terkekeh kecil. Memang berbeda semenjak Azka berada disana, bahkan makhluk datar yang biasa jarang tersenyum sekarang mengeluarkan senyuman nya. Kuat sekali pesona seorang Azka.
Hanya saja ada salah satu diantara-Nya mereka yang tampak diam, bahkan tidak pernah menunjukkan ekspresi sedikit pun.
☀️
☀️
☀️
Usai acara perkenalan tadi, Azka di suruh tidur, awalnya ia pikir akan ada ceramahan dan kata-kata mutiara dari mereka. Tapi ternyata tidak seperti di pikirkan nya.
Ia cukup lega.
“Hufff...semoga aja keluarga ini bisa bikin gue nyaman!” Gumamnya. Tetapi pikiran nya melayang memikirkan seseorang yang mungkin sudah lama tidak ditemui nya, bahkan kabarnya saja ia tidak tau.
“A-ayah... bagaimana keadaan ayah sekarang! Apa ayah baik-baik aja disana?-“ ya seseorang itu adalah ayahnya tuan Abraham. Jangan pikir ia tidak pernah memikirkan pria paruh baya itu lagi, se benci apapun dan sebesar apapun rasa kecewanya ia tidak pernah melupakan pria yang sudah seperti super heronya itu.
Tanpa diminta air mata nya lolos begitu saja dengan pandangan lurus kearah langit kamar, “A-apa ayah bahagia banget sama mereka!”
“Ayah tau nggak, sekarang Azka udah punya keluarga baru lho... mereka angkat Azka, mereka baik kok. Tapi nggak tau kedepannya... cuman Azka berharap mereka benaran tulus sayang sama Azka...”
“Pasti si davajing senang banget bisa dapet kasih sayang ayah” lanjut nya sambil tertawa garing mengingat anak setan itu.
Tanpa di ketahui, seseorang mendengar semua kata-kata yang terucap dari bibirnya.
“baby, mulai sekarang tidak ada lagi yang bisa menyakiti kesayangan kakak! Jika berani, mereka harus berhadapan dengan ku!” Felysia mengepal tangannya kuat, ia sejak pertama melihat Azka, sejak itu pula Azka menjadi miliknya, adik kesayangannya. Tidak akan ia biarkan siapapun menyakiti kesayangan nya lagi.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT