
“Ayah makan dulu, biar Azka suapin”
Ini sudah hampir sejam lebih sejak kesadaran Ayahnya. Namun, sejak itu ayahnya hanya banyak diam. Ia pikir ayahnya itu akan mengucapkan kata-kata kasar dan mengusir nya tapi ternyata diluar dugaannya. Melihat itu membuat nya semakin khawatir, jangan pikir ayahnya ini sedang memikirkan anak kesayangan dan istrinya itu.
Abraham menerima suapin putranya tersebut, Ah putra! Apakah masih pantas ia menyebutkan kata itu, mengingat apa yang telah dilakukan nya. Bahkan dia sendiri yang mengatakan tidak menganggap putra lagi. Dan sekarang...Lihat putra yang telah dia buang malah berada disaat begini, sementara putra yang dia anggap kesayangannya itu malah tidak ada disini, bahkan istrinya itu juga.
“Nih, di makan obatnya dulu” Ucap Azka setelah ayahnya itu menghabiskan bubur nya.
Abraham menerima obat tersebut dan meneguknya dengan air.
“Dad, mending Daddy sama Mommy balik aja deh. Ini udah malam, biar Azka aja yang jaga ayah” Antonio yang lagi duduk bersama istri nya dibuat menoleh. Antonio memang datang sejam lalu setelah Rafa pergi karena melakukan hal penting.
Biasa pergi main-main dengan para tikus.
“Gak, lebih baik kamu yang pulang. Bukannya besok kamu harus sekolah” Mendengar suara lembut Antonio, Abraham dibuat melongo. Dia tak menyangka seorang Antonio yang dingin akan berbicara sepanjang dan se lembut ini, apalagi dia juga berbicara dengan Azka. Apa dia tidak salah dengar!
Dia masih tidak menyangka anak yang telah ia usir, yang telah ia buang malah mendapatkan keluarga angkat yang terlihat begitu menyayangi nya.
Sebagai ayah kandung, ia merasa iri dan menyesali semua perbuatan nya.
Azka menggeleng, “Azka bolos aja besok deh, Azka mau jagain ayah dulu”
“Tapi sayang, nanti kamu ke tinggalan pelajaran” ujar Nadine.
Entah kenapa Azka ingin ketawa mendengar kecemasan mommy nya itu, lalu melirik Daddy yang ternyata malah menatap nya datar.
“Hehe...santai Dad!” Azka tau pasti Daddy nya itu marah.
“Tidak ada bolos. Kau sudah terlalu sering bolos” tegas Antonio yang membuat Nadine tertawa kecil, hampir saja dia lupa kelakuan putra nakalnya itu.
Azka yang ingin protes seketika bungkam mendengar suara dingin Daddy nya, “Jangan membantah. Masalah ayahmu biar jadi urusan Daddy” Azka hanya bisa mengumpat dalam hati.
“Kamu gak perlu khawatir tentang ayahmu” Nadine ikut menambahkan membuat Azka tidak bisa berkata-kata lagi. Lalu beralih melirik ayahnya tersebut.
“Yang dikatakan mereka benar, kamu tidak perlu khawatir dengan ayah” Abraham sedikit malu menyebut dirinya ayah. Sementara Azka entah kenapa hati nya menjadi senang mendengar nya. Sudah lama ia ingin mendengar hal ini.
Apa ayahnya ini sudah mulai berubah? Atau apa mungkin hanya karena ada Daddy dan mommy nya disini, Itulah di pikiran nya sekarang.
“Ck, iya udah deh” ia mengalah saja daripada berakhir dirinya yang mendapatkan hukuman, keluarga barunya ini kan kagak pernah main-main dengan ancamannya.
...
Sekarang hanya tinggal Antonio dan Abraham dalam ruangan tersebut. Sementara Nadine ikut pulang bersama Azka.
Suasana dalam ruang rawat tersebut menjadi tegang dan cukup terasa dingin bagi Abraham. Dia merasa canggung saat melihat tatapan tanpa ekspresi Antonio.
“Abraham Aldebaran, apakah anda merasakan penyesalan sekarang karena telah menyakiti dan membuang putra kandung anda sendiri!” Antonio berucap dengan nada sangat dingin, mengingat semua yang telah diperbuat ayah kandung bungsunya tersebut membuat rasa tidak suka dalam hati nya.
Memaafkan orang seperti ini mungkin sangat sulit tapi putra nya itu menganggap seperti tidak terjadi apa-apa. Malahan tidak pernah mengungkapkan kata-kata benci. Dia sangat beruntung memiliki putra seperti Azka, walaupun terkadang sering membuat nya pusing dengan kelakuan nakalnya.
“Jika saya seperti anda mungkin saya sangat malu di perlakukan seperti Azka sekarang. Semua yang telah anda lakukan sangat sulit untuk lupakan apalagi dimaafkan, mungkin anda melihat Azka itu anak yang kuat tapi kenyataannya tidak seperti anda lihat. Dia memang sangat nakal, namun bagi saya hal tersebut tidak pernah merugikan. Yang perlu kita lakukan selaku orang tua hanya mengingatkan tidak perlu melakukan penyiksaan fisik maupun batin!”
Dia rela mengucapkan kata terpanjang hanya untuk putra bungsunya. Jika tidak untuk apa dia mengeluarkan kata-kata sepanjang ini.
Walaupun dia pernah memberikan hukuman pada Azka, namun dia tidak pernah menghukum melalui fisik sepatu yang dilakukan Abraham. Hal tersebut dia lakukan hanya untuk membuat jera.
Abraham terdiam mendengar semua kata-kata tersebut, sebenarnya dia cukup terkejut mendengar seorang irit bicara dan bersikap tidak peduli akan rela mengucap hal ini dan itu hanya demi Azka. Ia memang telah merasakan penyesalan itu, itu pun terjadi setelah ia mengusir Azka, di tambah sejak ia mengetahui sifat asli istrinya dan Dava.
Dia menyesal karena selama ini memilih percaya dan lebih membela orang yang salah.
Menatap Antonio, “Anda benar, saya memang tidak pantas disebut seorang ayah. Semua yang telah saya lakukan sangat sulit dimaafkan, saya memang sering melihat tatapan kecewa dari nya tapi selama ini saya tidak pernah peduli. Yang ingin saya lakukan hanya membentak dan menyiksa” Suara Abraham terdengar serak saat mengucapkan kata-kata tersebut. Bahkan sampe sekarang dia belum sanggup mengucapkan kata maaf, disaat Azka menyebut ayah tanpa beban sungguh dia merasa dadanya begitu sakit.
“Azka, maafkan ayah. Ayah sudah terlalu banyak melakukan kesalahan selama ini!” Teriak nya dalam hati.
“Anda beruntung memiliki putra seperti Azka. Mungkin dia memang memaafkan anda tapi sangat sulit melupakan apa yang telah anda perbuat. Walaupun Azka bukan putra kandung saya tapi bagi saya dia telah saya anggap sebagai anak kandung, Jadi jika anda memang benar-benar menyesal cukup buat dia bahagia dan jangan pernah coba-coba anda sakiti lagi. Jika terdapat satu kata saja anda akan berurusan dengan keluarga Anderson!” Usai mengucapkan kata-kata tersebut Antonio keluar.
“Jangan biarkan kedua orang ini masuk” Ucapnya pada dua orang bawahannya yang telah diperintahkan mengawasi ayah kandung putra bungsu nya tersebut sembari menunjuk foto Alena dan Dava.
“Baik tuan”
Antonio melirik sekilas lalu beranjak pergi. Semua ini ia lakukan hanya untuk Azka, biar kedua manusia pengganggu itu tidak bisa menemui pria tersebut. Ini juga permintaan Azka sendiri.
Di dalam, Abraham cukup lama termenung. Terkadang dia menangis dan tertawa bodoh.
“Aku ayah tak berguna, bodoh. Apa yang telah aku lakukan!” Apalagi mengingat penyakit yang diderita nya membuat nya semakin miris.
☀️
☀️
☀️
Sementara disisi lain.
Dava malah sibuk berfoya-foya bersama teman-teman nya tanpa memikirkan ayahnya.
“Hari ini Lo yang traktir Va, ingat janji Lo!” seru Hamka.
“Yoi, Lo jangan ingkar Va. Selama ini kita udah bela-belain Lo jadi Lo harus bisa bayar semua yang kita lakuin” Sahut Yuda.
Dava yang habis meneguk minumannya mendegus, punya teman kagak tulus amat. Memang selama ini mereka temanan dengan nya hanya ada maunya aja, mengingat Yuda hanya dari keluarga sederhana, hanya Hamka yang dari keluarga lumayan kaya karena keluarga memiliki sebuah Lestoran yang cukup besar, namun tetap saja kelakuan nya sama seperti Yuda. Tapi baginya cukup berguna, walaupun agak males mengakui mereka sebagai teman.
“Ck, dasar miskin!” Ejek Dava mendelik.
“Gak usah ngatain Lo njiing, kalo Lo kagak di pungut orang kayak gak bakal jadi begini!”
“Gue jadi ke pikiran ama si Azka, pasti dia Lantung lantang sekarang” Yuda tertawa membayangkan nya.
“Sok tau Lo, bisa aja si Azka hidup lebih baik dari pada kita pikirin”
“Bisa aja sih, dia kan ketua geng bisa aja dia dibantu ama teman-temannya” Sahut Yuda.
Hamka mengangguk membenarkan ucapan Yuda. Sementara Dava juga berpikiran sama, dia melupakan jika Azka ketua geng dan memiliki teman-teman dari anak-anak orang kaya.
“Eh, Va bukannya itu bunda Lo ya!” Ucap Hamka saat melihat seorang wanita mirip bunda Dava baru memasuki kafe tersebut.
“Mana”
“Tu” Dava mengikuti arah tunjuk Hamka, termasuk Yuda.
Saat melihat nya ternyata memang benar, jika dilihat bunda nya itu terlihat menemui seorang pria. Ini bukan pertama kali dia melihat nya.
“Udah biarin aja, mungkin rekan bisnis nya. Kalian gak lupa kan sekarang perusahaan ayah udah berubah atas nama gue sama bunda gue” Ucapnya acuh. Dia tidak terlalu peduli apa yang dilakukan bundanya jika itu membuat bundanya bahagia.
“lupa gue, Lo emang licik Va. Bahkan Lo bisa buat ayah angkat Lo tuh nyerahin perusahaan atas nama Lo ama emak lo” Yuda dan Hamka geleng-geleng kepala.
Sementara Dava hanya menyeringai, dia dan bunda memang telah menjadi pemilik perusahaan Al'de Group, termasuk Mansion tempat tinggal nya sekarang. Semua itu tentu saja atas persetujuan ayah bodohnya itu.
Sekarang dia tidak peduli lagi jika ayah bodoh nya itu memikirkan Azka. Dia tidak peduli lagi, karena semua yang diinginkan nya telah jatuh ke tangannya.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT