Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 47



Disini Azka sekarang, tepatnya di dalam basecamp yang biasa digunakan Al dan teman-teman nya nongkrong. Azka tidak mengerti kenapa abang bermuka datarnya ini membawanya ke sini.


“Kesambet apa Lo bang bawa gue kesini?” Al tidak menjawab tangannya yang masih memegang lengan Azka membawanya duduk di salah satu sofa disana.


“Duduk”


Dengan males Azka menurut duduk tepat di hadapan abangnya itu.


“Sekarang jawab? Kenapa kau makan di kantin bukan nya belajar. Jangan bilang kau ingin bolos lagi” Suara Al terdengar sangat dingin bahkan sampe membuat bulu kuduk Azka berdiri.


Azka menggaruk tengkuknya kikuk dan menjawab, “Bukan. Itu-- k-karna gue diusir keluar” entah kenapa ia tidak bisa berbohong. Apa sekarang ia sudah mulai takut dengan abang nya ini.


Tatapan Al semakin tajam, “jelaskan yang benar”


Azka menghela nafas nya pasrah lalu menjelaskan persis seperti terjadi dikelas sebelumnya.


“S-sebenarnya bukan kemauan gue bang! Mungkin karena tergesa-gesa gue jadi lupa masukin bukunya” Azka meringis pelan saat mendengar desisan dari mulut abangnya, dia tidak berbohong. Memang benar tadi pagi itu ia tergesa-gesa bangun karena ketiduran untung gak sampe terlambat jika tidak pasti bakal dapet hukuman dari para makhluk datar itu.


“Lalu apa lagi kesalahan mu! Coba jelaskan”


“Hah...cuman itu doang kok bang, semuanya udah gue sebut” tentu Azka bingung, jelaslah bingung karena tidak tau apa yang dimaksud makhluk bermuka datar ini.


“Yakin cuman itu saja. Apa kau tidak melupakan satu hal lagi”


Azka menggeleng karena ia benar-benar tidak merasa berbuat salah lagi.


Al bersedekah dada dengan tatapan menusuk, “makan makanan pedas di pagi hari, apa kau masih tidak merasa salahmu”


Deg


Tubuh Azka seketika menegang, sial, kenapa ia sampe melupakan nya. Azka mengumpat dalam hati.


“Apa kau melupakan kejadian beberapa hari yang lalu heum!” Suara Al naik oktaf dengan nada makin dingin.


“M-maaf” Azka menunduk, ia tentu saja ingat beberapa hari yang lalu gara-gara makan-makanan terlalu pedas ia masuk rumah sakit bahkan sampe dirawat lima hari. Kata dokter ia terkena asam lambung karena terlalu sering memakan makanan pedas. Dari ia memang sudah memiliki sakit mag tapi tidak pernah ia pedulikan dan karena terlanjur parah ia terkena asam lambung itu pun sudah dikatakan cukup parah.


Wajar saja Al marah, dia memang belum menerima baik Azka sebagai adiknya tapi tetap saja ia tetap merasa khawatir dan marah. Azka tidak mempedulikan kesehatan badannya, itu pun harus diingatkan dulu.


“Kau bilang maaf hm! Apa kau tidak memikirkan badanmu sendiri hah! Apa kau lupa bagaimana sayangnya mereka padamu tapi apa yang kau lakukan. Kau hanya membuat mereka khawatir”


Bibir Azka terkatup rapat mendengar bentakan itu, tangan nya juga telah beralih mencengkram kuat perut nya yang sudah mulai terasa sakit.


“Selalu menyusahkan saja” Azka tentu saja tidak menyangka Al akan berkata seperti itu bahkan mommy, Daddy, bang Rafa, bang Melvin, kak Fely dan yang lain tidak pernah mengeluarkan kata-kata itu tapi abangnya ini...


Namun, ia tidak ingin memikirkan hal itu yang dipikirkan nya hanya menahan rasa sakit. Apa yang dikatakan abangnya benar.


Al yang akan berucap lagi terhenti saat melihat gelagat sang adik bahkan wajahnya sudah berkeringat.


“Ka...”


“Sshht... s-sakit bang” Bahkan rasanya lebih menyakitkan daripada kena tonjok musuh nya.


Apa yang dicemaskan nya terjadi juga.


“Siapa suruh membangkang”


Karena sudah tak tahan Azka menangis bahkan kesadaran nya hampir hilang.


“Hiks...hiks...s-sakit bang” Jangan tidak tanya apa yang dirasakan Al, ia sangat cemas sekali. Tanpa ba-bi-bu lagi ia mengangkat Azka ke dalam gendongannya untuk segera dibawa ke rumah sakit. Sebelum itu ia telah menelepon salah satu bawahan Daddy nya untuk mengantarkan.


☀️


☀️


☀️


“Udah ketemu!” tanya Bagas pada Radit, Nano dan Lio yang lagi ngos-ngosan habis mengelilingi sentero sekolah mencari bos mereka.


“coba deh Lo hubungi” Sekali lagi mereka menggeleng.


“Gak diangkat gas”


“Kok perasaan gue gak enak ya” ucap Nano dengan raut cemasnya.


“Lo jangan aneh-aneh No, mungkin aja si bos udah balik. Barusan gue dengar si ketos juga gak ada disekolah”  Siapa lagi kalo bukan Alister dimaksud Radit.


“lo tau dari mana” Bagas dan Nano ikut menatap Radit.


“Dari teman-teman dia! Gue dengar Al ngilang dari pagi tadi. Dan itu kebetulan banget pas si bos udah diusir buk Fatma”  Mendengar perkataan Radit mereka saling tatap kemudian mengangguk memikirkan hal sama.


“Ngapain kalian ngangguk kayak orang bego”


“Ck, Lo kali yang bego” desis Nano. Radit hanya berdecih.


“mungkin aja Azka dibawa Alister” Bagas berucap tegas.


“He’em...kita juga berpikir sama, lagian gak mungkin si bos ngilang di culik penunggu sekolah”


“Sejak kapan disini ada penunggunya, baru dengar gue” Heran Radit.


“Ck, Lo sih gak pernah dengar ceramah rohani pak Samsul” Nano memutar bola matanya.


“kayak Lo enggak aja, kerjaan Lo molor mulu sama kayak BSI bos”


“Sok tau Lo, gini-gini gue paling sering dengarin si Samsul ceramah di depan kelas”


“Eleeh...Gaya Lo” Radit mencibir.


Bagas dan Lio menatap males perdebatan mereka yang awalnya ingin membahas tentang Azka malah menjadi bacotan unfaedah mereka. Setiap hari pasti selalu ada perdebatan diantara mereka. Memuakan.


Kring...kring...


“Ck, anjiiir... perasaan baru sebentar udah bel aja”


“Bolos kuy” Ajak Nano.


“Ngajak bolos terus Lo, Lo lupa ama ancaman emak Lo kemarin” Cibir Radit.


“Sok tau Lo, sejak kapan emak gue suka ngancam. Palingan kurangi uang jajan gue mah iya”


“Lagian sejak kapan Lo nolak bolos biasanya juga elo yang ngajak, kesambet apa Lo? dedemit”


“Ciih...” Bagas dan Lio memutar bola matanya mendengar perdebatan lagi dan lagi.


“Ribut mulu kalian, lama-lama gue tonjok juga lian” Sentak Lio dengan wajah jengah nya.


“Coba kalo berani! Lo pikir kita takut Hah!” Begini nih kalo tidak ada Azka, kerjaan nya ribut terus. Untung masih ada Bagas yang bisa menengahi.


“Bisa diam gak, gue bacok satu persatu mampus” Pedas sekali mulut mu Bagas.


Seketika membuat diam. Mana berani ngelawan Bagas yang sudah mode galak. Bisa apes mereka.


“Kelas” Usai mengatakan satu kata itu Bagas berjalan kearah kelas. Mereka tentu saja ngikut dengan muka masam, apalagi Nano yang sudah berharap akan bolos.


“Kalo ada si bos, pasti bakal bolos” kesal Nano berucap dalam hati.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT