Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 25



Pagi harinya.


Sejak bangun tadi, Azka hanya diam dengan wajah masamnya. Bagaimana tidak saat pertama bangun ia malah di sungguh kan pemandangan tidak mengenakan dan lebih menyebalkan lagi ia malah bakal ditahan selama seminggu untuk dirawat. Dan lebih bikin emosi salah satu kakinya malah di borgol karena dirinya sering memberontak.


“Ck, kenapa harus si om pedo sih!” Gumamnya masih tidak menyangka jika orang dibilang dokter itu orang dikenal nya dengan kata lain bos tempat kerja nya sendiri. Dan ia juga baru tau ternyata si om pedo di panggil Rafa kalo nama panjangnya ia tidak tau, ralat tidak mau tau, gak penting baginya.


“Eh...om, maksud Lo paan deh sampe nahan gue selama seminggu segala. Gue kan gak sampe patah tulang, lagian napa lo peduli amat sama gue. Kita kan cuman sebatas bos dan bawahan” Cerocos Azka yang sudah tidak tahan mengatakan hal tersebut sejak dari tadi. Sembari memandang kesal pria yang sedang duduk di sofa memainkan iPad nya.


Sebelum dijawab masuk Abi sembari bertanya, “ada apa?” lalu mengalihkan pandangan kearah Azka, “kenapa lagi bocah! Kau terlihat sangat kesal” sengaja mengajukan pertanyaan tersebut, entah kenapa ia suka sekali melihat wajah kesal bocah yang baru ia tau nama lengkapnya Azka Vincent tersebut.


Azka mendecih, “pakai nanya Lo! Gue kesal pada Lo berdua, udah berapa kali gue bilang, gue tuh pengen pulang” Teriak Azka meninggikan suara nya karena sudah terlanjur kesal dan emosi an.


“Azka, bicara yang sopan!” Tegur Rafael dengan suara sangat dingin seketika membuat kedua human tersebut merinding, hanya saja Abi sudah terbiasa.


“Sok dingin lo!” Batin Azka mencibir walaupun sebenarnya rada takut, tapi mana mau dia mengakui ketakutan nya.


“Kenapa? Gak suka. bagus dong! Makanya buruan lepas nih besi gue mau pulang. Gak butuh gue perawatan beginian terlalu lebay”


“Cih...” Azka memandang mereka dengan sinis sembari bersedekap dada. Posisinya Azka masih duduk bersandar ke kepala ranjang.


Rafael menghentikan kegiatannya, meletakkan iPad nya diatas meja lalu berdiri dan berjalan kearah ranjang yang ditempati Azka. Abi, ia memilih duduk ingin melihat apa yang akan dilakukan abang sepupunya tersebut.


“Mau apa lo!” Azka menatap garang Rafael.


Namun, ia tercengang saat merasakan elusan di kepalanya tentu saja membuat Azka bingung, “Jangan nakal. Kau masih sakit! Jangan membuat abang marah, hmm!”


Uhuk-uhuk


Bukan Azka tapi Abi, apa ia tidak salah dengar. Sejak kapan si singa kejam itu berkata lembut sepanjang itu.


“Apa gue yang salah dengar! Ini mah sangat langka perlu diabadikan!” Abi buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk memotret dan merekam apa yang dilakukan Rafael.


“Apa Lo bilang tadi! Abang, idiih...sejak kapan gue angkat lo jadi abang gue! Sekate Lo aja” Azka menepis tangan Rafa yang mengelus kepalanya tersebut, ia tidak suka.


Rafa sangat marah sekali saat tangan ditepis tapi mengingat Azka masih sakit ia tetap berusaha untuk sabar, baru kali ini ia bisa menahan batas kesabaran nya karena biasanya ia pasti sudah membuat orang tersebut minta ampun.


“Mulai detik ini panggil saya abang. Dan saya tidak terima bantahan. Kau akan menjadi adik kecil ku” Ini kedua kalinya seorang Rafael berkata panjang. Sekali lagi membuat Abi tercengang.


“Mommy harus tau nih” gumamnya, lalu mengirim rekaman tersebut pada Mommy Nadine.


“Dasar om pedo gila! Kalo Lo pengen adik mending minta sama emak ama bapak Lo buat sana bukannya minta ama gue!” Azka memekik kencang, dia tidak mengerti isi pikiran si om pedo ini.


Pertama si Ares, sekarang si om pedo ini. Ia tau, kalo ia ganteng bin imut tapi gak usah dipaksa juga. Kenapa sejak malam hidupnya sial mulu.


“Jujur deh om, sebenarnya Lo naksirkan ama gue?!” Pertanyaan Azka seketika membuat Abi hampir saja menyemburkan suara tawanya.


“Kalo iya sih, gue minta Lo lupain deh soalnya gue masih normal, gue gak belok, gue masih suka lobang bukan batangan!” lanjut Azka dengan wajah jijik sembari memeluk tubuh nya sendiri.


HAHAHA


Tawa Abi langsung pecah, ia tidak menyangka Azka berani mengatakan hal tersebut.


“Berani banget Lo bocah” Bahasa gaul Abi seketika keluar.


“Berani lah, buat apa juga takut, sama-sama makan nasi. Mending ya Lo ikutin gue di jamin berani” Saut Azka dengan wajah songong nya tanpa peduli hawa dingin yang mencekam di sekitar nya.


“Idiih...ogah gue. Kita belum terlalu dekat” Cibir Azka yang mana membuat Abi melunturkan senyuman nya.


“Hmm...” Suara deheman Rafa membuat mereka tersadar, “Abi, lakukan pekerjaan mu!” memandangnya dengan tajam seketika membuat Abi ciut.


“Ya bang” Abi berjalan kearah Azka sembari mengeluarkan jarum suntik, melihat benda tersebut tentu saja membuat Azka melotot.


“Eh...mau ngapain Lo! Lo sentuh gue, gue bacok lo!!” Ancam Azka sembari melototkan mata nya pada Abi, tetapi tidak membuat Abi takut. Ancaman kecil itu tidak akan berguna baginya.


“Tenang sobat, ini cuman obat penenang. Gak bakal sakit. Bukannya Lo pengen pulang cepat, nah makanya harus disuntik” Kata Abi dengan senyuman menawan nya tapi bagi Azka tidak menawan sama sekali lebih terlihat mengejeknya.


“Kalo emang Lo sobat gue, Lo dengarin dong kata-kata gue, ya ya pliis!”


“Gak bisa, ini demi kesembuhan lo”


“Gue bilang jangan bangsat!!” pekik Azka saat detik juga merasakan jarum laknat itu menembus kulit putih mulusnya.


Abi sebagai tersangka hanya tersenyum, senang sekali ia melihat sobat baru nya ini kesakitan.


“Selamat tidur calon adek gue” Azka tidak terlalu mendengar nya karena perlahan matanya mulai tertutup dengan nafas mulai tenang.


Ya, Abi memberikan obat tidur atas permintaan Rafa karena tidak ingin mendengar ocehan Azka yang makin lama malah nyeleneh kemana-mana.


☀️


☀️


☀️


Di tempat lain. Nadine yang sedang bersantai menemani suaminya dibuat terpekik saat melihat kiriman Abi.


“Maaas...coba kamu liat deh, putra kita so sweet banget!” Antonio yang lagi sibuk dengan berkas-berkas di meja kerjanya dibuat heran. Istri nya itu terlalu berlebihan.


“Coba deh kamu lihat, Gak biasanya lho Rafa ngomong lembut dan panjang lebar sama orang lain. Jangan kan orang lain sama aku aja jarang banget!” Sembari memperlihatkan potretan dan rekaman tersebut pada suaminya. Antonio mau tak mau mengikuti keinginan sang istri, sedetik kemudian keningnya berkerut.


Disana jelas terlihat putra sulungnya tersebut berbicara dengan seorang pasien bocah laki-laki, lalu kenapa istrinya ini malah senang banget. Jangan bilang istrinya ini bahagia putra nya belok.


Seperti mengerti isi pikiran suaminya, Nadine berkata, “kamu jangan berpikir aneh-aneh dulu mas, maksud aku itu kenapa bisa putra dingin kita itu sedekat itu pada orang asing, bahkan sama adik-adik nya saja tidak pernah selembut itu!”


Nadine menatap suaminya dengan kesal saat melihat tuh laki hanya diam tanpa berniat menjawab.


“jawab kek mas” Sebal Nadine yang mana hanya dibalas deheman oleh si empu.


“Percuma ngomong sama tembok” Degus Nadine, lalu kembali duduk di sofa. Ia memandang lekat wajah bocah bersama putranya tersebut.


“Kok wajahnya kayak nggak asing gitu ya!” Pikir Nadine.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT