Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 54



“Dad, kali ini aja pliiis!” Mohon Azka menatap Daddy-nya penuh harap.


“Makan sarapanmu, jangan buat Daddy marah boy!”


Azka memelas, “tapi izinin Azka bawa motor ya, Azka gak mau diantar jemput lagi. Gak keren Dad” rengeknya lagi dengan pipi digembungkan. membuat mereka jadi gemas pengen cubit.


“Makan dulu sayang, nanti di omongin lagi, oke” Nadine ikut berbicara.


Azka mengangguk lemah, “iya mom” dengan wajah tak semangat ia menyuap nasi goreng nya.


Disana hanya ada dirinya dan kedua orang tuanya tersebut. Sementara Alister telah berangkat pagi sekali karena ada beberapa hal yang harus dilakukan nya. Rafa dan Melvin juga telah pergi mengurus urusan penting lainnya. 


Usai menghabiskan sarapannya, Azka kembali mengulangi permintaan nya. Motor kesayangan nya saja masih di rantai dan ditambah motor baru ia ambil di rumah sahabat dua hari yang lalu juga disita. Sudah tidak ada harapan lagi selain mengemis pada si tuan besar itu.


“Dad, Azka mohon! Azka mau bawa motor...gak betah naik mobil mewah begituan!” alasan yang tak masuk akal, orang-orang mati-matian ingin merasakan menaiki mobil mewah dan ini malah merengek tidak betah, emang aneh dan membingungkan.


Antonio bahkan di buat mengernyit, “boy, apa otakmu bermasalah. Dimana-mana lebih betah dan enak naik mobil mewah dari motor”


“Ck, itu kan kata orang kayak Daddy, dimana-mana naik motor lebih seru apalagi yang kayak punya Azka tuh” Antonio dibuat geleng-geleng mendengar balasan putranya.


“Dengar Daddy, bukannya Daddy melarang mu tapi ini demi kebaikan mu. Daddy tidak ingin keselamatan terancam. Kamu harus tau Daddy memiliki banyak musuh, dan mereka ingin mengincar nyawamu. Daddy tidak ingin itu terjadi”  


Azka tidak terlalu kaget, baginya sudah biasa orang terpengaruh seperti Daddy memiliki banyak saingan dan musuh.


“Tapi gak mungkin dad, Azka cuman anak angkat gak akan ngaruh. Seharusnya Daddy pikiran keselamatan bang Al sama yang lain bukan aku” Iya itu mana mungkin terjadi, dirinya hanya seorang anak angkat, jika itu musuh Daddy nya pasti keluarga kandungnya saja yang diincar.


Namun ia melihat gelengan dari Daddy-nya, “tidak boy. Kamu salah besar. Yang menjadi incaran mereka kamu bukan abang-abang mu” Mendengar ucapan Daddy nya, Azka tercekat. Tidak mungkin Daddy nya ini bercanda.


“Sekarang kamu ngerti kan kenapa Daddy dan abang-abang mu melarang mu pergi sendirian, apalagi seperti keluyuran malam-malam itu sangat berbahaya”


Azka jadi merasa bersalah, walaupun dia berandalan, suka membangkang dan sering berbicara tidak sopan namun sebenarnya ia memiliki hati nya yang lembut. Dia sangat mudah tersentuh.


“Hiks...m-maaf dad, maaf kalo selama ini Azka sering ngelawan!”


Antonio tampak terkejut melihat putra kecilnya menangis, “Syuut...kenapa jadi nangis hm, daddy tidak memarahi mu” Antonio jadi bingung, tidak biasa nya putranya ini menangis semudah ini.


Azka menggeleng dengan suara isakan sambil menarik ingusan nya, “A-azka jadi terhura, ternyata Daddy sayang banget sama Azka padahal Azka cuman anak angkat doang” lalu memeluk tubuh kekar Daddy-nya, Antonio tentu saja merasa senang sekali, jarang-jarang lho dia peluk begini.


Nadine yang baru saja turun dari lantai atas kebingungan melihat suami dan bungsunya.


“Lah kok belum berangkat juga, ini udah hampir terlambat lho. Azka juga kenapa nangis” Ia bisa mendengar suara isakan putranya yang lagi memeluk suaminya itu.


“terharu katanya, baru sadar kalo kita sangat menyayangi nya” ucap Antonio dengan senyuman tipis nya.


“Eh, emang kamu ngomong sama Azka sampe nangis segitu nya”


“nanti aku ceritakan” sahutnya dengan tangan masih mengelus punggung sang putra.


“Kok Daddy aja sih, mommy gak di peluk nih” Cemberut Nadine dengan nada sedih dibuat-buat.


“Mommy juga sini” Azka merentangkan tangannya dengan suara seraknya. Nadine terkekeh dan ikut memeluk putra bungsu nya.


Bahkan para maid dan bodyguard aja jadi terhura melihat nya. Mereka tidak menyangka majikan mereka akan se sayang itu pada anak angkat nya.


“Semoga anda terus bahagia tuan muda kecil” doa mereka semua. Walaupun terkadang tuan mudanya menyebalkan dan suka membuat mereka darah tinggi tetap saja mereka menyayangi nya. Tuan mudanya itu memiliki hati yang baik.


...


Sehabis acara peluk-pelukan tadi, sekarang disini mereka yaitu di halaman belakang. Azka tidak jadi sekolah dan Antonio juga membatalkan meeting nya. Dia memilih menemani bungsu nya full hari ini.


“Wlee...Daddy kalah lagi!” Azka menjulurkan lidahnya kearah sang Daddy dengan tatapan mengejek.


Antonio menatap kesal sang putranya, dia tak menyangka putra nakalnya akan sehebat ini main basket sampe mengalahkan dirinya yang pernah menjadi ketua basket terhebat saat mudanya.


Di sana memang ada lapangan basket dan sepak bola. Dan sebelah lainnya juga ada kolam renang cukup besar.


Azka mencibir, “gak usah gaya-gayaan deh, kalo kalah mah ngaku aja. Katanya mantan ketua basket, tapi sama aku aja kalah”


“Mending Daddy akui aja kalo Azka tuh terhebat. Gak usah malu dad, tenang aja Azka gak bakal bilang Daddy tong kosong kok” Ucap nya dengan senyuman tengil nya. Antonio hanya menatap putranya datar.


“Udah minum dulu, nanti lanjutin mainnya” Ucap Nadine yang membawakan minuman segar dan cemilan untuk keduanya.


“Mommy tau aja Azka lagi pengen yang segar-segar”


“Jangan terlalu banyak boy” ingat Antonio. Azka hanya mengangguk males sambil meneguk minumannya.


Nadine berbalik lagi ke arah dapur, menyelesaikan masakannya.


☀️


☀️


☀️


“Mau beli apa lagi dek!” tanya Abi yang sedang menyetir. Sepulang kerja tadi ia pergi ke kediaman Daddy-nya karena merindukan adik nakalnya. Melihat adiknya kebosanan ia mengajak jalan-jalan keluar, kasihan juga.


Adiknya yang sudah terbiasa bebas pasti akan merasa tak nyaman dan mati kebosanan di kurung di rumah. Tapi ia juga tak bisa menyalahkan Daddy nya dan yang lain karena untuk kebaikan Adiknya juga.


“Beli seblak boleh bang?” Azka sedikit was-wasan saat menyatakan itu.


“Gak boleh. Kamu itu punya asam lambung. Abang gak mau kamu sakit lagi gara-gara makanan pedas itu, tidak sehat ka”


“kalo gak abang gak akan ngelarang kamu” Abi melirik adiknya itu, dia terkekeh geli melihat wajah cemberut itu.


“Tidak perlu cemberut begitu, bagaimana kita makan di kafe aja, dia kamu bebas mau makan apa asalkan jangan terlalu pedas dan asam” tawar nya, karena tidak tega juga melihat ekspresi sang adik.


“Yaudah” jawab Azka dengan males, terpaksa sih.


“Sekalian ajak sahabat Azka” pinta nya. Abi hanya mengangguk ia tidak keberatan. “Hubungi aja mereka?”


“lupa bawa hp bang, pinjam punya abang bentar” Abi memberikan ponselnya tanpa keberatan.


Azka segera mengetik nomor Bagas karena hanya nomor anak itu yang di ingatnya.


“Kafe mana bang”


“kafe laskar”


Selesai menghubungi Bagas ia memberikan ponsel Abi kembali. Azka kembali mengalihkan pandangannya kearah luar. Saat melihat-lihat netra nya tak sengaja melihat seseorang dikenal nya sedang berjalan sendirian di trotoar, kebetulan mobil nya jalan santai tidak ngebut.


“Bang, Stop!” mendengar suara Azka membuat Abi terkejut dan refleks menginjak pedal rem.


Ciiit...


“Kenapa sih dek?” tanyanya dengan nada sedikit kesal. Untung saja kendaraan lain tidak terlalu ramai jadi tidak sampe menabrak kendaraan lain.


Azka tidak menjawab dia memilih langsung keluar. Melihat itu, Abi ikut keluar. Sebenarnya apa yang ingin dilakukan adiknya itu.


Sementara Azka buru-buru mengejar orang tersebut, “tunggu!” membuat langkah seseorang tersebut berhenti, lalu berbalik.


“Lah Lo!” Dia terlihat kaget tak jauh bedanya dengan Azka. Ternyata ia memang tidak salah liat pikir nya.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT