
“Kamu lagi! Apa gak bosan telat terus Hah!” Vivi memandang lelah Azka, murid yang sudah berlangganan dengan BK tersebut padahal masih terbilang baru tapi namanya sudah terkenal di sentero sekolah.
Azka, sebagai tersangka malah menyengir kuda sembari mengedip genit, “santuy bucan, gak usah galak galak nanti cepat tau lho! Saya kan gak suka ama yang tua-tua”
“Dan perlu bucan ingat, saya kagak pernah bosan tuh, kan bisa ketemu bucan. Jarang-jarang lho ada yang muji ibu, jadi seharusnya bucan ber terimakasih ama saya”
Vivi memilih pura-pura tidak mendengar selain tukang bolos dan tukang onar ternyata bocah ini juga sangat tengil. Memang cocok bertemanan dengan empat anak bandel itu, tidak jauh bedanya mungkin lebih parahnya yang satu ini.
“Jangan buat saya kesal, sekarang kamu saya hukum membersihkan toilet!” tegas Bu Vivi yang mana seketika membuat Azka melotot.
“Jangan dong bucan, suer dah saya mau mau aja sih dihukum tapi jangan toilet juga bucan, bau tai soalnye, gak enak bucan. Gak like saya mah!”
“Jangan membantah, ini sudah keputusan saya”
“Nego dong bucan, kali ini aja pliiis!” sembari menangkup kedua tangannya memohon dengan wajah dibuat-buat se imut mungkin, mana tau mempan.
“Azka!!” jika sudah begini sudah tidak bisa diajak debat lagi.
“Bucan mah, gak asik” Dengan wajah dongkol Azka pergi kearah toilet cowok berada jangan lupakan Vivi masih mengikuti dari belakang, lagian mana bisa dipercaya bocah ini, bisa-bisa dia kabur nanti.
...
“Napa Lo bos? manyun mulu dari tadi!” tanya Radit. Sekarang mereka berada di kantin karena telah masuk jam istirahat.
Mendengar pertanyaan Radit pandangan mereka disana ikut memperhatikan Azka yang tampak hanya mengaduk-aduk minumannya tanpa niat meminumnya dengan bibir manyun beberapa senti ke depan.
“di putusin si doi kali” cetuk Lio.
“Emang sejak kapan si bos niat pacaran, gue liat selama ini jomblo mulu” Nano ikut mengomentari.
“Lah jangan mentang-mentang Lo playboy bisa ngeremehin si bos” Radit ikut membela, walaupun sebenarnya tidak seperti yang dibilang nya. Karena dari dulu pun Azka mana pernah yang namanya pacaran, cuman kadang tengil saja menggoda cewek contohnya seperti Bu Vivi yang sering jadi korban.
“Ck, serah Lo pada deh” Degus Nano yang sudah males berdebat lagi, bisa-bisa ia kalah karena mereka berdua.
“Gas, mantan Lo tuh” Kata Lio sembari menyenggol lengan Bagas yang berada di sampingnya. Mendengar itu, Bagas yang awalnya fokus pada ponselnya mengikuti arah pandangan Lio.
Ternyata rombongan Queen ddk, si tukang bully. Seketika wajah Bagas menjadi semakin datar dan kesal, sejak kapan ia punya mantan modelan ondel-ondel begitu.
“Hahaha...gila Lo! Kapan si kulkas pernah jadian ama modelan gitu!” Azka yang semula nya manyun seketika tertawa mendengar perkataan Lio. Begitupun Radit dan Nano.
“Mungkin Nano kali”
“Sembarang Lo bos, walaupun gue playboy tapi gue pemilih kagak mau tukang bully kayak gitu, gak like gue!” Nano protes.
“Eh...tapi gue pernah liat tuh ondel berduaan sama salah satu teman ketua Warriors” kata Radit.
“Maksud Lo si Alister”
Radit mengangguk, “Iye, kalo gak salah satu temannya yang mirip-mirip bule itu”
“Maksud Lo si Samuel” kata Nano.
“Wahh... ternyata ingat banget Lo ama member Warriors” ledek Azka yang hanya dibalas degusan oleh Nano.
“bukan cuman gue, sesentero sekolah juga tau kali. Lo pada aja yang kagak ngeh!” Nano memutar bola matanya melas.
“Bodoamat dah, gak peduli gue” Cetus Azka.
“Nah tuh Lian liat kan, ia santai banget dekatin si Samuel. Tuh anak juga kagak marah” Mereka mengikuti pandangan Radit kearah pojok kanan tempat Alister dkk duduk yang mana cewek berambut pirang, berpakaian sedikit ketat dan dandan menor mendekati mereka, ya dia Queena Meisya yang dibicarakan mereka.
"Sok tau lian, mungkin aslinya pada gak suka tuh" cetuk Azka mencibir.
“Bukannya kalian udah sekolah lebih awal disini, seharusnya kalian tau hubungan mereka. Bisa aja saudara an karena dilihat dari muka ama rambutnya memiliki kesamaan” kata Azka lagi.
“Emang sih, tapi marga mereka beda. Gue lihat juga kagak ada mirip-mirip nya cuman sama bule doang yang mirip” Saut Radit mengedikkan bahunya.
"lah bukannya Bagas juga keturunan bule" mendengar perkataan Azka mereka baru menyadari, ralat lupa jika mereka memiliki satu sahabat juga bule.
“Ngapain juga bahas mereka kayak gak ada topik lain aja” Kata Lio yang terlalu males membahas tentang si Queen bully tersebut, dia paling tidak suka sama Geng itu.
“Gak penting” Bagas ikut mengomentari.
Radit, Nano dan Azka hanya berdecak mendengar nya. Dan mengganti topik pembicaraan mereka.
☀️
☀️
☀️
Di dekat gudang belakang sekolah. Samuel menarik kasar tangan Queen.
“bang, sakit goblok!” teriak Queen merasa pegangan Samuel terlalu kuat.
“Cih” Samuel menyentak nya dengan kasar membuat Queen meringis. Tatapan Samuel terlihat tidak bersahabat sama sekali.
“udah berapa kali gue bilang, jangan sesekali dekatin gue selagi di sekolah apalagi saat sama sahabat gue! Lo gak budeg kan” sentak Samuel dengan nada tinggi nya.
“Kenapa lagi sih! Bukannya sebelum nya Lo gak masalah, kenapa sekarang jadi gini!”
“Masalah nya ada di elo lah”
Queen tertawa hambar, “ouh...gue tau Lo masih malu ya punya adik kayak gue. Tapi kenapa harus sekarang, awal-awal nya Lo gak masalah tuh, malahan Lo dukung gue jadi tukang bully” Queen memandang heran abangnya tersebut, ya mereka sebenarnya adik kakak kandung tapi tidak ada yang tau kecuali sahabat dekat Samuel.
“itu dulu, sekarang beda. Gue emang dukung Lo jadi tukang bully tapi gue gak pernah dukung Lo membully anak-anak yang gak bersalah. Dan gue juga gak pernah suka Lo berpenampilan kayak gini. Lo pikir Lo cantik dengan make-up menor gini, Lo pikir Alister bakalan suka dengan Lo masih kayak gini!” Ya sejak pertama kali masuk sekolah Queen sudah menyukai Alister bahkan terkadang terang-terangan memperlihatkan rasa sukanya. Tapi yang ada malah di acuhkan orang nya, bahkan sampe sekarang pun tetap sama.
Queen seketika terdiam mendengar semua kata-kata abangnya tersebut. Dulu ia memang terobsesi banget membalas anak-anak yang suka membully, dan hal tersebut telah ia lakukan tapi karena terlalu kesenangan melakukan nya ia jadi melupakan niat awalnya malah sekarang ia lebih parah lagi dan membully setiap siswa-siswi yang tidak disukai nya apalagi yang mencoba mendekati Alister.
“T-api-“
“Stop! Gue gak mau dengar alasan apapun lagi. Kalo emang Lo ingin gue akui sebagai adik gue mending ubah penampilan Lo dan kelakuan buruk Lo itu!” Setelah itu, Samuel pergi meninggalkan Queen yang masih berdiri diam.
“Cih... walaupun gue berubah pun mama sama papa tetap gak peduli sama gue! Jadi buat apa gue mewujudkan keinginan Lo doang” Queen tertawa sinis dengan tatapan sendu nya. Dari dulu hanya Samuel yang cukup peduli padanya sedangkan kedua orang tuanya tidak pernah sekalipun. Mereka tidak pernah menganggap keberadaan nya, padahal dirinya juga anak kandung mereka tapi selalu di asing kan dan salah satu tujuan nya melakukan hal seperti ini untuk menarik perhatian mereka tapi yang dapat kan tetap sama.
Bahkan di luar saja ia tidak diperbolehkan memakai marga Fransisco karena itu tidak ada yang mengetahui jika dirinya adik kakak dengan Samuel. Beda lagi para sahabat Alister mereka sudah lama mengetahui semenjak bertemanan dengan Samuel.
“Hahh...gue harus kuat! Queen bully harus tetap tegar gak boleh cengeng” Sembari menengadah keatas menahan air mata yang hampir saja meluncur keluar. Lalu berbalik, namun tiba-tiba tubuh nya terasa oleng karena di tabrak seseorang.
“Awss...” Ia memandang si penabrak yang ternyata cowok.
“Eh... sorry, gak sengaja” Queen mengerutkan keningnya saat melihat dengan jelas wajah anak tersebut.
“njiir... ternyata si ondel” umpat cowok tersebut dalam hati yang tak lain ialah Azka saat menyadari siapa yang di tabrak nya. Niatnya mau bolos melewati gudang belakang.
“Berani banget Lo nabrak gue, gak liat ada cewek cantik disini!” Garang Queen dengan mata melotot.
“Santai mbak, gue kan kagak sengaja, lagian siapa suruh Lo berdiri didepan gue...kayak gak ada tempat lain aja” Azka tentu saja protes.
“siapa Lo sebut mbak Hah! Berani Lo kurang ajar sama gue”
Azka mencibir, “berani lah, Lo pikir gue takut ama ondel-ondel macam lo, yang ada jijik gue mah bukan atut” Azka meleletkan lidah lalu ngacir pergi karena tidak ingin berlama-lama dekat dekat ondel bisa gatal semua tubuhnya.
“mau kemana Lo cowok sialan!” Queen berteriak kencang, ia sangat kesal. Baru kali ini ada yang berani padanya selain Alister dkk dan empat berandalan.
“Awas aja kalo ketemu bakal gue bully habis-habisan” sambil menghentakkan kaki Queen pergi dari sana.
Sedangkan disisi lain, Radit, Nano, Bagas dan Lio kalang kabut mencari Azka yang malah kabur duluan meninggalkan mereka. Niatnya bolos bareng tapi malah ditinggal. Dasar bos laknat.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT