
Azka menghabiskan waktu nya bersama para sahabatnya dalam waktu cukup lama. Bahkan ia tidak terlalu peduli kemarahan keluarga nya. Di kediaman Anderson kedua bodyguard sebelumnya mendapatkan hukuman kejam dari Antonio karena lalai menjaga bungsunya.
Pukul 17.30 sore.
Bukan nya balik pulang, Azka malah pergi kearah apartemen nya. Dia terlalu males balik kemansion keluarga angkat nya karena pasti akan terjadi sesi hukuman. Dan ia ingin hal itu terjadi walaupun pada akhirnya bakal terjadi juga nanti.
“Hahh...kangen gue ama kasur empuk gue walaupun kagak seempuk punya gue dia mansion Daddy” Usai menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur nya.
“kabar ayah gimana ya? Apa dia nggak kangen ama gue!” Azka tersenyum kecut. Mengingat perkataan terakhir sang ayah mengusir nya membuat hatinya kembali berdenyut.
“moga ayah sehat terus. Azka gak mau dengar ayah sampai sakit. Awas aja Lo Dava sialan kalo sampe gue dengar kabar buruk Lo bakal habis sama gue!” Azka mengepal tangannya mengingat tentang Dava apalagi ibu tirinya itu. Andai saja tidak ada hukuman buat pembunuh, pasti ia telah membunuh kedua anak dan ibu itu.
“Apa gue minta tolong sama Daddy sama bang Rafa ya” pikirnya saat mengingat keluarga angkat nya itu pemimpin dunia bawah, mafia.
Setelah dipikir-pikir boleh juga, dengan begitu ia bisa tenang. Tapi di satu sisi ia juga memikirkan perasaan ayahnya, pasti tua bangka itu akan kehilangan. Dan mungkin saja membuat ayahnya stres.
“Ck, sebal banget gue” Azka menggusar kasar rambutnya. Dalam keadaan bingung antara marah tiba-tiba ponselnya berdering. Sebenarnya bukan sekali saja tapi sudah tak terhitung berapa kali ponsel berdering sejak tadi, namun ia hiraukan karena tau kerjaan siapa. Ya siapa lagi kalo bukan keluarga angkat nya.
Azka mendegus saat melihat banyak panggilan tak terjawab dari keluarga nya, baik Daddy, bang Rafa, bang Melvin, Alister dan Ares bahkan Mommy Nadine. Dan yang sekarang terlihat nama kak Fely.
“Bukannya kak Fely di Korsel seharusnya dia udah sampai disana. Ngapain ikut nelpon gue juga, segitu khawatir nya Ama gue yak”
“Yaudah angkat aja deh” karena tak ingin kakak cantik nya itu marah, memilih mengangkat panggilan nya.
“Ya kak! Ada apa nelpon Azka?” tanya dengan nada tak ikhlas.
“kenapa? Kamu tidak suka kak telpon? Tapi kakak tidak peduli”
mendengar balasan kakaknya Azka mendegus.
“Bukan gitu—“ namun langsung dipotong suara kakaknya.
“Apa benar kamu kabur dari rumah? Sekarang jawab kakak kenapa kamu kabur tanpa seizin Daddy dan yang lain. Kamu lupa, kamu itu baru saja sembuh. Tidak baik keluyuran diluar, apalagi tanpa pengawasan. Mereka semua mengkhawatirkan mu, apalagi kakak” Azka ternganga mendengar omelan dari kakaknya, walaupun panjang gitu tapi tetap saja terdengar datar dan dingin. Namun, sesaat kemudian Azka menghela nafas pelan. Apa benar mereka secemas itu, dia jadi merasa bersalah.
“Azka kamu dengar kakak kan”
“Dengar kak, maaf Azka salah. Azka gak bakal gitu lagi. Azka cuman merasa bosan aja makanya kabur” jujurnya dengan nada bersalah.
Terdengar helaan nafas berat dari kakaknya, “Huem...jangan ulangi lagi. Sekarang kamu tunggu jemputan bang Rafa. Ingat ucapan kakak jangan diulangi lagi. Jika ingin keluar bilang baik-baik”
“Iya kak”
“Pinter. Dua bulan ke depan kakak tidak bisa pulang. Kamu baik-baik disana jangan nakal oke”
“Oke kak, nanti kalo pulang jangan lupa bawa oleh-oleh buat Azka” Mendengar suara lembut kakaknya membuat sikap manja Azka keluar.
Terdengar kekehan dari Fely, dia tidak bisa marah lama-lama mendengar suara manja adik kecil nya.
“Hm...pasti baby” Azka mendegus mendengar panggilan itu lagi, menggelikan.
“Yasudah, udah dulu ya. Nanti kakak telpon lagi. See you adik manis kakak”
“Hehe...tau aja Azka manis kak” sahut Azka dengan tawa pongahnya. Membuat Fely di seberang sana terkekeh.
Setelah panggilannya berakhir, Azka beranjak keluar kamar membukakan pintu apartemen nya saat mendengar ketukan dari luar. Dia yakin itu bang Rafa seperti yang dikatakan kak Fely.
Cklek
“Sudah puas bermainnya?!” baru saja buka pintunya sudah mendapatkan pertanyaan menyebalkan. Bukan hanya ada bang Rafa tapi juga ada Ares sama bang Melvin. Dan jangan lupakan beberapa titan bersama mereka. Padahal cuman jemput dia seorang tapi malah kayak mau ikut perang.
“Apasih res, biasa aja kali mata Lo!” sentak Azka saat melihat tatapan melotot Ares.
“Ras res, abang dedek. Susah banget sih panggil abang” Ares jadi gemas.
“Pulang!” titah Rafa dan Melvin hampir serentak membuat Azka memelas.
“Cepat amat bang, gak mau masuk dulu” tawar Azka.
“Kalo ada makanan enak gue mau-mau aja” lain yang ditanya lain juga yang jawab.
“Gue bukan nanya ama lo” Degus Azka. Sementara Rafa dan Melvin memandang datar kedua adiknya tersebut.
"Sekarang pulang, atau mau kita seret secara paksa” ucap Rafa dengan suara dinginnya penuh penekanan. Membuat Azka yang ngebacot dengan Ares ciut.
“Wiihh...boleh juga Lo dek. Gue juga lagi laper nih. Gara-gara ncari Lo gue jadi gak sempat makan”
Bukan anggukan ia dapatkan tapi malah gelengan. “Jangan harap kamu makan makanan pedas lagi” suara Rafa naik oktaf. Apa adiknya ini lupa baru saja keluar dari rumah sakit dan semua itu gara-gara makanan sialan itu, tidak. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.
“Yaahh...gak asik” sebalnya, lalu beralih menatap bang Melvin tapi yang ia dapatkan tetap sama.
“Tidak boleh” Ares tertawa terbahak-bahak melihat wajah lempeng adiknya. Ares menepuk pelan pundak nya, “Sabar dek. Orang sabar disayang tuhan!”
“Bacot Lo” sembari menepis tangan Ares.
“Azka bahasa mu” Azka mendegus mendengar suara dingin bang Rafa lagi.
☀️
☀️
☀️
Brakk...
“Daadddy...mommy...bang Rafaa...bang Melviin—“ Azka terus berteriak memanggil semua anggota keluarga diiringi suara gedoran sampai menendang pintu bercat hitam tersebut.
Semenjak pulang tadi ia di kurung di dalam ruangan tersebut. Mana ruangan gelap semua lagi. Gak ada Ac-nya lagi. Tidak ada tv-nya, membuat nya mati kebosanan disana. Sudah sering ia menangis sejak tadi biar mereka merasa kasihan lalu mengeluarkan nya tapi semuanya sia-sia, tidak mempan.
“HUAAAAA...DADDY SIALAN, RAFA BANGSAT, MELVIN ANJIING...LOBSTER BABI...ARES JIGONG...KALIAN DENGARIN SUARA GUE GAK SIH...BUKA PINTUNYA ASU, GUE MAU KELUAR BAJINGAN!!” Teriak Azka menggelegar dalam ruangan tersebut tanpa jeda membuat ia ngos-ngosan.
“Anjiim...capek juga teriak” Ia bahkan tak peduli jika kata-kata nya terdengar kasar dan gak sopan, salah kan saja mereka telah membuat nya kesal. Mana gak ada yang ngejawab lagi. Apa mereka tuli atau sengaja menulikan pendengar nya. Ya ia yakin itu.
Sementara diluar, semua dibuat geleng-geleng mendengar suara teriakan itu. Bahkan mereka dibuat elus dada. Mereka sengaja mengurung anak nakal itu di kamar tak kedap suara, biar mereka bisa mendengar dengan jelas. Apalagi para maid dan bodyguard disana, mereka hampir saja muntah darah mendengar teriakkan penuh umpatan itu.
“Ya tuhan. Semoga saja tuan muda kecil tidak tebas setelah ini!”
“tuan muda keci memang berbeda sekali. Keberanian nya patut di kasih jempol”
“kasihan sekali tuan muda kecil”
Berbagai bisikan terdengar dari mereka.
“Berisik. Kerjakan tugas kalian jangan menggosip” Itu suara Alister melirik mereka tajam. Mereka seketika ciut, apalagi saat melihat tatapan menghunus para Lelaki lainnya membuat mereka mampu mati ditempat.
“Mas, apa gak bisa keluarin aja, kasihan Azka sampai teriak sekeras itu” lalu beralih menatap anak-anaknya.
“Rafa, Melvin...”
“Tidak mom. Biarkan saja dia merenungkan kesalahan nya” ucap Melvin tanpa ekspresi. Nadine menghela nafas panjangnya, kalo begini dia tidak bisa memaksa.
“Mom, Dad, Ares balik dulu” pamit Ares mengingat hari sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Mereka mengangguk, “hati-hati. Jangan keluyuran langsung pulang ke rumah” ucap Mommy Nadine.
“Siap mom” Sebelum beranjak ia berbisik pada Alister entah apa yang di katakan nya. Melihat balasan anggukan dari Alister sudah terlihat mereka merencanakan sesuatu.
“Apa bisik-bisik?” Nadine melototi ke-duanya tapi hanya dibalas cengiran oleh Ares.
“Biasa mom”
“Jangan harap kalian balapan malam ini, Daddy tidak mengizinkan” Senyuman Ares seketika luntur mendengar ucapan Daddy nya.
“Yah...kok gitu sih”
“Sudah pulang sana, jangan mohon-mohon disini”
“Ck, bang Melvin mah” Dengan dongkol Ares beranjak keluar. Mereka hanya geleng-geleng melihatnya.
Sedangkan Azka, merasa lelah berteriak ia memilih tidur, jadi ngantuk dia.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT