
Di Markas Geng Cobra.
Semua anak-anak tampak telah berkumpul atas perintah Bagas. Mereka semua terlihat kebingungan dan juga penasaran karena tidak biasa nya di minta berkumpul secara mendadak.
Bagas menatap semua anak-anak Cobra sebelum bersuara, "Hm... Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa gue sama sahabat gue minta kalian berkumpul. Oke, gue langsung kepoin permasalahan, hari ini gue minta kerja sama kalian buat mencari bos sama Radit, barusan gue dapat kabar bos dan Radit hilang dan lebih tepatnya diculik..." Usai mendengar ucapan Bagas seketika anak-anak Cobra menjadi ribut, pantasan mereka tidak melihat bos Azka dan Radit bersama mereka.
"Gue yakin yang melakukan penculikan ini bukan orang biasa dan bisa saja mereka bukan dari geng motor kayak kita, jadi gue minta kalian semua harus hati-hati" Lio melanjutkan penjelasan Bagas.
"Mungkin memang sedikit sulit mencari keberadaan bos dan Radit tapi kalian tenang saja karna kita melakukan kerja sama dengan keluarga Anderson" Sambung Nano yang mana membuat anak-anak lain tidak asing lagi dengan keluarga angkat bos mereka tersebut.
"Apa mungkin ini ulah musuh keluarga Anderson?" Ujar Fano yang mana membuat anak-anak berfikiran sama, mengingat keluarga Anderson bukan sembarang orang dan sudah jelas memiliki banyak musuh yang ingin menghancurkan keluarga tersebut.
Bagas, Nano dan Lio hanya diam namun, mereka juga berfikiran sama karena mereka sendiri melihat bagaimana protektif nya semua keluarga Anderson menjaga Azka.
"Kita gak tau apa benar atau bukan, yang jelas tugas kalian sekarang mencari keberadaan bos.." Ucap Lio.
"Sudah sekarang kalian bubar dan mencar" Semua nya beranjak menaiki motor masing-masing, tentu saja mereka segera melakukan perintah tersebut mengingat bersangkutan dengan nyawa bos mereka.
...
Disisi lain Abraham yang mendengar kabar dari dokter Abi tentang Azka yang hilang membuat nya sangat khawatir. Sudah beberapa hari ini tidak pernah bertemu dengan putranya itu dan sekarang ia malah mendapatkan kabar tentang penculikan sang putra.
Tubuh Abraham juga tidak sebugar dulu lagi, semenjak sakit ini tubuh semakin menurun dan kurus karena penyakitnya.
Cklek
Seseorang terlihat memasuki kamar Abraham, Abraham yang tampak sedang melamun di balik balkon tidak merespon sama sekali karena tau siapa yang masuk.
"Ayah, waktunya makan obat!" Dava yang tidak melihat sang ayah di kasur tidak terlalu terkejut karena sudah tau kebiasaan sang ayah yang pasti tengah melamun di balkon.
"Ayah!" Dava memanggil Abraham sekali lagi, ia terlihat tak berdaya melihat sang ayah. Ia sangat menyesal karena pernah tidak memperdulikan sang ayah, seharusnya dulu ia memperhatikan kesehatan sang ayah bukan nya bersenang-senang dengan temannya diluar sana.
Namun, disisi lain ia juga kesal saat tau ayahnya sering memikirkan Azka. Padahal sudah ada dirinya tapi masih saja memikirkan bajingan Azka itu.
Abraham tidak tuli tetapi ia terlalu malas merespon nya, biarpun Dava sudah mulai memperhatikan nya tetap saja kelakuan sebelumnya membuat ia marah dan kecewa.
"Ayah, sudah lah lebih baik ayah minum obat jangan terlalu banyak melamun apalagi memiliki Azka...aku juga anak ayah bukan hanya Azka, lagian buat apa ayah mikirin dia lagi bukannya dia sudah memiliki keluarga baru" Ucap Dava dengan penuh kekesalan. Sebenarnya ia juga sedikit iri saat mengetahui Azka di angkat oleh keluarga Anderson, siapa yang tidak kenal keluarga kaya raya itu.
Abraham menatap Dava tajam, "Bukan urusan mu, terserah ayah mau memikirkan siapa?" Ketus Abraham terlihat tidak suka mendengar ucapan putranya tersebut.
Dava mendegus.
"Terserah ayah, nanti jangan lupa diminum obat ayah...Dava keluar dulu" Abraham tidak menjawab sama sekali ia kembali ke posisi semula.
...
...
"Ugh..." Azka membuka matanya sembari meringis saat merasakan kepalanya sedikit pusing.
"G-gue dimana?" Gumamnya saat melihat area disekitarnya tampak kumuh dan tak terawat. Namun, tak berselang lama ia langsung ingat kejadian sebelumnya seketika ia matanya melotot.
"Sialan! gue culik" Azka mengumpat saat merasakan tangannya terikat, lebih parahnya lagi ia diikat di tiang, benar-benar penyiksaan untung saja mulutnya kagak di lakban juga.
"WOIII...ANJENG LEPASIN GUE!!" Azka berteriak saat tidak menemukan satupun orang disana.
Ia juga teringat sahabat nya Radit, bagaimana keadaan tuh anak, jangan bilang mereka juga menghabisi sahabat nya itu.
Azka terus berteriak bahkan menyebut berbagai macam nama binatang, "Bangsat!!"
Krekk...
Mendengar suara pintu terbuka, Azka menghentikan teriakan nya dan mengalihkan pandangannya untuk melihat siapa yang datang.
Seorang pemuda memasuki ruangan tersebut dengan diikuti tiga orang dibelakang nya, sudah jelas ketiga orang itu bawahannya. Saat memperhatikan wajah pemuda itu, Azka kembali terkejut. Dia mengenali wajah burik itu.
"L-lo... ngapain Lo disini?" Pemuda itu tertawa sembari menatap Azka kasihan, lebih tepatnya pura-pura kasihan sih.
"Kenapa? Kaget..." Azka makin meronta mendengar suara menyebalkan tersebut.
Teo terkekeh, "itu memang salah satu nya tapi bukan hanya karena gue pengen jatuhin Alister...Lo gak lupa kan gara-gara Lo adik gue harus mati mengenaskan di tangan keluarga bajingan Lo itu!"
"Tapi sebelum itu, gue pengen buat Alister bangsat itu mati...gue udah gak sudi liat muka sok keren bajingan itu!" Teo menyeringai saat membayangkan bagaimana dirinya akan menghabisi musuh bebuyutan nya itu.
Azka menggeram mendengar nya, Teo anjing, Teo bangsat, Lo pikir semudah itu mau bunuh si Lobster, batinnya mendegus. Namun, ia juga bingung siapa adik yang dimaksud bajingan tersebut.
"Lo tau dari dulu abang Lo tuh selalu buat gue muak, dia selalu ambil apa yang seharusnya jadi milik gue!" Azka meringis saat merasakan rahangnya di cengkeram kuat oleh tangan bangsat Teo.
"I-tu derita Lo!" Ejek nya. Teo semakin kesal mendengar ejekan tersebut, ia semakin memperkuat cengkeramannya.
"Masih berani Lo ngejek gue, Lo benar-benar tidak jauh bedanya dengan Alister"
Plak...
Bugh...
Teo yang sudah dikuasi amarah langsung saja memukuli Azka tanpa rasa kasihan. Setelah merasa puas barulah ia menghentikan aksinya.
Sementara Azka, jangan ditanya keadaan nya benar sangat memprihatinkan dengan wajah babak belur ditambah badannya sakit-sakitan semuanya.
"T-teo bangsat awas aja Lo!" Teriak Azka dalam hati sebelum benar-benar tidak sadarkan diri.
"Ciihh...begitu aja sudah pingsan" Cibir Teo sembari meludah kearah Azka. Lalu-lalu ia mengeluarkan ponsel ingin melakukan sesuatu.
"Gue ingin liat reaksi Lo Al saat melihat kondisi kesayangan Lo!"
...
Di sisi lain, Alister yang sedang dalam pencarian Azka dengan anggota geng nya mengerem motornya secara mendadak saat mendengar deringan ponselnya.
"Nomor tak dikenal!" Alister mengerutkan keningnya, karena penasaran ia membukanya.
Tiba-tiba saja mukanya berubah merah padam saat melihat sesuatu yang dikirim orang tersebut.
"Bajingan!!"
Rahangnya mengeras saat melihat kondisi sang adik, dan lebih membuat nya marah besar kata-kata ancaman nya.
'Kalo memang pengen nyelamatin kesayangan lo, datang ke alamat ini...tapi ingat Lo gak boleh bawa siapapun, kalo Lo sampai melanggar ucapan gue maka nyawa adik Lo taruhannya'
Kira-kira begitulah kata-kata nya.
Alister yang sedang dilanda cemas dan marah tiba-tiba saja teringa seseorang yang selama ini selalu membuat keributan.
Teo!
Hanya bajingan itu yang selalu mencari gara-gara dengan nya.
"Teo bangsat! Gue yakin ini ulah Lo lagi!" Tentu saja Alister tidak takut dengan ancaman itu. Dia langsung saja mengabari para sahabatnya dan keluarga nya tapi dia ingin mereka menyusul nanti, karena dia juga tidak ingin sampai nyawa Azka terancam jika mereka langsung ikut bersamanya.
Teo yang telah mengirimkan potretan Azka dan kata-kata ancaman seketika menyeringai. Tentu saja ia juga tidak terlalu percaya Alister akan menuruti kata-katanya, "Ck...gue yakin Lo gak bakal takut sama ancaman gue tapi jangan Lo pikir gue bodoh Al"
"Apalagi yang akan kau lakukan? Jangan sampai karena rencana mu ini ayah kita sampai gagal membalaskan dendam kematian adikmu. Kita harus bisa membunuh salah satu keturunan Anderson!" Teo menatap ayah angkat nya tersebut.
"Ayah, kau tenang saja kita pasti akan membunuh salah satu nya dan juga bukan nya ayah menginginkan ibunya Alister dan kakaknya itu!, dan tentu saja aku sudah merencanakan penculikan keduanya"
Kendrick mengangguk puas mendengar nya, "Ingat! Ini untuk terakhir kalinya, jika sampai gagal lagi kau akan tau akibatnya!" Ancaman Kendrick tidak main-main, ia masih teringat bagaimana putranya terbunuh. Jika bukan karena rencana Teo sudah ia bunuh kesayangan keluarga Anderson itu, bahkan lebih kejam dari apa yang dilakukan oleh mereka terhadap putranya.
Tetapi ia cukup puas karena telah melakukan penyiksaan terhadap Azka.
Sementara, Teo mendegus mendengar ancaman tersebut, "Cihh...enak banget Lo ngancam gue! Tua bangka bangsat!" batinnya.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT