Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 53



Terjadi keributan di halaman besar mansion Anderson. Jelasnya itu aksi kejar-kejaran antara seorang remaja dengan beberapa pria berjas hitam.


“Tuan muda! Berhenti, nanti tuan besar dan yang tau mereka pasti akan marah!” Teriak salah satu dari pria berjas hitam tersebut. Dia tampak berhenti dengan nafas ngos-ngosan sementara  teman lainnya masih berusaha menangkap remaja nakal alias Azka.


Bahkan para maid melihat aksi tersebut dibuat was-was. Sedangkan majikan besarnya dan anak-anak nya lain sedang keluar. Hanya remaja nakal itu tinggal dirumah dan mereka diminta mengawasi nya.


“Ogah, siapa suruh Lo pada ngelarang gue. Gue udah bilang cuman mau keluar bentar” Azka tersenyum puas melihat mereka. Badan aja yang tegap dan tinggi tapi menangkap nya saja tidak bisa.


“Hahaha...letoy Lo pada, apanya yang mafia tapi ngejar gue aja gak bisa” Azka terus mengejek sembari berlari menghindari mereka. Sebenarnya itu salah kan juga halaman nya yang terlalu luas. Sementara mereka lebih kurang hanya 20 orang. Bukan itu sih masalahnya, emang mereka saja yang mudah terkecoh sama remaja nakal itu.


“Hosh...hosh...capek juga njiir, dah...dah, gue ngalah deh” Azka melambaikan tangannya sembari mengatur nafasnya dengan berjongkok. Bahkan wajah dan kaosnya sudah dibasahi oleh keringat. Walaupun sudah malam hari tetap saja main kejar-kejaran selama tadi membuat nya berkeringat banjir.


Mereka seketika lega mendengarnya, tidak disangka mengurus tuan muda bungsu nya ini sangat merepotkan. Lebih baik mereka diminta menyiksa dan menangkap musuh dari pada mengurus remaja ini.


“Air...mana air, gue haus banget, tapi air dingin ye” pekik Azka yang sudah menjatuhkan bokong ke tanah, sembari membuka baju nya karena tak tahan lagi.


Mereka tampak gelagapan lalu meminta salah satu maid mengambil air.


Saat telah mendapatkan nya, Azka langsung saja meneguk nya. “Aahh...lega banget”


“Tuan muda, lebih baik anda masuk ke dalam. Sebentar lagi tuan, nyonya dan yang lain akan segera sampai” Azka yang lagi sumringah seketika berubah lempang saat mendengar nya. Mengumpat dalam hati, padahal ia belum berhasil kabur keluar tapi mereka malah sudah hampir sampai saja. “Menyebalkan, Kenapa kagak molor disana aja sekalian, ck...gue batal kabur deh” ucap nya sangat pelan tapi masih didengar oleh mereka. Menatap datar tuan muda nya tersebut, benar-benar niatan sekali ingin kabur.


“Ck, gendong gue. Lo pada nggak liat gue lagi males berdiri. Buruan gendong, capek jalan!” seharusnya mereka merasa senang karena baru kali ini seorang Azka meminta digendong.


Mereka terlihat saling tatap seperti mengungkapkan apa tidak mereka melakukan nya. Cukup lima detik saling tatap, akhirnya pria berdiri paling depan yang berbicara tadi segera berjongkok dan mengendong bayi besar itu, masuk kedalam tepat ke kamar si bayi besar. Azka jangan ditanya, ia susah payah menahan tawa nya saat di gendong. “Njiirr...kok gue jadi mirip si davanjiing sih!”


“ck, sebal gue. Cukup kali ini aja gue digendong, esok kagak lagi”  Ekspresi nya berubah gelap mengingat Dava, anak kesayangan ayahnya itu.


...


“Kau berulah lagi boy” Sekarang mereka sedang berada di ruangan keluarga. Sudah setengah lalu mereka semua berkumpul disana. Jangan lupa ada Azka juga disana.


Azka yang lagi menonton terpaksa mengalihkan pandangan kearah Daddy nya. Ia tampak agak malas untuk mengiyakan. Seharusnya kan sudah tau ngapain pakai ditanya lagi.


“Yang sopan Azka, jika orang tua bertanya itu dijawab” Rafa menatap tajam sang adik.


Azka memutarkan bola matanya, Nadine menghela nafas pelan melihat sang putra, “sayang, gak boleh gitu. Daddy nanya lho” tanyanya dengan lembut yang sudah berpindah duduk di sebelah putra nakalnya. Dia hanya takut suaminya itu akan marah, suaminya sangat tidak suka pertanyaan tidak dijawab. Apalagi putra nya sendiri.


Melvin dan Alister hanya diam menyimak.


“Azka!” suara Antonio sangat rendah tapi penuh penekanan dan intimidasi.


“Apa sih dad? udah tau ngapain pakai ditanya segala” jawab nya dengan malas.


“AZKA VINCENT REYMOND ANDERSON, jawab dengan benar!” jika sudah menyebut nama panjangnya begini pasti telah marah besar. Azka jadi gelagapan, “i-iya dad, Azka nakal tadi” Ayolah dia tidak akan sampai menangis seperti Davanjiing. Hanya takut saja.


“Bagus. Lari-larian selama sejam dan mencoba kabur dari pengawas!” Suasana disana sangat menegangkan karena ulah suara dingin aura marah Antonio. Ditambahkan lagi tatapan tajam ketiga pria lainnya membuat Azka ciut seketika.


“M-maaf dad!” cicitnya dengan kepala menunduk mana berani menatap wajah Daddy-nya itu yang sudah seperti hewan buas ingin menerkamnya. Nadine menggenggam erat tangan dingin putranya. Dia tidak bisa apa-apa.


“Hukuman apa yang pantas untuk anak nakal seperti mu!”


Tubuh Azka menegang, ayolah ia tidak sudi di hukum lagi. Menyebalkan. Hanya masalah lari-larian saja jadi begini, tau gitu mending ia langsung manjat beton aja tadi.


“Ayo ikut Daddy, anak nakal harus di hukum”


“Gak mau dad, pliiis...Azka khilaf tadi, kali ini jangan Dad” Azka langsung saja menghindar, “Azka mau bobok aja deh!” tanpa ba-bi-bu lagi ia berlari menaiki anak tangga.


Mereka tampak tercengang, apalagi Antonio wajah semakin dingin apalagi melihat apa yang dilakukan putranya itu.


“AZKA, JANGAN NAIK TANGGA. JANGAN BUAT DADDY MARAH BESAR!”


“AZKA!” keempat pria berbeda usia itu dibuat berteriak. Tapi tetap tak didengar kan si empu.


Para maid dibuat geleng-geleng. Kelakuan tuan muda kecil mereka itu benar-benar patut di beri jempol.


Nadine terkikik melihat wajah masam ketiga pria kesayangannya itu, “udah, biarin aja. Besok aja marahin lagi, sekarang lebih baik tidur udah terlalu malam” ucap Nadine dengan lembut.


Mereka menghela nafas pelan, lalu mengangguk.


“Sudah kalian masuk kamar” ucap Antonio pada ketiga putra nya tersebut.


“Hm” mereka pergi ke kamar masing-masing.


Antonio masih mengusap wajah nya lelah, “hais...anak itu!” Ia tak tau harus bagaimana lagi, anak angkatnya itu terlalu nakal, sangat susah dibilangin.


Nadine mengelus punggung tegap suaminya, “gak usah di pikirin lagi. Lebih kita tidur sekarang”


Antonio mengangguk.


...


Sementara, Azka yang telah berada dikamar nya langsung saja mengambil ponselnya.


“Waktunya ngegame” Tidak bisa keluar tapi main game masih bisa tidak terlalu masalah. Tapi tidak untuk esok, dia harus sebisa mungkin keluar. Namun sebelum mulai ia malah dapat panggilan dari Nano, dengan terpaksa ia terima.


“Hahaha...napa lo bos, gak bisa keluar ye!” terdengar suara Nano tertawa mengejek nya.


“Diem Lo bangsul!”


“yaahh ngamuk dia” Sudah jelas itu suara Radit. Tak lama juga terdengar suara menyebalkan Lio. Sudah dipastikan mereka lagi ngumpul di markas.


“Kan udah gue bilang, gak usah balik Lo sih ngeyel”


“Ngeyel congos lo, Lo gak liat gue diseret gitu” Azka memutar bola matanya. Yang terdengar hanya suara tawa mereka. Membuat nya ingin membogem mereka satu satu.


“Pada ngapain lian?” tanyanya dengan suara sebal.


“biasa, Lagi nongkrong sama anak-anak bos sambil makan-makan, Bagas yang traktir”


Azka berdecak, pasti mereka lagi makan enak-enak, membayangkan nya dia kan jadi pengen makan seblak sama bakso.


“Enak amat Lo pada, gue juga mau dong”


“Mau bos”


Sruupp


“Ah...enak banget njiir” lalu terdengar suara tawa dari sana.


“Ajiing lo” umpat Azka penuh kekesalan. Sengaja banget tuh.


“Apa sih bos? Kalo mau ya kesini dong. Mumpung gratis”


“Gratis dengkulmu” sentak Bagas.


Wajah Azka sangat masam sekali, dengan kesel ia matikan secara sepihak.


“Teman laknat” umpat sebelum melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi, yah main game.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT