Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 29



“Bang Rafa mana mom! Belum balik” Sekarang Azka telah merubah panggilan nya pada Rafael, begitu pun yang lainnya. Dia juga sudah menerima mereka, malahan sekarang ia merasa beruntung bisa merasakan kehangatan lagi walaupun pun bukan keluarga kandungnya.


“Belum kayaknya. Kenapa? Kangen kamu!” Jawab Nadine yang sedang mengelus lembut surai Azka, posisi nya sekarang mereka berada dalam kamar Azka, bukan kamar sebelum nya karena itu milik Rafael.


“Enggak mom. Siapa juga yang sama human modelan bang Rafa, Azka cuman mau minta ponsel. Pasti teman-teman Azka pada nyariin”  Lagian ngapain juga ia kangen sama manusia pemaksa itu, ogah. Nadine terkekeh mendengar nya.


“Nanti mom ambilin, mending sekarang kamu bobok ya. Besok kan harus sekolah”  ucap Nadine dengan lembut.


“Belum ngantuk mom. Biasanya jam segini Azka main sama teman-teman” Malah jadi curhat. Bahkan memanggil dirinya dengan sebutan nama sendiri, yang jelas kebiasaan nya saat bersama almarhum bundanya dulu, termasuk ayahnya sebelum pria itu berubah.


Nadine tersenyum, “mom nggak larang kamu main sama mereka tapi harus ingat waktu, gak boleh keluyuran terus” Dia juga tidak melarang karena juga pernah muda, jadi mengerti lah.


Tapi tidak tau jika para pria datar itu. Mungkin saja kebebasan Azka tidak akan sama lagi.


“Iya mom. Azka ngerti kok” Angguk nya dengan senyuman manis. Entah kenapa setiap perkataan wanita cantik ini ia selalu nurut, mengingat nya pada sang bunda.


“Tidur ya” sembari menaikkan selimutnya sampai batas dada sang putra.


Cup


Lalu berjalan keluar. Sedangkan Azka ia hanya diam dengan mata kembali terbuka.


“Bunda, apa ini udah benar. Azka punya mommy, Azka punya abang, Azka punya Daddy... ternyata masih ada yang mau mungut anak berandalan kayak Azka! Bunda jangan marah ya...bunda harus senang. Azka punya keluarga baru!”  Ia menangis dalam diam, sebelum benar-benar memasuki alam mimpi.


Berselang lama, seseorang masuk. Melihat si bungsu, ya sekarang Azka bungsunya keluarga Anderson ia tersenyum kecil.


“Sweet dreams, my son” ucap seseorang tersebut yang tak lain Antonio, lalu mengecup singkat dahi Azka, mengelus lembut surainya sebelum berbalik keluar. Tanpa sepengetahuan nya ada seseorang yang mengintip di balik pintu.


“Cih! cuman anak pungut aja diperlakukan begitu! Sinisnya dalam hati dengan tangan mengepal erat. Lalu buru-buru pergi saat melihat Antonio akan keluar.


“Udah tidur” tanya Melvin saat melihat Daddy nya keluar dari kamar Azka.


“Hm” Ya begitulah lah mereka, anak dan ayah sama saja. Ngomong irit amat.


Melvin yang awalnya ingin memasuki kamar sang adik ia urungkan, karena tidak ingin mengganggu tidur sang adik. Dan membawa langkah lebarnya menuju kamar di sebelah nya.


Cklek


Pertama masuk terlihat kamar mewah bernuansa Coklat putih. Pandangan nya mengarah pada seseorang yang sedang bersandar main ponsel di atas king size mewah  tersebut.


“Al, tidur” ucapnya masih datar tapi tersirat kelembutan menghampiri sang adik, yang tak lain Alister. Yang mana membuat si empu menoleh.


“Nanti, belum ngantuk” balasnya juga tak kalah datar nya dan kembali fokus pada ponselnya.


Melvin tidak memaksa, “Jangan kemalaman” ujarnya sebelum berbalik keluar, menutup pintu itu lagi.


...


“Hoam...” Azka terbangun dari tidurnya, “jam berapa sih” gumamnya. Dengan mata masih sedikit terpejam mengambil jam weker di nakas samping kanannya.


“Jam 12”


“Ck, pantasan gue ke bangun ternyata masih jam 12, kalo kayak gini enaknya main tapi gimana mau main” degusnya setelah matanya terbuka sempurna. Mengingat para sahabatnya, ia jadi pengen main.


“Hais...” menggusar kasar rambutnya. Lalu menyingkirkan selimut miliknya dan beranjak menuju pintu. Ia ingin ke dapur. 


Ingin ke dapur saja ia harus menaiki lift, sebenarnya ada tangga sih tapi terlalu lama untuk sampai jadi memilih yang cepat.


Ting


Keluar dari lift, ia harus berjalan lurus dan berbelok, lalu berbelok lagi. Capek juga tinggal di istana Anderson ini pikirnya.


Dan akhirnya sampai di dapur.


“Ck, mending tinggal di apartemen aja gue” dumel nya.


Lalu mengambil air putih, karena tujuannya minum.


Puk


Seketika tubuh dan matanya melotot saat merasakan tepukan di bahunya.


“Apaan tuh. Gak mungkin setan kan” batin nya. Apalagi mengingat lampu di sana hanya remang-remang. Otaknya malah memikirkan yang aneh-aneh.


Lalu dengan pelan namun pasti ia berbalik. Dan seketika matanya membola dengan wajah pucat pasi.


Deg


Duk


Brak


Suara kaki Azka menaiki tangga, karena saking takutnya ia tak sadar menaiki tangga setinggi itu menuju lantai tiga.


Untung saja kamar yang lain kedap suara jadi suara teriakan Azka tidak membangunkan mereka.


“Eh...” Sedang yang di sebut hantu tadi tampak kebingungan.


“Dia kenapa?” Mengerutkan alisnya makin bingung. Tapi beberapa kemudian, ia terkekeh kecil saat mengingat pekikan nya.


“Ck, ganteng gini di bilang hantu” degusnya, mengambil minuman dalam kulkas sebelum beranjak pergi.


Di sisi lain, Azka tampak ngos-ngosan mengatur nafasnya habis mendaki.


“Sialan! gara-gara panik gue malah cosplay jadi pendaki” umpat mengingat tangga yang dilewati nya begitu banyak, bahkan kaki kerasa mau patah. Capek njiir.


“Nggak nyangka gue rumah kayak istana gini ada setannya. Percuma aja mewah, anjiiim emang!”  Gerutunya diakhiri dengan umpatan lagi.


“Huhuhu...mimpi apa gue semalam bisa ketemu setan” Tangisnya tanpa air mata, sembari menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Bahkan ia masih ingat jelas bentuk wajah nya, putih banget njiim.


“Huhu...” buru-buru menarik kain selimut nya menutupi seluruh tubuhnya.


Menyesal ia ke dapur tadi, tapi kalo gak minum ia kan harus. Ck sialan emang!


☀️


☀️


☀️


“Njiim...kemana aja Lo bos? Lo gak tau apa kita khawatir banget nyari in lo dari complek satu ampe complek seratus, tapi Lo kagak nemu, udah kayak anak ilang tau nggak” Cerocos Nano yang tak henti-hentinya.


Plak


“air liur lo njiing kena muka gue!” Sentak Radit usai menggeplak bahu Nano.


Seketika yang lain menatap jijik.


“Jorok Lo no, kalo ngomong sih ngomong aja tapi tolong  tuh mulut di kondisi kan” ujar Azka dengan muka jijiknya pen muntah.


Sekarang mereka berada di rooftop sekolah.


“Sorry ngab” jengkel Nano dengan muka masamnya sembari mengelap sekitar mulut nya.  


“Jadi gimana bos? Lo utang cerita ama kita” Lio memandang Azka, tidak ingin melihat tingkah jorok si nanonjiing, bikin jijay.


“ya nih bos. Kita pikir Lo di culik mbah kun kun” sahut Radit.


Mendengar kalimat terakhir Radit, membuat nya merinding mengingat hal semalam.


“Sorry, bikin Lo pada khawatir. Nanti gue ceritain dah”


“Pakai nanti gala lo bos, padahal gue udah nungguin nih”


“Yang nyuruh lo nunggu siapa bloon” Ucap pedas Azka seketika membuat Nano mengatup mulutnya.


“gue laper, nanti aja ceritanya” berdiri sembari menatap mereka satu persatu.


Lio, Radit dan Bagas hanya menghela nafas, mereka juga laper karena ini sudah jam istirahat.


“Dah kuy lah, gue juga laper” sahut Radit yang dianggukan Bagas. Nano hanya ngikut aja.


Kenapa mereka tidak di kelas, karena saat jam pelajaran pertama mereka membuat ulah dengan mengerjai bapak santo dan berakhir kena hukum. Usai hukuman mereka bersantai di rooftop, walaupun sepenuhnya masih belum menyelesaikan waktu hukuman. Namanya juga mereka anak nakal dan bandel jadi mana mau patuh. Mending kabur.


...


“Ternyata benar dikatakan Rafa, kau sangat nakal. Tunggu hukumanmu!” Gumam seseorang yang melihat semuanya.


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT