Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 61



“guys, gawat Fano barusan ngabarin dia sama anak-anak di keroyok dan sekarang mereka butuh pertolongan kita”


Mereka yang lagi makan sambil ribut-ribut di buat kaget mendengar laporan Nano. Posisinya sekarang mereka berada di warung belakang sekolah. Mereka memang sengaja pergi kesana untuk makan tidak kantin katanya bosen makan di kantin terus.


Brakkk


Azka refleks menggebrak meja di hadapan nya tanpa peduli keadaan Radit yang sudah kena tumbal.


“Anjing! Lo kalo mau gebrak meja liat sekitar dulu napa sih” Teriak Radit dengan wajah sudah kotor kena sembur makanan diatas meja. Membuat bajunya ikut basah.


Pandangan mereka menatap kearah Radit seketika terdengar suara tawa nyaring mereka. Bahkan pemilik warung ikut tertawa melihat kondisi Radit yang memprihatinkan. Sekarang ini di sana memang hanya ada mereka tidak ada pengunjung lain.


“Ha-haha Lo cosplay jadi gembel dit” Bukan nya kasihan, memang sahabat laknat.


“Anjiing Lo pada” Radit mengacungkan jari tengah nya sebelum pergi ke kamar mandi milik pemilik warung.


“sial amat tuh anak” Sementara Azka sebagai penyebab utama malah mengusap air matanya akibat terlalu kencang tertawa.


“Woiiii cepat dikit ogeb, kita buru-buru!” Teriak Azka, sementara Radit yang berada dalam kamar mandi beberapa kali menggerutu jika bukan karena bos laknatnya itu kejadian nya tidak akan begini.


Terpaksa dia memakai baju sedikit basah.


Selesai, mereka langsung pergi. Keempat sahabat Azka itu memang memarkirkan motor disana, katanya biar mudah buat bolos tidak perlu susah payah berdebat dengan pak satpam.


Dan seandainya ia juga diperbolehkan membawa motor juga melakukan hal sama, tapi sayang motor nya sedang di tilang para pawang. Menyebalkan.


Sementara di sekolah, Al sudah dibuat pusing karena tidak menemukan adik nya itu. Bahkan para sahabatnya juga ikut mencari namun semenjak awal jam istirahat sampai jam masuk belum juga terlihat batang hidung anak itu.


Bahkan Queen juga ikut mencari di bantu kedua sahabatnya, dia ingin melanjutkan pembicaraan nya yang gagal karena kedatangan buk Mega pagi tadi. Namun cowok itu tidak terlihat.


Sekarang Azka sudah menjadi seperti buronan yang hilang.


“Gimana? Ketemu!” Pertanyaan Al saat melihat ketiga sahabat nya tersebut telah kembali.


“Kagak” Jawab Naufal mewakili Samuel dan Kenzie. Alister memijit kepalanya, seperti nya adiknya itu buat ulah lagi bersama teman-temannya. Sudah jelas karena tidak ditemukan, hanya tas mereka ditemukan dalam kelas.


“Fiks, tuh anak bolos sama curut nya” Seru Samuel.


Bertepatan saat itu ponsel milik Al berdering. Dan ternyata dari salah satu bawahan keluarga nya.


“Hem”


“Tuan muda, saya mendapatkan laporan jika tuan muda kecil sedang pergi bersama teman-temannya. Mereka terlihat seperti buru-buru”


Al bernafas lega ternyata benar dugaan nya, adik nakal itu benar-benar, hais...


“Ikuti mereka jangan sampai kalian kehilangan jejak”


“Baik tuan muda”


Al menyimpan ponsel kembali, lalu melirik ketiga sahabat nya. Dia yakin mereka mendengar nya karena sengaja dia speaker kan.


“Njiir...parah adik Lo Al. Udah banyak pawang serem modelan Lo bahkan udah diancam tapi tetap aja kagak pernah insaf, heran gue!” celetuk Naufal.


“nama juga bocah ya gitu” Kenzie ikut menyahuti.


“Jadi sekarang gimana Al, Lo mau susul tuh anak ato gimana?” Samuel memandang sahabat sekaligus ketuanya tersebut.


“Te—“ ucapan nya terpotong mendengar deringan ponsel sekali lagi. Dan ternyata dari Daddy-nya.


“Ya Dad”


“Oke” Mereka menatap sahabatnya tersebut yang tampak telah menyimpan ponsel nya lagi.


“Kenapa Al?”


Al menggeleng, “Masuk kelas” ucapnya yang langsung bangkit pergi. Sementara mereka bertiga saling tatap bingung.


“Ck, gini nih kalo punya teman es” Decak Naufal. Namun mereka telah tetap mengikuti sahabat nya tersebut.


“Terus gimana sama adik Lo Al” teriak Naufal yang masih belum tenang sebelum dapat jawaban dari si empu.


“Daddy sama yang lain ngurus” Jawab Al datar. Mendengar nya Naufal akhirnya mengerti begitupun Kenzie dan Samuel, pantasan tuh anak santai saja.


Sebenarnya dia memang ingin menyusul namun setelah mendapat telpon dari Daddy-nya yang meminta tetap menyelesaikan pelajaran nya dia urungkan. Dia mana bisa membantah perintah Daddy nya itu.


...


Di sisi lain.


Azka bersama sahabatnya yang telah sampe ditempat tujuan seketika mengamuk saat melihat Fano dan anak-anak Cobra lainnya di serang habis-habisan.


“BANGSAT LO SEMUA ANJIIING!!”


Suara teriakan dan umpatan Azka terdengar nyaring, netranya memandang marah orang-orang tersebut dengan terus menyerang mereka membabi buta, tak beda jauh dengan sahabatnya.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Suara pukulan terus terdengar jelas di dekat jalan yang terbilang sepi tersebut.


“Ada masalah apa Lo semua sama anak cobra Hahh!” Itu suara Bagas yang terdengar sangat dingin memandang tajam lawannya dengan tajam.


“Jawab bangsat! Lo semua gak budeg kan babi” Azka sudah dilanda emosi sekali lagi memberi bogeman mentah pada cecunguk yang masih ditarik kerahnya. Sudah terlihat dia yang menjadi ketuanya.


“Heh... karena gue emang gak pernah suka sama anak Cobra apalagi bajingan itu!” Remaja itu malah tertawa sinis tanpa mempedulikan rasa sakit diberikan Azka. Dia malah melirik kearah Fano penuh kebencian.


Sementara Fano yang lagi dibantu Radit dan Lio ikut membalas tatapan itu dengan tak lah sama.


“Maksud Lo apa njiing!” Sudah tak terhitung lagi Azka mengucapkan kata kasar sejak tadi karena sudah terlanjur marah ia mah.


“Jelas urusan gue, Lo udah buat masalah sama teman gue jadi semua juga urusan gue. Lo udah ngeroyok Fano sama mereka dan gue sebagai bos jelas ikut campur. Lo sama teman-teman Lo banci tau gak” Sudah jelas, Fano hanya berlima sementara mereka banyak mana pakai alat pemukul lagi.


“Kalo Lo emang mau ngajak tawuran bilang dong gak usah main keroyokan gini” Fano yang tadi diam akhirnya ikut bersuara.


“Diem Lo bangsat!” remaja itu menatap Fano nyalang.


“Lang udah, kita gak bisa ngelawan lagi dengan keadaan lo begini” Ucap salah satu temannya dengan kondisi tak kalah bonyoknya.


Remaja yang dipanggil Gilang itu mendegus, sekarang dia beralih menatap Azka tajam. Dia masih ingat ucapan anak itu.


“Jadi Lo bosnya! Bagus deh. Ingat baik-baik urusan gue sama bawahan Lo tuh belum selesai, awas Lo semua bakal gue bales” Remaja bernama Gilang langsung pergi diikuti teman-temannya yang lain.


Azka dan sahabatnya tidak mengejar. Mereka harus meminta penjelasan dari Fano.


“Fan, bukannya seragam nya juga seragam anak Galaksi” Tanya Radit. Fano mengangguk.


“Emang”


“Kok gue gak pernah liat muka tuh anak ” Heran Azka, bagaimana pun ia kan dulu juga sekolah di sana.


“Dia anak baru, dia masuk pas Lo udah pindah”


“Gitu, pantesan. Mana songong amat tuh anak” Kesal Azka mengingat muka rival Fano tadi.


“Dah mending ke markas, luka Lo pada perlu diobati” 


Mereka mengangguk setuju. Namun, baru saja akan menaiki motor masing-masing gerakan mereka berhenti melihat dua buah mobil sport berhenti tepat didepan mereka.


Semuanya mengerutkan keningnya dan tentu saja menjadi waspada. Bisa saja mereka pelaku penculikan anak.


“Sudah puas bermain boy” Suara itu seketika membuat Azka melotot bahkan ia sudah melihat dengan jelas wajah nya. Tak beda jauh dengan teman-teman nya.


Azka menatap Daddy-nya itu dengan tatapan horor, apalagi saat melihat lima orang bawahan Daddy nya tersebut ikut keluar dari mobil satunya lagi.


“Sial! Mampus gue!” pekik nya dalam hati.


Antonio menyeringai melihat wajah horor putranya. “Masuk” Mendengar suara dingin tak terbantahkan itu membuat bulu kuduk Azka merinding, tak kalah jauh dengan teman-teman nya.


“Bos, bokap Lo serem amat, ngeri gue!” bisik Fano. Yang balas anggukan oleh si empu karena memang kenyataannya begitu.


“T-ap—“


“Perlu Daddy karungin!” Potong Antonio menatap putranya semakin datar.


Azka malah mendelik, “dipikir gue sampah apa pakai di kurangin segala” gumamnya dengan kesal. Karena keadaan hening gumaman itu masih terdengar oleh para sahabatnya disana. Mereka tampak susah payah menahan tawa.


 “Dom ambil rantai!” Dom yang mendengar perintah langsung melakukan nya. Sementara Azka terbelalak mendengar nya. Daddy-nya benar-benar gila.


“Apaan sih dad! Dikit-dikit ngancam, bisa gak sih kali aja ancam beliin seblak ato bakso apa kek” Pekiknya dengan nada nyolot. Emang Azka lah satu-satunya manusia yang memiliki keberanian melawan seorang kejam seperti Antonio. Mana bocah ingusan lagi. Teman-teman nya di buat cengo melihat ke bar-baran bos mereka.


“Daddy bilang masuk Azka!” Suara Antonia naik oktaf, ayo lah dia bukan orang yang memiliki stok kesabaran. Dan putranya ini malah minta dia marah dulu.


Azka berdecih, menghentak-hentakan kakinya dengan wajah masam ia memasuki mobil yang ditumpangi Daddy nya dengan kasar.


Braakk


Suara itu membuat mereka yang disana mengusap dada sabar apalagi Antonio. Memiliki anak seperti Azka memang harus memiliki stok kesabaran. Bahkan Dom yang semula nya ingin menutup pintu mobil dibuat terlonjak, untung tidak sampai terjengkang jika tidak mau di taruh dimana muka datar dan sangarnya sebagai asisten tuannya.


Lalu pandangan Antonio beralih kearah teman-teman putranya.


“Kalian awasi mereka sampai tujuan” titahnya pada bawahannya yang lain.


“Baik tuan”


Sementara Bagas, Lio, Radit, Nano dan yang lain hanya diam bak patung saat melihat mobil di tumpangi Azka sudah mulai jalan.


“Mari kami antar” Mendengar suara tersebut membuat mereka tersadar. Dan mau tak mau mereka hanya menurut, mana berani mereka menolak niat baik bawahan bokap angkat bos mereka.


Ntar yang ada mereka di pancung berdiri! Gak elit amat.


☀️


☀️


☀️


Bibir mungil itu maju beberapa senti dengan pipi digembungkan sembari bersedekap dada dan duduk bersila diatas king size empuk miliknya. Sesekali bibir tersebut bergerak menggerutu.


“Nio bajingan, Rafa babi...Melvin anjing...” Semua umpatan ia tunjukkan pada bersangkutan.


“Keluarga gak ada akhlak!” Azka berteriak kencang sembari menunjukkan jari tengahnya ke arah kamera cctv yang ada di sudut kamarnya.


Bagaimana tidak marah, setelah di bawa paksa pulang. Dia malah dikurung dikamar dengan kaki dirantai. Kata mereka sebagai hukuman karena nakal. Tentu saja ia tidak terima. Tapi mau memberontak sampe giginya copot pun kagak bakal bisa. Kata-kata mereka mutlak, tidak bisa terbantahkan.


Bahkan beralasan ingin bertemu ayahnya saja tidak diizinkan sampe waktu hukuman selesai.


“Awas Lo semua! Saat lepas bakal gue bakar nih rumah!” Pekiknya dengan posisi telah menjadi berdiri. Walaupun sebelah kakinya dirantai, ia tetap bisa berjalan rantainya cukup panjang tapi tidak bisa mencapai ganggang pintu.


Mereka jahat tapi kok ia sayang yak!


Azka yang lagi misuh-misuh seketika menoleh mendengar pintu kamarnya dibuka. Dan terlihat wajah menyebalkan Abang Rafa dan Melvin sembari membawa mapan berisi makanan.


“Ck” membuang muka nya kearah berlawanan, males liat muka mereka.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT