Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 38



“boy, bangun” Antonio menepuk pelan pipi putranya diiringi suara lembutnya.


“Hmm” Azka hanya bergumam tak jelas sembari menggeliat karena merasa sedikit terganggu.


Antonio hanya geleng-geleng kepala lalu kembali memanggil nya. Putranya itu harus secepatnya bangun karena ia harus sekolah.


Beberapa saat kemudian, akhirnya Azka bangun dengan sedikit ogah-ogahan.


“Azka bolos aja hari ini Dad” ucapnya dengan mata sedikit melek.


“Tidak” tegasnya. Membuat Azka cemberut.


“Dad, Azka nggak enak badan...Azka mau tidur aja” ucapnya lagi dengan suara dibuat seserak mungkin tak lupa badan dibuat selemas mungkin. Tidak tau saja semua akal liciknya itu sudah diketahui pria tersebut.


“Jangan pikir Dady percaya dengan akalanmu itu” ledeknya yang membuat Azka semakin cemberut.


“Huhuhu... Daddy, Azka gak mau sekolah hari ini! Azka capek, Azka pengen rebahan aja”


“Ada apa nih!” terlihat Melvin masuk kedalam. Azka memandang abangnya itu dengan muka bantal nya. Ingin merengek tapi terlalu enggan mengingat ia belum terlalu dekat dengan abang nya yang satu ini.


“Ingin bolos” mendengar perkataan Daddy tentu saja membuat Melvin ikut memandang adik nya itu dengan tajam.


“tidak ada waktu bolos, hari ini kau sekolah karena abang sendiri yang akan mengantar” ucapnya dengan santai nya, tanpa mempedulikan tatapan tak terima pria paruh baya itu.


Apalagi Azka.


“Ih...tapi Azka pengen bolos bang, badan Azka lemas banget” sebenarnya memang ia merasa kurang enak badan bahkan mau duduk saja berat banget.


“Jangan memaksa adikku!” itu suara Rafael  ia menatap tajam adik dan Daddy-nya tersebut. Bahkan Fely, Ares dan Abi ikut masuk. Mendengar pembelaan itu tentu saja membuat Azka bersorak kegirangan dalam hati.


“Baiklah, Dady tidak memaksa mu lagi” pasrah Antonio, ia juga tidak tega melihat wajah murung putranya itu, begitu pun Melvin. Ia hanya geleng-geleng melihat tingkah adiknya itu.


“dedek emes babang kenapa Hem...” Seketika Azka dibuat merinding mendengar nya.


“Paan sih, Lo bisa nggak manggil gue biasa aja...geli gue denger nya”


“boy bahasamu” tegur Antonio.


“Ck, iya dad” Ares malah mencibir, “dengar tuh, panggil abang dengan baik dek” rasa nya ingin muntah mendengarnya tapi tetap mengiyakan karena kedepannya ia memang harus membiasakan.


“kamu benaran gak enak badan” sekarang giliran Abi bertanya bagaimana pun ia seorang dokter jadi kesehatan paling utama.


Azka hanya mengangguk, “yasudah mending sekarang kamu istirahat ,oke nanti abang kesini lagi” ucap Abi sebelum berbalik keluar. Lalu diikuti oleh Melvin dan Daddy namun sebelum itu mereka mengecup dahi Azka. Azka yang sudah terbiasa diam saja tanpa ada umpatan lagi.


“Abang juga keluar ya dek, awas jangan nakal” bisik Ares mencium pipi berisi Azka lalu langsung ngacir keluar sebelum diamuk.


“Areees... bangsat!!” teriaknya dengan wajah merah karena marah. Pipi jadi ternodai bau jigong Aresanjing.


“BABY” tekan Rafa dan Fely menatap tajam sang adik. Azka yang sadar kesalahan nya hanya cengengesan sembari mengangkat dua jarinya.


☀️


☀️


☀️


Karena bolos, Azka yang ingin bersantai dirumah sambil main game harus terpaksa membuang semua pikiran nya itu.


Dia harus terpaksa ikut dengan kak Fely, dan lebih menyebalkan lagi ia malah dibawa ke kantor.  Kakaknya itu benar-benar menyebalkan, ngapain coba bawa dia ke kantor kalo mau kerja ya kerja aja sendiri buat apa juga mengajaknya, pemaksaan pula tuh.


“Kak, kenapa harus ikut sih? Gara-gara kakak waktu santai Azka gak jadi” tanya nya dengan degusan. Sekarang mereka berada dalam mobil yang mana di bawa Fely sendiri.


“Cuman pengen bawa kamu aja, biar ada yang nemanin kakak” jawabnya dengan tersenyum tipis saat melirik muka adik nya itu yang tampak cemberut. Membuat nya semakin menggemaskan.


“Gak jelas. Bilang aja mau gangguin kesenangan Azka” sebalnya.


Fely mengulum senyumnya, “siapa suruh buat kakak makin gak mau jauh-jauh dari kamu” Azka hanya memutar bola matanya melas.


“kak, kapan-kapan ajarin Azka nyetir ya” sebenarnya sudah dari kelas 10 ia ingin bisa nyetir tapi malah di dibantah ayah nya termasuk para sahabatnya.


Mendengar nya Fely sedikit menoleh kearah sang adik, “Hm...tidak boleh” ucap nya dengan datar. Seketika membuat Azka berdecak sebal.


“minta diajarin doang pelit amat”


“Bukan begitu, kamu masih kecil belum waktunya bawa mobil, berbahaya baby”


Azka melirik jengkel, alasan aja. Kalo masalah bahaya bawa motor juga sama bahayanya. Lagian sudah banyak anak-anak seumuran ia sudah membawa mobil sendiri. Tapi ia malah gak di bolehin, benar-benar menyebalkan.


Baru saja ingin protes tiba-tiba saja di kagetkan oleh suara tembakan.


Dor...Dor...


“K-kak” Azka memandang kakak nya cemas. Masalah nya yang ditembak itu mobil nya. Ia juga melihat sebuah mobil hitam mengikuti dari belakang dan juga pelaku penembakan tersebut.


“Shiit” Rahang Fely mengeras berani sekali mereka mencari masalah di saat dirinya sedang bersama kesayangannya.


“Kita tidak akan luka, mobil kakak anti peluru” Azka sedikit lega mendengarnya.


Ciitt...


Fely menginjak pedal rem depan cepat melihat mobil musuh mengadang nya di depan.


“diam di dalam oke, kakak harus menyelesaikan sebentar” Azka hanya mengangguk, karena bagaimanapun ia masih sedikit syok, ingat hanya sedikit. Fely mengangguk puas lalu keluar sembari menyelipkan sebuah pistol di pinggang nya.


“Mau apa kalian” Menatap tajam beberapa pria berpakaian hitam dan berbadan besar tersebut.


“Habisin dia” perintah salah satu dari mereka. Sedangkan, Fely hanya menyeringai iblis. Mengeluarkan pistol nya.


Dor...dor...


Suara tembakan menggema di jalan tersebut. Bahkan beberapa mobil yang ingin lewat terpaksa berbalik dan pindah jalan lain. Tidak ada yang bisa menghentikan bahkan polisi sekalipun.


Dalam mobil, Azka menatap kagum, kakaknya terlihat sangat keren sekali.


Duk...Duk...


“Anjim..” kagetnya saat kaca sebelahnya di pukul oleh salah satu dari mereka.


“Wahhh...mau cari mati Lo ya” karena tak terima ia membuka pintunya keluar namun malah dikagetkan oleh suara tembakan yang mengarah padanya tepat nya orang tadi kena tembak sang kakak.


Fely menatap tajam, “kenapa keluar?”


“Maaf kak, Azka cuman pengen bantu aja” ringisnya saat melihat tatapan itu. Ia juga melihat semua nya telah tergeletak, mungkin bisa dibilang mati.


“Kakak...nggak papa kan? Nggak ada yang luka kan” tanya nya menatap sang kakak khawatir. Melihat raut cemas Azka membuat Fely menjadi senang.


“tidak papa”


Azka bernafas lega mendengarnya karena memang tidak melihat ada luka mengenai kakaknya.


“Trus mereka gimana kak!”


“Biar orang-orang kakak mengurus... sekarang ayo masuk”  Azka menurut saja. Ia juga tidak terlalu kaget mengingat perkataan Nano waktu itu keluarga Anderson memiliki geng Mafia. Apalagi saat memasuki ruangan senjata di kamar bang Rafa waktu itu membuat nya semakin yakin.


Tetapi ia tidak merasa masalah ataupun takut. Malahan ia merasa sangat keren. Mungkin kapan-kapan ia bisa juga melakukan seperti kakaknya tadi.


“Hehehe...”  Membayangkan dirinya memakai pistol pas tawuran membuat nya semakin menyeringai sudah dipastikan lawannya bakal langsung kalah telak.


Fely tidak menyadari seringai bodoh adiknya itu karena sedang fokus menyetir.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT