
Menjelang pagi. Azka yang masih terlelap seketika merasa terganggu oleh sebuah usapan lembut di wajahnya. Membuat ia menggeliat tidak nyaman dan perlahan mencoba membuka matanya walaupun sedikit berat.
“Hmm...” Gumamnya dengan mata sudah terbuka, namun masih belum sempurna. Pertama kali yang dilihatnya wajah cantik seseorang dengan rambut panjang dan senyuman titip di bibir nya.
“Sudah bangun, baby!” suara yang terdengar sangat lembut dan halus, seketika membuat Azka membuka matanya dengan lebar bahkan langsung terduduk. Menatap lekat wajah cantik di depan nya, saat itu ia menyadari siapa dia.
“K-kak Fely!” ucapnya sedikit gugup. Wajar lah sebelum mana pernah ada seorang perempuan memasuki kamar nya bahkan sampe menyentuh wajah ganteng nya selain almarhum bundanya dan mommy Nadine. Entah kenapa ia merasa aneh, walaupun perempuan ini kakak angkat nya tapi tetap saja ia masih belum terbiasa.
Fely, dibuat terkekeh melihat keterkejutan adik nya itu. Hanya untuk sang adik ia mengeluarkan sisi lembut nya, bahkan saat bersama Alister saja ia tidak pernah seperti ini, memang aneh.
“Kau sangat lucu!”
“Maafkan kakak udah membuat mu kaget, niat kakak hanya membangunkan mu tapi saat melihat adik keci kakak tertidur pulas kakak jadi tidak tega” Ucap nya dengan nada sangat lembut bahkan tidak pernah melunturkan senyuman manis nya. Lalu mengangkat satu tangannya yang ia gunakan mengusap wajah sang adik mencubit hidung mancung itu.
“Adik kakak gemasin banget sih” Sedangkan Azka entah kenapa jadi merinding melihat senyuman itu. Tapi ia akui kakak angkat nya sangat cantik.
“Ah...maaf kak, ini udah jam berapa ya?” tanya nya agak kikuk.
“Jam tujuh lewat lima belas menit” jawab Fely santai dengan tatapan masih tertuju pada muka bantal sang adik, walaupun begitu ketampanan masih melekat, bahkan ia sudah tidak tahan ingin mencubit wajah sang adik.
Seketika Azka melebar matanya, Kenapa kakaknya ini tidak membangunkan nya dari awal. “Aish...ya sudah Azka mau mandi” langsung meloncat turun dan ngacir kearah kamar mandi. Ayolah dia lagi males terlambat hari ini, capek juga njiir.
Fely hanya melihat dengan tenang, apa adiknya itu takut terlambat. Tapi mengingat semua cerita bang Rafa tentang kenakalan nya ia tidak terlalu percaya.
Namun, beberapa saat ia menyeringai, “Hm... seperti nya lain kali aku harus memberikan sedikit hukuman untuk anak nakal” gumamnya, sebelum membawa langkahnya keluar dari kamar tersebut.
...
Usai mandi dan memakai seragam nya walaupun terkesan berantakan, ia bergegas ke lantai bawah.
“Moga aja gak ketemu bucan nanti!” gumamnya. Sesampai di ruangan makan, ia melihat semuanya sudah berada disana.
“Pagi” Ucap nya sedikit canggung.
“Pagi sayaang/boy/baby/dek” jawab mereka semua hampir serentak seketika membuat Azka tersenyum kikuk.
“Kompak bener” Batinnya.
“Sini duduk sayang” tutur Nadine yang hanya dibalas anggukan oleh Azka, tempat duduknya tepat di sebelah mommy Nadine dengan Felysia sebelah kanannya.
Tak membutuhkan waktu lama menghabiskan sarapannya, “Azka berangkat dulu mom, Dad...” pamitnya menyebutkan mereka semua kecuali Alister dan Ares. Melas banget sebenarnya tapi mau gimana lagi.
“Kita juga mom, Dad...” ucap Alister dan Ares yang juga telah menyelesaikan sarapannya.
Azka akan melangkah kaki keluar usai menyalami mereka seketika berhenti mendengar suara kak Fely.
“Azka, kamu kakak antar” bahkan para orang tua dan yang lain ikut mengalihkan pandangan kearah Fely. Apa mereka tidak salah dengar. Bukan karena perkataan nya tapi nada suaranya terdengar sangat lembut tidak dingin seperti biasanya.
Membuka Azka menoleh ke belakang menatap sang kakak, “nggak bisa kak, Azka berangkat sendiri” tolaknya, ayo lah ia itu hanya ingin sendiri dengan motor kesayangan nya.
“Tidak ada penolakan” tekan Fely dengan suara sudah berubah dingin. Seketika membuat ruangan mendadak sunyi dan mencekam. Perlu diketahui walaupun Fely itu perempuan tapi sifatnya paling dingin diantara abang-abang nya, apalagi jika dalam mode marah. Tidak ada yang bisa menghentikan nya kecuali Daddy sendiri, itu pun perlu waktu lama.
“T-tapi ka—“ ucapan nya berhenti saat mendapatkan tatapan tajam sang kakak, “bangsat! tajam amat tuh mata, kalo ada senjata nya pasti udah bunuh gue hidup-hidup!” umpat-Nya dalam hati.
“Ayo” Azka hanya pasrah saat tangannya di tarik sang kakak. Kenapa hidupnya jadi begini, memiliki seorang kakak perempuan yang sungguh berbeda dari apa dipikirkan nya.
Ares dan Alister sudah pergi duluan.
...
“Tadi benaran Fely kan, kok beda ya” ujar Rani. Yang lain juga berpikiran sama.
“Iya sih, tapi bagus deh dia bisa bersikap lebih lembut pada Azka” sambung Leta.
Nadine ikut mengiyakan, “Tidak salah aku adopsi Azka, dia bisa merubah sikap makhluk dingin dan datar itu”
Sekarang mereka sedang berkumpul di ruangan keluarga, hanya mereka bertiga ditemani beberapa cemilan dan minuman segar. Para lelaki sudah pergi menyelesaikan tugas mereka masing-masing beberapa saat lalu setelah kepergian Azka dan Fely tadi.
Kemana lagi bukan ke kantor, hanya Abi saja yang bertugas di rumah sakit sebagai seorang Dokter spesialis.
“Oiya...kak, kamu bilang ibu kandung Azka itu bernama Renata ya” tanya Rani pada Nadine, istri kakaknya ipar tersebut.
Leta tampak mengerutkan keningnya ikut memandang kakak iparnya tersebut, “Renata!” dia seperti familiar tapi mengingat nama orang banyak Renata ia tidak terlalu memikirkannya. Lebih baik dengar penjelasan kak Nadine dulu.
“Hmm... Iya, kalo nggak salah nama panjangnya, Renata Syafira Sanjaya” Jawab Nadine usai mengingat percakapan suaminya dua hari yang lalu.
Tampak Leta dan Rani saling tatapan lalu kembali mengalihkan pandangannya kearah Nadine, “benaran itu mana panjangnya kak” tanya Rani.
“Iya, nggak mungkin kakak salah dengar” Nadine mengangguk, dengan tatapan bingung.
“emang kenapa? Kalian kenal!” tanya saat melihat tingkah mereka.
Kedua nya mengangguk ragu, Leta kembali bertanya, “Kakak yakin itu nama panjangnya”
“Iya” Mendengar jawaban Nadine membuat mereka melotot, ternyata apa yang dipikirkan mereka tidak salah.
“Kenapa!” Nadine semakin bingung dengan sikap mereka.
“Dia sahabat kami semasa SMA dulu kak! Kami nggak mungkin salah” Ucap Leta yang dianggukan oleh Rani.
“Tapi setelah tamat SMA kami bertiga berpisah, Renata waktu itu melanjutkan kuliah nya di korsel karena ikut kedua orang tuanya sedang kami tetap disini...”
“Dan setelah itu sampe sekarang kami tidak pernah bertemu Renata lagi...makanya saat dengar dari kakak kami kaget...”
“Iya, nggak nyangka ternyata Azka putra Renata” Rani menutup mulutnya dengan tatapan sendu.
“Tapi sayang, dia udah nggak ada” lirih Nadine. Rani dan leta mengangguk lemah, mereka memang sudah mendengar dari suaminya tentang hal itu dan masalah Azka tapi mereka tidak menyangka bunda Azka sahabat lama mereka.
“Nggak nyangka, Renata udah ninggalin kita selama-lamanya padahal aku berharap bisa ketemu dia lagi” Leta mengusap air mata yang sudah terjatuh ke pipinya. Rani juga sama. Hanya Nadine yang tidak sampai menangis tapi ia juga tak kalah sedih mendengarnya, apalagi sekarang putra Renata itu sudah menjadi putranya juga.
“Bagaimana nanti sore kita pergi ke makan dia aja sekalian ajak Azka” Ucap Nadine yang mana membuat Rani dan leta mengangguk setuju, kenapa mereka tidak ke pikiran kesana.
“Satu lagi, kayaknya kita juga harus memberi sedikit pelajaran wanita ular itu” Lanjut Nadine dengan seringai tipisnya. Mereka mendengar nya tentu saja setuju.
Jangan salah ketiga nyonya besar itu tidak selembut di lihat. Mereka hanya akan bersikap lemah lembut pada keluarga nya dan pada orang yang pantas untuk itu.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT