Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 40



Azka benar-benar tegang sekarang, apalagi tatapan pria paruh baya di hadapannya sangat mengintimidasi. Bukan hanya Papa Derga tapi ada Papi Nathan sama bang Rafa. Tapi ia sedikit bersyukur tidak melihat Daddy sama bang Melvin serta kedua abang curut nya lagi.


“K-kok pada bangun sih...ini kan udah tengah malam” ucapnya sembari menyengir bodoh sekedar untuk menghilangkan rasa cemasnya.


Mereka hanya menautkan alisnya, “Kau harus dihukum” Rafa berkata dengan suara sangat dingin. Kedua pria paruh baya tersebut mengangguk setuju.


Entah kenapa ia merasa firasat buruk, ia yakin hukuman nya pasti sangat kejam. Mengingat mereka keluarga Mafia.


Saat tubuhnya digendong Rafa, ia hanya diam tanpa memberontak. “A-azka mau dihukum ngapain?” tanya nya dengan gugup.


Rafa hanya diam dengan terus melangkah masuk ke dalam lift, karena itu ia menatap kearah papi Nathan dan papa Derga yang berada di belakang. Tapi ia dapatkan hanya tatapan datar.


“Sialan! Mereka marah banget kek nya” Azka hanya bisa menangis dalam hati.


“Bang kamar Azka kan disana bukan kesana” kini ia benar-benar buruk, sebenarnya hukuman apa yang akan diberikan pada, apalagi mengingat sekarang sudah larut malam.


Cklek


Mendengar suara pintu dibuka ia langsung memutar kepalanya untuk melihat ruangan apa yang dimasukinya.


“I-ini...” Seketika ia melotot melihat keadaan ruangan tersebut.


“B-bang...” menatap memohon sembari mencengkram kuat kaos di pakai abangnya.


“nikmati hukuman mu disini, siapa suruh nakal” ucap Rafa usai menurunkan azka tanpa peduli tatapan memohon sang adik nya itu.


Azka menggeleng heboh bahkan mata nya sudah berkaca-kaca, ia beralih menatap papa dan papi, “p-pa...p-pi...”


Keduanya segera menghindari tatapan itu dan memilih keluar lalu di susul Rafa, Azka ingin mengejar tapi kakinya terasa kaku.


“Hiks...a-bang...a-zka t-takut!” tangisnya pecah. Bahkan ia sudah pucat saat melihat hal yang membuat nya takut setengah mati.


Disana ada beberapa mayat masih berdarah, dilihat dari cara mati habis di siksa apalagi terdapat beberapa organ tubuh nya yang hilang. Satu lagi disana juga ada beberapa ular di biarkan lepas tanpa di kurung.


Ia terus mengedor pintu sembari terus berteriak.


“Hiks... Daddy...m-momy...t-tolong Azka!” Jantungnya berdegup kencang saat merasakan sesuatu melingkar di kaki.


“Aaarrghhh...jangan sentuh gue sialan!” pekiknya sembari menyentakkan kaki untuk melepaskan ular tersebut. Walaupun ia badboy dan ketua geng yang suka tawuran tapi ia belum memiliki keberanian melihat hal sadis seperti mayat tersebut, apalagi saat bersentuhan dengan makhluk ular. Benar-benar membuat ia ingin mati.


 


Di sisi lain, Rafa, papi Nathan dan papa Derga melihat keadaan Azka. Tidak ada Daddy dan Melvin karena kedua nya lagi ada urusan di luar kota sedangkan Fely baru saja balik ke Korsel karena ada hal penting diselesaikan nya. Abi dia juga lagi luar. Al dan Ares sudah masuk alam mimpi begitu para ketiga wanita paruh tersebut.


Tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Azka kecuali mereka bertiga.


“Rafa, apa ini tidak terlalu kejam... bagaimana jika terlalu hal buruk” Nathan berkata dengan raut sedikit cemas. Ia juga tidak sekejam mereka.


“tidak masalah Pa” Rafa hanya acuh.


“Hmm...kau tidak perlu cemas than, biarkan saja jadi pelajaran untuk nya biar tidak mengulangi lagi” Derga ikut menyahuti. Nathan hanya menghela nafas mendengar nya. Jika begini ia tidak bisa mengatakan apapun lagi.


“tapi jika yang lain tau apalagi Fely dan Daddy mu Rafa bisa saja mereka tidak terima yang kau lakukan ini”


“Kau tidak perlu cemas, bang Nio kagak bakal marah apalagi Fely, kau seperti seorang amnesia saja” Nathan mendegus mendengar ucapan adik iparnya tersebut.


“Sudah lah lebih aku tidur saja” Nathan beranjak dari ruangan tersebut.


“Papa juga harus tidur. Jangan terlalu berlebihan kasihan adikmu” Ucap Derga menepuk pundak Rafa sebelum mengikuti Nathan keluar.


Rafa tidak membalas apapun namun ia masih menatap ke arah komputer di hadapannya.


“Hahh...” ia menghela nafas dengan berat saat melihat adiknya itu tidak bergerak lagi, mungkin pingsan.


Buru-buru ia pergi kesana. Niatnya hanya menakuti-nakuti sang adik tapi tak menyangka sampe pingsan.


Sampe di depan pintu itu, ia buka dengan pelan mengingat adiknya itu berada di balik pintu.


Disana terlihat Azka telah terbaring diatas lantai dingin tersebut.


“Sorry, baby”  ia singkirkan beberapa ular yang berada di tubuh sang adik sebelum menggendongnya keluar. Ular-ular tersebut sudah jinak dan tidak berbisa lagi tapi walaupun begitu tetap saja masih berbahaya. Ia juga merasa tubuh sang adik begitu dingin.


“takut banget ya” gumam nya.


Sampe di kamar ia baringkan sang adik tak lupa mengganti bajunya yang sudah basah karena keringat.


...


Di tempat lain.


“abang sialan! dia membuat kesayangan ku menangis!” dia Fely, bagaimana tau? tentu saja dari cctv dan penyedap suara yang terpasang dalam ruangan tersebut. Apalagi dengan diri nya seorang Hacker sangat mudah baginya.


“Cih...lain kali aku sendiri yang menghukum nya”  ia masih geram saat melihat dengan mata kepalanya sendiri kondisi Azka.


☀️


☀️


☀️


Pagi harinya.


Rafa yang masih terlelap seketika gerbang saat mendengar suara tangisan.


“Hiks...A-azka t-takut...” lirihan itu membuat ia merasa bersalah.


“Ada abang, Azka gak perlu takut lagi” ucapnya semakin mengeratkan pelukannya. Namun ia dibuat cemas saat tangannya menyentuh dahi sang adik.


“Panas” dan itu membuat nya semakin bersalah. Padahal setiap menyiksa para tahanan nya tidak pernah sekalipun ia berasa bersalah itu pun berlaku pada adik-adik nya jika berbuat salah tapi hanya bersama Azka ia merasakan hal tersebut.


Mengambil ponselnya, dan menghubungi Abi segera. Jika ia berteriak tidak berguna karena kamarnya kedap suara.


“Segera ke kamar ku”


Di lantai bawah, Abi yang baru sampe rumah dibuat bingung.


“Ada gerangan apa dia minta gue ke kamar nya” gumamnya.


“Kenapa bang?” tanya Ares yang baru keluar lift dengan seragam sekolahnya.


“Gak, bang Rafa minta ke kamar nya” Ares hanya mengangguk saja.


“Eh...iya, tadi gue cek Azka ke kamar nya gak ada bang... kira-kira kemana si dedek emes  bang...gak mungkin kan udah berangkat sekolah bukan dia banget”


Abi mengerutkan keningnya, “lah mana abang tau, ini aja baru pulang”


“Gitu ya...terus kemana coba?” Abi yang akan menjawab tidak jadi saat ponselnya berdering, disana terpampang nama bang Rafa.


“CEPAT KESINI, ATAU AKU BOM RUMAH SAKITMU!”


“Iya iya..” Abi seketika pucat mendengar nya. Jangan sampe aset berharga nya musnah.


Melihat kepanikan Abi membuat Ares bingung, “kenapa bang?”


“Sudah jangan banyak tanya? Abang singa mu mengamuk” Mendengar itu tentu saja membuat Ares terkejut. Abi juga sudah memasuki lift menuju lantai tiga.


“Kenapa sayang?” tanya Leta melihat reaksi putranya. Disana juga ada Rani, Nadine, Al, Derga dan Nathan.


“Kata bang Abi, bang Rafa ngamuk ma!”


“Hah...”


“Apa mungkin ini ada hubungannya ama Azka” tebaknya yang sekali lagi membuat mereka disana bingung kecuali Derga dan Nathan.


“Azka kenapa?” Nadine tiba-tiba saja merasa khawatir.


“dia nggak ada dikamar mom...aku pikir ia udah bangun”


Mereka menggeleng karena tidak melihat Azka bangun.


“Udah nggak usah cemas, mending sekarang kita ikuti Abi” ujar Nathan melihat wajah panik ketiga wanita tersebut.


“Yaudah”


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT