
Di kamar Azka.
Rafa menarik nafas nya dengan kasar beberapa kali, semua itu karena adik kecil tidak mau berdekatan dengan nya. Azka telah bangun beberapa menit yang lalu, kebetulan saat pertama buka mata yang dilihatnya Rafa, orang yang telah membuat nya jadi seperti ini.
“Kamu marah sama abang?” Rafa bertanya untuk sekian kalinya karena tidak mendapatkan balasan apapun dari sang adik. Tetap tidak ada balasan.
“Oke. Abang anggap kamu masih marah” Rafa mengusap kasar wajahnya. Tatapan nya terus menatap sang adik yang membelakangi nya.
“Azka udah bangun fa” tanya Leta yang baru memasuki kamar Azka sambil membawa mapan berisi bubur dan segelas air putih. Sedangkan Nathan dan Derga sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi. Nadine pergi ke butik dan Rani mengurus urusan lain.
Melvin, anak itu memang jarang dirumah. Abi sudah berangkat ke RS lagi karena ada pasien darurat yang harus ditangani nya.
“Azka, makan dulu yuk...kamu belum makan dari pagi lho” ucap Leta.
Mendengar itu, Azka mengusap perut nya karena memang sudah lapar tapi mengingat Rafa masih disana ia tahan. Ia lagi kesal, ia marah pada pria itu.
“Tapi Azka gak mau liat bang Rafa” lirihnya sangat pelan tapi masih terdengar oleh mereka.
Leta menatap Rafa, Rafa sendiri hanya mendesah pelan. “Rafa keluar” ia mengalah, karena tidak ingin membuat sang adik sampe tidak makan.
Leta hanya tersenyum tipis, baru kali ini ia melihat wajah murung putra bermuka datarnya itu.
“bang Rafa udah keluar... sekarang kamu makan ya biar mami suapin” ucap Leta sembari duduk di tepi ranjang memegang mangkok berisi bubur.
Untuk memastikan Azka berbalik ternyata memang benar sudah tidak ada. Lalu beralih menatap wanita paruh baya yang disebut mama tersebut.
“Itu apa mi? Jangan bilang bubur” tanya dan tebaknya dengan mata memicing.
“Iya...kan kamu sakit jadi harus makan bubur dulu nanti kalo udah sehat baru boleh makan yang lain” Karena ia tau apa yang dipikirkan putra kecilnya tersebut. Rafa sudah menceritakan jika Azka paling tidak suka bubur.
Azka cemberut sembari bersedekap dada, “tetap aja gak enak ma...pasti rasanya hambar banget kayak hidup Raditya”
“Enggak kok...ini tuh bubur ayam sayang bukan bubur biasa...jadi gak ambar kok...terus Raditya yang kamu bilang siapa?”
Mendengar bubur ayam membuat Azka sedikit lega karena masih ada rasanya, lalu menjawab pertanyaan mamanya, “Owh...itu sahabat laknat Azka” Leta geleng-geleng kepala mendengarnya. Tak ingin bertanya lebih lanjut lagi ia mengarahkan sendok yang telah berisi bubur kearah mulut Azka yang sedikit terbuka.
Dan untung saja diterima oleh si empu, walaupun sedikit rada males.
“Daddy sama Mommy mana mi?” tanya usai menelan buburnya.
“Daddy lagi perjalanan pulang sedangkan Mommy ke butik soalnya ada beberapa pelanggan mau ketemu”
“Kak Fely” entah kenapa ia jadi kangen sama kakak cantiknya itu, biarpun terkadang membuat nya sebal.
“Ah...kakakmu itu mungkin sekarang lagi perjalanan kesini. Semua khawatir banget lho saat dengar Azka sakit jadi harus banyak-banyak makan terus makan obat biar cepat sembuh” Ucapnya dengan sebelah tangan terangkat mengelus surai Azka.
Mendengar ucapan yang dilontarkan mami Leta membuat Azka terharu, padahal ia hanya anak angkat tapi mendengar ia sakit saja sudah membuat mereka khawatir banget. Disisi lain ia juga menyalahkan pria yang berstatus sebagai abangnya itu.
“Benaran mi” tanyanya dengan tatapan sendu dengan suara sedikit serak.
Leta tau apa yang dipikirkan putra nya, “iya sayang...kamu kan kesayangan kami...gak ada istilah nya anak angkat...mami, mama, mommy dan yang lain anggap kamu seperti anak kandung sendiri”
Azka merasa tersentuh, tanpa sadar air mata yang ia tahan akhirnya terjatuh, “M-mi...Azka sayang mami” ucapnya sembari menghambur kedalam pelukan sang mama.
Senyuman Leta mengembang mendengar nya sembari membalas pelukan nya.
“Hm...mami juga sayang Azka” balasnya sambil mengecup sayang puncak kepala Azka.
“EHEM... Daddy sama kakak gak dipeluk nih” Deham seseorang yang menyadarkan Azka dan Leta, diambang pintu terlihat Daddy Antonio dan Kak Fely. Lalu berjalan kesana dan ikut memeluk Azka.
“Ish...Azka kan cuman mau pelukan sama mami” degusnya, walaupun sebenarnya ia ikut senang.
Antonio dan Fely hanya terkekeh kecil sambil melepaskan pelukannya begitu pun Leta.
“Daddy ada oleh-oleh lho buat kamu” ujar Antonio sembari mengangkat sebuah paper bag. Yang mana membuat Azka berbinar.
“Bukan cuman Daddy, kakak juga beliin kamu sesuatu”
“Asyiiik...sini” Seru Azka sambil menyodorkan tangannya kearah mereka.
“Etss...nanti dulu, tunggu kamu sembuh baru boleh ambil” Seketika membuat Azka kembali cemberut.
“Ma lihat deh...kalo gini ceritanya Azka gak jadi sayang”
“Minum obat dulu”
“Gak mi, pasti rasanya pahit banget...ogah, Azka gak suka pahit...Azka tuh suka nya pedas ama manis” Azka menggeleng heboh saat melihat pil tersebut. Ayo lah ia tuh paling males minum obat, apalagi rasa nya pahit gitu, amit-amit dah.
“Kalo kamu gak mau minum obat, kakak gak bakal kasih oleh-oleh buat kamu biar buat Al sama Ares aja” ucap Fely yang dianggukan Daddy Antonio. Leta merasa senang sekali melihat perubahan Fely bahkan abangnya yang dingin juga berubah, semuanya berubah semenjak ada Azka. Dan itu membuat nya merasa bahagia.
“Kok gitu sih...main ancaman” degusnya.
“Ada apa nih” pandangan mereka terlihat pada Abi yang baru masuk masih memakai setelan dokter nya.
“Azka udah minum obat” tanya nya pada adik sekaligus pasien nya itu. Sengaja saat pertama kali sampai dirumah ia memilih ke kamar sang adik untuk melihat keadaan nya.
Yang ditanya malah mendegus bahkan menatap dokter muda itu dengan tajam, Abi tentu saja sadar tapi memilih tidak peduli.
“Pasti belum kan” tebaknya tepat sasaran. Saat mendapatkan gelengan dari Daddy, Fely dan mami Leta.
“Adek...minum obat ya, atau mau abang suntik” bujuknya dengan lembut tapi penuh ancaman. Yang mana membuat Azka melotot, apa katanya suntik...cih, ogah banget ia kulit putih mulusnya ke sentuh jarum laknat itu.
“Awas Lo macam-macam!” Menatap tajam Abi.
Bukannya marah, Abi malah tersenyum. “Kenapa takut? masa anak nakal dan ketua geng berandalan takut sama jarum suntik” cibir nya.
Azka menggeram mendengar nya, “terus kenapa? Masalah buat Lo” sentaknya, seketika mendapatkan tatapan tajam dari mereka.
“Boy bahasamu” Azka hanya berdecak mendengar suara dingin Daddy nya.
“Gimana? Kamu pilih minum obat ato jarum suntik” Abi menaik-turunkan alisnya dengan satu tangan bersiap mengeluarkan jarum suntik dari saku jas nya.
“Gue minum obat...puas Lo!” Sarkas nya sembari mengambil obat yang sudah di keluarkan mamanya tadi dan memasukkan kedalam mulutnya.
Abi hanya tertawa dalam hati, padahal ia hanya mengancam tadi. Tidak ada jarum suntik.
“Pinter” Abi mengusap kepala sang adik. Yang mana membuat si empu mendegus.
☀️
☀️
☀️
Hari sudah malam, namun Azka masih bergulung nyaman dalam selimut tebalnya. Lagian mau keluar pun tidak diizinkan.
Sedangkan di luar tepatnya di ruangan tamu. Bagas, Lio, Radit dan Nano yang ingin menjenguk bos mereka malah mendapatkan tatapan tak enak dari para pria disana dan pasti nya mereka di interogasi seperti tersangka saja.
“Mau apa kalian?” Antonio memandang tajam keempat berandalan tersebut.
“K-kita mau ketemu Azka om” Nano menjawab untuk mewakili ketiga sahabat nya.
“Hm” Rafa memandang mereka tidak suka. Begitupun Dergo. Hanya Nathan yang menatap biasa saja. Bahkan Fely pun menatap mereka sangat dingin.
Nadine, Leta dan Rani yang melihat kelakuan para suami dan putra, putrinya hanya geleng-geleng kepala.
“Sudah, kalian pergi saja ke kamar Azka...gak usah peduliin mereka” ucap Nadine. Tentu saja mereka bersorak senang mendengarnya.
“Iya...kalian naik aja ke lantai tiga, lihat aja yang pintunya warna putih itu kamar Azka” sambung Rani.
“Makasih ya tan, kalo gitu kita ke kamar Azka dulu” Lio tersenyum kecil.
Ketiga wanita itu hanya mengangguk.
“Al mana Fel” tanya Nadine pada putrinya karena tidak melihat batang hidung putra nya itu.
“Keluar” Nadine ber oh ria saja karena tau kemana putra nya itu, bukannya ia tidak khawatir hanya saja apa yang dilakukan putranya itu sudah mendapatkan izin dari yang lain. Berbeda dengan Azka, yang menurut mereka masih kecil, makanya saat mendengar apa yang dilakukan anak itu akan ditegur terus.
Ares, anak itu pasti sedang mengganggu adiknya.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT