
Ciitt...
Motor yang bawa Radit seketika berhenti mendadak membuat Azka yang berada dibelakangnya terkejut.
"Ck, kenapa sih dit?" Azka mendegus karena hampir saja ia dibuat terjungkal kebelakang.
"Makanya jangan ngebo mulu lo bos, noh liat kita dikepung" Sahut Radit sembari menunjuk kearah depan. Azka yang baru sadar tampak terkejut.
"jangan bilang mereka babu para setan" batin Azka curiga. Jika benar sudah dipastikan rencana nya gagal lagi.
"Bos, jangan bilang mereka suruhan para pawang Lo"
"Gak tau gue" Azka menggeleng, karena belum pasti juga itu mereka. Saat mengingat ucapan Daddy-nya ia mulai merasakan firasat buruk.
Dua pria berjas hitam keluar dari salah satu mobil bagian depan dan disusul dengan dua lainnya. Mereka berjalan kearah Azka dan Radit yang masih berada diatas motor.
"Kok gue ngerasa ada yang salah dari mereka Bos" Curiga Radit yang mana disetujui oleh Azka.
"Cepat bawa anak itu, bos ingin anak itu secepatnya. Misi kita tidak boleh sampai gagal lagi" Kata salah satu dari mereka. Tentu saja Azka dan Radit mendengar dengan jelas, seketika wajah mereka menjadi masam apalagi Azka.
"Sialan! Mereka pasti mau culik gue" Umpat Azka yang sudah turun dari motornya. Dia tidak takut sama sekali, karena tidak ada kamus itu bagi seorang Azka mengingat dirinya sebagai badboy. Tapi gak tau nanti.
"ANJIING...lepasin gue!" Pekik Azka saat berdua dari mereka menahannya, sementara Radit juga telah ditahan.
"Bangsat Lo semua... lepasin sahabat gue babi!" Radit memberontak saat melihat Azka dibawa paksa oleh mereka.
Azka tentu saja tidak tinggal diam, ia terus memberontak bahkan berteriak kencang meminta pertolongan. Tetapi semuanya percuma, tenaga para titan itu sebanding dengan nya.
"Bocah sialan! jika kau masih tak ingin diam peluru ini akan bersarang di kepala mu" Sentak salah satu dari mereka dengan marah sembari mengeluarkan pistol miliknya.
Tentu saja melihat senjata sialan itu membuat Azka seketika terdiam, dia tidak ingin mati duluan.
"Sebenarnya kalian siapasih? mau apa Lo pada bawa gue heh! atau jangan bilang kalian mau culik gue karena tergoda sama cowok imut kayak gue...tapi sorry ya gue masih normal bukan belok kayak Lo pada...!" Cerocos Azka dengan percaya diri. Radit yang mendengar cerocos Azka hampir saja tertawa ngakak tapi tetap ia tahan mengingat keadaan yang tak mendukung.
Mereka tentu saja semakin kesal dengan suara Azka, ditambahkan lagi Azka terus melakukan perlawanan membuat mereka sedikit kewalahan.
"Cihh...buat dia diam!" Mendengar perintah tersebut mereka tampak mengeluarkan sesuatu tanpa disadari oleh Azka.
Azka yang masih mengoceh tiba-tiba saja merasa pusing, ia menatap mereka dengan tajam, "Sialan Lo---" Umpat Azka sebelum benar-benar kehilangan kesadaran nya.
Radit semakin marah melihat keadaan bos, "LEPASIN SAHABAT GUE BANGSAT!!"
BUGH...
BUGH...
Suara pukulan yang di berikan salah satu dari mereka terhadap Radit, yang mana membuat Radit terkapar. Tendangan dan pukulan itu tidak main-main, Radit bahkan dibuat meringis dan mengaduh.
"Shhtt...bangsat!"
"Apa anak ini juga harus dibawa?" tanya pria yang memukuli Radit tadi kepada temannya.
"Tidak perlu, kita diperintahkan hanya membawa bocah ini"
"Lalu harus kita apakan anak ini, sejak tadi dia berteriak membuatku emosi saja"
"Ck, buat dia sekarat" Mendengar kata-kata teman, pria itu menyeringai dan tanpa aba-aba lagi ia memukuli Radit sampai babak belur. Radit sangat ingin melawan tapi tenaganya melemah saat melihat Azka telah dibawa mereka.
Tak lama setelah kepergian orang-orang penculik tadi sebuah mobil sport hitam juga tampak berhenti dekat Radit yang sedang berusaha untuk berdiri.
Radit menatap mobil tersebut mengernyit, saat melihat orang-orang berjas hitam yang keluar dari mobil tersebut membuat Radit terdiam.
Salah satu dari mereka menghampiri Radit, "Dimana bocah itu?" pertanyaan datar pria tersebut membuat Radit meringis. Kenapa banyak sekali pria berjas hitam mengincar bosnya, segitu menarik nya kah bos menyebalkan nya itu atau ini juga salah satu musuh keluarga angkat bosnya, entahlah ia ingin kabur saja rasanya.
"Saya bertanya pada mu, seperti nya melihat kondisi mu seperti ini sudah dipastikan terjadi sesuatu?"
Radit mendegus dalam hati, sudah tau masih nanya. "Maaf ya om, sebenarnya om siapa sih kenapa mengincar bos saya" Radit memberanikan diri untuk bertanya.
"Bukan urusan mu, sekarang jelaskan siapa yang telah membawa bocah itu. Tidak mungkin keluarga Anderson!"
Radit terdiam kembali, gimana mau jawabnya ia saja tidak tau siapa orang-orang bangsat tadi. Melihat keterdiaman Radit membuat pria tersebut marah dan tanpa perasaan ia memukul tengkuk Radit yang mana membuat Radit seketika pingsan.
ck, kasihan sekali kau Radit!!
Setelah itu mereka membawa Radit, tidak tau apa yang ingin mereka lakukan terhadap Radit.
....
....
Sementara disisi lain, Seluruh keluarga Anderson dibuat kelimpungan atas hilang nya Azka. Mereka tentu saja menyalahkan Dom yang tidak bisa menjaga Azka, sedangkan Nadine hanya bisa menangis karena ia juga merasa bersalah karena mengizinkan Azka pergi. Jika saja ia tau itu hanya akal-akalan Azka pasti ia tidak akan pernah membiarkan nya.
"Maafin aku mas?" Nadine berulang kali mengucapkan kata-kata maaf. Antonio melihat rasa bersalah sang istri tidak menyalahkan nya, begitu pun dengan yang lain mereka melampiaskan pada Dom karena sudah jelas Dom yang patut disalahkan.
"Anak itu benar-benar tidak pernah jera, sudah berulangkali mendapatkan hukuman tapi tetap saja mengulangi hal yang sama" Derga merasa pusing dengan kelakuan nakal sang putra.
"Kalian tidak perlu panik, aku telah memasang alat pelacak di ponsel Azka. Dengan begini kita lebih mudah menemukan nya" Perkataan Rafa membuat mereka disana sedikit lega.
"Apa kamu sudah melacak keberadaan adikmu sekarang Rafa"
"Hmm... Sudah" Yang lain semakin lega, Karena mereka yakin Azka pasti selalu membawa ponselnya.
"Sudah, kita harus secepatnya membawa adikmu, karena kita tidak tau apa yang akan dilakukan para musuh" Mendengar ucapan Antonio mereka buru-buru pergi hanya meninggalkan para wanita, karena tidak mungkin mereka juga ikut.
...
Sekarang mereka telah sampai di lokasi tersebut, namun semuanya tampak keheranan apalagi Rafa.
"Sial! pasti sudah terjadi sesuatu" Rafa hanya bisa mengumpat marah. Ditambah lagi dia juga melihat sebuah motor disana, setelah memperhatikan motor itu Rafa yakin itu milik salah satu sahabat adiknya.
"Seperti nya kita kecolongan, sudah dipastikan mereka yang menculik Azka" Antonio mengerakkan giginya marah.
"Tuan, seperti nya ini ponsel milik tuan muda kecil" Ucap Marko memberikan barang temuan nya kepada Rafa.
Rafa dan yang lain semakin marah saat melihat dengan jelas itu benar-benar ponsel milik Azka.
"BAJINGAN!!"
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT