Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 51



Bugh...Bugh...


Terdengar suara pukulan beberapa kali di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu redup. Jika dilihat dengan dekat di lantai tersebut banyak darah, baik yang sudah mengering atau pun masih terlihat basah.


Disana bagian sudut tengah ruangan tersebut, sekarang terlihat seorang pria sedang menyiksa tahanan nya. Kemejanya yang warna hitam sudah basah oleh darah korban nya. Dia terus melakukan penyiksaan dengan memukul dan menguliti.


Sang korban terus berteriak histeris. Namun, bukan nya berhenti malahan mendengar itu membuat nya semakin semangat.


“AARRRGGGHH...A-AMPUN!!”


“H-hen-tikan...k-u m-mohon, Aakh...” Pria itu hanya menyeringai iblis, tatapan nya seakan meremehkan.


“keke...Ingin kuampuni! Silakan bermimpi bodoh” Ejeknya dengan suara tawa terdengar menyeramkan. Satu tangan mencekik sang korban dengan kuat.


“Salahkan karena kebodohan mu telah membuat ku murka!” suara beratnya makin terdengar dingin dengan aura permusuhan sangat terlihat jelas.


Namun, kegiatan nya terpaksa berhenti mendengar suara seseorang yang baru memasuki ruangan tersebut.


“Bang Daddy memintamu datang ke ruangan nya” ucap pria yang lebih muda itu dengan tatapan datarnya. Dia juga melirik santai tahanan yang disiksa abang nya itu.


“Melvin, kau urus dia. Ingat jangan sampai mati dulu” Ya pria yang baru datang itu Melvin sedang kan yang berbicara baru tak lain adalah Rafa sendiri.


“Oh. Tentu” Tentu saja dia menerima nya dengan senang hati.


Rafa hanya melirik sekilas, lalu beranjak keluar dari ruangan tersebut. Ruangan itu terletak di bawah tanah mansion utama Anderson. Yang memang berguna untuk menyiksa tahanan. Ruangan itu diketahui seluruh keluarga nya kecuali Azka.


Sebelum menemui Daddy nya, ia bersih-bersih dulu karena tubuhnya telah bau amis.


Cklek


“Ada apa Dad?” Rafa langsung mengajukan pertanyaan setelah mendudukkan bokongnya di sofa dalam ruangan kerja Daddy nya.


Antonio yang lagi duduk di kursi kerjanya melirik putra sulungnya itu sekilas lalu berkata, “Bagaimana?”


“Apa kau telah mendapatkan informasi dari dia?” Rafa tau maksud Daddy-nya, dia mengangguk pelan sambil menjawab, “sudah jelas ulah bajingan itu lagi! Kau harus lebih waspada dad, bajingan itu tidak akan berhenti menjatuhkan kita dan yang perlu di perhatikan kedepannya Azka”


Antonio mengepal erat tangan nya, “Hm...dia tidak pernah mundur. Selalu mengganggu ketenangan keluarga kita”


“Kau benar son, tidak mungkin dia tidak akan mengetahui tentang Azka kedepannya”


Terlihat gelengan dari Rafa, “Bukan kedepannya. Dari awal dia sudah mengetahui tentang Azka. Bahkan orang suruhan nya sudah pernah menyerang Azka. Tepat nya markas geng di pimpin Azka!”  Dia menatap Daddy datar.


“mungkin Dad belum mengetahui karena memang awalnya aku dan Fely sengaja menutupi untuk sementara waktu sampai selesai menyelidiki kebenaran dan setelah di selidiki Fely ternyata memang benar ulah dia!”


Antonio terdiam. Namun, dari tatapan nya terlihat menyimpan amarah besar. Kenapa harus Azka! dulu dia menargetkan Alister Dan sekarang Azka. Walaupun bukan putra kandung tapi dia sudah menganggap Azka seperti anak kandungnya. Rasa ingin melindungi sangat besar dihatinya.


Se nakal apapun Azka, dia tetap menyayangi nya.


Tak beda jauh dari Rafa, dia juga merasakan hal sama tapi sebagai seorang abang melindungi dan menyayangi adiknya. Adik nya memang banyak tapi sangat berbeda dengan Azka, dia berbeda dengan yang lain.


“Untuk ke depannya perketat penjagaan Azka, termasuk Alister dan Ares”


“Yang jelas semua keluarga kita, jangan biarkan mereka pergi tanpa pengawasan” titah Antonio.


“Tentu Dad, kau tidak perlu khawatir” jawab Rafa dengan tegas.


“Dan jangan lupakan aku juga Dad!” sahut Melvin baru saja masuk tanpa permisi. Bahkan pakaian nya belum diganti. Antonio dan Rafa hanya menatap datar dan jengkel. Apalagi Antonio sebagai tuan ruangan tersebut.


“Kau bau amis bodoh. Sana mandi” sentak Rafa. Namun, Melvin hanya melirik abangnya itu acuh.


“Sudah masuk ke kamar kalian. Jangan mengganggu Daddy” usir Antonio. Terlalu malas berlama melihat muka datar kedua putranya ini. Mereka hanya melirik Daddy-nya dingin, Berani sekali tua bangka ini mengusir mereka kira-kira seperti itulah ucapan mereka. Tetapi tetap keluar.


“Bagaimana dengan adik kecilku? Apa kalian sudah memberinya makan?!” tanya Rafa pada Melvin dengan tatapan menghunus. Karena sehabis makan malam tadi dia sudah berada di ruangan bawah tanah.


Tentu saja Melvin tidak terima dengan pernyataan menjengkelkan itu, “Ciihh...dia juga adikku. Dia sudah makan, sekarang dia sudah tidur di kamarnya”


“Siapa?”


“Daddy” Rafa berdeham pelan, lalu membawa langkah lebarnya ke kamar adik kecil nya. Sementara Melvin pergi ke kamar nya, dia juga tidak betah lagi memakai pakaian penuh darah. Dia memang kejam dan pscyopat, tapi tidak separah Daddy nya, abangnya dan adiknya Fely.


...


Cup


“Kesayangan abang” ucapnya usai mengecup dahi itu. Dengan satu tangan bergerak menelus surai hitam itu. Azka merasa sedikit terganggu seketika menggeliat sembari bergumam kecil.


“Heumm...”


“Syutt...bobok lagi dek” ucap nya sambil menepuk bokongnya. Jika saja Azka dalam keadaan sadar pasti akan mengamuk bokong semok nya di tepuk begitu, harga dirinya sebagai ketua Cobra akan ternodai.  Keempat sahabatnya saja akan tertawa terbahak-bahak jika mengetahuinya.


Pada akhirnya, Rafa memilih tidur disana. Dia juga kangen tidur bareng adik kecilnya. Mengingat beberapa hari sejak adiknya di rumah diri nya sering sibuk mengurus pekerjaan.


☀️


☀️


☀️


Keesokan harinya.


Awal berangkat tadi sampai di sekolah. Mulut tipis Azka tidak berhenti menggerutu dan berdecak sebal.


“bang Rafa?” Azka menatap mohon abangnya tersebut sambil mengatup kedua tangannya.


“Ayolah. Azka gak nggak mau di ekorin titan terus!” rengeknya lagi dengan mimik memelas. Jika dia memiliki keberanian sudah ia bogam abangnya itu.


“Tidak. Ini demi kebaikan mu! Mereka akan menjaga mu selama di sekolah jadi jangan merengek lagi” ucap Rafa tak terbantahkan.


Azka menghentakkan kakinya kesel. Apalagi saat melihat tatapan dan berbagai bisikan dari murid-murid lain membuat nya makin kesel. Semua penghuni sekolah tersebut telah mengetahui tentang Azka yang diangkat menjadi bungsu nya Keluarga Anderson semenjak Fely menghantarkan dia ke sekolah, apalagi Alister sendiri mengatakan nya. Dan karena kecerobohan Alister juga Azka mulai jadi incaran musuh Daddy nya. Tapi tetap saja masih ada yang tidak percaya begitu saja, bahkan ada yang terang-terangan menghujat Azka, tapi pada akhirnya mereka dapat hadiah dari Azka sendiri.


Namun, sekarang bagi mereka yang tidak percaya itu akhirnya mengakui. Saat dengan mata kepalanya sendiri melihat Azka diantar putra sulung Antonio Bernard Anderson.


“Sudah sana masuk” Lalu pandangan teralih kearah Alister dan para sahabatnya yang kebetulan datang barengan.


“Al jaga adikmu, jangan biarkan dia keluar dari pengawasan”  


“Hm...pasti” Azka mengerucutkan bibirnya sebal, apalagi saat melihat tatapan menyebalkan ketiga sahabat Alister membuatnya makin murka.


“Gue colok mata lian mampus!” cetusnya galak.


“Ututut...kita atut” ledek mereka dengan wajah mengejek sembari tertawa ngakak.


“belajar yang benar, abang juga mau ke kantor” sembari mengacak-acak rambut nya.


“iye, dah sana pergi” usirnya dengan ketus sambil menepis tangan itu. Rafa hanya mengulum senyumnya melihat wajah kesel itu, baginya sangat menggemaskan.


Setelah mobil milik Rafa jalan. Azka melanjutkan langkahnya menuju kelas, tentu saja buntuti dua titan. Jangan lupakan Alister bersama sahabatnya berada di sebelah kanan dan kirinya.


“Ck, pengen bunuh”


“Mau bunuh siapa lo?” Naufal melirik adik sahabat nya itu tengil.


“Bunuh elo, muak gue liat muka Lo soalnya mirip babi ngepet” seketika mengundang tawa Kenzi dan Samuel sementara Alister hanya terkekeh.


Wajah Naufal berubah merah padam, “Setan, mulut Lo pakai cabe berapa rawit, pedas amat njiim!” jika tidak ingat nih anak adik Al sudah ia bogem mulutnya.


“satu ton cabe rawit mentah!” jawab Azka asal. Seketika Naufal dibuat bungkam.


...


Sampai di kelas, kekesalan semakin besar. Gara-gara keempat sahabatnya dan teman-teman sekelasnya.


“Awas Lo dua titan, gue habisin Lo habis sekolah nanti” jeritnya dalam hati menyalahkan kedua bodyguard tersebut. Tapi apa mungkin dia bisa melakukan ucapan nya tadi, sangat meragukan.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT