
Azka tidak langsung pulang, di pertengahan jalan dia mendapatkan kabar buruk dari anak-anak Cobra.
Sesampai di markas.
“Bagaimana bisa kayak gini!” Rahang Azka mengeras saat melihat anak-anak Cobra berada di markas luka-luka bahkan ada yang tak sadarkan diri.
Tak juah beda dengan Bagas, Nano, Radit dan Lio.
“Ini nggak bisa dibiarin” Lio mengepalkan tangannya kuat.
“Lebih baik antar mereka yang ke rumah sakit” perintah Azka yang sekarang sedang memapah Fano untuk duduk. Keadaan markas juga kacau banget. Semua barang-barang berantakan, jelasnya namanya juga habis di serang.
Bagas menelepon salah satu orang kepercayaan ayahnya untuk membawa mereka berobat. Jangan heran kedua orang tua Bagas mengizinkan putra mereka ikut geng tersebut.
“Fan, sekarang Lo cerita siapa dalangnya”
“Gue nggak tau tapi yang jelas mereka berpakaian hitam semua, bahkan ada yang bawa pistol” Mendengar penjelasan Fano, membuat kening Azka berkerut. Pantasan saja banyak luka parah. Tapi ia juga bersyukur tidak ada yang sampe kehilangan nyawa.
“Ka, kok gue ngerasa aneh ya. Seingat gue kita tuh gak ada punya musuh selain geng lion tapi sekarang nggak mungkin kecuali...” Radit menjeda perkataan sambil menatap Azka.
“maksud Lo anak-anak yang pernah nyerang waktu kan” ucap Azka membenarkan.
“Tepat banget bos, bisa aja ada hubungan nya sama mereka. Tapi yang bikin bingung kenapa sampe pakai senjata api segala, bahaya banget tau nggak” Selama ini mereka tawuran nggak pernah yang pakai senjata api kecuali pisau sama tongkat baseball.
“mereka bahkan nggak bilang akar permasalahannya” tambah Fano yang sesekali meringis karena luka di kakinya, itu luka tembakan, Azka juga baru sadar akan hal itu.
“Lebih baik bawa Fano berobat dulu, masalah ini biar gue yang urus” Radit membantah karena kondisi Fano lebih utama.
Sekarang hanya tinggal Azka, Bagas dan anak-anak lainnya yang baru datang.
“Menurut Lo gimana gas?” Jangan pikir ia tidak marah, malahan ingin memukul orang rasanya tapi setelah mendengar penjelasan Fano ia jadi bingung.
“Mungkin mereka bukan dari geng seperti kita!”
Azka mengangguk, “tapi ngapain mereka nyerang geng kita, bahkan mereka tidak mengatakan alasan apapun, bingung gue”
“Bangsat!” memukul dinding dengan tinjunya.
“Sial” Sekali lagi tangan nya melakukan hal sama bahkan sampe mengeluarkan darah.
“Ka, udah” Bagas juga sama emosinya tapi ia tidak sampe melukai diri sendiri.
“Gue marah gas, dari pada gue pukul wajah Lo!” sentak nya menatap Bagas dengan wajah merah. Bagas hanya menghela nafas panjangnya, “Gue tau, sekarang Lo berhenti. Tangan Lo udah berdarah” ia menarik tangan Azka yang di jadikan pelampiasan itu.
“Ck, ini belum seberapa sama apa yang terjadi ama mereka!” Sambil menarik tangan yang dipegang Bagas.
“Bos” panggilan itu membuat mereka menoleh.
“Apaan” saat melihat salah satu anggota nya menghampiri nya dengan wajah tidak biasa.
“I-itu bos—“ belum juga selesai ngomong sudah dipotong oleh suara berat seseorang.
“Azka!” Membuat mereka menoleh kearah sumber suara tepat kearah pintu masuk, Azka seketika melotot melihat siapa yang datang.
“B-bang Rafa...K-kak Fely” ucapnya. Yap mereka Rafa dan Fely diikuti oleh Marko di belakang. Dari tatapan saja sudah terlihat tidak baik.
“Pulang!” Tekan Rafa memandang adiknya itu dengan tajam. Sedangkan Fely hanya diam sembari bersedekap dada, tapi perlu diketahui dia lah yang paling marah.
“Nggak bisa bang” tolak nya.
“Hm...sudah berani membantah” Rafa menyeringai, lalu tanpa aba-aba ia angkat tubuh adiknya yang mana membuat Azka terpekik.
“Kyaaaa...turunin gue bangsat! Lo gak budeg kan, gue bilang nggak bisa...gue lagi ada urusan!”
Puk
Azka terbelalak merasakan pinggul montoknya di tepuk cukup kasar.
“Diam. Perbaiki bahasa mu!” tegas Rafa dengan mata menatap Marko seperti memerintah sesuatu. Namun saat akan melakukan nya langsung di dahului Fely yang sudah mengeluarkan sesuatu lalu tanpa beban menyuntikkan ke pinggul sang adik.
“Ssstt... s-sakit bangs-at!” umpat nya sebelum penglihatan nya mulai gelap, Azka pingsan. Mereka tersenyum tipis, Rafa mengangkat tangan besarnya mengusap kepala kesayangan nya itu yang sudah terkulai di bahu lebarnya.
Berbeda lagi dengan anggota Azka, termasuk Bagas. Mereka tentu saja tidak mengerti maksud ketiga orang itu kecuali Bagas.
Rafael yang akan melangkah keluar menghentikan langkahnya begitu pun Marko dan Fely.
“Kenapa? Kau tidak suka saya membawa adik saya sendiri” Tekan Rafa dengan suara dingin nya.
“Hm... dasar bocah” Degus Fely masih dengan tatapan datar dan suara dinginnya. Mendengar nya membuat mereka disana terkejut, hanya Bagas yang terlihat biasa saja. Namun tak pungkiri dirinya ingin memukul pria itu karena sudah harus sampai membuat bosnya s tidak sadar kan diri.
“Biarkan saja, apa yang dikatakan nya benar” Ucap Bagas seketika menghentikan protes mereka.
Rafa dan Fely hanya melirik sekilas lalu berjalan keluar dari markas geng berandalan itu yang sayangnya di pimpin adiknya sendiri.
Di luar Radit, Nano dan Lio yang baru balik dari RS hanya menatap bodoh mereka apalagi saat melihat bos mereka dalam gendongan pria dingin namun tampan itu.
“Hm...kalian juga lebih baik pulang” Suara Fely terdengar sebelum mengikuti abang nya masuk mobil. Membuat mereka bertiga tersentak begitu pun anak-anak lainnya yang tampak ikut keluar memandang kepergian mereka.
“Dingin amat njiir...”
“Bahkan bulu kuduk gue ikut berdiri”
“Nggak nyangka gue si bos punya saudara ama suadari kayak mereka”
“iya... mereka keren banget”
“Lah bukannya yang gendong si bos tadi dari keluarga Anderson”
Dan masih banyak lagi bisik-bisikan disana. Wajarlah karena baru kali ini mereka melihat hal begini, keliatan sekali posesif banget.
Sedangkan keempat cecurut hanya menghela nafas panjangnya. Mereka juga bersyukur ada yang peduli sama si bos selain mereka dan anak-anak Cobra.
☀️
☀️
☀️
Di Kediaman Anderson.
Rafael membawa Azka yang masih dalam keadaan obat bius menuju kamar diikuti oleh Fely yang tampak sudah membawa sesuatu di tangannya.
Nadine, Rani dan Leta yang lagi ngobrol santai di ruangan keluarga juga ikut. Untuk para lelaki lain nya belum pada pulang.
“Azka kenapa nak?” Itu lah pertanyaan pertama kali diajukan Nadine.
“Iya, kenapa sampe digendong begini” tambah Rani.
“Aduh...itu tangan adek kenapa?” Cemas Leta saat melihat salah satu punggung tangan kesayangan nya itu terluka bahkan darahnya sudah mulai mengering.
Rafael telah memindahkan adiknya itu ketempat tidur, sedangkan Fely segera mengobati luka itu. Dia sangat marah melihat tangan mulus itu lecet.
“Shiit...lihat saja, kakak tidak akan membiarkan mu ketempat tadi lagi" Batinnya.
“Rafa, mending kamu bersih-bersih dulu biar mommy yang bantu ganti pakaian Azka” ucap Nadine saat melihat putra sulungnya itu akan membuka seragam adiknya.
Rafa tidak membantah, lalu melangkah kearah pintu keluar namun sebelum itu ia mengecup sayang dahi sang adik.
“Anak nakal, kau harus diberi hukuman”
Rani dan Leta juga memilih keluar tujuan nya dapur, mereka akan memasak mengingat sebentar lagi yang lain akan pulang. Walaupun ada pembantu namun soal memasak untuk keluarga mereka sendiri melakukan.
Mereka juga tidak ingin pulang karena masih ingin dekat dengan Azka.
“Leta, kayak nya kita harus ngomong sama para suami deh untuk tinggal lebih lama disini kalo bisa kita tinggal disini lagi bersama”
Mendengar perkataan Rani membuat Let’s mengangguk setuju. Semua itu karena Azka, sejak bocah itu menjadi bagian keluarga ini mereka tidak ingin menjauh dari anak itu.
“Bagus juga. Nanti kita bahas sama mereka” Mereka bertos ria. Para maid yang tak sengaja mendengar nya cukup terkejut ternyata segitu sayangnya mereka sama tuan muda kecil.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT