Azka Vincent

Azka Vincent
Episode 39



Malam harinya.


Azka terlihat mencak-mencak sendiri dalam kamar karena tidak diperbolehkan keluar. Padahal ia mendapatkan kabar dari sahabatnya si Raden menantang nya lagi. Dan jika ia tidak datang bakal di bilang pengecut. Seorang mana terima disebut begitu.


“Gimana bos? Lo jadi datang kan” Sekarang ia lagi bercakap panggilan suara dengan Radit.


“Maunya gitu, tapi sekarang gue bingung! Pintu kamar gue di kunci...gimana gue mau keluar coba?”


“Hah...Lo serius bos, teruus gimana dong? Masa iya Lo terima gitu aja di bilang pengecut...lagian napa bisa kamar Lo dikunci...jangan bilang Lo dihukum ya!”


Ia mendegus, “kagak, mungkin karena gue bolos deh makanya gak di bolehin keluar... gue yakin setelah ini bakal susah keluar” Disisi lain nyesel juga ia masuk dalam keluarga posesif ini. Kebebasan nya mulai terganggu.


“Mampus Lo bos? Untung bukan gue jadi elo”


“Bacot Lo, tenang aja gue bakal usaha in cari jalan keluar, tunggu bentar” Lalu tanpa mendengar balasan dari Radit langsung ia matikan.


Memasukkan ponselnya kedalam saku celana nya dengan meliarkan mata.


“Ck, jendela. Kenapa gue nggak ke pikiran dari tadi sih, goblok” dengan langkah seribu ia berjalan kearah jendela lalu membukanya.


Namun, saat melihat ke bawah ia langsung pucat, “njiir...tinggi amat! Gimana gue mau turun” lirihnya, ia melupakan jika mansion ini memiliki empat lantai, sedang kan kamarnya berada di lantai tiga.


“Gak ada jalan keluar lagi” menguatkan hati dan mentalnya lalu keluar. Sebenarnya tidak terlalu sulit dengan menginjak tepi batasan antara lantai ke lantai lainnya. Dengan hati-hati ia lakukan dan Hap...


“Hahh... akhirnya sampe juga” lega nya dengan nafas sedikit berat. Benar-benar butuh perjuangan berat untuk sampe bawah.


Tetapi rasa tenang seketika berubah kesal saat melihat dua penjaga mengawasi gerbang depan.


“Sial, gue lupa nih rumah banyak kingkong nya”


“sekarang gimana caranya gue bawa motor keluar” Ia berpikir sejenak, kemudian menjentikkan jarinya mengingat sesuatu.


“Mending pakai motor Bagas aja, sekarang gue hanya perlu cari cara ngecohin mereka” Sembari tersenyum licik. Ia berjalan dengan pelan sembari mengendap-endap mendekati para penjaga tersebut.


“Serius amat dah” sambil tertawa cekikikan saat melihat tatapan lurus mereka ke depan persis kayak patung.


Mengambil sebuah baru cukup besar dan melemparkan ke arah berlawanan. Dan benar suara itu membuat mereka terkecoh.


Saat melihat mereka lengah, Azka langsung bereaksi berlari kecil keluar.


“Hehehe...mampus Lo pada” sorak nya dalam hati setelah berhasil keluar.


“Apa kau mendengar sesuatu? Seperti ada yang melewati gerbang” tanya yang satu pada temannya usai melihat suara lemparan Azka tadi.


“Tidak” temannya menggeleng.


“Mungkin perasaan ku saja”


Sedangkan, Azka yang telah jauh dari rumah meminta Nano menjemput nya.


☀️


☀️



“Apa taruhan nya, Hm!” Sekarang mereka telah bersiap di garis start. Hanya berdua  ia dan Raden.


“Motor gue” jawab Raden dengan tatapan permusuhan.


“Kali ini gue yang bakal menang” ucapnya. Azka hanya tersenyum remeh. “Jangan percaya diri dulu Lo! Kita liat aja siapa yang bakal menang” Lalu memakai helmnya. Sorak-sorai terdengar dari para penonton. Seorang wanita seksi berjalan ke tengah jalan sambil membawa sebuah bendera.


“satu...


“dua...


Hitungan ketiga


Brum...


“Gooo....”


Motor mereka langsung melaju saling mengadu kecepatan.


“Apa gue bilang malam ini gue yang bakal menang” Raden tersenyum puas dibalik helmnya melihat Azka tertinggal di belakang. Mengurangi kecepatan nya karena yakin dirinya pasti bakal menang. Hanya tinggal sedikit lagi sampe di garis finish.


Sedangkan Azka hanya tersenyum tipis melihat lawannya jauh di depan.


“Udah dua kali main sama gue tetap aja sama, bodoh”


“Nikmati kekalahan lo” Azka menyeringai sembari menambah kecepatan laju motor dan melewati motor lawannya.


“Sialan!” umpat Raden melihat Azka berhasil memotong nya. Ia menyesal meremehkan tadi.


Brumm...


“Yeaah... Azka menang lagi” berbagai sorak baik pujian terus didengar oleh Azka. Membuat nya semakin tersenyum bangga.


Raden menggeram beberapa kali, sekali lagi ia kalah.


“kan udah gue bilang? Yang menang tuh gue, Lo nggak pantas menang...mending hapus deh gelar raja jalanan palsu Lo, gak guna!” mendengar ejekan itu tentu saja membuat nya semakin emosi dan malu.


“Hahaha...makanya jangan nantang bos sembarangan, Lo tuh masih baru disini” Lio tertawa terbahak-bahak tak jauh beda dengan yang lain.


“Bangsat!” Raden yang sudah terlanjur emosi tak terima dengan kekalahan nya tiba-tiba saja maju kearah Azka memberi bogeman.


Bugh...


Azka tentu saja terkejut mendapatkan bogeman tiba-tiba, Radit dan yang lain tentu saja tidak terima.


Bugh...


Bagas membalas dengan cukup kuat membuat Raden terhuyung ke belakang, “Kenapa? Lo gak terima kekalahan Lo!” Bagas menatap dengan tajam dan dingin. Orang-orang disana hanya menatap heran namun tak seberapa juga mencibir Raden.


Raden menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah sembari berdecih, saat ingin membalas lagi pergerakan nya dihentikan oleh seseorang.


“den” dia salah satu temannya.


“Mending kita cabut aja, lo gak liat mereka banyak sedangkan kita cuman sedikit” ucap nya dengan pelan untuk menyadari temannya itu.


“lo udah kalah den, jangan malu-maluin” bisiknya lagi saat melihat tatapan sinis orang-orang disana.


Raden mengepal tangannya kuat, karena dikatakan temannya benar juga.


“Urusan kita belum selesai” ucapnya sebelum beranjak dari sana.


“eps...Lo nggak lupakan sama taruhan Lo ama bos gue” kata Radit saat melihat Raden akan membawa motor nya. Sekali lagi dia hanya bisa menahan nya, dengan tak ikhlas ia berikan kunci motornya yang langsung diterima Radit dengan senyuman puasnya.


“Cih...gak tau kita siapa?” Decih Nano.


“Lo nggak papa bos?” Azka hanya mengangguk, bogeman kecil tadi tidak masalah baginya. Tetapi tetap saja ia sangat kesal karena pipi mulus nya dipukul gitu aja, lihat saja nanti akan ia balas dua kali lipat.


“Kayaknya tuh anak gak bakal diam aja deh bos...dilihat dari tatapan nya kayak mau makan Lo hidup-hidup bos” seru Lio yang dianggukan oleh mereka.


“tinggal habisin saja tuh anak, berani banget macam-macam ama si bos” Ucap Fano yang terlihat masih kesal sama Raden tadi.


“Dah cabut, bisa berabe sampe gue ketahuan” ucap Azka. Mereka mengangguk sembari menaiki motor masing-masing.


“Terus nih motor gimana bos” tanya salah satu anak anggota nya menunjuk kearah motor Raden tadi.


“Mending Lo bawa aja ke markas” karena tidak mungkin juga ia bawa kerumah bisa makin rumit urusan nya.


“Oke bos”


...


Tak butuh lama ia sampe diantar oleh Bagas, “thanks bro...gue masuk dulu” ucap nya sembari menepuk pelan pundak Bagas yang hanya dibalas anggukan oleh nya.


“Gue cabut”


“Ye... hati-hati Lo”


“Hm” Bagas kembali melajukan motornya untuk pulang. Sedangkan Azka kini sedang celingak-celinguk dengan raut saat tak melihat kedua penjaga tadi.


“Lah kemana mereka? Gak mungkin tidur kedalam kan” herannya.


“Eh...tapi ini baik banget bauta gue... hehehe...” Bodoh amat lah mereka pada kemana yang penting ia bisa masuk dengan aman sampe masuk kamar.


“Manjat lagi deh” Seperti nya ia tak menyadari akan sesuatu. Mungkin terlalu senang ia sampe lupa memperhatikan sekitarnya.


“Ehem...Dari mana!”


“Habis main lah” jawabnya dengan santai.


“Main apa?”


“Ck, kayak nggak tau aja lo...” eh tunggu gue ngomong sama siapa” Dengan gugup ia mencoba berbalik untuk memastikan.


Deg


Seketika badannya jadi kaku melihat siapa didepannya.


“P-papa...”


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT