Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Akhir!



Ya Allah, sedih sekali melihat Tole Ridwan dan Mbak Khumaira begitu terpuruk. Saat proses pemakaman, Mbak Khumaira terlihat lemah tanpa ada cahaya kehidupan.


 


Tole Ridwan terus menangis di pelukan Abah.


 


Sekarang tepat 100 hari Mas Azzam kembali ke sisi Allah. Jadi teringat kembali saat Mas Azzam bertingkah aneh dan baru kutahu sekarang.


 


Jika manusia hendak pulang ke Rahmatullah, maka ia merasa dari hari ke 100. Bodohnya diriku tidak peka akan kode Mas Azzam.


 


"Mas Azzam, apa kamu sudah tenang? Aku rasanya hancur lebur mengingat kebersamaan kita."


 


"Mas," panggil Zahira mengagetkan aku.


 


"Ada apa, Dik?"


 


"Gih makan, Adik buatkan makanan."


 


"Terima kasih ya, Dik."


 


"Mau Adik ambilkan?" tawar Dik Zahira.


 


"Boleh," sahutku.


 


Mas, apa ini akhir dari segalanya?


 


Aku tatap Ridwan sedang merenung sendiri dengan derai air mata. Aku langsung mendekat dan mendekap tubuh mungilnya.


 


"Le, jangan menangis."


 


"Paman," tangisnya sembari merengkuh leherku erat.


 


"Tenang, Le jangan sedih."


 


"Paman katakan Abi bakal pulang kan? Kenapa lama sekali pulangnya?"


 


"Tunggu ya, Le. Sudah jangan menangis, ayo makan."


 


Iya Tole Ridwan aku bawa ke kantor untuk menjaganya. Alasanya karena Mbak Khumaira menjadi patung tidak tersentuh, tanpa kata dan selalu termenung dengan pandangan kosong.


 


"Mas," panggil Zahira.


 


"Iya, Dik?"


 


"Aku pulang dulu, Dedek Ridwan Bibi pulang dulu."


 


"Um," gumam Ridwan lalu merengkuh tubuhku kembali .


 


Ya Allah, sesak sekali melihat Tole Ridwan tidak mendapat perhatian Mbak Khumaira.


 


Bukan aku menyalahkan tetapi ada Ridwan yang perlu di lihat. Anak sekecil Tole harus di telantarkan akibat keterpurukan sang Ibu.


 


Memang Mbak Khumaira terpuruk karena kehilangan Suami dan calon anaknya. Hati mana yang tidak hancur kehilangan dua orang yang sangat dicintai. Bahkan aku tidak sanggup menerima cobaan seberat itu.


 


Mbak Khumaira pasti kuat menerima kejamnya dunia. Semoga Mbak mampu melewati badai besar ini demi, Tole Ridwan.


 


Aku usap beberapa kali untuk menidurkan Tole Ridwan dan akhirnya tertidur juga.


 


Wajahnya begitu tampan mirip Mas Azzam. Bulu mata panjang nan lebat membingkai mata besarnya. Pupil Hazel mirip mas Azzam. Hidung mancung dengan ujung runcing lalu bibir berbentuk hati.


 


Masyaallah, mirip sekali dengan Mas Azzam. Bila boleh jujur mungkin duplikat Ayahnya.


 


Inilah akhir dari kisah mereka.


 


Selamat jalan Mas Azzam, semoga tenang di alam sana. Doaku menyertai mas.


 


***


 


Aku tatap foto Masku penuh rindu. Kuusap kaca penuh kekalutan.


 


Suamiku telah pergi 100 hari yang lalu dengan membawa buah hati kedua kami. Mas Azzam telah pergi membawa Fadil untuk selamanya.


 


Mungkin Allah murka karena aku terlalu terpuruk sehingga mengambil karunianya.


 


Sungguh, aku tidak kuat menahan cobaan ini. Hatiku hancur lebur tidak ada sisa.


 


 


Mas, Adek rindu.


 


Ya Allah, rasanya sesak sekali.


 


Tole Ridwan, kamu sedang apa, Nak?


 


Maafkan Umi belum bisa bangkit dari rasa sakit. Umi belum sanggup menopang diri untuk berdiri merengkuhmu.


 


Maafkan Umi karena mengabaikan Tole. Demi Allah, Umi sangat merindukan, Tole Ridwan.


 


Setiap melihat Tole Umi selalu ingat, Abi. Tidak sanggup rasanya berhadapan dengan, Tole Ridwan.


 


Tidak kuasa air mata meluncur deras setiap melihat mata dan wajahnya.


 


Ya Allah, ampuni hamba menelantarkan Putraku. Mas maafkan Adek karena menelantarkan Putra kita.


 


Maaf.


 


Mas, aku tidak sanggup menatap masa depan. Tidak sanggup bertahan saat anak kita memilih ikut bersama, Mas.


 


Adek harus bagaimana Mas?


 


Ya Allah, tolong hamba. Beri saya kekuatan untuk menjaga Putraku dan membesarkan Tole Ridwan.


 


Mas, Adek ingin ikhlas tetapi tidak mampu karena kita di takdirkan bersama.


 


Ya Allah, beri tempat yang layak untuk Suami hamba. Berikan cahaya untuknya.


 


Ya Allah, hamba khilaf dan akan berusaha ikhlas menerima kepergian Masku.


 


Semoga Allah menaungani Mas di tempat yang teduh, Amin.


 


Inilah kisah kami yang awalnya penuh cinta, penuh warna dan kasih sayang. Tetapi berakhir pilu.


 


Kisah cinta suci antara kami yang terikat pernikahan.


 


Pernikahan penuh kebahagiaan antara aku dan Mas Azzam, kini hanya tinggal kenangan.


 


Mas Azzam, semoga tenang di alam sana.


 


Adek sangat mencintai Mas karena Allah.


 


Assalamu'alaikum Imamku.


 


Semoga kita bisa berjumpa kembali, Amin.


 


Allahu akbar Walillaahil-Hamd, dengan menyebut nama Allah aku ikhlas menerima cobaan ini.


 


Terima kasih ya Allah.


 


Tole Ridwan, Umi datang Nak.


 


****


TAMAT


****


 


Semua kisah tidak semuanya berakhir manis. Inilah kisah cinta ta'aruf berakhir sad. Hanya ada kebahagiaan walau sebenarnya kehancuran yang menyertai.


 


Kisah cinta penuh keromantisan berakhir tangisan pilu.


 


Seperti hati yang rusak oleh ketidak berdayaan. Kisah cinta tulus berakhir sebuah duka pahit.


 


The Last Story : Assalamu'alaikum Imamku!


****//****


Tim kejutan di Extra part yang ada di buku. Nantikan hadirnya buku ini. Akan terbit segera, Insya Allah!


Bonus pick!



Cocok ngga pick di bawah ini jadi Laila? Uhuy, selamat menikmati Sayangku!