
...Aziz POV On!...
Aku termenung memikirkan mimpi yang luar biasa indah, tapi juga menyakitkan.
Aziz, ingat itu mimpi tidak bagus memikirkannya. Aku merasa kosong semenjak mimpi gila itu, tidak ayal membuat aku mengeram frustrasi.
"Ya Allah, jika dia jodohku tolong persatu kan kami. Jika bukan hilangkan ingatan mimpi bersamanya."
Suara ketukan membuat aku sadar, sontak kembali mem-packing pakaianku. Besok aku akan melakukan interview di Universitas Gadjah Mada sekaligus bekerja di kantor.
Ngomong-ngomong, Abah dan Ummi melarang aku untuk kembali ke Kairo dan menyuruh tetap tinggal. Sejatinya aku sudah berusaha memohon agar kembali ke Kairo, tetapi tetap saja tidak diizinkan.
Aku tidak betah di sini makanya aku izin mencari kerja di Yogyakarta. Awalnya tidak boleh, tetapi karena usaha keras membuat Abah dan Ummi luluh.
Ini gila, aku akan jadi Dosen sekaligus pekerja kantoran. Aku yang tampan rupawan akan jadi idaman dan banyak fans girl. Benar-benar risiko pemuda tampan tidak terbantahkan.
Kenapa aku bekerja keras? Alasannya gampang. Karena aku ingin calon Makmum ku hidup bahagia penuh kenyamanan.
Jika menikah nanti, Istriku aku suruh di rumah sembari menjaga buah hati kami. Biarkan aku yang kerja jangan dia. Karena tugasku menafkahi, memberi kenyamanan, cinta dan perhatian.
Apa aku sudah pantas untuk menikah? Sejatinya sudah ... tapi, aku tidak ada niat untuk melangkah menuju pelaminan jika belum sukses.
Bayanganku ingin menikahi wanita Shalehah, baik hati, tutur kata serta akhlaknya baik. Dan aku berharap bisa merubah diriku menjadi lebih baik lagi serta bisa membawaku ke jalan yang lurus saat tersesat kelak.
Mimpi itu kembali mampir di ingatan setelah sekian lama tak memimpikannya lagi. Bahkan mimpi kali ini jauh lebih indah yaitu saat aku, Istriku serta 3 anak kami makan bersama.
Ya Allah hilangkan mimpi aneh itu dalam ingatan hamba.
Setelah siap melakukan perjalanan aku pamitan pada Abah dan Ummi serta saudara dan Ipar ku. Niat awal Mas Nakhwan akan mengantar, tetapi aku tolak. Lagian aku juga punya mobil, alhasil berangkat sendiri.
Besoknya aku siap ke UGM untuk melakukan interview. Gila, apa aku harus berhadapan dengan para wanita genit yang terang-terangan menatapku memuja?
Risih, tentu saja.
Aku memang ganteng, tapi biasa aja lihat cowok ganteng. Nanti mata kalian keluar bagaimana?
Penampilan sederhana cuma pakai kemeja putih lengan panjang, aku gulung sebatas siku. Kancing atas aku buka satu, lalu pakai celana formal slimfit hitam.
Aku suka penampilan simple tapi berkelas. Suka juga tatanan rambut hair up lalu masih banyak lagi.
Warna kesukaan hitam serta warna gelap lainnya.
Setiap langkah seperti berat gara-gara di tatap lapar mereka. Bukan nervous melainkan sebal. Tapi, inilah risiko jadi orang ganteng di overdose.
Aku begini siapa peduli?
Oh ayolah, aku single ganteng yang siap menjadi orang sukses. Hanya kerja serta menimba ilmu agama sering aku lakukan.
Tidak ada kisah cinta di hidupku.
Kalian boleh tertawa sekarang.
Si tampan Aziz Jomblo sedari lahir. Selama 26 tahun tidak ada cinta, karena prinsip ku sekali melabuh langsung menikah.
Cukup satu wanita yang akan menjadi Istriku sampai menutup mata. Cukup satu wanita yang menjadi cintaku dan yang halal itu indah.
Sudah lupakan sekarang interview.
...***
...
Aku di ajak tur keliling guna mengenalkan UGM. Sekarang sudah siang waktunya makan siang, dan kini aku terdampar di kantin.
Eh? Itu Mbak Khumaira, bukan?
Sepertinya Iya, akhirnya ada yang ku kenal. Dan sialnya banyak pasang mata menatap Aziz mendamba. Sungguh terlalu mereka ini.
Aku berdecak sebal karena banyak lelaki menatap Kakak Iparku penuh arti. Dasar gila, jika tahu Mas Azzam sudah di colok mata mereka.
Aku berjalan menghampiri Mbak Khumaira.
...Puk
...
Aku tepuk bahunya ringan. Dia kaget spontan mendongak memandangku.
"Mas Aziz," gumam Mbak Khumaira terlihat terkejut.
Mbak Khumaira memanggilku Mas, alasannya usiaku jauh lebih tua. Walau aku Adik ipar Mbak terus memanggil Mas. Awalnya aku larang, tetapi tetap saja kukuh memanggil diriku Mas.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Mbak Khumaira," salamku.
Mbak Khumaira mengerjap beberapa kali sebelum tersenyum.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas Aziz."
"Anda mengenal Khumaira?" Tanya Dosen tadi.
"Tentu, dia Mbakku." Jawaban benar.
"Saya tidak mengira kalau Dik Khumaira punya Adik Pak Aziz," sahut orang itu.
"Kami i ...."
"Ah, maaf sepertinya Dekan memanggil saya. Nak Khumaira, tolong temani Adiknya keliling."
Pak Dosen ini menyela perkataan ku. Dia buru-buru pergi setelah menerima panggilan singkat.
"Mas, ayo duduk," ujar Mbak Khumaira.
Aku duduk di sampingnya.
"Mas Aziz mau pesan apa? Biar saya pesankan."
Cerewet sekali. Haduh, membayangkan Masku Azzam yang pendiam di cereweti Istrinya pasti lucu.
"Mas Aziz, pesan apa?"
"Ah seperti biasa, Jus jeruk dan makanan pedas dan sayur agak asin. Tunggu dulu," riang Mbak Khumaira.
Lucu sekali Istri Mas Azzam ini. Dia itu ramah sekali, tentunya sangat baik. Cocok dengan Masku Azzam yang memiliki sifat sepertinya.
Aku langsung sadar saat dia hendak melangkah pergi, aku cekal lengannya.
"Mbak, diam saja. Biar aku yang pesan."
"Ngga bisa gitu, Mas. Tunggu saja ya."
Aku lepas lengannya. Keras kepala, seperti apa calon anak mereka kelak?
Ya Allah, aku tidak sabar menggendong keponakan baru.
Setelah makanan tiba, aku berdoa dulu sebelum makan. Makan dengan santai sesekali ku lirik para penghuni kantin menatap kami aneh.
"Alhamdulillahi ladzi ath'amanaa wa saqoonaa wa ja'alanaa minal muslimin." Doaku dalam hati setelah selesai makan.
"Mas Aziz, kok bisa di UGM? Bukanya mau ke Kairo? Lalu kesini mau apa?" tanya Mbak Khumaira beruntun.
"Mbak Khumaira, cerewet sekali," celetukku sukses membuat mata besarnya membulat sempurna. Dia merajuk itu terlihat dari raut wajahnya.
"Hahaha, canda Mbak. Baiklah saya bisa datang ke UGM karena takdir, tidak jadi ke Kairo karena dicegah dan saya ke sini mau mengemis, Mbak!"
Biasa mulut sarkasme diriku memang mengganggu.
"Astaghfirullahal'adzim, ternyata sekarang berubah profesi kamu, Mas? Apa Abah tidak memberi uang sehingga Mas berubah jadi pengemis? Jawaban Mas sangat bagus."
"Astaghfirullah, saya canda Mbak. Mana sudi saya jadi pengemis. Masak ada pengemis setampan, Aziz? Sudah Aziz mau pulang saja."
"He, ya Allah Mas marah?"
"Ngga."
"Serius? Jadi Mas kesini mau belajar?"
"Iya, aku mau belajar. Sudah ya Mbak. Salam untuk Mas Azzam nanti aku main. Masih ada urusan penting."
"Baiklah, hati-hati kami tunggu, Mas Aziz tunggu!"
"Iya."
"Mas lulusan fakultas apa?"
"Ekonomi dan Bisnis. Sampai bertemu 1 minggu ya Mbak. Oh, ini lupa belum bayar."
Aku serahkan uang 50 ribu pada Mbak Khumaira supaya membayar makanan tadi.
"Mas, ini kebanyakan. Tunggu biar di kasih kembaliannya."
"Sama Mbak, kembaliannya ambil saja. Aziz buru-buru."
Sungguh, ada tugas penting. Kenapa bisa lupa? Aku berjalan cepat menjauhi kantin.
...Aziz POV Off!
...
...***
...
"Mas," rengek Khumaira pada Azzam.
"Iya, Dek. Ada apa?"
"Mas, Adek pengen bakmi."
"Baiklah nanti Mas belikan."
"Adek ikut ya, Mas."
"Baiklah, sekalian jalan-jalan."
"Kyaa, terima kasih, Mas."
"Sama-sama, Dek. Tapi ___"
"Tapi ...."
"Cium, Mas."
Khumaira tanpa pikir panjang mencium bibir tipis Azzam. Dia gigit pelan bibir Suaminya tapi langsung di balas penuh sayang oleh Azzam.
"Umh, Mas," lenguh Khumaira saat Suaminya mulai nakal.
"Dek," panggil Azzam lembut.
"Umh," lenguh Khumaira.
Azzam tersenyum cerah saat Khumaira mulaimeraba tubuh atasnya.
Khumaira tersenyum manis karena tangannya terus aktif mengerjai perut Azzam.
"Mas.."
"Adek, nakal," lirih Azzam.
"Mas, ereksi, ya? Hehehe, mau Adek bantu menidurkan?" goda Khumaira seraya mengerling nakal.
Azzam mendongak sambil memejamkan mata rapat untuk menghalau sesuatu. Khumaira sekarang benar-benar membuatnya kalang kabut.
Khumaira menciumi leher kokoh Azzam lalu dengan nakal menggigit manja.
Azzam terbelalak saat napas Khumaira teratur. Lah kok? Memejamkan mata menahan syahwat yang di bangkitkan Khumaira. Istrinya benar-benar nakal serta tega meninggalkan dia dalam kondisi tegang.
Istrinya membangkitkan gairah, tapi lihat si pelaku tidur nyaman di atas tubuhnya.
"Hebat kamu, Dek."