Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Lucu!



Aziz merasa pusing pasalnya para Mahasiswa, Mahasiswi dan rekan Dosen berhambur terus membesuknya.



Bukan tidak senang, hanya saja Aziz tidak bisa leluasa menahan diri untuk berkata sarkasme. Sungguh, dia sedang sakit di buat pusing oleh mereka.



Selama 3 hari ada sesuatu yang membuat Aziz merasa aneh pada gadis malang yang pernah ditolong. Selama di rawat, Zahira memberikan perawatan lumayan baik. Dia tidak bisa makan sendiri alhasil jadi bayi lagi, dengan makan di suapi. Tangan kanannya berasa mati rasa dan sangat sakit di gerakan. Sementara tangan kiri ngilu.



Azzam juga menyuapinya, dan ini membuat Aziz sebal. Masnya berasa memanjakan dia layaknya bayi.



"Mbak bilang ke Mas Azzam, Aziz bukan bocah lagi. Aish, dia benar-benar Abang durhaka," omel Aziz.



Khumaira tersenyum mendengar perkataan Aziz. Sungguh Adik ipar sangat mengemaskan.



"Mas saja tidak bisa pegang sendok, bagaimana mau makan kalau ngga di suapi?" cibir Khumaira.



Aziz menghembuskan napas berat. Mbak Khumaira sungguh menyebalkan sama seperti Mas Azzam.



"Mbak juga ikut-ikutan mengejek, Aziz. Sama saja, sudah Aziz mau istirahat!"



"Apa mengambek judulnya? Maaf, oh iya Mas Aziz punya gebetan ya?"



"He? Gebetan, siapa?"



"Itu Mbak Koas cantik."



"Masyaallah, kami teman, Mbak."



"Tapi, cocok loh Mas. Mbak Zahira cantik berprestasi. Tinggal tunggu lulus jadi Dokter, wisuda langsung nikah. Sekalian Mas sudah sukses, siap menikah!"



Aziz menggeleng mendengar kecerewetan Khumaira. Dia pusing sendiri menghadapi Khumaira.



"Mbak terlalu cerewet, kok tahan Mas Azzam sama Mbak kayak burung mengoceh mulu. Lagian Aziz akan menikah jika sudah waktunya."



Khumaira mendelik, spontan mencubit paha kanan Aziz kencang. Dia memasang wajah siap menangis gara-gara dikatai Aziz. Dia bungkam tanpa mau menjawab tapi matanya sudah berembun.



"Mbak, Aziz bercanda sumpah. Aish, bisa di marahi Mas Azzam jika ketahuan goda Mbak sampai menangis. Sudah jangan menangis," panik Aziz.



"Aku do'ain Istri Mas kelak lebih cerewet dari pada, saya. Dan ingat, nanti jika Istri Mas hamil lebih parah dari Khumaira. Sudah, aku pulang dulu!"



"Waduh Mbak tarik doanya. Astaghfirullah, Aziz mana tahan Istri cerewet. Aziz suka ketenangan, Mbak tarik lagi perkataan, Mbak!" seru Aziz karena Khumaira main menyelonong pergi.



"Terserah, pokoknya Istri Mas Aziz kelak lebih cerewet dan parah!" usai mengatakan itu Khumaira keluar.



Aziz tersenyum tipis melihat Khumaira begitu lucu saat marah. Khumaira sangat imut jika sedang merajuk.



"Aku berharap Istriku tenang, cerewet dan manja saat meminta sesuatu. Bener juga, Ibu hamil itu sensitif sekali."



Pintu terbuka kembali menampilkan Khumaira. Lihat wajah cantik Kakak ipar begitu lucu saat mengerucut.



"Loh Mbak kok ngga jadi pergi? Mbak berubah pikiran ya? Mau tarik kata-kata, Mbak? Yes, aku sangat bahagia sekali mendengar perkataan, Mbak.”



"Tas ketinggalan," cetus Khumaira tanpa mempedulikan perkataan Aziz.



Pintu terbuka menampilkan Azzam. Suaminya baru pulang dari ngajar dan kini terlihat sedikit berantakan.



"Mas ....!" seru Khumaira berhambur memeluk Azzam erat. Dia menangis tersedu dan mengadu pada Azzam tentang perkataan Aziz.



"Aziz, Astaghfirullah."



"Mas, Mbak Khumaira cerewet banget. Mana di sumpahi punya Istri lebih cerewet dan saat hamil lebih parah dari, Mbak Khumaira. Jahat banget Istri Mas!"



Khumaira menarik-narik baju belakang Azzam. Dia tambah histeris dikatai Aziz. Ingin mencari pembelaan agar Azzam menghukum Aziz.



Azzam memejamkan mata sebentar. Lalu menatap tajam Aziz. Sungguh dia pening mendengar percekcokan lucu Khumaira dan Aziz.



"Tole, sudah tahu Mbakmu cerewet kenapa masih saja suka menggoda. Jadi kena getahnya bukan? Mungkin Istrimu kelak lebih parah, Le. Sudah, jangan goda Mbakmu lagi!"



Aziz tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Azzam. Mampus, Masnya bakal kena karma dengan merajuknya Khumaira.



Khumaira langsung melepas pelukannya dan mencubit perut berotot Azzam. Matanya semakin berair menatap Azzam.



"Mas, sama saja ...! Terus katai Adek, cerewet!" seru Khumaira.



Aziz tidak bisa berhenti tertawa melihat Azzam kalang kabut membujuk Khumaira agar tenang dan tidak mengambek.



"Dek, Mas tadi kelepasan. Sudah mengambeknya, nanti Mas belikan Mangga!"



"Ngga mau, kalian sama saja. Kakak dan Adik, menindas wanita lemah. Jahat, Adek sebel sama kalian. Jangan ketawa terus, kamu Mas Aziz. Ingat kutukan itu berlaku. Mamas juga, kenapa mengatai Adek? Pokoknya Mas tidur di luar!"



Dua pria tampan ini langsung kicep tanpa suara. Azzam dan Aziz saling lirik meminta pertolongan. Tetapi, keduanya tidak menemukan solusi. Hingga pintu terbuka menyelamatkan mereka.



Zahira dan Suster masuk hendak memeriksa kondisi Aziz. Mereka tersenyum ramah menatap Azzam, Khumaira dan Aziz saling tatap.



Khumaira menghapus air matanya kasar. Dia menatap Zahira intens dan menelisik penampilan.



"Mbak, kamu suka Mas Aziz? Urungkan niat suka sama pria aneh itu. Dia suka mengatai wanita lemah cerewet!" cetus Khumaira membuat Zahira tersedak.



Wajah cantik Zahira bersemu merah mendengar perkataan Khumaira. Dia tidak bohong kalau menyukai Aziz dari pertama bertemu.




"Ngeles cari muka. Mas, ayo pulang. Ambil tas Adek. Sumpek lihat wajah jelek Mas Aziz."



"Waduh, Mbak Khumaira ...! Jika wajah Aziz jelek yang ganteng seperti siapa?"



"Mas Azzam!" jawab Khumaira cepat.



Azzam terkekeh sendiri merasa bangga wajahnya lebih tampan dari Adiknya. Memang nyata Azzam lebih tampan dari Aziz.



"Mas jelek juga, ngga usah tersanjung. Yang ganteng, Lee Minho!"



"Bwahaha ahahaha huhuhu ahahaha!" tawa Aziz meledak setelah tadi rautnya suram di katai jelek. Sementara Azzam terjatuh setelah terbang ke Pluto.



"Dek, percaya Lee Minho itu ganteng. Tapi, Mas ganteng kok. Mbak Zahira, saya tampan atau jelek?"



Loh, Azzam kenapa bisa seaneh ini? Mungkin efek calon Ayah jadi ikut sensitif.



Zahira mengerjap beberapa kali lalu menatap wajah rupawan Azzam.



"Jangan tatap Suamiku terlalu! Dia pria tertampan di dunia. Sudah, ayo pulang!" marah Khumaira.



Azzam jadi bingung, Istrinya kembali marah. Ibu hamil benar-benar menguji adrenalin.



"Baik, nah Mbak Zahira tolong jaga Adik saya, Aziz. Mas pulang dulu, Le!"



"Enggeh, Mas. Mas, berjuanglah menaklukkan bumil ....!"



"Terima kasih, semoga kelak Istrimu lebih parah, amin. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."



"Astagfirullahaladzim, Mas tega banget doanya. Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh."



Usai kepergian Azzam dan Khumaira, Aziz bungkam tanpa suara. Sejatinya dia adalah sosok dingin yang cinta damai. Ketenangan adalah kenyamanan baginya.



Aziz tadi sudah makan di suapi Azzam. Jadi, untuk apa Zahira datang?



Zahira menyampaikan kalau Dokter yang menangani Aziz sedang berhalangan. Jadi dia yang di suruh mengganti perban.



"Tidak usah, biar Pak Dokter yang ganti, kita bukan muhrim, sekali lagi maaf."



"Baiklah, Pak. Saya akan sampaikan ke Dokter Rudi. Sekali lagi maaf."



"Hm."



***



Khumaira masih betah menggerutu sepanjang perjalanan menuju kamar pribadi mereka. Dia langsung mengambil bantal dan selimut.



"Mas tidur di luar, Adek sebel sama Mas. Ngga mau tahu, Mas bisa tidur di ruang tamu atau kamar tamu!"



"Dek, serius? Maaf, Sayang!"



"Ngga mau tahu, cepat keluar!"



"Baiklah."



Azzam menunduk lesu dan akhirnya memilih tidur di kamar tamu. Di sofa mana muat, tubuhnya tinggi dan sofa itu kurang panjang.



Tepat tengah malam, Khumaira masuk ke kamar tamu. Dia melihat Azzam sudah tidur.



Melangkah hati-hati untuk menuju Azzam. Setelah sampai, dia menyelipkan diri di lengan kekar Suaminya.



Azzam terjaga setelah tahu ada yang mengusik tidurnya. Senyum tipis terukir tatkala tahu Khumaira biang keroknya.



"Katanya sebel sama, Mas? Apa ngga bisa tidur tanpa pelukan, Mas?" goda Azzam.



Khumaira merona mendengar godaan Azzam. Dia merengkuh Azzam erat sembari mengatakan maaf.



"Sudah, ayo bobok sudah tengah malam."



"Ngga bisa tidur, Mas."



"Mau olahraga biar kelelahan?"



"Eh? Mas, ahhh ....!!!" pekik Khumaira saat Azzam menindihnya dan memberikan ciuman basah.



"Mas, menginginkan, Adek," bisik Azzam di sela mari mencumbu Khumaira.



"Mas ...."



"Mas, cinta Adek."



"Adek juga cinta Mas."



Erangan nikmat terus terpacu di tengah malam yang mendung. Khumaira dan Azzam begitu senang akan permainan panas di malam yang mendung.