Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Perjodohan!



"Kamu gila Le, Nduk Laila masih kecil!" bentak Nakhwan.



"Aziz, serius Mas!" sahut Aziz tanpa sungkan.



"Mas Aziz," lirih Zahira dengan derai air mata.



Hasyim dan Safira menunduk malu akan peristiwa ini. Apa yang di pikirkan calon besan tentang peristiwa ini?



"Pak Basri, maafkan kegaduhan ini. Sungguh kami menyesal," sesal Hasyim.



"Tidak apa, Pak.  Hubungan persaudaraan kita tetap akan terjalin. Nak Aziz sudah memutuskan pilihan."



Sholikhin dan Maryam ikut meminta maaf akan kerusuhan yang di sebabkan Laila. Mereka jadi sangat malu akan perbuatan anaknya yang tega merusak acara sakral.



"Le, jangan buat malu. Ingat usiamu terpaut 13 tahun dengan, Nduk Laila. Mas harap Tole sadar diri," bisik Azzam.



"Aziz paham Mas, maaf tapi keputusan Aziz sudah bulat!"



Azzam menghela napas berat mendengar jawaban Aziz. Dia melirik Khumaira berniat meminta solusi.



Khumaira paham lalu berbisik,  "Nduk, apa serius kamu mau menikah? Ingat Nduk kamu masih kecil umurmu 16 tahun. Jangan main-main Mbak mohon."



Laila termenung memikirkan perkataan Khumaira. Apa bisa di kata dia sangat mencintai Aziz. Lalu kalau sudah begini apa bisa di perbaiki?



"Tapi, Laila suka Mas Aziz," cicit Laila.



"Lupakah perasaan itu, Nduk. Mas Aziz bukan jodohmu!" sungut Maryam.



"Maaf ...."




*




*




*




*





*







Gubrak



"Auch," ringis Aziz merasakan sakit pada tubuhnya.



Aziz membisu di lantai sembari menatap depan. Di edarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan dan masih di kamar.



"Kok begini? Jadi tadi mimpi. Astaghfirullah seperti nyata."



Aziz berdiri untuk rebahan di ranjang. Di usap wajahnya kasar sembari mengingat mimpinya.



"Apa nanti aku di jodohkan dengan Zahira, atau jodohku malah Laila? Oh ya Allah ini membingungkan untuk di pikirkan. Dek Laila masih terlalu kecil dan Dik Zahira pas. Tetapi, di antara mereka belum ada memenuhi hati. Aku harus Shalat Istikharah dan semoga hasilnya tidak seperti biasanya."



Aziz melepas pakaiannya lalu meraih handuk untuk masuk ke kamar mandi. Berandam di bathtub untuk meringankan pikiran.



"Rasanya begitu membelenggu, rencana apa ini?"



Aziz mengingat kebersamaan dengan Zahira namun sekelebat mimpi menghancurkan semuanya. Ia jambak rambutnya sedikit kasar untuk meringankan pikiran.



"Dia bukan jodohku, singkirkan pikiran itu.  Adiba, apa kamu baik-baik saja di sana? Sungguh Mas merindukan kamu. Adiba, maaf Mas akan menikah dengan wanita pilihan Abah dan Ummi. Mulai sekarang namamu akan hilang dalam pikiranku. Selamat tinggal, Dek. Semoga Allah selalu menjaga Adek sepenuh hati di sisinya."



Aziz menitikkan air mata mengingat gadisnya dulu. Kisah cinta masa lalu yang sangat menguras emosi. Cinta itu alasan kenapa dia tidak mau menikah. Hanya ada satu nama di hati yang akan selalu dia cintai. Walau cinta sucinya bukan di takdirkan untuk di miliki.



Aziz mengukir senyum getir mengingat gadis Pakistan. Gadis yang mampu membuatnya tetap melajang tanpa ikatan. Tetapi, ada sebuah rahasia besar yang akan di jaga sepenuh hati.



"Dek, sekarang jalan kita berbeda. Semoga kamu bahagia di sana, mulai sekarang Mas akan melupakan kamu. Kisah kita telah berakhir karena besok hari pertunangan, Mas!"



***



Aziz membeku melihat Zahira di kenalkan sebagai calon Istrinya.  Dia melirik ada Laila juga, jangan sampai mimpinya jadi nyata.



Zahira terdiam tidak percaya orang yang dicintai dalam diam adalah calon Suami. Hatinya berbunga menandakan betapa berdebar dan bahagia dirinya.



Aziz mengukir senyum tipis menatap Zahira. Sekarang tekat kuat ada di hati, dengan ini ia akan menjadi calon Imam Zahira. Soal jodoh yang selalu hinggap di mimpi dan petunjuk Allah benar-benar hanya buaian. Dia sangat bersyukur takdir di mimpi hanya mimpi belaka dan dengan begini kehidupan damai.



"Dik Zahira, maukah kamu menjadi calon, Makmumku? Maukah hidup bersama sampai maut memisahkan. Izinkan aku menjadi, Imammu!" tegas Aziz membuat mereka terbelalak haru terlebih Zahira.



Zahira menangis haru mendengar lamaran Aziz. Pria dewasa yang sangat dia cintai akhirnya melamar dengan begitu romantis.



"Dengan mengucap Bismillah saya menerima Mas sebagai calon Imamku dan saya mau hidup bersama Mas seumur hidup!"



Aziz tersenyum tipis mendengar perkataan Zahira. Dia mengeluarkan kotak beludru ukiran hati dan di berikan pada Ibunya.



"Ummi tolong pasangkan kalung di leher Dik Zahira," pinta Aziz.



Safira menerima kotak itu sembari mengusap pipi tirus Putranya. Sungguh Aziz sudah dewasa membuat Safira begitu bahagia. Akhirnya Putra ketiganya memutuskan menikah.



"Ummi sangat bahagia Tole mau melangkah, Ummi bangga padamu!"



Aziz merengkuh Safira sembari mengatakan maaf dan terima kasih. Ibunya adalah wanita paling di cintai seumur hidup.




Azzam tersenyum tulus menyaksikan Ibunya memasang kalung emas kristal di leher Zahira. Kalung mewah itu terpasang di leher yang tertutup jilbab. Adiknya benar-benar sangat loyal memberikan hadiah.



"Umi, Ridwan lapar," bisik Ridwan.



Khumaira mengusap pipi gembul Ridwan lalu mengecupnya. Ternyata si kecil ini sudah kelaparan, tetapi acara masih panjang.



"Tunggu ya, Sayang."



"Apa masih lama?" tanya Ridwan lagi.



"Tidak ... sabar, Dedek."



Azzam memangku Ridwan sembari mengambil kue. Tidak tega melihat si kecil merengek lapar, tetapi jelas tahu Ridwan tidak suka manis.



"Ini, makanlah, Nak." bisik Azzam.



Ridwan merengut sebal menatap Ayahnya. Dia mengulurkan kue ke Ibunya.



"Abi, Dedek ngga suka manis," rajuk Ridwan.



Azzam mengerti karena selera Ridwan mirip dengannya. Kalau begini Ridwan harus makan apa jika roti di tolak?



"Makan gih, Dedek ngga baik tolak makanan. Tole lapar, bukan? Gih makan," bisik Azzam lagi.



Ridwan meminta Azzam dulu yang makan baru dia. Mata besarnya berbinar ketika Ayahnya menerima kue.



Azzam menerima kue itu dan menggigit kecil. Mengunyah sedikit kesusahan karena rasanya manis. Semoga saja dia tahan dengan hawa manis.



Ridwan menerima kue, lalu memakan dengan semangat. Sedikit aneh tetapi tetap ia makan sampai habis.



***



Laila memainkan ponsel sembari mengoceh panjang lebar pada Kakaknya. Dia menunjukkan foto aktor idola pada Khumaira.



"Mbak, Laila pengen non ton konser!"



"Ngga boleh, Nduk."



"Ayolah, Mbak!"



"Ngga boleh!"



Laila merengut sebal menerima penolakan Khumaira. Ia teringat keluarga Kakak ipar berada di rumah.



"Mbak, Laila punya PR, tolong ajari dung!"



"Baiklah, sini!"



Aziz berjalan menghampiri Laila dan Khumaira. Dia suntuk di goda keluarganya akibat ulah romantis tadi.



"Eh ... Mas Aziz, ajari Laila rumus Logaritma!"



Khumaira sudah menjelaskan sampai berbuih tetapi Laila tidak kunjung maksud. Sebal juga mengajari si bar-bar Laila.



Aziz duduk di samping gadis kecil sembari menerima buku paket. Membaca buku paduan dengan malas karena sudah hafal luar dalam.



"Mas, aku tadi sudah ajari sampai pusing, tetapi Nduk Laila tetap ngga maksud!" adu Khumaira.



"Bohong, Mbak Khumaira saja yang jelas in datar," bela diri dengan senyum polos. Laila mengaku kurang bisa Matematika. Paling anti menghafal rumus fisika, matematika dan kimia. Rasanya pusing sekali, entahlah Guru yang memasuka dia ke IPA mungkin sedang sakit.



Khumaira merengut sebal akibat Laila. Dasar bocah tengil berani sekali memutar balik fakta.



"Sini Mas terangkan," lerai Aziz.



Laila mangut sok mengerti soal rumus. Sungguh Matematika pelajaran paling di benci Laila.



Azzam datang melihat Khumaira mendumel begitu lucu. Ada gerangan apa Istrinya begitu emosi?



"Ada apa, Dek?" tanya Azzam sembari mengusap puncak kepala Khumaira.



"Laila menyebalkan, Mas!"



"Mas Azzam, Mbak Khumaira sih mengajari ngga niat."



"Sudah niat, Nduk. Kamu saja ngga terlalu niat belajar!" sengit Khumaira.



Azzam dan Aziz saling pandang.



"Mbak Khumaira jahat!"



"Sudah, Nduk Laila sudah maksud apa yang di jabarkan, Tole Aziz?" tanya Azzam lembut.



Laila menggeleng malu karena merasa bodoh.



"Baiklah, sini Mas ajari."



Azzam menerangkan dengan telaten, merinci sampai detail. Memberikan soal dan di jawab mudah sampai rumit. Dia begitu telaten mengajari Laila.



Mata Laila bersinar terang karena sudah paham. Dia bersorak penuh percaya diri.



"Mas Azzam, kamu hebat sekali. Yosh,  Laila senang sekali!"



Azzam tersenyum, sedangkan Aziz mendelik horor karena merasa gagal. Dasar kurcaci menyebalkan, sedari tadi dia menerangkan tidak masuk. Oh, apa Aziz harus kursus bsrsama Azzam?



Khumaira merasa bangga pada Azzam. Suaminya begitu sempurna dalam bidang apa pun. Rasanya sangat bahagia bisa menjadi Istri pria secerdas Azzam.