
Khumaira terdiam mencerna perkataan Azzam. Dia mengedip beberapa kali lalu memiringkan kepala untuk memastikan.
"Umz, Adek kurang dengar, Mas."
Azzam yang gemas langsung mengecup pipi bulat Khumaira. Dan mencubit gemas hidung bangir Istrinya dengan sayang.
"Mas, ih Adek serius loh," rajuk Khumaira sembari memainkan kancing kemeja Azzam.
"Mas jauh lebih serius, Adek."
Khumaira kembali menatap Azzam dalam. Dia mendekatkan bibir ke bibir tipis merah muda Azzam. Saat Suaminya hendak menciumnya tangannya lebih dulu menghalangi.
Azzam tersenyum lebar lalu kembali mengatupkan bibirnya. Sedetik kemudian dia merengkuh Khumaira erat sampai Istrinya tidak bisa bergerak.
"Mas sesak, ih Adek mengambek nanti."
"Kiss me, Baby." Azzam menggoda Khumaira.
Khumaira bersemu mendengar godaan Suaminya. Dia menunduk dalam di ceruk Azzam.
"Jadi Adek ngga mau, cium? Mas deh yang merajuk." Azzam ingin tertawa mengatakan hal lucu begini. Dia hendak melepas pelukannya tapi Khumaira menahan lengannya.
"Mas mau di cium di mana?" tantang Khumaira.
"Bibir," jawab Azzam kalem sembari sedikit memajukan bibirnya. Bibir berbentuk hati itu mengerucut sedikit.
Khumaira menangkup pipi Azzam lembut lalu perlahan mendekatkan bibirnya.
Chup
Cukup hanya ditempelkan namun saat Khumaira hendak mengangkat kepala Suaminya terlebih dulu menahan belakang kepalanya.
Azzam memagut bibir tebal Istrinya penuh cinta. Tangannya semakin erat merengkuh Khumaira.
"Umhhh, Mas," lenguh Khumaira.
Azzam menyudahi ciumannya.
"Adek tidak maksud perkataan, Mas?"
"Umz," gumam Khumaira. Dia menunduk dalam menyembunyikan wajahnya yang merona parah.
"Mas dan Adek akan menjadi orang tua bagi calon anak kita kelak," ungkap Azzam sembari tersenyum tulus.
Khumaira kembali menatap Azzam dalam.
"Iya kapan akan jadi orang tua? Masih lama, Adek belum umh ...."
Azzam gemas sendiri dengan Khumaira. Istrinya lamban sekali mengartikan ucapan. Dia jadi senang memotong ucapan Khumaira dengan ciuman basah.
"Mas ini senang sekali mengecup, Adek. Mas ngga serius, Adek mau turun, tolong lepaskan Adek," gerutu Khumaira.
"Adek ngga tahu maksud perkataan, Mas?"
"Mas terlalu ambigu, kan Adek sama Mas memang calon Ayah dan Ibu bagi anak-anak kita kelak. Aish, ngeselin," rajuk Khumaira.
Azzam tertawa merdu mendengar rajukan Istrinya. Dia langsung menyembunyikan wajah di bahu sempit Khumaira.
Azzam akhirnya meredam tawa dengan senyum tipis.
"Adek, di sini (mengelus perut Khumaira) ada buah hati kita. Sebentar lagi impian kita terkabul. Kita tinggal menunggu 8 bulan lebih, setelah itu lahirlah bayi yang akan menjadi pelengkap bahtera rumah tangga kita. Terima kasih Sayangku sudah menjadikan Mas calon Ayah. Sungguh Mas sangat bahagia."
Mata Hazel Azzam berkaca-kaca mengatakan kabar bahagia itu. Dia tersenyum saat Khumaira tercengang mendengar perkataannya. Mata Istrinya berembun lalu tumpahlah kristal bening membanjiri pipi.
"Mas serius?" tanya Khumaira tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan.
"Enggeh, Dek. Mas, serius."
Khumaira langsung merengkuh Azzam erat sembari mengucap takbir dan pujian pada Allah. Sungguh dia sangat bahagia sekarang, merasa lengkap pasalnya di dalam rahimnya ada buah hati mereka.
Azzam balas merengkuh Khumaira erat. Mereka saling menitikkan air mata haru akan kehadiran sang buah hati.
Khumaira mengurai pelukan mereka. Refleks tangannya mengusap perut ratanya yang tertutup gamis.
"Anak kita, Mas. Sungguh ada di sini? Allahu Akbar, terima kasih ya Allah sudah menurunkan karunia-Mu. Insya Allah hamba akan melindunginya. Mas, Adek hamil," tangis Khumaira.
Azzam merengkuh Khumaira lagi karena begitu bahagia. Tangannya ikut mengusap perut rata Istrinya penuh haru.
***
Azzam tersenyum tulus saat Khumaira meminum vitamin yang di sarankan Dokter. Dia kembali teringat kenapa Istrinya murung.
Khumaira terpaku saat Azzam duduk di depannya sembari menggenggam tangannya.
"Mas, kenapa melihat Adek begitu?" tanya Khumaira waswas.
"Mas ingin menegaskan boleh?" tukas Azzam membuat Khumaira bingung.
"Boleh, ada apa, Mas?"
"Jika ada masalah, pikiran kalut dan beban mari saling cerita. Mulai sekarang tidak ada rahasia antara kita. Jangan pendam masalah sendiri dan berakhir membebani pikiran hingga jatuh sakit. Adek, mulai sekarang terbukalah sama Mas jangan simpan sendiri keluh kesah itu. Ingat Adek sekarang mengandung jangan sampai terbebani. Mas hanya ingin hubungan kita selalu harmonis dan sehat selalu. Semoga Allah selalu menjaga keharmonisan rumah tangga kita, Amin!"
Khumaira merasa bersalah karena sedari dulu sering memendam masalah sendiri. Sekarang ada Azzam yang akan menuntunnya menjadi wanita kuat.
"Mas, Adek akan usahakan lebih terbuka. Maaf Adek terus bertingkah kekanakan. Adek, merasa kurang dewasa ___"
"Sstt, jangan di teruskan. Cukup jadi diri sendiri jangan merubah segalanya. Mas suka seluruh yang ada di diri Adek. Mas hanya ingin kita saling percaya satu sama lain dan tentunya saling terbuka."
"Mas." Khumaira hanya mampu menggumam dengan linangan air mata.
"Mas mau menceritakan siapa itu gadis Jiran yang di maksud, Tole Aziz. Namanya Zulfa, dia seperti yang dikatakan Tole Aziz sangat cantik. Zulfa sendiri adalah murid Mas dulu. Sering kali gadis Jiran itu mengungkapkan perasaan pada, Mas. Tapi selalu Mas tolak alasannya karena Mas ingin sukses dan pulang ke Indonesia membawa bekal. Tepat tiga tahun yang lalu Zulfa izin pulang pada Mas. Terakhir kali dia kembali mengatakan cinta, tapi Mas kembali menolak ...,
... Zulfa memberikan jubah itu dengan cara paksa. Katanya sebagai kenang-kenangan sebelum dia pulang ke Jiran untuk menikah. Mas terima jubah itu tanpa mau kupakai. Semua orang di Al-Azhar mengira kami punya hubungan istimewa, tapi nyatanya tidak. Mas hanya menggagap Zulfa Adik sekaligus murid. Kadang heran sama mereka yang terus menggoda Mas soal Zulfa. Intinya, Zulfa tidak pernah singgah di hati Mas karena cinta pertama dan terakhir adalah Adekku Khumaira. Hanya Adek yang Mas cinta, hanya Adek yang Mas ingin. Jangan salah paham lagi, ya."
Khumaira diam seribu bahasa mendengar perkataan Azzam. Dia sangat bahagia mendengar klarifikasi sang Suami tercinta. Hatinya lega sekaligus bahagia.
"Mas, Adek sangat senang mendengar klarifikasi itu. Maaf ya, Adek salah paham dan memendam kekesalan itu sendiri. Maafkan Adek, Mas."
"Tidak apa, Sayangku. Sekarang tidak ada salah paham."
"Tidak ada Mas."