
Aziz berusaha menggerakkan lengan kanannya, tetapi rasa nyeri begitu melanda. Dia harus bisa setidaknya untuk makan.
Manik cokelat keemasan itu meredup menatap depan. Kakinya sudah bisa di gerakan untuk jalan. Sementara bahu kanan masih terasa retak.
"Aku hanya ingin sembuh, ya Allah. Tolong hilangkan pikiran serta mimpi aneh itu. Jikalau memang itu nyata, tolong balikan waktu agar tidak terjadi. Aku begitu takut," lirih Aziz.
"Mas Aziz," panggil Syifa.
"Dalem, Nduk. Ada apa?" tanya Aziz kalem.
"Mas, sudah makan?" tanya Syifa.
"Belum, Nduk Syifa mau menyuapi, Mas?"
"Hu'um, Syifa habis membeli makanan untuk Mas."
"Terima kasih, Nduk."
"Sama-sama, Mas."
Aziz berusaha menggerakkan tangan supaya bisa makan sendiri. Dia meringis merasakan ngilu luar biasa.
"Mas, biar Syifa yang suapi," ujar Syifa.
Aziz tersenyum mendengar perkataan Adik sepupunya. Rasa sakit begitu di kasihani dan Aziz paling anti dikatai lemah.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu membuat mereka saling pandang.
"Nduk, siapa itu? Coba buka!"
"Baik, Mas."
Syifa membuka pintu dan tersenyum ramah melihat Pakde dan Budenya. Senyum manis terukir indah di bibir mungil Syifa dan begitu bahagia.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Nduk," salam Hasyim dan Safira.
"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Bude, Pakde. Silakan masuk."
Syifa sudah mencium punggung tangan orang tua Aziz dan mempersilakan masuk.
"Nduk, siapa yang ___"
Perkataan Aziz menggantung setelah tahu orang tuanya yang datang. Dia begitu takut akan respons kedua orang tuanya.
Safira menangis melihat Aziz begitu. Sontak dia berlari dan merengkuh tubuh Putranya.
"Anakku, kenapa bisa begini? Ya Allah, kenapa tidak mengabari Ummi? Ya Allah, Le parah sekali. Andai Adikmu Syifa tidak mengabari kami mana mungkin kami tahu."
Aziz menatap Syifa tajam dan yang di tatap malah tersenyum tanpa dosa. Padahal dia tidak mau membuat Ayah dan Ibunya sampai panik.
"Alhamdulillah, Aziz sudah baikkan, Ummi. Tolong jangan menangis."
Aziz mengusap punggung Safira menggunakan tangan kiri. Dia paling anti melihat air mata Ibunya.
Safira menangkup pipi tirus Aziz, lalu menyibak poni Putranya. Terdapat luka di pelipis Aziz walau sudah kering. Hati Safira semakin sakit melihat Putranya begini.
"Ummi, Aziz sudah baikkan. Sstt, jangan menangis."
Safira tambah menangis mendengar perkataan Aziz. Dia ciumi wajah rupawan Putranya dengan derai air mata. Hati Ibu mana yang tidak sakit melihat Putranya sakit begini? Safira tidak bisa berhenti menangis menatap Aziz yang lemah
"Ummi," protes Aziz saat wajahnya basah oleh air mata Ibunya.
"Kamu itu, Le kenapa tidak bilang? Kata Adikmu kamu kecelakaan sudah 4 hari ini?kenapa kamu bungkam tanpa memberi tahu? Ummi sangat khawatir, Nak."
"Ummi, lihat Abah sampai pusing tahu Ummi menangis. Berhenti menangis karena ada Mas Azzam dan Mbak Khumaira. Sstt jangan seperti anak kecil," bisik berusaha mengalihkan atensi.
Hasyim mendekat ke arah Aziz untuk mengusap puncak kepala Putranya. Menunduk dalam guna mengecup ubun-ubun Aziz.
"Cepat sembuh, Le. Maaf Abah dan Ummi baru datang."
Aziz tersenyum teduh mendengar perkataan Ayahnya. Ingin sekali dia tertawa menertawakan kelemahan.
"Tidak apa, Abah. Lagian Aziz sudah baikkan."
"Baikkan apanya, Le? Lihat kamu masih pakai kursi roda dan tanganmu di gips. Kamu bilang sudah baikkan, saat makan saja di suapi? Astagfirullah, Tole Aziz, kamu benar-benar bandel!"
"Sudah, jangan bikin Putra kita tambah tertekan, Ummi. Ayo, duduk dulu."
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Abah dan Ummi, maaf Azzam tidak memberi tahu. Aziz memaksa bungkam, tolong maafkan Azzam yang tidak becus menjaga, Tole Aziz."
Azzam menyalami kedua orang tuanya. Di kecup punggung tangan mereka dan untuk Safira memberikan ciuman di pipi.
Khumaira juga memberi salam sembari mengecup punggung tangan mertuanya.
"Nduk Syifa, mana Abi dan Umi?" tanya Safira.
"Abi dan Ummi sedang di pasar, Bude. Sebentar lagi pulang."
Khumaira berjalan ke dapur untuk membuat kopi. Hatinya sakit melihat Aziz begini karenanya. Andai saja tidak menyeberang pasti situasinya tidak seperti ini.
"Dek," panggil Azzam lembut, namun Istrinya tidak merespons. Dia menepuk bahu Khumaira pelan dan berhasil.
"Mas," lirih Khumaira.
"Sudah jangan menangis, Dek. Mas tahu kamu merasa bersalah, tapi ini sudah takdir. Jangan menangis, Istriku," pinta Azzam.
Khumaira berhambur merengkuh Azzam sembari menangis dalam diam. Hatinya di rundung gundah mengingat kecelakaan beberapa hari yang lalu.
"Sudah jangan menangis, Dek."
Khumaira hanya diam tanpa kata, pasalnya sesak membelenggu jiwa. Penyesalan itu menguar saat ingat Aziz terkulsi lemah gara-gara kecerobohan tidak hati-hati menyeberang.
***
At Bandung - 09:30 AM!
Para polisi beserta Bhagaskara dan Rina datang ke vila di Bandung. Mereka bernapas lega karena Charisma di temukan.
Charisma membisu melihat segerombolan polisi serta orang tuanya datang. Sejatinya ada apa?
Rina mendekat dan tanpa babibu menampar pipi tirus Putrinya. Air mata luruh deras mengingat Charisma berubah menjadi wanita hina. Rina merasa malu mempunyai Putra terpelajar macam Charisma.
Charisma memegang pipi kirinya dengan pandangan tidak percaya. Kenapa Ibunya begitu tega menampar dirinya?
"Mamah, apa yang kamu lakukan? Kenapa menampar, Charis?" tanya Charisma terluka.
"Kamu berhak mendapatkan tamparan, Charis. Mamah malu mempunyai Putri tidak tahu diri sepertimu!" geram Rina.
"Apa maksud semua ini, Mah? Pah, Charis salah apa?"
Bhagaskara mendekat ke arah Charisma. Tangannya menarik kasar lengan Putrinya.
"Bawa anak saya, Pak."
Charisma meronta saat Polwan membelenggu tangan memakai borgol. Ia begitu takut akan situasi aneh ini.
"Sebenarnya ini kenapa? Papah dan Mamah kenapa menyerahkan Chris ke, Polisi? Charis tidak tahu kesalahan apa yang kuperbuat!"
"Charisma ...! Kamu wanita gila yang tega berbuat hina dengan merencanakan pembunuhan. Gara-gara obsesi gila kamu rela melenyapkan orang. Kamu tahu, akibat perbuatan di luar batas, kamu mencelakai Adik Azzam. Papah kecewa padamu, Charisma!" murka Bhagaskara.
Charisma membisu mendengar raungan Ayahnya. Dia mengingat kembali saat melakukan tindakan pembunuh berencana. Saat itu Khumaira nyaris mati jika tidak ada yang menolong.
"Aku tidak sengaja, harusnya Khumaira yang mati kenapa Adik Azzam yang terluka?" gumam Charisma.
"Bawa wanita ini ke kantor polisi. Tahan dia sampai menyadari kesalahan. Tidak akan ada jaminan untuk membebaskan wanita ini!"
Charisma meronta sembari meminta tolong dan maaf pada Bhagaskara dan Rina, tapi mereka bungkam tanpa peduli.
***
Khumaira merasa pusing sekarang akibat sering berpikir keras. Tekanan membuat tubuhnya lemas.
"Dek ....!" seru Azzam saat Khumaira terhuyung. Syukur dia langsung meraih lengan Istrinya.
"Adek sakit? Ya Allah," panik Azzam sembari mengangkat tubuh Khumaira.
"Adek pusing, Mas," jujur Khumaira.
Azzam membawa Khumaira masuk kamar. Dia dengan hati-hati merebahkan sang Istri. Punggung tangan Azzam menyentuh kening Khumaira dan hasilnya panas.
"Adek, deman. Kenapa tidak bilang kalau sakit?" tanya Azzam lembut.
"Adek tidak mau Mas cemas. Adek merasa lemah saja, Mas."
"Ngga baik merahasiakan sakit, Mas ini menikahi Adek dalam suka maupun duka. Jangan pernah merahasiakan apa pun, Dek!"
"Um, Mas tidak perlu khawatir," cicit Khumaira.
Azzam mengaguk setuju, berjalan keluar untuk mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres Khumaira.
Khumaira tersenyum tipis melihat Azzam begitu panik. Dia sangat beruntung mendapatkan Suami sebaik dan perhatian macam Azzam.
"Mas terlalu memanjakan, Adek," tukas Khumaira.
"Mas begini karena Adek adalah segalanya bagi, Mas. Adek sakit Mas juga sakit."
Pipi Khumaira merona mendengar perkataan Azzam. Dasar Suaminya ini pintar sekali membuat jantung berdegup kencang.
Azzam mengompres kening Khumaira. Sesekali tangannya mengusap perut Istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Jangan nakal, Nak. Kasihan Umi jika Dedek nakal. Abi sayang sama, Dedek."
Khumaira menangis haru mendengar perkataan Azzam. Kalau begini mana bisa Khumaira mengendalikan detak jantung akibat Azzam selalu memberi kejutan manis.
"Mas," lirih Khumaira.
Azzam menunduk guna mengecup pipi bulat Khumaira. Senyum terukir indah untuk Istri tercinta, lalu menunduk untuk mengecup kening Khumaira.
"Mas mencintai kalian karena, Allah."
"Kami juga mencintai Abi karena, Allah."