
Tidak terasa sudah waktunya masuk kerja dan kuliah. Azzam tersenyum tatkala Istrinya sudah menyiapkan pakaian kerjanya.
Khumaira menghampiri Azzam yang masih bertelanjang dada, sementara area privasi dia tutup menggunakan selembar handuk.
"Mas, mau Adek bantu?" tanya Khumaira spontan Azzam berbalik menghadap.
"Boleh," sahut Azzam sembari tersenyum tipis
Khumaira tersenyum tulus mendengar perkataan Azzam. Dia tahu Suaminya memakai dalaman di balik handuk.
Azzam menahan sesuatu tatkala Istrinya nekat melepas handuk di area privasi. Syukur dia sudah memakai celana dalam dan boxer.
Khumaira mengelap tetesan air di tubuh kekar Suaminya. Usai itu, dia memakaikan kemeja putih polos lengan panjang untuk Azzam. Dia kancing satu persatu sampai ujung.
Azzam menikmati saat-saat begini.
"Mas, bisa duduk di tepi meja rias?" Khumaira itu mungil tingginya hanya sebatas ketiak Azzam. Sangat mungil tapi berisi.
Azzam menuruti perkataan Khumaira. Dia duduk di tepi meja rias. Lalu sang Istri memakaikan dasi hitam bergaris putih dengan semangat.
"Nah selesai, sekarang pakai celana Mas!" perintah Khumaira.
Khumaira duduk manis menunggu Azzam memakai celana slimfit formal warna hitam.
Azzam bekerja di perusahaan terkenal di Yogyakarta. Tepatnya 15 menit dari UGM. Karena pengalaman kerjanya di Kairo sana, ia langsung di terima dan menjadi GM (General Manager). Awalnya dia tidak yakin bisa langsung di terima jadi GM mengingat begitu ketat persaingan dan alangkah terkejut saat diterima.
Bukan apa-apa, Azzam pernah mau jadi CEO tapi tidak jadi karena Abahnya menyuruh pulang. Singkat cerita, Azzam terdampar di sini.
Khumaira tersenyum melihat Azzam yang sangat gagah.
"Mas, ngga perlu pakai parfum ya, karena tubuh Mas sudah maskulin." Khumaira merengkuh pinggul Azzam sembari tersenyum cerah.
"Iya, Dek. Mas tahu gara-gara Mas pakai parfum seperti biasanya Adek muntah. Biar seperti ini saja untuk, Adek tercinta."
"Mas," rengek Khumaira.
Azzam menangkup pipi gembil Khumaira lembut lalu mengecup kening Istrinya mesra. Ibu jarinya mengusap bibir Khumaira lembut.
"Mas, sayang, Adek!"
"Adek, juga sayang, Mas!"
Bibir mereka bersentuhan intim. Sesekali Azzam remas bokong semok Khumaira. Dia mengangkat tubuh Istrinya agar lebih leluasa mencium dalam Istrinya.
"Mas, ughh," lenguh Khumaira pada akhirnya.
Cukup 2 menit mereka saling memagut. Khumaira dengan nakal menjilat saliva di bibir dan dagu Suaminya.
"Adek," peringat Azzam.
"Hehehe, Mas turun in Adek gih. Adek mau ganti baju dulu."
"Baiklah, Istriku."
Khumaira tersenyum lucu melihat penampilan Azzam berantakan lagi.
"Mas, benaran sendiri, ya."
"It's OK, Honey!"
Khumaira bersemu mendengar perkataan Azzam. Dia berganti rok hitam bahan. Lalu saat melepas pakaian atas menyisakan bra, dia menahan napas tatkala bibir Azzam menciumi punggungnya. Sementara tangan Suaminya mengusap lengannya.
"Mas Adek, harus ganti ugh, nanti telat."
"Mas tidak tahan melihat Adek begini. Terlalu sexy dan menggoda. Mas, selalu ingin menyentuh kulit Adek yang halus."
"Ughh, Mas hentikan ahhh, Adek jadi panas. Sentuh Adek nanti malam ya, ahhh ini waktunya Kuliah ....!"
Khumaira tidak mampu meredam desahan serta ucapannya karena Azzam begitu lihai mengerjai tubuhnya.
"Mas, ughh hentikan ahhh," lenguh Khumaira.
"Mas, khilaf maafkan, Mas. Adek sih terlalu menggoda bikin Mas ingin terus," kekeh Azzam sukses membuat Khumaira mencubit pinggangnya.
"Mas mesum banget," cibir Khumaira.
"Hanya padamu, Istriku."
"Mas ....!"
"Ok, Mas khilaf. Ayo turun kita makan."
"Umz, Mas duluan saja."
"Mengambek ya Istri mungil, Mas ini?"
"Mas, oh ayolah kalau begini terus Adek ngga mau ke kampus dan mengunci Mas di kamar loh. Aish, berhenti menggoda, Adek!" pekik Khumaira merasa frustrasi.
"Ide bagus, Dek. Boleh juga Adek mengunci Mas sambil ... Arghh ampun Dek ....!!!"
"Mas mesum banget sih, sampai ingin mengandangi ke sarang macan ....!!!" seru Khumaira langsung memakai baju dan menyisir rambut panjangnya.
Azzam tersenyum penuh arti sekarang.
"Adek, tahu tidak?"
"Tidak!"
"Ah, imut sekali Istriku ini. Begini, Mas sangat mencintai Adek."
"Sudah tahu."
"Bagi Mas menggoda Adek itu kebahagiaan tersendiri. Mengisengi Adek sampai merajuk adalah hal indah. Adek, terlihat manis saat marah, merajuk tapi jauh lebih memesona saat tersenyum. Senyum Adek adalah kebahagiaan serta kekuatan, Mas. Mas, sangat cinta sampai lupa bagaimana cara jadi Azzam dulu yang terkesan pendiam tanpa kemesuman berlebih. Jujur, Mas sangat suka Adek mengatai Mas mesum. Itu manis sekali."
Khumaira tersenyum penuh arti mendengar perkataan Azzam. Dia berbalik menghadap Suaminya.
"Sekarang giliran Adek yang bicara. Mas tahu, kebahagiaan Adek itu sederhana, malah kelewat sederhana. Adek sangat bahagia melihat senyum Mas. Karena senyum Mas adalah kekuatan terbesar Adek. Seperti Mas, Adek juga sangat suka kemesuman Mas walau sejatinya ingin lebih. Mas, tahu, Adek sangat mencintai Mas dan akan selalu begitu. Mas tetap seperti ini karena terlihat menggoda di mata, Adek. Apa Adek sekarang liar, Mas? Sepertinya iya karena hormon Ibu hamil."
Mereka saling melempar senyum haru mendengar perkataan satu sama lain. Lihat Khumaira sekarang berhambur memeluk Azzam, tentunya mendapat balasan pelukan hangat.
***
Azzam berjalan santai memasuki gedung megah. Sekarang ini ia sudah sampai di kantor tempat mulainya bekerja.
Banyak karyawan wanita maupun lelaki menatap Azzam penuh arti. Terkhusus para wanita menatap Azzam begitu lapar siap menerkam.
"Selamat pagi," sapa Azzam sembari tersenyum tipis.
Dahsyat mereka langsung ngiler dengan mata terang. Hari pertama melihat cowok ganteng, super hot.
"Permisi, ruang komisaris Brawijaya di mana?" tanya Azzam pada resepsionis wanita muda.
"Anu, ah iya di lantai paling atas, pojok ruangan." Resepsionis itu gugup.
"Terima kasih, Nona. Permisi," ucap Azzam sembari tersenyum tipis.
"Tuan, tunggu ....!" pekik Resepsionis tadi.
"Iya, ada apa?"
"Anda komisaris baru atau CEO baru?" tanya penasaran.
"Saya hanya Manager, baru. Terima kasih," sahut Azzam.
"Wah, Anda Manager apa, Tuan?"
Azzam mulai risih sendiri.
"Maaf, sepertinya Tuan Bhagaskara menunggu saya. Permisi!"
Azzam melangkah masuk ke lift. Dia sepertinya harus terbiasa menghadapi para wanita gila yang terang-terangan menyukainya.
Lain sisi ada Khumaira sedang berdiri di lapangan berniat para penghuni UGM khusus muslim mau Halal Bi Halal.
Khumaira lelah berdiri terus membuatnya nyaris jatuh jika tidak ada Sarah dan Mila menahannya.
"Maira, kamu pucat sekali. Ayo kami antar ke ruang kesehatan," ujar Sarah.
"Hanya pusing dan lemas, terima kasih ya," balas Khumaira.
"Sama-sama, Maira."
Khumaira tersenyum pada mereka yang mengantar ke ruang kesehatan. Tubuhnya benar-benar sakit nan lemah.
Sampai di ruang kesehatan, Khumaira rebahan. Dia tersenyum mendapati chatting dari Azzam.
"Dek, bagaimana hari ini? Apa Adek baik-baik saja? Sungguh Mas rindu dan khawatir sama, Adek."
Pipi gembul Khumaira merona membaca pesan Suaminya. Bibir tebal itu melengkung indah.
"Maira, tadi kamu pucat kenapa sekarang bersemu dan terlihat bahagia?" celetuk Mila.
Khumaira tersenyum tulus mendengar perkataan teman sefakultas.
"Ini Mamasku chatting lucu. Ah, lupa aku bawa obat vitamin yang di kasih Mas Azzam. Tolong ambilkan tasku.
Mereka bingung, Mas Azzam itu siapa? Bukanya Mamas Khumaira namanya Bahri? Ah mungkin kelanjutannya nama Masnya Khumaira.
Khumaira meminum vitamin dengan semangat. Lalu mengetik balasan untuk Azzam.
"Alhamdulillah, lancar Mas. Bagaimana dengan Mas, apa banyak karyawan wanita melihat Mamasku dengan nakal? Jaga mata ya, Daddy. Umz, Adek sehat Mas hanya pusing sebentar dan Adek juga sangat merindukan, Mas."
Pesan terkirim, otomatis Azzam yang melihat di ruang GM mengukir senyum manis.
"Istriku, manis sekali. Pusing, jangan bilang Adekku sakit, oh ya Allah bikin panik saja. Aku ingin keluar tapi ini awal kerja. Tahan Azzam kamu bisa."