
Azzam sudah mengunci pintu kamar. Dia membuka resleting gamis lalu melepasnya. Dia menahan napas saat bra warna pink menutupi buah kesukaannya.
Azzam harus bisa untuk ini karena demi kesembuhan Khumaira. Dia lepas bra lalu menaruh di ranjang.
Khumaira diam saja karena tubuhnya begitu lemah. Kepalanya masih berdenyut dan perut mual.
"Dek, maaf," ucap Azzam. Dia membalik Khumaira menjadi tengkurap agar mempermudah tugasnya. Tubuh mungil Khumaira begitu memesona apa lagi kulit Istrinya putih mulus.
Azzam memulai mengeroki Khumaira dengan hati-hati. Miris saat warna kulit Istrinya berubah memerah pekat. Khumaira benar-benar membuat Azzam panik penuh kesesakan.
Usai mengeroki Khumaira, Azzam kembali memakaikan gamis pada Istrinya tanpa bra.
"Dek," panggil Azzam khawatir.
Khumaira membuka mata lebih lebar sekarang. Dia berusaha mengukir senyum dan berhasil. Jemari lentiknya mengusap tangan Azzam.
"Adek sudah mendingan, Mas," hibur Khumaira bernada lirih.
"Dek, Mas khawatir. Alhamdulillah, Adek sudah mendingan."
Azzam tersenyum haru akhirnya Istrinya membaik. Tangannya terulur untuk memijat kepala Khumaira.
"Mas, maaf," lirih Khumaira.
"Adek tidak perlu minta maaf. Harusnya Mas yang minta maaf. Andai Mas menuruti keinginan Adek pasti semua tidak akan terjadi," papar Azzam.
"Mas, tidak perlu mengatakan itu. Adek tidak apa jangan khawatir." Khumaira meremas jemari kekar Azzam supaya sang Suami tenang.
"Mas, berhak mengatakan itu karena ini salah, Mas. Andai saja ___"
"Mas cium Adek!" sela Khumaira karena tidak mau Azzam semakin menyalahkan diri sendiri.
Azzam tercengang mendengar perintah Khumaira. Ya Allah, dia ini khawatir Kenapa Istrinya begitu memesona.
"Mas tidak mau mencium, Adek?" tanya Khumaira berusaha bangun. Tapi Azzam menahannya agar tetap rebahan.
Azzam mengukung tubuh Khumaira, perlahan tapi pasti bibir mereka bertemu. Dia memberikan lumatan ringan pada bibir Khumaira.
"Sudah, Adek istirahat Mas akan jaga, Adek," tutur Azzam lembut.
"Umz," gumam Khumaira.
"Tunggu, minum teh ini dulu supaya baikkan."
Khumaira mengaguk setuju. Dia meminum teh dibantu Azzam, setelah itu kembali rebahan.
Azzam membawa Khumaira dalam pelukan hangatnya. Ia mengelus punggung dan rambut Istrinya agar cepat terlelap.
Khumaira menyamankan diri untuk merebahkan kepala di dada bidang Azzam. Mata besar itu akhirnya tertutup dan menuju mimpi.
Azzam tersenyum Istrinya sudah tidur. Dia kecup kening Khumaira penuh cinta lalu dengan hati-hati memindahkan kepala Istrinya di bantal agar lebih nyaman.
"Mas cinta Adek, semoga cepat sembuh, Sayang."
Azzam mengambil bra Istrinya dan menaruh di lemari. Dia berjalan kembali menuju Khumaira guna menyelimuti Istrinya sampai batas leher. Dikecup lama kening Khumaira supaya nyenyak.
"Adek cepat sembuh, Mas sangat mencintai Adek."
***
"Le, bagaimana keadaan, Ndok Khumaira?" tanya Maryam khawatir.
"Alhamdulillah, sampon sae," sahut Azzam sembari tersenyum tipis.
"Alhamdulillah, ya sudah makanlah dulu, Le."
"Enggeh, Buk. Nanti, Azzam makan bareng Mas Bahri."
"Ya sudah, tenangkan diri agar jangan terlalu panik."
"Enggeh, Buk terima kasih."
Tidak lama, Bahri, Zahrana, Dzaki dan Laila berhambur masuk ke rumah.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Azzam bagaimana kondisi, Khumaira?" tandas Bahri setelah mengucapkan salam.
"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Alhamdulillah sudah mendingan, Mas."
"Alhamdulillah, maaf kami tidak tahu perihal Dik Khumaira pingsan."
"Tidak apa-apa, Mas."
"Mas Azzam, Mbak Khumaira mana? Apa boleh kami lihat?" tanya Laila.
"Jangan dulu, Dik, Mbak Khumaira masih tidur barusan." Azzam berusaha memberi pengertian.
"Oh, baiklah," lesu Laila.
"Besok pagi Insya Allah Mbak Khumaira mendingan, jangan khawatir," hibur Azzam merasa bersalah.
Laila mengaguk lalu memilih ke kamar.
"Apa Dik Laila marah?" tanya Azzam pada mereka.
"Ngga, ya sudah jagalah Istrimu kasihan sendiri," tukas Bahri.
"Enggeh, Mas."
"Rencana besok bagaimana, Zam?"
"Mungkin setelah ke tempat Paman dan Bibi, kami langsung berangkat menuju Kediri."
"Iya, mungkin aku juga begitu, setelah itu langsung ke Surabaya."
"Em, mau menginap berapa hari, Mas?"
"Mungkin 4 hari sisanya mau ngelencer ke tetangga setelah itu menginap sampai waktu libur selesai. Kami akan balik ke Jakarta lagi."
"Oo, lancar ya, Mas. Insya Allah kami menginap satu minggu dan pulang ke sini menginap 2 hari setelah itu ke Sleman."
"Amin, semoga sehat selalu."
"Amin."
Azzam kembali masuk kamar dan melihat Istrinya masih tertidur pulas. Dia mengecup kening Khumaira mesra.
"Mas berharap Adek cepat sembuh," bisik Azzam.
Pagi hari tepat jam 4 Khumaira bangun. Tubuhnya lebih segar dan Fres. Senyum manis terukir indah saat melihat Suaminya tertidur pulas sembari merengkuh tubuhnya. Jemari lentik Khumaira terulur untuk mengusap pipi Azzam.
"Mas, bangun." Khumaira dengan nakal menggigit jari telunjuk Azzam supaya cepat bangun.
Azzam menggeliat pelan lalu kembali merengkuh Khumaira lebih erat.
"Mas, ini Idul Fitri loh, Mas," ucap Khumaira.
"Mas tahu Dek, ya sudah ayo mandi."
"Gendong," manja Khumaira.
"Baiklah, Mas gendong, tunggu apa Adek sudah sehat?" tanya Azzam terdengar panik.
"Alhamdulillah, sudah baik Mas."
"Alhamdulillah, ayo kita mandi sunah hari raya Idul Fitri."
"Enggeh, Mas."
Sholikhin, Azzam dan Bahri berangkat ke Masjid duluan.
"Ndok, bagaimana apa sudah sehat?" tanya Maryam.
"Alhamdulillah sampon, Buk."
"Alhamdulillah," koor mereka.
Khumaira sudah segar kembali bahkan terlihat tidak sakit. Ia menata toples di ruang tamu dan ruang tengah. Sungguh ia sangat bahagia bisa merayakan lebaran bersama Azzam.
Suara lembut Azzam mengalun indah saat takbir membuat hati Khumaira teduh dengan limpahan cinta. Suara Abangnya Bahri juga tidak kalah merdu walau tidak semerdu Azzam.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar Walillahilham ....!!!"
Suara takbir semakin bersemarak menghias desa Pagerharjo begitu pun ke seluruh Dunia. Mereka bersorak sorai menyerukan takbiran dengan penuh kebahagiaan.
Shalat di di laksanakan dengan khusyuk. Sesekali air mata berlinang haru karena bisa menjumpai hari ini. Mereka berharap bisa menjumpai bulan penuh pengampunan lagi.
Khumaira pertama kali sungkem pada Azzam. (Maaf kurang tahu bahasa Jawa halus kalau lagi sungkem. Jadi skip saja.) air mata jatuh membasahi pipi saat meminta maaf lahir batin pada Suaminya.
Azzam membalas dengan nada tulus penuh penghayatan.
Khumaira mencium punggung tangan Azzam dan mereka berpeluk lalu mengecup pipi.
"Mas mencintai Adek karena Allah dan semoga pernikahan kita selalu di Ridhoi oleh Allah. Mas berharap cinta kita abadi sampai akhirat," bisik Azzam sembari ******** senyum teduh.
Khumaira tidak mampu membalas tapi air mata haru serta senyum tulus menjawab semuanya.
Azzam dan Khumaira sungkem pada Sholikhin dan Maryam. Mereka melakukan hal sama yaitu berpelukan seraya mengecup pipi.
Mereka saling maaf-maafan sepenuh hati.
Khumaira ingin mengiler melihat sayur buatan Ibunya. Perutnya tiba-tiba lapar ingin makan banyak.
"Nah, ayo makan setelah itu siap-siap menyambut tamu di hari raya ini!" komando Sholikhin.
"Siap!"
Azzam menyentuh paha Khumaira berniat memperingati kalau Istrinya terlalu banyak makan.
Khumaira cemberut sekarang. Dia jadi kenyang dan dengan nakal ia menaruh lauk pauk di piring Azzam.
Azzam mengerjap horor membayangkan memakan itu semua. Melihat ekspresi lucunya membuat keluarga Khumaira terkikik geli.
"Istrimu mengambek, Zam. Makanya kalau orang doyan makan jangan di tegur," celetuk Bahri.
Khumaira merengut lagi spontan mencomot lauk ayam kecap. Dia mengunyah sedikit kasar. Sebel, entah kenapa moodnya sering anjlok.
"Sudah sini biar Mas habiskan, jangan di paksa," pungkas Azzam.
"Adek habis kok!"
Mereka tambah terhibur dengan aksi merajuk Khumaira. Sementara Azzam bingung harus bagaimana?