Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Pertengkaran!



Satu minggu, Khumaira bungkam tanpa mau berbicara dengan Azzam. Selama itu hanya ada keheningan yang tercipta.



Azzam merasa hancur di diamkan begini. Hatinya sakit tetapi apa yang harus di lakukan?



Azzam mengingat meeting besar tadi pagi. Satu minggu lagi akan terbang ke Brunei Darussalam untuk melakukan perjalanan bisnis selama dua pekan.



"Inikah akhir ya Allah, sesak sekali dadaku mengingat ini." Azzam menitikkan air mata terluka.



Azzam merengkuh Khumaira dari belakang saat Istrinya sedang masak. Dia ingin selama 7 hari dia habiskan penuh suka cita.



"Dek, sudah ya marahannya."



Khumaira diam tanpa menjawab. Dia kembali melanjutkan masakannya.



"Dek," panggil Azzam. Dia frustrasi mengingat semuanya.



"Mas, lepas Adek mau masak!"



"Tidak, Mas mohon."



"Mas!"



"Baiklah, setidaknya habiskan waktu satu minggu dengan, Mas. Jika Mas pergi nanti bisa dapat kenangan," bisik Azzam.



Khumaira menegang mendengar perkataan Azzam. Entah kenapa dia memiliki firasat buruk tentang Azzam.



"Maksud Mas apa?"



"Mas, satu minggu lagi ke Brunei, selama 2 minggu. Mas pasti rindu sekali dengan Adek dan Tole Ridwan."



Khumaira diam sembari membalik tubuh. Matanya menatap Azzam lama dan entah kenapa tatapan Azzam sekarang begitu curam.



"Mas, kok ngga bilang mau ke Brunei?"



"Adek loh marah terus, bagaimana bicaranya? Tadi Bos bilang gitu, maaf ya."



"Mas Azzam, jangan pergi ke sana."



"Maaf, Mas tetap harus pergi."



"Kenapa? Mas mau ninggalin kami?"



"Ngga, cuma 2 minggu, Sayang."



"Tetap saja, biasanya kami ikut tetapi Mas tahu Adek lagi hamil."



"Tidak apa, Mas janji akan segera pulang dan jaga kesehatan serta Tole Ridwan selama Mas pergi."



"Mas kayak pergi lama, Adek takut."



"Maafkan Mas tidak ada maksud. Sudah teruskan masaknya!"



Azzam mengecup pelipis Khumaira dan beralih berjalan menuju kamar Ridwan. Dia ingin semua terasa manis penuh kenangan.



Khumaira menyentuh dadanya terasa berdegup sesak. Kenapa begini? Sebenarnya kenapa Suaminya berbicara begitu? Ya Allah dia sangat takut jika Azzam kenapa-napa.



***



Azzam sedang membeli sesuatu di Mall. Tidak sengaja dia bertemu Zulfa sedang belanja bersama si kecil.



"Mas Azzam, kebetulan bertemu di sini."



"Ada apa?"



"Mas, Zulfa ... mau pamit pulang ke Malaysia malam nanti. Senang bertemu dengan Mas Azzam walau bentar."



"O, hati-hati ya. Dik Kaisar semoga jadi anak Sholeh."



"Amin, terima kasih, Uncle."



"Sama-sama, Dik. Mari saya duluan."




Azzam memikirkan tugas yang sudah selesai.



"Boleh, kebetulan sedang senggang."



"Alhamdulillah."



Khumaira mengukir senyum kecut saat melihat Azzam sedang berbicara dengan Zulfa. Dadanya sesak kembali dan ia memutus pergi setelah melihat Azzam di rumah makan. Tadi, dia berniat membeki sesuatu untuk Ridwan. Lalu saat lewat restoran tanpa sengaja Khumaira melihat mereka.



Khumaira merasa perutnya terasa sakit akibat terlalu stres. Dia berhenti sebentar lalu duduk di halte.



"Mas sakit," tangis Khumaira dalam diam. Perutnya semakin kram dan kepalanya berputar-putar.



"Tidak, jangan begini. Mas Azzam, tolong," lirih Khumaira sebelum pingsan di halte.



Para Ibu-Ibu berteriak histeris melihat Khumaira pingsan. Salah satu dari mereka menelepon ambulance.



Khumaira di larikan ke Rumah Sakit terdekat untuk penanganan pertama.



Azzam merasa aneh dengan perasaan. Kenapa teringat Khumaira, kenapa dengan Istrinya? Dia ambil ponsel lalu menelepon sang Istri. Tetapi orang lain yang mengangkat.



"Innalillahi wa inaillaihi roji'un, saya akan segera ke sana!"



"Mas, ada apa?"



"Istriku sakit. Maaf aku harus pergi!"



Azzam mengeluarkan uang untuk membayar setelah itu berlari meninggalkan Rumah Makan.



***



1 hari Khumaira di rawat di RS karena kondisinya lemah. Selama itu Khumaira tambah dingin pada Azzam.



"Dek, maaf jika Mas ada salah," pinta Azzam.



"Selingkuh dengan Mbak Zulfa sana, tidak usah pedulikan, aku!" geram Khumaira pada akhirnya.



Azzam terpaku mendengar perkataan Khumaira. Dia bingung akan situasi ini.



"Adek ini bicara apa?"



"Mas tidak usah memedulikan aku. Mas sok suci padahal di belakang Adek bertemu dengan dia. Bilang saja Mas sudah bosan padaku!" berang Khumaira.



Azzam terdiam seribu bahasa mendengar perkataan Khumaira. Rasa sakit dan terluka begitu menembus hati.



"Adek bicara apa sih? Mas tidak selingkuh dan Mas setia. Jangan ragukan kesetiaan Mas, Dek!" tegas Azzam.



"Omong kosong, aku melihat Mas sedang kencan dengan Zulfa di hari jadi pernikahan kita yang ke 4 tahun."



"Astagfirullahaladzim, istighfar Dek. Mas ngga selingkuh dan kencan karena Mas mencintai Adek karena Allah. Maaf Mas tidak sengaja bertemu ketika membeli hadiah untuk, Adek!"



"Tidak usah membawa cinta karena aku benar-benar kecewa padamu, Mas!" seru Khumaira.



Azzam memejamkan mata rapat menandakan betapa emosi. Dia harus mengatur emosi agar tidak melukai hati Istrimya.



"Cukup, Dek. Tuduhan itu begitu kejam. Kami hanya makan sebentar sembari mengobrol santai. Dia akan pulang nanti malam." Azzam berusaha mengontrol nada ucapannya.



Khumaira menepis kasar tangan Azzam. Dia tidak mau di sentuh oleh Suaminya. Rasa kecewa menggerogoti tubuh tanpa perasaan.



"Bohong, Mas masih cinta sama dia. Mas bosan pada Adek!"



"Zulfa itu hanya masa lalu yang kuanggap saudari sudah jangan begini kasihan anak kita."



"Terserah, aku muak sama ucapan, Mas!"



"Cukup Khumaira, aku diam bukan berarti tidak bisa membela diri. Sudah cukup kecemburuan kamu yang berlebihan. Zulfa hanya masa lalu tidak lebih. Mas sakit hati atas ucapanmu. Mas kecewa padamu!" desis Azzam langsung melangkah pergi.



Khumaira tercengang mendengar kemarahan Azzam. Baru kali ini melihat Azzam begitu marah akan sikapnya. Air mata luruh deras karena Azzam membentak sekaligus mengutarakan isi hati. Sakit sekali akan situasi ini. Memang sangat keterlaluan ucapan tadi tetapi itu bentuk emosinya.