Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Mengandung!



Azzam mondar mandir seperti setrika. Dia sangat khawatir akan kondisi Khumaira sekarang.



"Tole Azzam, duduklah!" perintah Hasyim.



Azzam menuruti perkataan Hasyim. Raut wajahnya sangat khawatir memikirkan bagaimana kondisi Istrinya. Di dalam ada Sarah Dokter para santri wati.



"Tole, apa kegeniusan, mu berkurang? Ummi pikir Nduk Khumaira itu sedang mengandung. Apa kamu tidak pernah menyadari itu semua? Coba pikirkan lagi dengan otak geniusmu. Percuma mendapat titel membanggakan tapi Istrinya sedang mengandung saja tidak tahu," celetuk Safira menohok hati Azzam.



Azzam memijat pangkal hidung karena rasanya pening. Dia kembali memutar memori kebersamaan mereka. Otaknya blank sekarang memutar itu semua.



Azzam merasa bodoh sampai ke dasar jurang menyangkut Khumaira. Istrinya sakit saja membuat dia diam tanpa kata karena kecerdasan itu terlenggut rasa panik.



"Mirip sekali denganmu, Abah. Otak genius tapi di hadapan Istri tidak fungsi. Rasa panik dan terlalu khawatir itu membuat rasio otak kalian menurun drastis. Sudah ada tanda masih saja bodoh tanpa tahu semua. Istrimu sering mengantuk, emosi tidak stabil, cerewet, jatuh sakit, mual, pusing dan pingsan, itu semua tanda bahwa Khumaira sedang mengandung. Lain kali jika Istrimu hamil anak kedua, pekalah sedikit dengan cara menggunakan kegeniusan, mu!"



Sembur Safira membuat Hasyim dan Azzam bak terhantam balok. Luar biasa kata-kata Ibunya, dan sekarang Azzam paham kenapa Aziz, Najah dan Azmi memiliki lidah tajam.



Azzam menunduk merutuki diri pasalnya ucapan Umminya benar adanya. Merasa bodoh tanpa kecuali saat Khumaira sakit maka hanya kepanikan melanda serta terdiam dengan hati tanpa berpikir rasional.



Klise memori saat Khumaira sering mengeluh kantuk, mudah tidur, emosi labil, cerewet, minta aneh-aneh, pingsan dan muntah-muntah, membuat Azzam kalut. Kenapa bodoh sekali dirinya ini.



"Sudah paham, lain kali gunakan otak genius itu, Le. Dan lagi pikirkan lagi kenapa Khumaira 2 hari ini murung dan terlihat sedih!" celetuk Safira.



Azzam kembali berpikir keras. Kenapa gerangan Khumaira begitu. Di mulai Istrinya meminta dia memakai jubah seharian, lalu menemani Khumaira makan buah di dapur. Istrinya izin ke bathroom. Datang Aziz dan Nakhwan. Perdebatan tentang masa lalu terjadi, percekcokan sengit membuatnya pergi.



"Astagfirullah, kok bisa aku sebodoh ini," gumam Azzam menyesal perbuatannya.



"Sudah jangan sesali kebodohanmu itu, Le. Sekarang pikirkan cara menjaga dan mengayomi Istrimu lalu berikan perhatian berlimpah. Nduk Khumaira, sekarang benar-benar menguji kesabaran kamu, Le. Ingat jangan terpancing emosi jika nanti Istrimu minta aneh-aneh!"



"Enggeh, Ummi. Insya Allah Azzam akan terus ingat nasihat, Ummi."



"Anak baik, nah itu Mbak Sarah sudah keluar."



Azzam siap siaga menanyakan kondisi Khumaira dan tanya perihal sakitnya. Walau sudah tahu hasilnya Azzam ingin dengar langsung pada pakarnya.



Sarah mengukir senyum tulus, "Selamat Gus Azzam, Mbak Khumaira sedang mengandung. Ini resep yang perlu di tebus di apotek. Lalu, tolong jangan bebani pikiran Mbak Khumaira pasalnya Mbaknya sedikit lemah dan mudah sekali sakit. Sebisa mungkin jaga kesehatan serta jaga emosi berlebihan apa lagi stres. Sekali lagi selamat untuk Gus Azzam dan Abah, Ummi sekeluarga."



Mereka tersenyum haru mendengar penjelasan Dokter Sarah. Bahkan Azzam sekarang terlihat menitikkan air mata haru. Hatinya sangat bahagia akan karunia-Nya.



Sarah tersenyum manis melihat respons bahagia mereka. Usai itu dia pamit undur diri untuk kembali ke klinik.



"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar Walillahilham," takbir Azzam berulang kali.



"Mas, selamat mau jadi Ayah, biar Luthfi dan Mbak Najah yang tebus obat. Mas Azzam temui Mbak Khumaira, ya!" tutur Luthfi bernada tulus.



Azzam mengusap puncak kepala Adiknya sembari tersenyum tulus.



"Terima kasih, Nduk."



"Sama-sama, Mas."



Azzam berhambur memeluk Safira sembari menangis dalam diam. Hatinya berbunga serta limpahan kebahagiaan terpancar dari wajah dan air mata.



Safira mengusap punggung Putranya penuh kasih sayang. Azzam Putranya yang sangat berbakti apa lagi dengan kelembutan hati dan pikiran.



"Ummi harap Tole Azzam mampu menjaga amanat yang dititipkan oleh Allah dengan baik. Jaga amanat itu penuh perasaan, jaga juga Istrimu sepenuh hati. Cintai mereka dan lindungi mereka semampu kamu, Le. Ummi turut bahagia atasmu!"



"Ummi." Azzam tidak mampu menjawab nasihat Umminya. Dia hanya bisa menangis penuh kebahagiaan. Nasihat Safira akan Azzam ingat selalu.



Hasyim mengusap rambut tebal Azzam. Dia bahagia Putranya sangat bahagia begini.



Azzam berbalik merengkuh Abahnya dan merengkuh ke enam saudara dan saudarinya.



***



Mata besar Khumaira perlahan terbuka. Dia menyengit merasa pusing.



"Ughh," lenguh Khumaira merasa kurang nyaman.



Azzam keluar bathroom setelah menuntaskan tugas alam. Alangkah senang Khumaira-nya sudah terjaga.




Khumaira menatap sumber suara lalu tersenyum tipis. Apa Suaminya sakit, kenapa wajahnya pucat? Apa Azzam marah karena ia terus merepotkan dengan sakitnya? Mata Khumaira berkaca memikirkan jawaban dari pertanyaannya sendiri.



Azzam mendekat ke arah Khumaira. Dia langsung merengkuh Istrinya posesif sembari mengatakan maaf.



Khumaira jadi bingung kenapa Suaminya meminta maaf? Tangan mungil itu melingkar di bahu lebar Azzam. Suaminya kenapa sih bertingkah aneh?



"Apa Mas sakit? Kenapa wajah Mas pucat sekali? Apa Mas marah karena Adek sering jatuh sakit dan merepotkan, Mas? Mas hpmhhh ...."



Azzam membungkam bibir Istrinya dengan ciuman sayang. Dia tidak mau mendengar Khumaira bertanya hal yang membebani pikiran. Bibir tipis Azzam semakin gencar melumat bibir tebal Khumaira.



"Mas umz ughh," lenguh Khumaira pada akhirnya karena Azzam terus melumat panas. Desahan itu keluar sekarang membuat wanita cantik ini menginginkan lebih.



"Mas," panggil Khumaira dengan napas memburu.



Azzam menyudahi ciuman panasnya. Di jilat saliva yang berceceran di dagu dan leher, Khumaira.



"Ugh," lenguh Khumaira lagi.



"Mas sehat, tadi hanya ke pikiran Adek jadi begini. Tenang Dek jangan banyak pikiran negatif. Mas tidak marah ataupun merasa direpotkan, malah Mas senang Adek bergantung pada Mas. Sudah sekarang makan dulu lalu minum obat."



Khumaira terdiam mencerna perkataan Azzam. Dia di bantu duduk Suaminya lalu berakhir duduk di pangkuan nyaman Azzam.



"Ummi tadi bikin in bubur sumsum untuk, Adek. Nah, sekarang buka mulut biar Mas suapi!"



"Ummi pasti susah bikin bubur Mas, apa lagi tadi Adek muntah saat makan bersama. Mas, Adek ngga enak sama, Ummi."



"Lupakan itu dulu, isi perut Adek baru bicara."



"Mas Azzam," rengek Khumaira.



"Mau makan atau bercinta!" tandas Azzam membuat Khumaira diam seribu bahasa dan memilih membuka mulut.



"Anak pintar, makan yang banyak lalu minum vitamin ini ....!"



Khumaira hanya diam tanpa komentar lalu terus membuka mulutnya untuk menerima suapan sang Suami. Cukup bersyukur karena lambungnya menerima bubur ini.



Azzam tersenyum saat Istrinya menghabiskan satu mangkuk bubur sumsum. Bahkan terlihat protes saat buburnya habis.



"Mas kok habis, Adek mau lagi."



"Haha, Mas senang Adek makan dengan lahap begini. Sudah nanti lagi minum vitamin dulu."



"Mas, ih bikin sebel saja."



"Oh maaf, Dek. Tunggu Mas ambil ___"



"Ngga usah sudah kenyang." Khumaira menyela perkataan Azzam lalu meminum air putih satu gelas.



"Adek Maaf," pinta Azzam.



"Hm, mana yang harus Adek minum?"



Azzam mengambil vitamin untuk Khumaira.



Khumaira menyengit melihat ada banyak sekali vitamin. Dia menatap Azzam lama.



"Mas, banyak sekali, sih? Adek memang sakit apa?" tanya Khumaira penasaran.



Azzam merengkuh Khumaira sembari menciumi wajah cantik Istrinya. Karena perbuatannya itu Khumaira terkekeh lucu.



"Mas, Adek sakit apa?" ulang Khumaira lagi.



Azzam tersenyum teduh.



"Selamat, Sayang kita akan menjadi orang tua."