Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Godaan!



Azzam dan Khumaira bertekad membawa Aziz ke Pagerharjo. Awalnya membujuk Aziz ikut ke Pagerharjo susah banget.



Aziz yang lelah akhirnya nurut perkataan Abangnya. Dia nanti di tinggal di rumah Bibi dan Pamannya untuk pemulihan. Selama 2 hari di Rumah Sakit, rasanya Aziz terkekang.



Sampai juga di Pagerharjo, tepatnya di rumah orang tua Khumaira.



Azzam mengeluarkan kursi roda dan membantu Aziz duduk di kursi itu. Kasihan sekali melihat Aziz tidak berdaya.



Aziz mengaku kakinya masih sakit menyebabkan harus memakai kursi roda. Tangan kanannya masih di gips dan bahu kanan masih terasa nyeri luar biasa.



Keluarga Khumaira terbelalak melihat Putri dan menantunya pulang membawa sosok familiar yang sedang sakit. Sebenarnya apa yang terjadi?



Khumaira mendorong kursi roda Aziz, sementara Azzam membawa koper dan ransel.



"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Buk, Pak," salam mereka.



Khumaira mengecup punggung tangan kedua orang tuanya, lalu mengecup pipi Ibunya. Azzam juga mencium punggung tangan mertuanya.



Aziz menyengir polos karena tangan kanannya belum bisa di gerakan. Sungguh merasa tidak enak hati karena tidak bisa salaman.



Kedua orang tua Khumaira mengusap rambut Aziz lembut. Mereka tahu betul siapa pria ini dan maklum akan kondisi Aziz.



"Tidak apa, Nak. Jangan memasang wajah muram begitu," ujar Maryam.



"Terima kasih, Buk, Pak. Sungguh saya sangat menyesal tidak bisa salaman. Tangan saya terasa kebas. Sekali lagi maaf," sesal Aziz sopan.



"Tidak apa, Le. Ayo masuk, Nduk, Le ayo!"



Sampai luar, Khumaira langsung masuk dapur untuk membuat minum untuk mereka. Sementara Maryam, Sholikhin, bercakap-cakap dengan Azzam dan Aziz.



Khumaira membuat kopi hitam untuk Azzam dan Aziz tanpa gula. Lalu untuk kedua orang tuanya pakai gula 1 sendok.



"Tole Aziz, kenapa bisa begini?" tanya Sholikhin.



Khumaira menaruh nampan di meja lalu menaruh gelas berisi kopi di depan mereka. Dia juga menaruh camilan di piring.



Keluarga Khumaira belum tahu kalau Khumaira dan Aziz kecelakaan. Begitu pun keluarga besar Azzam.



Aziz mengukir senyum tipis.



"Saya kurang hati-hati makanya terjadi kecelakaan, Buk, Pak."



"Innalillahi, kok bisa begitu? Lain kali hati-hati dan jaga kesehatan. Lalu Abah dan Ummi sudah tahu, Tole kecelakaan?"



"Aziz saat itu sedang capek dan hendak menyeberang, tapi ada mobil menyerempet. Belum, Aziz tidak mau membuat mereka khawatir. Alhamdulillah, Mas Azzam dan Mbak Khumaira merawat saya."



"Ya Allah, lekas sembuh ya, Le. Lain kali kalau hendak menyeberang tengok kanan dan kiri supaya aman."



"Enggeh, Pak."



Azzam tersenyum saja melihat Adiknya di omeli Ibu Khumaira dan mendengar wejangan Ayah mertua.



"Lo, Dik Laila mana, Buk?"



"Adikmu lagi sekolah, Nduk. Mungkin sebentar lagi pulang."



"Oo, Tole Azzam bawa Adiknya ke kamar untuk istirahat!" perintah Sholikhin.



"Enggeh, Pak."



"Tole Aziz, mau menginap di sini?" tanya Maryam memastikan.



"Insya Allah saya menginap di tempat Bibi dan Paman. Aziz takut merepotkan," sahut Aziz ramah.



"Ngga apa, menginap di sini. Ibu dan Bapak malah senang."



"Terima kasih banyak, Buk."



"Sama-sama, Le."



***



Makan siang, Aziz malu sekali karena makan harus di suapi. Dia berharap Allah cepat menyembuhkan tangan dan bahunya.



Laila mengerjap melihat Aziz.



"Tangan Mas patah, ya? Kasihan sekali, mau Laila suapi?" celetuk Laila polos.



"Hus, ngga baik bicara begitu. Kurang sopan, Dik," tegur Khumaira.



Laila mencebik bibir karena malu. Berharap Aziz menolong dalam situasi aneh ini.



"Mbak Khumaira, apa salah Laila menawarkan bantuan? Aish, Mbak ngga asyik," rajuk Laila.



"Boleh, kemari gadis kecil suapi, Mas!" hibur Aziz.



Azzam tersenyum mendengar perkataan Aziz. Adiknya tahu mencairkan suasana kurang nyaman.



Laila memang dasarnya supel, ceria dan cerewet menurut. Dia menyuapi Aziz semangat.



Kedua orang tua Khumaira meminta maaf akan perilaku Laila. Tentu Aziz menanggapi dengan candaan.



"Biar bisa disuapi cepatlah menikah, Le," goda Azzam.



Aziz tersenyum mendengar perkataan Azzam. Masnya benar-benar ingin menguji lisan.



"Mas, gadisnya saja masih kecil."



"Eh?" Khumaira bingung.



"Itu Dek Laila masih kecil, harus sabar tunggu lama baru menikah," jenaka Aziz.



Laila mengerjap bingung, sementara yang lain tertawa.



"Ngawur kamu, Le. Nduk Laila masih bayi."



"Tidak apa, saya siap menunggu," kekeh Aziz.



"Semakin mengawur kamu, Le. Dik Laila itu masih lama dewasanya, keburu kamu tua," nimbrung Azzam.



"Mas Azzam, tenang saja Aziz siap menanti. Rasulullah dan Khatijah saja jarak usia jauh sekali. Kenapa Aziz tidak sabar menunggu?"



Mereka tersedak mendengar perkataan Aziz dengan mata membulat tidak percaya. Apa Aziz serius akan perkataan barusan?



"Mas Aziz, pedofilia," cicit Khumaira.



Aziz kini giliran yang tertawa melihat ekspresi mereka. Sungguh lucu mengerjai mereka dan sangat laknat mengerjai orang lebih tua.



"Bercanda, Dek Laila kuliah saya sudah terlihat tua. Sungguh tadi cuma bercanda,"



"Kami sangat takut kamu serius, Mas sampai ingin meruqyah kamu, Le."



"bercanda, Mas."



***



Pondowoharjo, Sleman, Sleman, Yogyakarta.



Polisi mendatangi kediaman mewah keluarga Brawijaya. Salah satu Polisi menekan bel masuk dan keluarlah asisten rumah tangga.




"Silakan, Pak. Kebetulan Tuan besar ada di rumah."



Ada 4 polisi masuk ke dalam. Mereka memasang raut datar.



Bhagaskara dan Rina menyengit bingung melihat ada Polisi. Sebenarnya kenapa?



"Selamat siang, Tuan Bhagaskara!"



"Selama siang, mari duduk. Ada apa Bapak Polisi datang ke kediaman, saya?"



Salah satu dari mereka menyerahkan surat penangkapan pada Bhagaskara. Raut wajah mereka begitu datar tidak ada persahabatan.



Bhagaskara mendelik melihat ini semua. Kenapa Polisi membawa surat penangkapan untuknya? Sebenarnya apa salahnya? Membuka laporan dan menyengit bingung akan laporan aneh.



"Apa maksudnya ini? Saya tidak pernah menabrak orang terlebih merencanakan pembunuhan!" sentak Bhagaskara.



"Anda tidak bisa mengelak lagi, Tuan Brawijaya. Lihat ini bukti semuanya!"



Bhagaskara menonton rekaman CCTV yang menampilkan mobil mewahnya melaju kencang hendak menabrak wanita menyeberang. Singkat cerita, saat kecelakaan terjadi mobilnya melaju keras.



Rina menatap Bhagaskara intens. Meminta penjelasan kenapa Suaminya tega melakukan itu?



"Pah, apa maksudnya?"



"Mah, Papah ngga pernah melakukan kriminal. Mamah tahu Papah itu punya relasi bisnis dan menjaga nama baik."



"Ayo ikut kami ke kantor Polisi, Tuan!"



"Tunggu, ini kejadiannya kapan?"



"Kemarin, sekarang ayo ikut kami ke kantor Polisi!



Bhagaskara semakin bingung.



"Pak polisi, maaf kemarin saya dan Suami saya sedang liburan. Tunggu dulu, Bik Inem panggilkan Paijo kemari!" perintah Rina.



Asisten rumah tangga menurut untuk memanggil Security. Entah kenapa majikannya yang baik di tuduh hendak melenyapkan orang.



Paijo datang menghadap Bhagaskara. Membungkuk sopan pada majikannya. Tidak tahu kenapa rasanya ruangan ini begitu mencekam.



"Ada apa Nyonya memanggil saya?" tanya Paijo sopan.



"Begini, apa Anda tahu kemarin mobil Bapak di pakai siapa?" tanya Rina.



"Oh, kemarin Nona Charisma yang membawa mobil, Bapak. Ada apa, Buk?"



Bhagaskara membatu begitu pun Rina. Jangan bilang pelaku percobaan pembunuhan adalah Charisma?



"Pak, Charisma ke mana?" tanya Bhagaskara karena tidak melihat Putrinya sejak kemarin.



"Nona Charisma, tidak pulang, Pak dari kemarin usai mengembalikan mobil, Bapak," lapor Paijo.



Bhagaskara memejamkan mata rapat tanda betapa emosi dirinya. Dia sangat malu akan kelakuan Charisma.



"Maaf Pak Polisi, ternyata yang melakukan itu Putri saya. Anda tenang saja, saya akan membantu menangkap, Charisma!" tegas Bhagaskara. Keadilan harus di tegakan. Walau Charisma Putrinya, dia tidak akan membela karena perbuatannya sungguh keterlaluan.



Rina menangis mendengar perkataan Bhagaskara serta kelakuan Charisma. Rasanya sangat malu akan situasi ini.



"Pak, bagaimana korban kecelakaan itu?" tanya Rina.



"Dua korban selamat. Tetapi, salah satu dari mereka mengalami luka serius. Korban wanita baik-baik saja sementara pria mengalami cedera pada bahu, tangan dan kaki kanan patah. Kondisinya sangat buruk tapi sekarang korban di bawa pulang."



Bhagaskara dan Rina tertohok mendengar perkataan Polisi. Sungguh malu akan perbuatan Charisma. Kenapa Putri mereka begitu hina?



"Tangkap Putri kami, Pak. Saya bantu mencari!"



"Terima kasih atas kerja samanya, Pak Brawijaya!"



"Sama-sama!"



***



Khumaira tersenyum tulus melihat Azzam asyik mengusap perutnya. Dia senang kandungannya kuat. Walau belum terlihat membuncit, Khumaira senang bisa merasakan kehadiran buah hatinya.



"Mas," panggil Khumaira.



"Iya, Dek."



"Em, Adek ingin ikut Mas saat diniah. Boleh? Adek sekalian bawa ganti."



Azzam diam memikirkan permintaan Khumaira. Boleh saja namun dia takut Khumaira kenapa-napa. Walau berat akhirnya dia menyetujui dengan godaan.



"Boleh, itu malah membuat Mas semangat. Kerja di temani Istri tercinta," goda Azzam.



Khumaira merona mendengar godaan Azzam. Dengan malu-malu dia mencubit pinggang Suaminya.



"Tapi apa ngga repot in?"



"Tentu saja tidak, malah Adek akan menjadi penyemangat untuk, Mas. Mas, mencintai Adek."



Khumaira tambah merona.



"Cukup jangan goda, Adek."



"Serius ... Sayang. Mas cinta Adek!"



Khumaira menutup Wajah menggunakan tangan. Kalau begini terus ia bisa jantungan setiap saat.



"Adek juga mencintai Mas."



"Hahaha, Adek lucu sekali. Mas suka melihat Adek begitu mengemaskan, sini Mas cium."



"Mas, jangan goda lagi. Ugh," lenguh Khumaira saat Azzam merengkuhnya dan menggigit manja lehernya.



"Mas, sangat menyukai desahan, Adek," bisik Azzam.



"Mas," lenguh Khumaira saat Azzam menggoda tubuh sensitifnya.



Tok



Tok



Pintu terbuka menampilkan sosok Laila. Dengan tampang polos seolah tidak berbuat salah.



Buru-buru Azzam beranjak dan memperbaiki penampilan. Begitupun dengan Khumaira membenarkan jilbabnya.



Laila mengerjap beberapa kali melihat Khumaira dan Azzam tampak awkward. Mereka kenapa?



"Mas Azzam, di panggil Mas Aziz, katanya kapan mengantar ke tempat Bibi?" ujar Laila dengan nada polos dan tampang lugu.



Azzam menggaruk tengkuk merutuki diri karena lupa tidak mengunci pintu. Syukur tidak melakukan tindakan gila.



"Suruh tunggu sebentar lagi, Dik. Mas siap-siap dulu."



"Ok, Laila keluar!" riang Laila tanpa dosa dan sangat polos mengganggu kegiatan Kakaknya.