Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Ikatan!



Azzam terjaga sepanjang malam menjaga Khumaira. Istrinya di rawat inap karena kondisinya lemah. Hati Azzam terasa hancur lebur melihat Khumaira terkulai akibat banyak pikiran, tekanan dan kondisi fisik yang lemah.



Tekad bulat membuat Azzam ingin resign agar leluasa menjaga Khumaira. Dia akan mencari pekerjaan sesuai keinginan.



Besoknya tepat jam 5 pagi, Khumaira siuman. Dia mengerjap beberapa kali dan melihat ke sekeliling ruangan. Ringisan keluar saat merasa sakit di tangan.



"Di infus lagi, menyebalkan," rajuk Khumaira lalu hal nekat terjadi saat infus terlepas dari tangannya. Tidak lama pintu terbuka menampilkan Azzam.



Khumaira menatap Suaminya dalam. Dia ingat lagi peristiwa kemarin, saat hujan disertai halilintar dan guntur besar. Setelah itu mati lampu, dan ketakutan berlebih membuatnya pingsan.



Azzam menghapus air mata Istrinya lalu mengecup kening Khumaira lama. Dia membawa Istrinya berada di pelukannya.



"Maafkan, Mas. Sungguh Mas sangat khawatir dan maaf telat pulang. Sungguh maafkan, Mas."



"Mas, hiks, Adek takut. Tolong, jangan begini Adek rindu Mas. Adek, tidak mau Mas telat pulang, Adek takut."



Hati Azzam semakin tersiksa mendengar perkataan Khumaira. Dia mengurai pelukan, lalu ikut tidur di samping Istrinya.



"Maaf, Dek sungguh tidak ada keinginan untuk lembur. Mas janji, mulai hari ini Mas akan antar jemput Adek lagi. Mas, sangat menyesal. Rindu Mas menggunung, Dek. Sungguh Mas sangat mencintai Adek dan merindukan kebersamaan kita. Jangan takut ada, Mas!"



Khumaira merengkuh Azzam erat dengan isak tangis haru. Cukup lama posisi mereka begini. Tidak ada percakapan karena hati mereka saling terikat.



"Mas," panggil Khumaira.



"Iya, Dek."



"Mas bau, belum mandi ya?"



Azzam memisahkan diri dan refleks mencium tubuhnya sendiri. Dia menyengir polos ke arah Khumaira.



"Mas lupa mandi, Dek. Maaf ya Mas bau kecut."



Khumaira tertawa mendengar perkataan Azzam. Dia kembali merengkuh Azzam erat sembari mengecup leher kokoh Suaminya.



"Mas, wangi. Siapa bilang Mas bau? Adek bercanda, he he. Mas, sudah Shalat?"



Azam mengecup kening Istrinya mesra. Lalu mengigit pelan pipi gembul Khumaira.



"Alhamdulillah, sudah tadi, Dek. Adek mau Shalat?"



"Enggeh, Adek mau Shalat. Tapi ngga ada mukena."



Azzam tersenyum tipis mendengar perkataan Khumaira. Dia kembali mencium kening Istrinya penuh sayang.



"Mas, ambil in di Mushola. Adek kuat jalan untuk ambil air wudhu?"



"Insya Allah, Adek kuat. Maaf merepotkan, Mas."



"Adek tidak merepotkan, Mas. Sudah Mas ambil dulu."



Pagi sekitar jam setengah tujuh, mereka pulang dari rumah sakit.



Khumaira duduk di sofa sembari berdasar ria. Dahi menyengat melihat Azzam juga ikut duduk di sampingnya.



"Mas."



"Iya, Dek."



"Mas, tidak mandi dan berangkat kerja?"



"Tidak, Mas nanti siang berangkat sekalian menyerahkan surat resign."



Khumaira terbelalak mendengar jawaban Azzam. Ada gerangan apa Suaminya berhenti?



"Mas, bukanya gajian setengah bulan lagi? Kenapa resign sekarang?"



Azzam menghadap Khumaira, lalu menggenggam tangan mungil Istrinya.



"Mas sudah tidak tahan, Dek kerja di sana. Ingat akibat Mas kerja lembur terus Adek jadi begini. Mas, tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Adek lebih berharga dari apa pun bahkan tidak ada artinya Mas jika Adek sakit."



"Mas, Adek juga tidak mau Mas terus lembur dan waktu bersama tidak ada. Tapi, Adek mohon selesaikan waktu 2 minggu, setelah itu Mas resign tidak apa-apa. Percuma Mas lembur setengah bulan ini jika tidak mendapatkan apa pun. Adek, mohon!"



Azzam duduk di bawah sementara Khumaira di atas. Jemari panjang kekarnya mengelus pipi Istrinya.



"Dek, Mas tidak mau melihat Adek kayak kemarin. Kerja setengah bulan tidak masalah tidak di bayar, asal Mas bisa menjaga, Adek."



"Mas, Adek mohon."



"Tidak, Dek. Mas tetap mau resign!"



Khumaira turun dan duduk di pangkuan Azzam. Tangannya bergliya mengusap dada bidang Suaminya. Sementara bibirnya mengecup bibir tipis Azzam.



Azzam diam saja saat Istrinya memagut bibirnya tergesa. Tangan ia lingkarkan di pinggul dan punggung Istrinya.



Permainan semakin panas, saat Azzam mencumbu Khumaira sensual.



"Mas, ahhh ahhh," desah Khumaira.



Azzam menggendong Khumaira ke kamar. Menuntaskan gairah selama 2 bulan lebih tidak tersampaikan.



"Dek, Mas tidak tahan," lirih Azzam.



"Mas, sentuh Adek sepuas, Mas. Tapi, hati-hati, keluarkan di luar ya, Mas," papar Khumaira.



"Siap, Dek."



***



Jam 8, Azzam baru datang ke kantor. Banyak karyawan wanita dan karyawan pria menatap aneh.



Azzam tersenyum ramah pada mereka. Sampai di ruang kerjanya dia mengukir senyum pada rekanya.



Senyum tulus terlihat saat Khumaira meminta lebih akan permainan panas tadi. Wajah tampannya bersemu mendapat godaan dan berakhir tetap bekerja sampai gajian.



"Zam, kamu itu GM loh. Berangkat terlambat," omel Reza.



"Maaf, tadi nuntasin hasrat dulu, Bidadariku merajuk," kekeh Azzam.



Seno merapat ke arah mereka. Begitupun dengan yang lain. Mereka kepo akan pembicaraan penting.



"Maksud kamu apa, Zam? Kamu melakukan Sex?" lirih Seno.



Azzam tersenyum tipis menanggapi perkataan Seno. Sekelebat kegiatan panas tadi terngiang dalam pikiran Azzam.



"Astagfirullah, zina kamu, Zam!" pekik Reza dan Seno.



"Zina, gundulmu. Sudah aku mau kerja. Kembali sana!" desis Azzam.




"Minggir, aku mau kerja!"



"Baiklah."



Tidak lama ponsel khusus GM berdenting, Azzam mengangkat. Dengusan ia keluarkan saat tahu dia di suruh menemui CEO.



"Ada apa, Zam?" tanya Morgan.



"Biasa, CEO gila," sengit Azzam. Dia membawa map berisi berkas penting.



"Zam, kamu enak terus di lirik Nona Charisma," iri Setiawan.



"Kamu mau, ambil saja. Ngga srek sama begituan," cetus Azzam.



Azzam sudah melangkah pergi menuju lift menuju ruang CEO.



"Azzam, gay mungkin. Padahal Miss Charisma cantik banget, apa lagi bodinya semok," tukas Hendra.



"Gay, batukmu. Ngomong di jaga, Mas Bro. Azzam itu normal tahu," bela Reza.



"Betul, bahkan beberapa kali aku sering melihat dia tersenyum teduh saat melakukan video call sama seseorang. Pasti itu pacarnya," imbuh Seno.



"Sudah lupakan, ayo kerja lagi!" lerai Setiawan.



Azzam menyerahkan map pada Charisma.



"Saya permisi," pamit Azzam.



"Tunggu, presentasikan isi dalam map ini!" perintah Charisma.



Azzam mengaguk setuju, dengan detail mempresentasikan isi map itu.



Charisma tidak fokus dengar, atensinya ada pada wajah tampan Azzam terlebih bibir menggodanya.



Bibir Azzam bengkak, tidak seperti biasa dan itu terlihat lebih menggoda.



Azzam ingin sekali menegur Bosnya, jika saja menegur urusan runyam. Risih sekali saat dirinya di tatap mesum terkhusus area bibirnya.



"Miss Charisma, saya permisi!"



"Tunggu!"



Azzam ingin menggeram marah, sampai kapan Bos gila tidak mengganggu?



"Apa lagi, Nona?!"



"Kamu sudah punya tunangan?"



Azzam menyengit, "Belum."



"Ada, pacar?"



"Tidak."



"Kekasih?"



"Stop, bertanya aneh. Saya sudah memiliki i ___"



Ketukan pintu memotong jawaban Azzam. Charisma mendengus melihat Andi, Kekasihnya datang berkunjung.



"Saya permisi."



"Silakan!"



***



Azzam membawa roti tawar dan selai Apel pesanan Khumaira. Cukup senang tidak lembur dan bisa membelikan makanan keinginan Khumaira.



"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Dek!"



"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas!"



Khumaira mencium punggung tangan Azzam, lalu membawakan tas kerja Suaminya.



Azzam mengecup mesra kening Khumaira lalu berjalan sembari menautkan jemari menuju meja makan.



"Dek, Mas membelikan sesuatu!"



"Membelikan apa, Mas?"



Azzam mengeluarkan kotak beludru ukiran hati pada Khumaira. Tentu di terima Khumaira dengan senang hati.



Khumaira menyengit menerima kotak beludru itu dengan perasaan campur aduk. Dia membukanya dan terbelalak melihat kalung emas kristal cantik.



"Mas," lirih Khumaira.



Azzam mengambil kalung, lalu meminta Khumaira untuk berbalik. Dengan sayang dia pakaikan kalung ke leher jenjang Istrinya.



Khumaira menengok ke arah Azzam penuh haru. Dia menggeliat saat Azzam menciumi leher dan bahunya.



"Adek sangat cantik, Mas sangat mencintai, Adek,," bisik Azzam.



"Adek juga sangat mencintai, Mas."



"Adek, suka?"



"Sangat, tapi Mas kalung ini pasti mahal sekali."



"Sstt, Mas tidak masalah membeli itu. Lagian Mas ambil dari uang tabungan sendiri."



"Mas."



Azzam membalik posisi menjadi berhadapan.



"Sudah jangan menangis, mana hadiah untuk, Mas!"



Khumaira menarik lembut tengkuk Azzam dan berjinjit untuk mengecup rahang tegas Suaminya.



"Terima kasih, suamiku."



"Sama-sama, Istriku!"



Khumaira merengkuh Azzam erat sembari mengatakan terima kasih dan cinta berulang kali.



Azzam mengukir senyum manis mendengar perkataan Khumaira. Dia juga berulang kali mengatakan cinta.