Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Suamiku!



Khumaira tertidur pulas tanpa peduli Azzam sedang menahan gejolak tinggi ingin melakukan itu. Sungguh cantik sekali tingkahnya tadi saat membuat Suaminya berhasrat. Tetapi, di tengah jalan, malah di tinggal tidur.



Azzam mengadah menahan hasrat tinggi. Dia ******** bibir sendiri demi menahan gejolak gairah. Tangannya merengkuh Khumaira posesif. Perlahan dia merubah posisi agar Khumaira tidur nyaman di lengannya.



Bibir tebal itu terbuka sedikit dengan napas teratur. Sangat cantik sehingga membuat Azzam mengecup mesra bibir Istrinya. Jemari panjang kekarnya menari di lekuk wajah cantik Khumaira.



"Kamu sangat manis sampai Mas diabet gara-gara melihat senyummu. Sekarang bagaimana, Dek? Mas tersiksa gara-gara, Adek.”



Azzam mengecup bibir tebal Khumaira lagi, setelah itu beranjak menuju bathroom.



Lain sisi, Aziz sedang membaca deretan angka secara detail. Dia memutuskan untuk menemui Azzam nanti usai menyelesaikan pekerjaannya.



Saat di tengah jalan menuju apartemen Azzam, Aziz melihat cewek berhijab ungu sedang bingung membenahi motor matic.



Aziz melihat ini tempat sepi, maksudnya jalan terobosan ada gadis malang terlihat bingung. Mobil sedan itu menepi tepat di depan gadis malang.



Gadis itu takut melihat mobil sedan warna hitam berhenti tepat di depannya. Dia waswas akan situasi ini.



Aziz keluar dari mobil dan melangkah mendekati gadis itu. Dia menyengit melihat tatapan gadis itu terlihat berbinar.



"Mbak, motornya kenapa?" tanya Aziz.



"A-anu motor saya tiba-tiba mati, Mas," cicit gadis itu.



"Sudah periksa spedometer? Mungkin bensin Mbak belum di isi," tukas Aziz.



"Sudah saya periksa, Mas tapi hasilnya tidak apa-apa. Ini juga baru ngisi bensin," sahut gadis berhijab ungu gugup.



Aziz mengaguk lalu melihat spedometer dengan sesama. Bola mata coklat keemasan mengedip beberapa kali. Ada yang ganjal membuat Aziz kembali mencoba menghidupkan motor.



"Spedometer, ini mati Mbak, mungkin habis bensin juga, coba saya lihat."



Aziz melihat bensin masih ada, apa yang rusak? Ah, sekarang dia tahu apa yang bermasalah.



"Mbak, busi motornya mati. Terpaksa bawa bengkel untuk mengganti busi." terang Aziz.



"Benarkah? Saya kurang paham soal beginian. Maaf, merepotkan, Mas."



Aziz tersenyum singkat.



"Tidak, apa. Tunggu aku punya no bengkel dekat sini."



Aziz menelepon montir agar cepat datang ke sini. Dia menjelaskan mengapa dia menelepon si montir.



"Tunggu sebentar mereka akan secera datang. Mari duduk di sana, tenang saya bukan orang jahat," papar Aziz karena melihat ekspresi ketakutan gadis itu.



"Maaf," cicit gadis berhijab ungu.



Aziz duduk paling pojok membuat mereka terpisah jauh.



"Mas, terima kasih banyak ya sudah menolong saya," tutur sang gadis.



"Sama-sama," sahut Aziz.



"Mas, siapa namanya?"



"Aziz, kamu?"



"Zahira."



"O, itu mereka datang. Tunggu di sini dulu."



Aziz bercakap mengenai motor dan menitipkan gadis itu. Seperti halnya tadi, dia buru-buru untuk menemui Azzam.



"Mbak, saya permisi. Bang, tolong ya."



"Baik Tuan."



***



Tidak terasa kandungan Khumaira sudah memasuki minggu ke 9, namun masih rata belum terlihat.



Azzam merengkuh Khumaira dari belakang. Sesekali dia kecup pipi gembul Istrinya.



"Dek, Mas gajian hari ini, mau makan di restoran?" Azzam masih betah menciumi bahu polos Khumaira.



Mata Khumaira berbinar mendengar perkataan Suaminya.



"Kita kencan ya, Mas?" riang Khumaira.



"Iya, kita kencan untuk pertama kalinya. Mau, kita habiskan malam ke tempat romantis, bagaimana?"



"Adek, mau Mas, mau banget!"



Azzam menahan Khumaira saat Istrinya hendak berbalik menghadap dirinya. Masih betah menyesap bau sampo Khumaira. Lidah panas Azzam menjamah leher jenjang Kistrinya.



"Ah, Mas jangan. Ugh, Adek mau ke kampus, Mas. Nanti malam ya, ahhh."



Khumaira merasa melayang tatkala Azzam terus memanjakan tubuh sintalnya.



Azzam mengukir senyum manis mendengar perkataan Khumaira. Dia merengkuh Istrinya penuh sayang.



"Maaf, Adek. Nah sekarang ayo kita berangkat beraktivitas."



"Umz, sini Khumaira benarkan pakaian, Mas. Ah Adek belum pakai hijab sama benaran pakaian. Mas sih asal mencopot kan jadi mengulang lagi."



Azzam mengecup bibir tebal Khumaira agar Istrinya diam tidak mengomel.



"Pagi-pagi ngga baik mengomel, Adek. Nah, Mas tunggu di luar ya, Dek." Azzam kembali mengecup bibir Khumaira lagi, setelah itu berjalan menuju ruang tamu.



Khumaira merona lalu menggerakkan jari kecil ke bibirnya. Sedetik kemudian senyum cantik terukir sempurna.



"Suamiku, romantis sekali."



Di kampus, Khumaira di tarik para sahabat untuk ikut serta merayakan ulang tahun Yudha, yang di adakan di lapangan basket.



Khumaira menggerutu sebal di tarik ke 6 teman di kelas. Mereka tampak heboh melantunkan lagu *Happy Birthday.*



"Ayo, masuk sebentar lagi masuk," ajak Khumaira.



"Ayolah, Maira ...," rengek mereka.



"Baiklah."



Khumaira duduk nyaman di anak tangga. Mata besarnya mendelik sinis saat mereka terus menggodanya tentang Yudha.



Bahkan mereka tidak ayal bersorak suka cita kalau dia cocok dengan Yuda. Cocok jidatmu, batin Khumaira.



Khumaira terpaku saat Yudha memberikan sepotong kue untuknya. Mengerjap beberapa kali guna mencerna apa yang terjadi. Kenapa mereka bersorak sorai dan meneriaki kata So Sweet.




"Gigit potongan kue tar ini!" perintah Yudha.



Khumaira bingung sendiri jadi tanpa pikir panjang menggigit kue dan memakannya. Alangkah mual perutnya serta pandangannya berkunang. Kepala terasa pusing dan berputar.



Sudah lama, Khumaira tidak seperti ini. Rasanya menyiksa, mau muntah tapi tidak bisa.



Aziz yang lewat menyengit melihat kerumunan. Dia mendekat ke arah mereka, sampai juga saat matanya melihat Khumaira dan Yudha berhadapan.



"Ada apa ini?" tanya Aziz pada Mahasiswa di sebelahnya.



"Eh, Pak Aziz, ini acara ulang tahun Yudha. Rencananya mau di jadikan pacar Mbak Khumaira ___"



"Astagfirullah," istighfar Aziz memotong kelanjutan perkataan Mahasiswa tadi. Dia langsung lari ke arah mereka saat Khumaira jatuh pingsan.



"Jangan sentuh ....!!!" teriak Aziz tatkala tahu Yudha hendak menyentuh Khumaira.



Yudha kaget begitu pun dengan semuanya. Mereka bingung sendiri melihat Aziz begitu khawatir.



Aziz menggotong tubuh Khumaira hati-hati. Matanya menyorot tajam menatap Yudha.



"Mbak Khumaira, tidak pantas untukmu. Dan ingat, dia sudah menjadi milik Masku!" tegas Aziz lalu berjalan cepat menuju ruang kesehatan.



Mereka terpaku tanpa kata, apa yang sebenarnya terjadi? Apa hubungan Khumaira dengan Aziz? Lalu kenapa Aziz mengklaim Khumaira milik Masnya?



Otak mereka blank sekarang.



***



Azzam terlihat panik mendengar kabar dari Aziz kalau Khumaira pingsan. Sontak setelah menerima gaji dia undur diri guna melihat keadaan Istrinya.



Sampai di Universitas Gadjah Mada, Azzam langsung keluar dari mobil.



Banyak pasang mata menatapnya kaget, kagum, terpesona dan liar.



"Hai, ruang kesehatan ada di mana?" tanya Azzam entah pada siapa.



"Ada di gedung belakang, lantai bawah, pojok kiri," jawab mereka kompak.



Azzam tersenyum tipis sebagai ucapan terima kasih. Dia langsung lari secepat kilat supaya cepat sampai di ruang kesehatan.



"Kyaaa ... Tampan sekali ....!!!" pekik mereka setelah Azzam pergi.



Azzam membuka ruang kesehatan yang di isi para wanita dan pria. Syukurlah ada yang dia kenal.



"Tole Aziz ....!" seru Azzam.



Aziz langsung bernapas lega melihat Azzam.



"Mas, Mbak Khumaira ___"



"Dia baik-baik saja, kan? Apa Istriku terluka? Bagaimana kondisinya?" sela Azzam dengan pertanyaan sama.



"Mbak Khumaira, baik Mas. Hanya pingsan," jawab Aziz.



Mereka tambah pusing melihat bule ganteng itu. Apa lagi ini, dua cowok kelewat ganteng seruangan. Tadi, orang itu memanggil Khumaira Istriku. Lah, sebenarnya apa ini? Khumaira belum menikah, kok ada yang mengaku Suami. Aneh sekali!



Azzam mendekat ke arah Khumaira yang terlelap karena kehilangan kesadaran. Mata teduh itu meredup menatap Khumaira.



"Dek," panggil Azzam lirih. Dia sentuh pipi pucat Istrinya dengan lembut.



"Tole, tolong katakan kenapa Dek Khumaira pingsan?"



"Gara-gara makan roti, Mas."



Azzam menghela napas berat. Dia duduk di bangku yang tersedia, napasnya masih memburu dan lihat keringat bercucuran dari pori-pori kulitnya. Kesan panas langsung membuat mereka terbakar.



"Mas, Aziz keluar dulu mau mengajar."



"Terima kasih, Le sudah menjaga Mbakmu."



"Sama-sama, Mas. Lagian Mbak Khumaira itu sudah kuanggap Mbak sendiri."



"Kamu ini, sana pergi."



"Oho, ngga ada yang gratis loh, Mas Azzam."



Azzam mendelik mendengar perkataan Aziz. Adiknya benar-benar membuat darah tinggi.



"Nanti Mas transfer, tenang saja. Pergi sana."



"Yes ... dapat transfer dari Mas. Aziz berniat beli game baru. Thank's, Mas!" seru Aziz langsung ngacir.



"Astagfirullah, kok bisa aku punya Adik seperti dia," ujar Azzam penasaran. Dia kembali melihat banyak orang di sini.



"Kalian teman, Dek Khumaira?"



"Iya, kami temannya."



"Kalian boleh pergi, biar saya yang menjaganya."



"He? Memang Anda siapanya Khumaira?"



"Aku S ...."



"Eng," lenguh Khumaira menghentikan jawaban Azzam.



"Dek," panggil Azzam senang.



"Mas," lirih Khumaira setelah sadar.



Azzam langsung merengkuh Khumaira erat sembari menciumi puncak kepala Istrinya. Dia terus mengatakan kata syukur Istrinya telah siuman.



Mata mereka membulat sempurna melihat itu semua. Yudha terdiam seribu bahasa dengan hati terasa sakit.



"Mas, Adek ngga apa-apa. Jangan sedih," lirih Khumaira.



"Mas, khawatir, Dek. Mas tidak mau Istriku sakit, ayo pulang!"



"Suamiku, lucu sekali saat ini. Mas, Adek sudah sehat karena Mas."



"Alhamdulillah."



Terasa tersebar petir itulah mereka sekarang. Mengetahui fakta Khumaira sudah menikah, dan Suaminya sangat tampan.



Fantastis!